Dibimbing - Scalping dan Swing Trading: Kenali Jenis Trader Saham!
Blog
Risk Management

Scalping dan Swing Trading: Kenali Jenis Trader Saham!

Author

DITULIS OLEH 

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Reviewer

DIREVIEW OLEH 

Sudah Direview Oleh Expert

Dibuat pada 29 Okt 2026

Diubah pada 31 Okt 2026

10

Image Thumbnail

Scalping dan swing trading merupakan strategi perdagangan saham yang berbeda dari segi durasi, target keuntungan, dan risiko.


Scalping memanfaatkan perubahan harga dalam waktu singkat, sedangkan swing trading mengikuti tren harga selama beberapa hari hingga minggu.


Warga Bimbingan, memahami risiko kedua strategi ini penting sebelum mulai trading. Kamu bisa mendalaminya melalui Bootcamp Risk Management Dibimbing. Yuk, baca sampai akhir!


Baca Juga: Istilah dalam Saham yang Wajib Dipahami Investor Pemula



Apa Itu Scalping dan Swing Trading?

Scalping adalah strategi trading yang bertujuan memperoleh keuntungan dari perubahan harga kecil dalam waktu singkat. Pelakunya disebut scalper, yaitu trader yang biasanya membuka dan menutup posisi dalam hitungan detik hingga menit.


Strategi ini mengandalkan kecepatan mengambil keputusan, likuiditas saham, serta kemampuan membaca pergerakan harga secara langsung.


Sementara itu, swing trading adalah strategi yang memanfaatkan pergerakan harga dalam beberapa hari hingga beberapa minggu. Trader berusaha menangkap sebagian dari tren kenaikan atau penurunan harga melalui analisis teknikal dan kondisi pasar.


Berbeda dengan scalping, strategi swing trading tidak mengharuskan trader memantau grafik setiap menit. Namun, posisi yang ditahan lebih lama dapat menghadapi perubahan harga akibat berita atau peristiwa di luar jam perdagangan.


7 Perbedaan Scalping dan Swing Trading

Perbedaan scalping dan swing trading terletak pada jangka waktu, frekuensi transaksi, analisis, hingga risiko yang dihadapi.

Berikut tabel perbandingan kedua strategi tersebut.


Aspek

Scalping

Swing Trading

Durasi transaksi

Detik hingga menit

Beberapa hari hingga minggu

Frekuensi transaksi

Tinggi, bisa berkali-kali sehari

Lebih rendah

Target keuntungan

Selisih harga kecil per transaksi

Pergerakan harga lebih besar

Analisis teknikal

Grafik 1–5 menit

Grafik harian dan mingguan

Pemantauan pasar

Sangat intensif

Berkala

Biaya transaksi

Lebih sering terakumulasi

Frekuensinya lebih rendah

Risiko utama

Slippage, biaya, dan keputusan cepat

Gap price dan perubahan sentimen antarhari


Dari perbandingan tersebut, terlihat bahwa scalping lebih menuntut kecepatan dan fokus selama perdagangan berlangsung. Sebaliknya, swing trading membutuhkan kesabaran dalam mengikuti perkembangan tren.


Meski begitu, strategi dengan durasi lebih pendek belum tentu lebih menguntungkan. Hasil perdagangan tetap dipengaruhi ketepatan analisis, biaya, ukuran posisi, dan pengelolaan risiko.


Baca Juga: Career Switch dari Lulusan Fisika ke Karier Finance Profesional


Bagaimana Cara Kerja Scalping Saham?

Strategi scalping dilakukan dengan mencari peluang keuntungan dari perubahan harga kecil yang berlangsung selama sesi perdagangan.


Biasanya, scalper memperhatikan saham dengan likuiditas memadai, volume transaksi aktif, dan selisih harga beli-jual yang relatif kecil.


Berikut tahapan umum penerapannya.

  1. Memilih saham: Cari saham dengan aktivitas perdagangan dan likuiditas yang sesuai strategi.
  2. Mengamati pergerakan harga: Gunakan grafik jangka pendek, seperti 1 atau 5 menit, untuk membaca momentum.
  3. Menentukan harga masuk: Identifikasi peluang berdasarkan pergerakan harga, volume, dan antrean pembelian maupun penjualan.
  4. Menetapkan harga keluar: Tentukan target keuntungan dan batas kerugian sebelum melakukan pembelian.


Contoh Scalping Saham

Misalnya, seorang trader membeli saham ABC sebanyak 20 lot pada harga Rp1.000 per lembar. Beberapa menit kemudian, harga meningkat menjadi Rp1.010 dan seluruh saham berhasil dijual.


