dibimbing.id - Apa Itu Risiko Investasi dan Contohnya? Kenali Strategi Meminimalisirnya

Apa Itu Risiko Investasi dan Contohnya? Kenali Strategi Meminimalisirnya

Farijihan Putri

11 February 2026

119

Image Banner

Warga Bimbingan yang lagi ngincer karir di investment banking atau fund management pasti sering denger soal risiko. Tapi paham nggak sih betapa krusialnya mengidentifikasi risiko investasi dan contohnya dalam keputusan klien sehari-hari?

MinDi ajak kamu bedah jenis-jenis risiko konkret yang langsung pengaruh valuasi aset dan portfolio. Pahami karakter masing-masing risiko ini biar analisismu jadi lebih tajam.

Yuk, kita kupas biar skill risk assessment-mu makin solid dan siap dipraktekkan di dunia nyata!


Apa Itu Risiko Investasi?

Singkatnya, risiko investasi adalah kemungkinan realisasi keuntungan (cuan) yang kamu dapatkan ternyata meleset dari ekspektasi awal, atau malah modalmu berkurang.

Dilansir dari HSBC, konsep ini sebenarnya sederhana: risiko investasi hanyalah sebuah probabilitas atau peluang kamu mengalami kerugian dibandingkan dengan return yang kamu harapkan dari modal yang sudah disetor.

Perlu diingat bahwa setiap instrumen atau produk investasi itu punya karakter risiko yang berbeda-beda, ada yang kalem dan ada yang rollercoaster.

Makanya, sebelum memutuskan mau taruh uang di mana, hal pertama yang wajib banget kamu lakukan adalah mengecek seperti apa selera atau profil risiko (risk appetite) kamu sendiri.

Baca Juga: Panduan Sukses Switch Career ke Investment Banking


Apa Saja Jenis Risiko Investasi dan Contohnya?

Sumber: Pexels

Biar Warga Bimbingan nggak kaget (shock therapy) saat melihat portofolio memerah, yuk kenalan dulu sama berbagai "hantu" dalam dunia investasi berikut ini.


1. Risiko Pasar (Market Risk)

Jenis risiko pasar adalah yang paling umum terjadi dan sering disebut sebagai risiko sistematis karena efeknya dirasakan oleh seluruh pasar. 

Biasanya dipicu oleh sentimen makroekonomi, situasi politik, atau kejadian luar biasa yang bikin investor panik berjamaah. 

Ketika risiko ini menyerang, harga aset bisa rontok seketika tanpa memandang fundamental perusahaan bagus atau jelek. Kamu nggak bisa menghindarinya sepenuhnya, tapi bisa meminimalisirnya dengan strategi jangka panjang.

  1. Contoh: Saham blue chip sekelas BBCA atau TLKM ikut turun drastis karena kepanikan pasar global akibat pandemi COVID-19.


2. Risiko Likuiditas (Liquidity Risk)

Selanjutnya, risiko likuiditas yang muncul ketika kamu kesulitan mencairkan aset menjadi uang tunai (cash) secara cepat di harga yang wajar saat sedang butuh dana darurat.

Aset tersebut mungkin punya nilai tinggi di atas kertas, tapi sepi peminat atau pasarnya tidak aktif sehingga kamu terpaksa jual murah (jual rugi).

Memahami aspek risiko investasi dan contohnya di bagian likuiditas ini penting banget biar asetmu nggak jadi "harta karun" yang terkubur alias nggak bisa dipakai. Pastikan kamu selalu punya porsi aset yang likuid biar cashflow aman.

  1. Contoh: Kesulitan menjual properti (rumah/tanah) secara instan saat butuh uang tunai, atau terjebak di saham gocap (Rp50) yang antrean jualnya panjang banget tapi nggak ada yang beli.


3. Risiko Kredit/Gagal Bayar (Default Risk)

Risiko gagal bayar terjadi ketika pihak yang meminjam uang atau penerbit surat utang tidak mampu memenuhi kewajibannya kepada investor. Mereka gagal membayar bunga kupon secara berkala atau bahkan tidak bisa mengembalikan pokok utang saat jatuh tempo.

Hal ini sering terjadi pada obligasi korporasi dengan rating rendah atau high yield bond yang menjanjikan bunga tinggi tapi fundamentalnya rapuh. Kalau ini kejadian, modal yang kamu tanam bisa hilang sebagian atau seluruhnya.

