Apa Itu Stakeholder? Jenis, Peran, dan Contohnya
DITULIS OLEH
Irhan Hisyam Dwi Nugroho
DIREVIEW OLEH
Sudah Direview Oleh Expert
Dibuat pada 27 Okt 2026
Diubah pada 31 Okt 2026
16
Apa itu stakeholder? Stakeholder adalah individu atau kelompok yang memiliki kepentingan atau pengaruh terhadap kegiatan perusahaan, seperti karyawan, investor, pelanggan, dan pemerintah.
Namun, perbedaan kepentingan stakeholder bisa memicu konflik dan menghambat proyek jika tidak dikelola dengan baik. Karena itu, kemampuan mengelola stakeholder penting bagi calon Business Analyst dan bisa kamu pelajari melalui Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Dibimbing.
Nah, Warga Bimbingan, bagaimana cara mengelola stakeholder secara efektif? Yuk, simak penjelasan MinDi mengenai pengertian, jenis, peran, hingga contohnya berikut ini!
Apa Itu Stakeholder
Stakeholder adalah pihak yang memiliki kepentingan, memengaruhi, atau terdampak oleh aktivitas, keputusan, maupun hasil suatu perusahaan atau proyek.
Dalam bahasa Indonesia, stakeholder disebut sebagai pemangku kepentingan. Istilah ini tidak hanya merujuk pada pemilik perusahaan, tetapi juga mencakup pihak yang berkaitan dengan keberlangsungan bisnis.
Keterlibatan stakeholder tidak selalu berupa kepemilikan saham atau pekerjaan di perusahaan. Pihak yang menggunakan produk, memasok kebutuhan usaha, atau terkena dampak kegiatan bisnis juga dapat menjadi pemangku kepentingan.
Misalnya, ketika perusahaan mengembangkan aplikasi belanja, terdapat berbagai pihak yang terlibat:
- Manajemen: Menentukan tujuan dan anggaran proyek.
- Karyawan: Mengembangkan dan mengoperasikan aplikasi.
- Pelanggan: Menggunakan aplikasi untuk bertransaksi.
- Investor: Memiliki kepentingan terhadap kinerja bisnis.
- Pemerintah: Mengatur kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
Setiap pihak memiliki kebutuhan dan kepentingan berbeda yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.
Baca Juga: Roadmap Business Analyst: Panduan Lengkap Pemula
Apa Saja Jenis-Jenis Stakeholder?
Sumber: Desain oleh Dibimbing
Secara umum, stakeholder dapat dikelompokkan berdasarkan hubungan dengan organisasi dan tingkat keterlibatannya.
Berikut penjelasan jenis-jenis stakeholder yang perlu kamu ketahui.
1. Stakeholder Internal
Stakeholder internal adalah pihak yang berada di dalam organisasi dan memiliki hubungan langsung dengan kegiatan perusahaan.
Kelompok ini umumnya terlibat dalam operasional, pengelolaan sumber daya, atau pengambilan keputusan.
Contohnya:
- Karyawan: Menjalankan aktivitas operasional dan memberikan kontribusi terhadap pencapaian target.
- Manajemen: Menyusun strategi, mengambil keputusan, dan mengawasi kinerja perusahaan.
- Pemilik Perusahaan: Memiliki kepentingan terhadap perkembangan serta keberlangsungan bisnis.
Stakeholder internal berperan penting dalam memastikan strategi perusahaan dapat diterapkan secara efektif.
2. Stakeholder Eksternal
Stakeholder eksternal adalah pihak di luar organisasi yang memiliki kepentingan terhadap kegiatan perusahaan atau dapat terdampak oleh keputusannya.
Mereka tidak selalu terlibat langsung dalam operasional, tetapi tetap dapat memengaruhi keberhasilan bisnis.
Contohnya meliputi:
- Pelanggan: Menggunakan produk atau layanan perusahaan.
- Pemasok: Menyediakan bahan baku, produk, atau layanan pendukung.
- Investor Eksternal: Menyediakan modal dan memiliki kepentingan finansial.
- Pemerintah: Menetapkan peraturan dan mengawasi kepatuhan perusahaan.