Karena satu lot berisi 100 lembar saham, perhitungannya menjadi:


Keterangan

Nilai

Jumlah saham

2.000 lembar

Harga beli

Rp1.000

Harga jual

Rp1.010

Total pembelian

Rp2.000.000

Total penjualan

Rp2.020.000

Keuntungan kotor

Rp20.000


Dari simulasi tersebut, trader memperoleh keuntungan kotor Rp20.000 atau 1% sebelum memperhitungkan biaya transaksi.


Namun, keuntungan tersebut belum tentu menjadi hasil bersih karena masih terdapat biaya pembelian, penjualan, dan kemungkinan perbedaan harga eksekusi.


Bagaimana Cara Kerja Swing Trading Saham?

Berbeda dengan scalping, swing trading berusaha memanfaatkan pergerakan harga yang berlangsung lebih panjang.

Trader biasanya menganalisis arah tren, area support dan resistance, volume transaksi, serta perkembangan fundamental perusahaan.


Tahapan penerapannya meliputi:

  1. Identifikasi tren: Tentukan apakah saham sedang mengalami tren naik, turun, atau bergerak mendatar.
  2. Tentukan area pembelian: Cari peluang ketika harga mendekati support, mengalami pullback, atau menembus resistance.
  3. Susun rencana transaksi: Tetapkan target keuntungan, batas kerugian, dan kondisi yang membatalkan analisis.
  4. Pantau posisi: Evaluasi perubahan harga dan berita perusahaan selama saham masih dimiliki.


Contoh Swing Trading Saham

Misalnya, seorang trader membeli 20 lot saham ABC pada harga Rp1.000 per lembar setelah mengidentifikasi peluang kenaikan harga.


Setelah saham disimpan selama beberapa hari, harga meningkat menjadi Rp1.080 dan trader menjual seluruh posisinya.


Keterangan

Nilai

Jumlah saham

2.000 lembar

Harga beli

Rp1.000

Harga jual

Rp1.080

Total pembelian

Rp2.000.000

Total penjualan

Rp2.160.000

Keuntungan kotor

Rp160.000


Dalam ilustrasi ini, keuntungan kotor mencapai Rp160.000 atau 8% sebelum biaya transaksi.


Hasil tersebut bukan berarti swing trading pasti lebih menguntungkan daripada scalping. Keduanya merupakan contoh hipotetis dengan perubahan harga dan durasi yang berbeda.


Bagaimana Pengaruh Biaya Transaksi terhadap Keuntungan Trading?

Biaya transaksi merupakan aspek penting karena dapat mengurangi keuntungan, terutama pada strategi dengan frekuensi perdagangan tinggi.


Sebagai ilustrasi, anggap biaya beli sebesar 0,15% dan biaya jual sebesar 0,25% dari masing-masing nilai transaksi. Tarif tersebut hanya asumsi perhitungan, bukan tarif yang berlaku pada seluruh perusahaan sekuritas.


Berikut perbandingan hasil dari kedua simulasi sebelumnya.


Komponen

Scalping

Swing Trading

Keuntungan kotor

Rp20.000

Rp160.000

Biaya beli

Rp3.000

Rp3.000

Biaya jual

Rp5.050

Rp5.400

Total biaya

Rp8.050

Rp8.400

Keuntungan bersih

Rp11.950

Rp151.600


Pada contoh scalping, biaya transaksi menghabiskan sekitar 40,25% dari keuntungan kotor. Artinya, kenaikan harga yang terlihat menguntungkan belum tentu menghasilkan keuntungan bersih yang besar.


Jika trader melakukan transaksi berulang kali, biaya akan terus terakumulasi. Karena itu, scalper perlu memperhitungkan break-even point, yaitu tingkat harga minimum agar hasil penjualan dapat menutup seluruh biaya.


Selain komisi, perhatikan pula bid-offer spread dan slippage, yaitu kondisi ketika harga eksekusi berbeda dari harga yang diharapkan.


Baca Juga: Risk Management Trading: Skill Penting yang Perlu Dipahami Calon Risk Analyst


Apa Kelebihan dan Kekurangan Scalping serta Swing Trading?

Kedua strategi menawarkan karakteristik yang berbeda. Memahami kelebihan dan kekurangannya membantu trader memilih pendekatan sesuai kemampuan dan kondisi pasar.


1. Kelebihan dan Kekurangan Scalping

Kelebihan scalping antara lain:

  1. Memungkinkan pemanfaatan beberapa peluang pergerakan harga dalam satu sesi perdagangan.
  2. Posisi yang ditutup sebelum pasar berakhir tidak menghadapi risiko perubahan harga semalaman.
  3. Memberikan hasil transaksi dalam waktu relatif singkat.


Namun, terdapat beberapa kekurangan:

  1. Membutuhkan konsentrasi dan pemantauan intensif.
  2. Biaya transaksi dapat mengurangi keuntungan secara signifikan.
  3. Keputusan terburu-buru meningkatkan risiko kesalahan eksekusi dan overtrading.


