dibimbing.id - Penerapan ESG di Indonesia: Regulasi, Tantangan, dan Solusi

ESG

Penerapan ESG di Indonesia: Regulasi, Tantangan, dan Solusi

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

19 November 2025

279

Image Banner

ESG (Environmental, Social, and Governance) adalah kerangka yang menilai bagaimana perusahaan menangani isu lingkungan, sosial, dan tata kelola. Di Indonesia, penerapan ESG penting untuk mendorong keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.

Meskipun sudah ada regulasi dari pemerintah dan OJK, penerapan ESG masih menghadapi banyak tantangan. Dari kurangnya pemahaman hingga infrastruktur yang belum mendukung sepenuhnya.

Namun, ada banyak solusi yang bisa diambil, seperti meningkatkan kesadaran dan memperbaiki kebijakan yang ada. Yuk simak lebih lanjut bagaimana ESG dapat berkembang pesat di Indonesia!


Apa Itu ESG?

ESG (Environmental, Social, and Governance) adalah kerangka yang digunakan untuk menilai bagaimana perusahaan menangani aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam operasionalnya. 

Aspek lingkungan mencakup dampak perusahaan terhadap alam, seperti pengelolaan limbah dan emisi karbon. 

Sosial berkaitan dengan bagaimana perusahaan memperlakukan karyawan, pelanggan, dan komunitas di sekitar mereka. 

Tata kelola melibatkan cara perusahaan mengelola kepemimpinan, transparansi, dan kebijakan etika dalam operasionalnya.

Baca juga: 7 Rekomendasi Bootcamp ESG & Sustainability Management


Bagaimana Penerapan ESG di Indonesia?

Sumber: Canva

Penerapan ESG di Indonesia didorong oleh berbagai kebijakan dan regulasi yang telah diterapkan oleh pemerintah. 

Regulasi-regulasi ini berfokus pada keberlanjutan lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik di sektor bisnis. Berikut adalah beberapa regulasi utama yang mendukung penerapan ESG di Indonesia:

  1. UU No.16/2016 - Pengesahan Paris Agreement: Indonesia meratifikasi Paris Agreement melalui UU ini, yang menjadi landasan untuk mengurangi emisi karbon dan melaksanakan komitmen terkait perubahan iklim.
  2. Perpres 59/2017 - Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan: Peraturan Presiden ini berfokus pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan mendorong sektor publik dan swasta untuk berkontribusi pada pencapaian target-target keberlanjutan.
  3. POJK 51/2017 - Keuangan Berkelanjutan & Taksonomi Hijau: Peraturan OJK ini menetapkan prinsip-prinsip keuangan berkelanjutan dan taksonomi hijau, yang membantu memandu investasi yang ramah lingkungan dan mendukung praktek ESG di sektor keuangan.
  4. Roadmap Transisi Energi & RUPTL PLN: Pemerintah Indonesia meluncurkan roadmap untuk transisi energi yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan meningkatkan penggunaan energi terbarukan, sejalan dengan tujuan ESG.
  5. Percepatan Program KBLBB (Electric Vehicle): Untuk mendukung pengurangan emisi, pemerintah Indonesia mempercepat implementasi kendaraan listrik sebagai bagian dari inisiatif keberlanjutan dan transisi energi.
  6. UU No.7/2021 & RUU PPSK: Carbon Tax & Carbon Trading: Undang-Undang ini mengatur kebijakan terkait pajak karbon dan perdagangan karbon sebagai upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca serta mendukung kebijakan ESG yang lebih luas di Indonesia.

Dengan adanya regulasi-regulasi ini, Indonesia semakin memperkuat struktur kebijakan yang mendukung penerapan ESG, baik di sektor bisnis maupun dalam kebijakan pembangunan nasional.

Baca juga: ESG vs Sustainability: Kenali Bedanya untuk Keputusan Bisnis


Tantangan Penerapan ESG di Indonesia

Penerapan ESG di Indonesia memang terus berkembang, namun masih banyak tantangan yang perlu diatasi agar implementasinya lebih maksimal. 

Berikut adalah 5 tantangan utama yang harus dihadapi dalam penerapan ESG di Indonesia.