  1. Contoh: Perusahaan penerbit obligasi korporasi dinyatakan pailit atau bangkrut, sehingga investor gigit jari tidak mendapatkan kembali modal pokoknya.


4. Risiko Inflasi (Inflation Risk)

Sering disebut sebagai purchasing power risk, ini adalah kondisi di mana kenaikan harga barang (inflasi) lebih ngebut daripada pertumbuhan hasil investasi.

Secara nominal uang mungkin bertambah, tapi secara riil kemampuan uang itu buat beli barang malah menurun drastis.

Kalau Warga Bimbingan cuma simpan uang di bawah bantal atau instrumen berbunga rendah, kamu sebenarnya sedang "miskin pelan-pelan" karena tergerus inflasi.

Inilah kenapa belajar soal risiko investasi dan contohnya terkait inflasi itu wajib biar daya beli masa depanmu tetap terjaga.

  1. Contoh: Deposito bank memberi bunga bersih 3% per tahun, namun inflasi tahunan mencapai 5%, mengakibatkan nilai riil uangmu sebenarnya berkurang alias nombok.


5. Risiko Nilai Tukar (Currency Risk)

Risiko berikutnya, ada currency risk yang menghantui investor yang punya aset dalam mata uang asing (forex) atau saham luar negeri.

Perubahan kurs mata uang bisa menggerus keuntungan investasi saat dikonversi kembali ke mata uang asal (Rupiah).

Meskipun harga aset di negara asalnya naik, kalau nilai tukarnya melemah terhadap Rupiah, hasil akhirnya bisa jadi impas atau malah rugi. Jadi, kamu harus mantau dua grafik sekaligus: harga aset dan pergerakan kurs.

  1. Contoh: Investor memiliki aset saham AS (dalam USD) yang harganya naik, namun Rupiah menguat tajam terhadap USD, sehingga saat dicairkan ke Rupiah, total nilainya malah menurun.


6. Risiko Operasional/Regulasi

Risiko operasional bersumber dari faktor non-pasar, seperti kegagalan sistem internal perusahaan, kesalahan manusia (human error), atau perubahan kebijakan pemerintah yang mendadak.

Aturan baru bisa saja mematikan sektor bisnis tertentu atau membuat perusahaan harus menanggung biaya kepatuhan yang sangat besar.

Selain itu, kecurangan (fraud) manajemen juga masuk dalam kategori ini yang bisa bikin harga saham terjun bebas ke titik terendah.

Makanya, analisis risiko investasi dan contohnya dari sisi legal dan operasional nggak boleh dilewatkan sebelum beli saham.

  1. Contoh: Saham perusahaan disuspensi (forced delisting) oleh Bursa Efek Indonesia karena ketahuan memanipulasi laporan keuangan atau melanggar aturan bursa.

Baca Juga: Rekomendasi Bootcamp Investment & Banking Terbaik


Strategi Meminimalisir Risiko Investasi

Udah tau kan kalau risiko itu pasti ada? Nah, sekarang saatnya Warga Bimbingan pasang kuda-kuda dengan strategi berikut biar portofolio tetap aman sentosa.


1. Diversifikasi Aset (Don't Put All Eggs in One Basket)

Jangan pernah taruh semua uangmu di satu jenis instrumen saja, misalnya cuma beli satu saham atau cuma punya kripto. Sebar modal ke berbagai kelas aset yang berbeda karakternya, seperti kombinasi saham, obligasi, emas, dan reksa dana pasar uang.

Tujuannya sederhana, kalau satu aset lagi boncos atau turun harganya, kerugian itu bisa tertutup alias tercover oleh keuntungan dari aset lain yang lagi naik.

Dengan begitu, kinerja portofolio secara keseluruhan akan lebih stabil dan nggak bikin jantungan saat pasar lagi crash.


2. Dollar Cost Averaging (DCA)

DCA adalah strategi investasi rutin dengan nominal yang sama setiap periode (misal tiap bulan) tanpa mempedulikan kondisi pasar lagi naik atau turun.

Dengan cara ini, kamu akan mendapatkan harga rata-rata pembelian yang lebih rendah dibandingkan kalau kamu coba-coba menebak pasar (market timing) yang sering meleset. 

