7 Perbedaan DoS dan DDoS Beserta Cara Mengatasinya
DITULIS OLEH
Irhan Hisyam Dwi Nugroho
DIREVIEW OLEH
Sudah Direview Oleh Expert
Dibuat pada 11 Feb 2025
Diubah pada 15 Sep 2026
3069
DoS dan DDoS adalah serangan siber yang sama-sama bertujuan membuat website, server, atau jaringan sulit diakses pengguna. Meski terlihat serupa, keduanya memiliki perbedaan dari sumber serangan, skala, hingga tingkat kesulitan penanganannya.
DoS biasanya berasal dari satu sumber, sedangkan DDoS melibatkan banyak perangkat yang menyerang secara bersamaan. Hal ini membuat serangan DDoS cenderung lebih kompleks untuk dideteksi dan dimitigasi.
Kalau Warga Bimbingan tertarik mempelajari cara mendeteksi dan menghadapi berbagai ancaman siber, kamu juga bisa belajar melalui Bootcamp Cyber Security Dibimbing. Sebelum itu, yuk pahami 7 perbedaan DoS dan DDoS beserta cara mengatasinya!
Baca juga : 13 Cyber Security Tools Terbaik untuk Keamanan Data
Apa Itu DoS dan DDoS?
DoS (Denial of Service) dan DDoS (Distributed Denial of Service) adalah serangan siber yang bertujuan untuk membuat server, website, atau jaringan menjadi tidak dapat diakses dengan membanjiri permintaan atau trafik.
DoS dilakukan dari satu sumber, sedangkan DDoS berasal dari banyak perangkat (botnet), sehingga lebih sulit dihentikan.
Serangan ini dapat menyebabkan sistem menjadi lambat, crash, atau bahkan offline, yang berdampak besar pada bisnis dan layanan digital.
Karena itu, memahami cara kerja DoS dan DDoS serta bagaimana mengatasinya sangat penting untuk melindungi infrastruktur digital dari gangguan dan potensi kerugian.
Baca juga : 10 Contoh Deep Web dan Tips Aman Saat Mengaksesnya
Perbedaan DoS dan DDoS
Sumber: Canva
Meskipun sama-sama bertujuan mengganggu layanan sistem, DoS dan DDoS memiliki perbedaan mendasar dalam cara kerja, tingkat ancaman, serta metode pencegahannya. Berikut adalah 7 perbedaan DoS dan DDoS yang perlu kamu ketahui:
1. Jumlah Sumber Serangan
DoS (Denial of Service) dilakukan dari satu sumber atau satu perangkat yang mengirimkan trafik berlebihan ke target. Serangan ini relatif lebih mudah dideteksi dan diblokir karena asal serangan berasal dari satu titik.
DDoS (Distributed Denial of Service) melibatkan banyak sumber sekaligus, seringkali berupa jaringan botnet yang dikendalikan oleh penyerang. Karena datang dari berbagai IP dan lokasi yang berbeda, serangan DDoS jauh lebih sulit untuk diidentifikasi dan dihentikan.
2. Skala dan Dampak Serangan
Serangan DoS biasanya memiliki skala yang lebih kecil karena hanya mengandalkan satu perangkat atau jaringan. Meskipun bisa membuat server lambat atau bahkan down, pemulihannya relatif lebih cepat jika serangan berhasil dihentikan.
Sebaliknya, DDoS memiliki skala yang jauh lebih besar, karena bisa melibatkan ribuan hingga jutaan perangkat dalam satu waktu. Dampaknya bisa membuat layanan tidak tersedia selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari, tergantung dari seberapa besar serangannya.
Baca juga : IT Auditor Adalah: Tugas, Keahlian, Proses Audit, dan Gaji
3. Kecepatan dan Intensitas Serangan
Serangan DoS lebih lambat karena jumlah trafik yang dikirimkan terbatas pada kemampuan satu perangkat atau jaringan. Meskipun masih berbahaya, efeknya bisa ditangani lebih cepat jika sistem memiliki perlindungan yang baik.
Sementara itu, DDoS lebih cepat dan intens karena melibatkan banyak perangkat sekaligus, sehingga lonjakan trafik yang terjadi sangat masif dalam waktu singkat. Hal ini menyebabkan sistem target lebih cepat kewalahan dan lebih sulit dipulihkan.
4. Cara Deteksi dan Pencegahan
Serangan DoS lebih mudah dideteksi, karena lalu lintas mencurigakan hanya berasal dari satu sumber. Administrator jaringan dapat memblokir IP penyerang dan meningkatkan kapasitas server untuk menangani lonjakan trafik.