1. Kurangnya Pemahaman Tentang ESG

Banyak perusahaan di Indonesia yang masih kurang paham mengenai konsep dan prinsip ESG. 

Ketidaktahuan ini menyebabkan kebingungan dalam implementasi ESG, karena banyak yang tidak tahu bagaimana menyesuaikan kebijakan mereka dengan prinsip keberlanjutan ini. 

Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan edukasi dan pelatihan agar pemahaman tentang ESG lebih merata di kalangan pelaku usaha.


2. Keterbatasan Infrastruktur untuk Implementasi ESG

Di banyak daerah di Indonesia, infrastruktur yang mendukung prinsip ESG masih terbatas, terutama terkait energi terbarukan dan pengelolaan limbah. 

Perusahaan yang ingin berkomitmen pada ESG sering kali menghadapi kendala karena belum ada fasilitas yang memadai untuk mendukung kegiatan yang ramah lingkungan. Tanpa dukungan infrastruktur yang kuat, implementasi ESG di Indonesia akan terbatas.


3. Ketergantungan pada Sumber Daya Alam

Indonesia masih sangat bergantung pada sektor ekstraktif seperti pertambangan dan energi fosil, yang seringkali bertentangan dengan prinsip-prinsip ESG. 

Sementara ada dorongan untuk transisi menuju energi terbarukan, tantangan besar tetap ada karena sektor-sektor ini berperan besar dalam ekonomi Indonesia. 

Perusahaan-perusahaan di sektor ini perlu melakukan transformasi besar-besaran agar bisa beroperasi sesuai dengan standar ESG.


4. Tantangan Regulasi dan Kepatuhan

Meskipun sudah ada beberapa regulasi dari pemerintah terkait ESG, kepatuhan terhadap peraturan tersebut masih menjadi tantangan besar. 

Banyak perusahaan yang tidak sepenuhnya mematuhi aturan ESG, baik karena kurangnya pengawasan ataupun karena biaya yang dianggap terlalu tinggi. 

Agar ESG dapat diterapkan secara efektif, diperlukan penegakan hukum yang lebih tegas dan kebijakan yang jelas.


5. Keterbatasan Akses Pembiayaan untuk Proyek ESG

Sebagian besar perusahaan, terutama yang lebih kecil, sering kali kesulitan mendapatkan pembiayaan untuk proyek berbasis ESG. 

Pembiayaan untuk inisiatif keberlanjutan sering kali dianggap berisiko tinggi atau mahal. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan lembaga keuangan untuk memberikan insentif, seperti kredit murah atau subsidi, agar perusahaan lebih mudah mendapatkan pembiayaan untuk mengimplementasikan ESG.

Baca juga: Biaya Bootcamp ESG & Sustainability Management? Cek Di Sini


Harapan dari Penerapan ESG di Indonesia

Sumber: Canva

Penerapan ESG di Indonesia diharapkan dapat memberikan dampak positif yang besar tidak hanya untuk perusahaan, tetapi juga untuk masyarakat dan lingkungan. Berikut adalah 4 harapan utama dari penerapan ESG di Indonesia.


1. Meningkatkan Keberlanjutan Ekonomi

Harapan pertama dari penerapan ESG adalah untuk mendorong keberlanjutan ekonomi di Indonesia. 

Dengan mengadopsi prinsip-prinsip keberlanjutan, perusahaan dapat mengurangi risiko jangka panjang dan meningkatkan daya saing. Ini akan membuka peluang ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang.


2. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial

Penerapan ESG juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan sosial bagi masyarakat Indonesia. 

Melalui kebijakan sosial yang baik, perusahaan dapat memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat, seperti menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kondisi kerja, dan mendukung pendidikan. 

ESG bisa memastikan bahwa kemajuan ekonomi juga diiringi dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat.


3. Mengurangi Dampak Lingkungan

Salah satu harapan besar dari penerapan ESG adalah pengurangan dampak negatif terhadap lingkungan. 

Dengan fokus pada pengelolaan limbah, emisi karbon, dan penggunaan sumber daya yang lebih efisien, Indonesia bisa mengurangi kerusakan lingkungan. 