2. Kelebihan dan Kekurangan Swing Trading

Sementara itu, kelebihan swing trading meliputi:

  1. Waktu pemantauan lebih fleksibel dibandingkan scalping.
  2. Memberikan kesempatan menangkap pergerakan tren selama beberapa hari.
  3. Frekuensi transaksi lebih rendah sehingga biaya tidak terlalu sering terakumulasi.


Adapun kekurangannya adalah:

  1. Posisi menghadapi risiko perubahan harga di luar jam perdagangan.
  2. Berita negatif dapat menyebabkan harga dibuka jauh di bawah penutupan sebelumnya.
  3. Membutuhkan kesabaran dan disiplin ketika harga bergerak berlawanan dengan perkiraan.


Baca Juga: Apa Itu Risiko Investasi dan Contohnya? Kenali Strategi Meminimalisirnya



Scalping atau Swing Trading, Mana yang Cocok untuk Pemula?

Pemilihan strategi sebaiknya mempertimbangkan waktu yang tersedia, pengalaman, kemampuan analisis, dan toleransi terhadap kerugian.


Swing trading dapat lebih mudah dipelajari sebagian pemula karena ritmenya lebih lambat dan memberikan waktu untuk mengevaluasi keputusan. Namun, strategi ini tidak otomatis lebih aman.


Sebaliknya, scalping membutuhkan kemampuan mengambil keputusan cepat dan memahami mekanisme perdagangan secara lebih mendalam.


Sebelum memilih, pertimbangkan beberapa pertanyaan berikut:

  1. Apakah kamu memiliki waktu untuk memantau pasar selama jam perdagangan?
  2. Apakah kamu memahami cara membaca grafik dan volume transaksi?
  3. Berapa kerugian maksimum yang mampu ditanggung?
  4. Apakah kamu siap menghadapi pergerakan harga semalaman?
  5. Apakah biaya transaksi sudah diperhitungkan dalam strategi?


Bagi pemula, simulasi transaksi dan pencatatan hasil trading dapat membantu mengevaluasi strategi sebelum menggunakan dana yang lebih besar.


Baca Juga: Cara Investasi Saham untuk Pemula dengan Modal Kecil


Bagaimana Cara Mengelola Risiko Scalping dan Swing Trading?


Cara Mengelola Risiko Scalping dan Swing Trading

Sumber: Desain oleh Dibimbing


Manajemen risiko menjadi komponen penting dalam kedua strategi karena pergerakan harga saham tidak dapat diprediksi secara pasti.


Pengelolaan risiko membantu trader membatasi eksposur kerugian, menyesuaikan ukuran posisi, dan menghindari keputusan yang hanya berdasarkan emosi.


1. Tentukan Batas Risiko per Transaksi

Trader dapat menentukan persentase modal yang bersedia dirisikokan dalam satu transaksi, misalnya 1% sebagai ilustrasi.


Apabila modal sebesar Rp5.000.000, anggaran risiko yang direncanakan adalah:

Rp5.000.000 × 1% = Rp50.000


Angka tersebut merupakan batas risiko yang direncanakan, bukan jaminan kerugian aktual tidak akan melebihinya.


2. Hitung Ukuran Posisi atau Position Sizing

Ukuran posisi menentukan jumlah saham yang dapat dibeli berdasarkan jarak antara harga masuk dan batas kerugian.


Misalnya, trader menetapkan:


Komponen

Nilai

Modal

Rp5.000.000

Anggaran risiko

Rp50.000

Harga masuk

Rp1.000

Harga batas kerugian

Rp975

Risiko per lembar

Rp25

Ukuran posisi teoritis

2.000 lembar (20 lot)


Perhitungannya:

Rp50.000 ÷ Rp25 = 2.000 lembar saham


Jumlah tersebut belum memperhitungkan biaya dan slippage. Agar total risiko tetap berada dalam anggaran Rp50.000, trader perlu mempertimbangkan pengurangan ukuran posisi.


Baca Juga: Value at Risk: Pengertian, Metode, dan Cara Menghitungnya


3. Gunakan Risk-Reward Ratio

Risk-reward ratio membandingkan potensi kerugian dengan target keuntungan yang direncanakan.


Sebagai contoh, jika trader memiliki risiko Rp50.000 dan menargetkan keuntungan Rp100.000, perbandingannya adalah 1:2.


Artinya, potensi keuntungan yang direncanakan dua kali lebih besar daripada kerugian yang direncanakan. Namun, rasio tersebut tidak menjamin transaksi akan berhasil.


4. Perhatikan Likuiditas dan Pergerakan Harga

Saham dengan likuiditas rendah dapat menyulitkan trader untuk membeli atau menjual pada harga yang diinginkan.


Risiko tersebut sangat penting bagi scalper karena perubahan harga kecil dapat memengaruhi hasil transaksi secara signifikan.