Sebaliknya, DDoS sulit dideteksi karena serangan berasal dari banyak sumber yang tersebar. Pencegahannya membutuhkan sistem keamanan canggih seperti firewall khusus, traffic filtering, dan layanan proteksi DDoS dari penyedia keamanan seperti Cloudflare atau AWS Shield.
5. Biaya dan Sumber Daya yang Dibutuhkan
Untuk melakukan serangan DoS, penyerang hanya membutuhkan satu perangkat dengan koneksi internet yang cukup kuat. Serangan ini bisa dilakukan oleh individu dengan keterampilan hacking dasar.
Sedangkan untuk DDoS, penyerang membutuhkan botnet, yaitu jaringan perangkat yang telah terinfeksi malware dan dikendalikan dari jarak jauh. Membangun botnet membutuhkan sumber daya yang lebih besar, sehingga serangan DDoS lebih sering dilakukan oleh kelompok hacker yang lebih terorganisir.
6. Tujuan Serangan
Serangan DoS biasanya digunakan untuk mengganggu layanan tertentu secara sementara, misalnya untuk protes atau sekadar iseng. Banyak serangan DoS dilakukan oleh individu atau kelompok kecil yang ingin menguji kerentanan suatu sistem.
Sebaliknya, DDoS lebih sering digunakan sebagai serangan yang terorganisir, misalnya untuk merugikan bisnis pesaing, memeras perusahaan, atau bahkan sebagai bagian dari strategi perang siber. Karena dampaknya lebih luas, DDoS lebih sering digunakan untuk tujuan yang lebih serius.
7. Tingkat Kesulitan Pemulihan
Pemulihan dari serangan DoS lebih mudah, karena administrator hanya perlu memblokir alamat IP penyerang atau menambah kapasitas server untuk menangani lonjakan trafik. Jika sumber serangan sudah dihentikan, sistem bisa kembali normal dengan cepat.
Namun, pemulihan dari serangan DDoS jauh lebih sulit, karena melibatkan banyak sumber serangan yang tersebar. Perusahaan atau layanan yang terkena serangan harus menggunakan strategi mitigasi yang lebih kompleks, seperti rerouting trafik atau bekerja sama dengan penyedia layanan keamanan siber.
Baca juga : Deep Web vs Dark Web: Perbedaan, Contoh, dan Risikonya
Cara Mengatasi Serangan DoS dan DDoS
Sumber: Canva
Serangan DoS dan DDoS bisa sangat merugikan jika tidak ditangani dengan baik, terutama bagi bisnis yang mengandalkan layanan online. Berikut adalah 4 cara mengatasi serangan DoS dan DDoS yang perlu kamu terapkan:
1. Gunakan Firewall dan Sistem Deteksi Serangan (IDS/IPS)
Firewall dan Intrusion Detection/Prevention System (IDS/IPS) dapat membantu menyaring lalu lintas mencurigakan sebelum mencapai server.
Sistem ini bisa mendeteksi pola serangan dan memblokir permintaan berlebihan yang mencurigakan secara otomatis. Dengan menggunakan firewall yang dikonfigurasi dengan baik, kamu bisa meminimalkan risiko serangan DoS dan DDoS sejak awal.
2. Terapkan Rate Limiting dan Load Balancing
Rate limiting berfungsi untuk membatasi jumlah permintaan dari satu IP dalam periode tertentu, sehingga bisa mencegah lonjakan trafik yang mencurigakan.
Sementara itu, load balancing membagi trafik ke beberapa server, sehingga sistem tidak kewalahan menangani permintaan yang terlalu besar. Dengan kombinasi kedua metode ini, kamu bisa mengurangi dampak serangan sebelum sistem mengalami overload.
3. Gunakan Layanan Proteksi DDoS dari Penyedia Keamanan
Beberapa penyedia layanan keamanan, seperti Cloudflare, AWS Shield, dan Akamai, menawarkan perlindungan khusus terhadap serangan DoS dan DDoS.
Layanan ini bekerja dengan cara menyaring lalu lintas berbahaya dan hanya mengizinkan trafik sah untuk masuk ke sistem. Menggunakan solusi ini sangat disarankan untuk bisnis yang ingin memastikan keamanan jangka panjang terhadap ancaman siber.
4. Monitoring dan Respons Cepat terhadap Serangan
Melakukan monitoring lalu lintas jaringan secara berkala dapat membantu mendeteksi potensi serangan sejak dini.
Dengan memanfaatkan tools analitik dan log traffic, kamu bisa mengidentifikasi pola yang tidak biasa dan segera mengambil tindakan sebelum dampaknya lebih besar. Selain itu, memiliki tim IT yang siap merespons serangan dengan cepat juga penting untuk memastikan sistem tetap berjalan dengan baik.