Hal ini tidak hanya baik untuk alam, tetapi juga membantu Indonesia dalam memenuhi komitmen perubahan iklim global.


4. Meningkatkan Akses ke Pembiayaan dan Investasi

Harapan lain dari penerapan ESG adalah meningkatnya akses perusahaan Indonesia ke pembiayaan dan investasi. 

Banyak investor global kini lebih tertarik untuk berinvestasi di perusahaan yang memenuhi standar ESG, yang berarti perusahaan yang berfokus pada keberlanjutan dapat menarik lebih banyak modal. Ini membuka pintu bagi pertumbuhan bisnis yang lebih inklusif dan ramah lingkungan.

Baca juga: Memahami Jenis-Jenis Risiko ESG: Contoh & Tips Mengelolanya


Solusi Mempercepat Penerapan ESG di Indonesia

Untuk mempercepat penerapan ESG di Indonesia, beberapa langkah strategis perlu dilakukan. Berikut adalah 3 solusi yang bisa mempercepat adopsi ESG di sektor swasta dan publik.


1. Peningkatan Edukasi dan Pelatihan ESG

Salah satu langkah awal yang penting adalah meningkatkan edukasi dan pelatihan mengenai ESG bagi perusahaan dan masyarakat. 

Banyak perusahaan di Indonesia yang belum sepenuhnya memahami cara menerapkan prinsip ESG dalam operasional mereka. 

Oleh karena itu, program pelatihan intensif yang mencakup pengenalan ESG dan cara mengintegrasikannya ke dalam kebijakan perusahaan sangat diperlukan untuk mempercepat adopsinya.


2. Penguatan Regulasi dan Insentif Pemerintah

Pemerintah Indonesia perlu memperkuat regulasi terkait ESG, termasuk kebijakan yang lebih tegas dan jelas. 

Selain itu, memberikan insentif bagi perusahaan yang mengimplementasikan prinsip ESG dengan baik, seperti potongan pajak atau dukungan pembiayaan ramah lingkungan, akan mendorong lebih banyak perusahaan untuk berinvestasi pada keberlanjutan. 

Insentif ini tidak hanya menarik bagi sektor swasta, tetapi juga memastikan bahwa ESG menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.


3. Kolaborasi Antara Sektor Publik dan Swasta

Kolaborasi antara sektor publik dan swasta sangat penting untuk mempercepat penerapan ESG di Indonesia. 

Pemerintah, perusahaan, dan masyarakat perlu bekerja bersama untuk menciptakan kebijakan yang mendukung implementasi ESG dan berbagi sumber daya untuk mengatasi tantangan yang ada. 

Melalui kolaborasi ini, kebijakan yang efektif dapat diterapkan dan berbagai inisiatif ESG dapat berjalan lebih cepat dan terintegrasi dengan baik dalam sistem ekonomi Indonesia.

Baca juga: Memahami AMDAL: Tujuan, Dasar Hukum, hingga Dokumen Wajib


Ingin Jadi Profesional di Bidang ESG & Sustainability?

Setelah memahami berbagai tantangan dan harapan dalam penerapan ESG, kini saatnya kamu memperdalam pengetahuan ini untuk berkarier di dunia keberlanjutan!

Yuk, ikuti Bootcamp ESG & Sustainability Management di dibimbing.id! Di sini, kamu akan mempelajari konsep ESG secara mendalam, mulai dari regulasi hingga implementasi praktis dalam perusahaan dan organisasi.

Belajar langsung dari mentor berpengalaman dengan kurikulum aplikatif dan praktis yang membantumu memahami cara mengelola dan mengintegrasikan ESG dalam strategi bisnis. 

Dengan lebih dari 840+ hiring partner dan tingkat keberhasilan alumni 96%, peluang kariermu di bidang ESG semakin terbuka lebar!

Jadi, tunggu apa lagi? Hubungi di sini dan daftar sekarang di dibimbing.id untuk memulai perjalananmu menjadi seorang profesional ESG & Sustainability Management. #BimbingSampeJadi!

Tags

ESG

Share

Author Image

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!