Untuk swing trader, perhatian juga perlu diberikan pada risiko gap price ketika harga pembukaan berbeda jauh dari harga penutupan sebelumnya.


5. Evaluasi Strategi dan Hasil Trading

Catat setiap transaksi untuk mengetahui apakah strategi yang digunakan menghasilkan hasil sesuai rencana.


Beberapa indikator yang bisa dievaluasi adalah win rate, rata-rata keuntungan, rata-rata kerugian, biaya transaksi, dan maximum drawdown.


Melalui evaluasi tersebut, trader dapat mengidentifikasi kelemahan strategi dan membuat keputusan berdasarkan data, bukan sekadar perasaan.


Baca Juga: Contoh Kasus Risk Management dan Strategi Mitigasi Terbaik


Rekomendasi Bootcamp Risk Management untuk Tingkatkan Skill

Memahami scalping dan swing trading merupakan langkah awal untuk mengenali risiko perdagangan saham. Namun, kamu juga perlu menguasai analisis risiko pasar, pengukuran potensi kerugian, hingga strategi mitigasi risiko secara profesional.


Melalui Bootcamp Risk Management Dibimbing, kamu bisa belajar secara terstruktur bersama mentor berpengalaman melalui praktik dan studi kasus nyata. Program ini cocok untuk mahasiswa, fresh graduate, profesional, maupun career switcher yang ingin membangun karier di bidang manajemen risiko.


Program Bootcamp Risk Management Dibimbing:

  1. Live Class dan Praktik: Ikuti 55+ live class dan 45+ sesi praktik bersama mentor ahli.
  2. Portofolio: Bangun portofolio profesional melalui 25+ proyek berbasis kasus nyata.
  3. Materi Komprehensif: Pelajari Credit Risk, Market Risk, Operational Risk, serta Liquidity & Treasury.
  4. Final Project: Kerjakan proyek akhir berdasarkan standar dan kebutuhan industri terkini.
  5. Pendampingan: Akses dukungan fasilitator dan mentor selama 24/7.
  6. Mentoring: Ikuti konsultasi 1-on-1 tanpa batas bersama instruktur ahli, khusus program Job Connect.
  7. Penyaluran Kerja: Dapatkan akses program penyaluran kerja ke 1.100+ perusahaan mitra, khusus program Job Connect.
  8. Komunitas: Bergabung dengan komunitas Risk Management untuk memperluas koneksi profesional.


Siap Memulai Karier di Bidang Risk Management?

Kalau kamu ingin mengembangkan kemampuan analisis risiko pasar, kredit, hingga operasional, Bootcamp Risk Management Dibimbing bisa menjadi langkah awal untuk meningkatkan keterampilan sekaligus membangun portofolio profesional.


Yuk, hubungi tim Dibimbing untuk konsultasi gratis dan cari tahu program yang paling sesuai dengan tujuan kariermu!


FAQ:

1. Apa perbedaan utama scalping dan swing trading?

Perbedaan utamanya terletak pada durasi dan frekuensi transaksi. Scalping memanfaatkan perubahan harga dalam detik hingga menit, sedangkan swing trading berusaha menangkap pergerakan harga selama beberapa hari hingga minggu.


2. Apakah scalping lebih menguntungkan daripada swing trading?

Tidak selalu. Keuntungan bergantung pada perubahan harga, frekuensi transaksi, biaya, dan keberhasilan strategi. Scalping dapat menghasilkan keuntungan kecil secara berulang, tetapi biaya transaksi dan kerugian juga dapat terakumulasi.


3. Berapa modal awal untuk scalping saham?

Tidak ada modal minimum universal untuk strategi scalping. Kebutuhan dana bergantung pada harga saham, ukuran transaksi, serta ketentuan perusahaan sekuritas. Di pasar reguler BEI, satu lot saham setara dengan 100 lembar.


4. Apakah swing trading cocok untuk pemula?

Swing trading dapat dipertimbangkan oleh pemula yang memiliki waktu pemantauan terbatas dan ingin mempelajari analisis tren. Namun, risiko kerugian tetap ada, terutama akibat perubahan harga ketika pasar tutup.


5. Apa bedanya scalping, day trading, dan swing trading?

Scalping umumnya dilakukan dalam detik hingga menit. Day trading mencakup transaksi yang dibuka dan ditutup pada hari perdagangan yang sama, sedangkan swing trading biasanya mempertahankan posisi selama beberapa hari hingga minggu.

Kategori:

Share:

Penulis

Penulis Image

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.

Reviewer

Reviewer Image

Sudah Direview Oleh Expert

Setiap artikel yang berlabel "Sudah Direview Oleh Expert" telah melalui proses peninjauan oleh praktisi atau mentor yang berpengalaman di bidangnya untuk memastikan informasi yang disajikan berkualitas, akurat, dan relevan bagi pembaca.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!