- Masyarakat: Dapat menerima dampak sosial maupun lingkungan dari kegiatan bisnis.
Selain berdasarkan lokasi organisasi, stakeholder juga dapat dibedakan menjadi primer dan sekunder berdasarkan kedekatan hubungannya dengan kegiatan bisnis.
Perlu diketahui, stakeholder internal tidak selalu identik dengan primer. Pelanggan dan pemasok, misalnya, termasuk pihak eksternal tetapi dapat menjadi stakeholder primer karena memiliki hubungan langsung dengan bisnis.
Baca Juga: Business Analyst: Tugas, Skill, Gaji, dan Cara Mulai Karier
Fungsi dan Peran Stakeholder dalam Perusahaan
Stakeholder memiliki peran berbeda sesuai dengan kepentingan, kewenangan, dan keterlibatannya dalam perusahaan.
Berikut beberapa fungsi utamanya.
1. Mendukung Pengambilan Keputusan
Stakeholder dapat memberikan informasi, masukan, atau persetujuan terhadap kebijakan perusahaan.
Misalnya, manajemen menggunakan masukan pelanggan untuk menentukan fitur produk yang perlu dikembangkan.
2. Menyediakan Sumber Daya
Sebagian stakeholder membantu menyediakan sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis.
Investor dapat memberikan pendanaan, sedangkan pemasok menyediakan produk atau bahan baku untuk mendukung operasional.
3. Mengawasi Kinerja Perusahaan
Stakeholder tertentu memiliki peran dalam memantau kinerja, kepatuhan, atau penggunaan sumber daya perusahaan.
Contohnya, pemegang saham melakukan pengawasan melalui mekanisme tata kelola, sedangkan regulator mengawasi kepatuhan sesuai kewenangannya.
4. Mendorong Inovasi Produk
Masukan dari pelanggan, karyawan, dan mitra bisnis dapat membantu perusahaan menemukan peluang pengembangan produk.
Dengan mempertimbangkan kebutuhan berbagai pihak, perusahaan dapat menciptakan solusi yang lebih relevan.
5. Mendukung Keberlanjutan Bisnis
Hubungan yang baik dengan stakeholder membantu membangun kepercayaan, mengurangi konflik, dan menjaga kelancaran operasional.
Misalnya, komunikasi dengan masyarakat sekitar dapat membantu perusahaan memahami dampak kegiatan bisnis terhadap lingkungan sosial.
Baca Juga: Contoh Business Requirement Document (BRD): Struktur, Template, & Cara Membuat
Contoh Stakeholder dalam Perusahaan
Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa contoh stakeholder beserta kepentingannya dalam perusahaan.
Stakeholder | Jenis | Kepentingan Utama |
Karyawan | Internal | Gaji, kesejahteraan, dan karier |
Manajemen | Internal | Kinerja dan pencapaian target |
Pelanggan | Eksternal | Kualitas produk dan layanan |
Investor eksternal | Eksternal | Pertumbuhan nilai investasi |
Pemasok | Eksternal | Kelancaran hubungan bisnis |
Pemerintah | Eksternal | Kepatuhan terhadap regulasi |
Masyarakat | Eksternal | Dampak sosial dan lingkungan |
Sebagai ilustrasi, perusahaan yang ingin membuka cabang baru perlu mempertimbangkan berbagai kepentingan tersebut.
Manajemen berfokus pada keuntungan, karyawan membutuhkan kepastian pekerjaan, sedangkan masyarakat sekitar berkepentingan terhadap dampak operasional cabang baru.
Oleh karena itu, perusahaan perlu memahami kebutuhan setiap stakeholder sebelum mengambil keputusan.
Baca Juga: Kisah Sukses Switch Career Hidayati menjadi Project Manager di Bank Nasional
Perbedaan Stakeholder dan Shareholder
Istilah stakeholder dan shareholder sering digunakan dalam pembahasan bisnis. Namun, keduanya memiliki pengertian berbeda.
Stakeholder mencakup pihak yang memiliki kepentingan atau terdampak oleh aktivitas perusahaan, sedangkan shareholder adalah pihak yang memiliki saham perusahaan.