Strategi DCA sangat ampuh buat meredam volatilitas pasar jangka pendek dan melatih kedisiplinan mental investor. Kamu nggak perlu pusing mantengin grafik tiap hari, cukup konsisten saja setor modalnya.


3. Lakukan Analisis Fundamental Mendalam

Sebelum membeli aset apapun, pastikan kamu sudah "membedah" kesehatan keuangan dan prospek bisnisnya lewat laporan keuangan atau berita terpercaya.

Jangan beli kucing dalam karung atau cuma ikut-ikutan influencer (FOMO) tanpa tahu apa yang sebenarnya kamu beli. Pahami model bisnisnya, siapa manajemen di baliknya, dan bagaimana potensi pertumbuhannya di masa depan. 

Semakin dalam pengetahuanmu tentang aset tersebut, semakin kecil risiko kamu terjebak dalam investasi bodong atau saham gorengan.


4. Sesuaikan dengan Profil Risiko Pribadi

Kenali diri sendiri dulu, apakah kamu tipe konservatif (cari aman), moderat (tengah-tengah), atau agresif (berani rugi demi cuan gede).

Jangan memaksakan diri masuk ke instrumen risiko tinggi seperti saham lapis tiga atau kripto kalau kamu nggak bisa tidur nyenyak saat harganya turun sedikit. 

Investasi itu tujuannya buat mensejahterakan masa depan, bukan malah bikin stres dan penyakit jantung di masa muda. Pilih produk yang sesuai dengan "kekuatan jantung" dan tujuan keuanganmu.


5. Siapkan Dana Darurat Terpisah

Jangan pernah menggunakan uang kebutuhan sehari-hari atau uang panas untuk berinvestasi di instrumen yang berisiko.

Pastikan kamu sudah punya dana darurat yang likuid (mudah dicairkan) setidaknya 6-12 kali pengeluaran bulanan di rekening terpisah atau RDPU.

Dana tersebut berfungsi sebagai safety net kalau amit-amit kamu kehilangan pekerjaan atau ada musibah mendadak.

Jadi, kamu nggak perlu terpaksa menjual aset investasi di harga rendah saat sedang butuh uang tunai cepat.

Baca Juga: Panduan Lengkap Investment Banking Roadmap untuk Pemula


Mulai Karier di Bidang Investment bersama Dibimbing Hari Ini

Memahami risiko investasi itu baru langkah awal, lho! Kalau Warga Bimbingan pengen paham analisis pasar sampai jadi profesional bergaji tinggi di industri keuangan, yuk gabung di Bootcamp Investment & Banking Dibimbing

Siap-siap deh, kamu bakal diajarin langsung sama praktisi top, dapet akses gratis mengulang kelas, dan bimbingan konsultasi 1-on-1 buat bangun portofolio yang dilirik rekruter. Terbukti, 96% alumni udah sukses kerja berkat penyaluran kerja ke 840+ hiring partners

Penasaran "Apakah lulusan non-ekonomi bisa ikutan?" atau "Gimana prospek kerjanya?", langsung aja konsultasi gratis di sini! Dibimbing pasti #BimbingSampeJadi investment analyst impianmu!


FAQ

1. Apa hubungan antara risiko dan return dalam investasi?

Prinsip dasarnya adalah High Risk, High Return. Semakin tinggi potensi keuntungan yang ditawarkan suatu instrumen investasi, semakin tinggi pula risiko kerugian yang menyertainya.

2. Apakah ada investasi yang benar-benar bebas risiko (Zero Risk)?

Secara teknis tidak ada yang 100% tanpa risiko, namun surat berharga negara (SBN) seperti ORI atau Sukuk Ritel dianggap risk-free karena dijamin undang-undang oleh negara, selama negara tidak bangkrut.

3. Apa bedanya risiko sistematis dan risiko tidak sistematis?

Risiko sistematis (pasar) berdampak ke seluruh pasar dan tidak bisa dihindari diversifikasi (contoh: resesi, inflasi), sedangkan risiko tidak sistematis (spesifik) hanya berdampak pada satu perusahaan/industri dan bisa dikurangi dengan diversifikasi.


Referensi

  1. Investment risk: what is it and how does it affect you? [Buka]
  2. Investment risk [Buka]

Share

Author Image

Farijihan Putri

Farijihan is a passionate Content Writer with 3 years of experience in crafting compelling content, optimizing for SEO, and developing creative strategies for various brands and industries.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!