Baca juga : Surface Web: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Contohnya
Kesimpulan
DoS dan DDoS sama-sama bertujuan mengganggu ketersediaan layanan dengan membanjiri sistem menggunakan trafik atau permintaan dalam jumlah besar. Perbedaan utamanya terletak pada sumber serangan, skala, intensitas, hingga tingkat kesulitan penanganannya.
Untuk mengurangi risikonya, sistem dapat menggunakan firewall, IDS/IPS, rate limiting, load balancing, monitoring jaringan, hingga layanan proteksi DDoS. Strategi mitigasi yang tepat membantu menjaga layanan tetap tersedia ketika menghadapi trafik mencurigakan.
Rekomendasi Bootcamp Cyber Security Terbaik di Indonesia: Dibimbing
Kalau ingin berkarier di bidang cyber security, memahami serangan seperti DoS dan DDoS merupakan salah satu dasar yang penting. Kamu juga perlu mempelajari networking, penetration testing, threat detection, incident response, hingga berbagai teknik untuk mengidentifikasi dan mengatasi kerentanan sistem.
Bootcamp Cyber Security Dibimbing dirancang untuk membantu kamu mempelajari keamanan siber dari dasar dengan kurikulum yang mencakup Networking Fundamentals, Cryptography, Penetration Testing, hingga Defensive Security. Kamu juga bisa melakukan praktik menggunakan berbagai security tools seperti Wireshark, Wazuh, Metasploit, Nmap, OpenSSL, dan Kali Linux.
Program Bootcamp Cyber Security Dibimbing:
- 40+ Live Class Interaktif: Belajar secara langsung bersama praktisi profesional di bidang cyber security.
- Virtual Lab & Security Tools: Praktik menggunakan lingkungan dan berbagai tools keamanan untuk memahami penerapan materi.
- Red Team & Blue Team: Pelajari sisi ofensif seperti ethical hacking dan penetration testing serta sisi defensif seperti threat detection dan incident response.
- Proyek Portofolio: Kerjakan berbagai proyek dan tugas untuk membangun portofolio di bidang keamanan siber.
- Pendampingan Mentor: Belajar bersama mentor berpengalaman dan dapatkan dukungan selama proses pembelajaran.
- Konsultasi Karier: Dapatkan 1-on-1 career & portfolio consultation, review CV dan LinkedIn, serta latihan interview.
- Akses Materi: Dapatkan akses materi pembelajaran seumur hidup dan kesempatan mengulang program.
- Penyaluran Kerja: Dapatkan akses Job Connect dengan jaringan 1.100+ hiring partners.
- Komunitas: Bangun jaringan bersama 100.000+ digital learners di komunitas Dibimbing.
Materi Red Team dan Blue Team, tools industri, layanan persiapan karier, serta angka 1.100+ hiring partners dan 100.000+ digital learners tercantum pada halaman program Cyber Security Dibimbing saat ini.
Siap Berkarier di Bidang Cyber Security?
Kalau kamu ingin memahami cara menghadapi serangan seperti DoS dan DDoS sekaligus mempraktikkan berbagai teknik keamanan siber, Bootcamp Cyber Security Dibimbing bisa membantu proses belajarmu lebih terstruktur.
Yuk, tingkatkan keterampilan dan mulai persiapkan karier di bidang cyber security bersama Dibimbing!
FAQ
1. Apa Perbedaan Utama DoS dan DDoS?
DoS menggunakan satu sumber untuk menyerang target, sedangkan DDoS menggunakan banyak perangkat atau sumber secara bersamaan. Karena sumber serangannya tersebar, DDoS umumnya lebih sulit dideteksi dan dihentikan.
2. Mana yang Lebih Berbahaya, DoS atau DDoS?
DDoS umumnya memiliki potensi dampak yang lebih besar karena dapat melibatkan banyak perangkat dan menghasilkan trafik dalam jumlah besar. Namun, tingkat dampak tetap bergantung pada skala serangan dan kemampuan sistem target.
3. Apa Tujuan Serangan DoS dan DDoS?
Tujuan utama serangan DoS dan DDoS adalah mengganggu ketersediaan layanan sehingga website, server, atau jaringan menjadi lambat atau tidak dapat diakses pengguna.
4. Bagaimana Cara Mencegah Serangan DDoS?
Beberapa langkah mitigasi yang dapat digunakan adalah firewall, IDS/IPS, rate limiting, load balancing, monitoring trafik, dan layanan proteksi DDoS.
5. Apakah Firewall Bisa Mencegah DDoS?
Firewall dapat membantu menyaring trafik mencurigakan, tetapi belum tentu cukup untuk menghadapi serangan DDoS berskala besar. Biasanya diperlukan kombinasi beberapa metode mitigasi dan layanan proteksi khusus.
Kategori:
Penulis
Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.