Berikut perbandingannya.
Aspek | Stakeholder | Shareholder |
Pengertian | Pemangku kepentingan | Pemegang saham |
Kepemilikan saham | Tidak harus memiliki | Memiliki saham |
Kepentingan | Finansial dan nonfinansial | Berkaitan dengan kepemilikan saham |
Contoh | Karyawan, pelanggan, pemasok | Investor pemegang saham |
Jadi, setiap shareholder merupakan stakeholder, tetapi tidak semua stakeholder adalah shareholder.
Sebagai contoh, karyawan memiliki kepentingan terhadap perusahaan meskipun tidak mempunyai saham di dalamnya.
Baca Juga: Apa Itu Stakeholder Management? Elemen hingga Strategi Efektif
Bagaimana Cara Mengelola Stakeholder
Pengelolaan stakeholder atau stakeholder management dilakukan untuk memahami kebutuhan, mengatur komunikasi, dan menjaga keterlibatan pihak terkait.
Berikut lima langkah yang bisa diterapkan.
1. Identifikasi Stakeholder
Langkah pertama adalah menentukan siapa saja pihak yang terlibat atau terdampak oleh suatu proyek.
Kamu dapat membuat daftar stakeholder berdasarkan divisi, jabatan, kelompok pelanggan, mitra bisnis, hingga regulator.
2. Analisis Kepentingan dan Pengaruh
Selanjutnya, identifikasi tingkat kepentingan (interest) dan pengaruh (power) setiap stakeholder.
Salah satu metode yang bisa digunakan adalah Power-Interest Matrix untuk mengelompokkan stakeholder berdasarkan dua faktor tersebut.
Berikut contoh strategi pengelolaannya.
Pengaruh | Kepentingan | Strategi |
Tinggi | Tinggi | Manage Closely — Libatkan secara intensif. |
Tinggi | Rendah | Keep Satisfied — Jaga kebutuhan utama tetap terpenuhi. |
Rendah | Tinggi | Keep Informed — Berikan informasi secara berkala. |
Rendah | Rendah | Monitor — Pantau perubahan kebutuhan dan pengaruh. |
Metode ini membantu perusahaan menentukan pihak yang perlu dilibatkan secara intensif dan pihak yang cukup menerima pembaruan berkala.
3. Tentukan Strategi Komunikasi
Setiap stakeholder membutuhkan informasi dengan tingkat detail dan frekuensi yang berbeda.
Misalnya, manajemen membutuhkan laporan perkembangan proyek, sedangkan pelanggan lebih membutuhkan informasi mengenai perubahan layanan.
4. Libatkan Stakeholder dalam Keputusan
Stakeholder yang relevan perlu diberi kesempatan menyampaikan kebutuhan, masukan, atau kekhawatirannya.
Keterlibatan dapat dilakukan melalui wawancara, survei, rapat koordinasi, maupun sesi diskusi.
5. Evaluasi Hubungan dan Keterlibatan
Terakhir, perusahaan perlu mengevaluasi apakah komunikasi dan keterlibatan stakeholder sudah berjalan efektif.
Evaluasi dapat dilakukan dengan memantau penyelesaian masalah, umpan balik, serta tingkat partisipasi dalam kegiatan proyek.
Baca Juga: Stakeholder Mapping: Pengertian, Manfaat, Panduan & Contohnya
Apa Hubungan Stakeholder dengan Business Analyst
Memahami stakeholder merupakan salah satu kemampuan penting bagi seorang Business Analyst (BA).
Profesi ini berperan mengidentifikasi kebutuhan bisnis dan membantu merancang solusi yang memberikan nilai bagi perusahaan maupun pihak terkait.
Dalam pekerjaannya, seorang Business Analyst dapat melakukan aktivitas berikut:
- Stakeholder Identification: Mengidentifikasi pihak yang berkaitan dengan proyek.
- Requirement Gathering: Mengumpulkan kebutuhan melalui wawancara dan diskusi.
- Stakeholder Analysis: Memahami kepentingan, pengaruh, serta prioritas masing-masing pihak.
- Requirement Documentation: Mendokumentasikan kebutuhan bisnis sebagai acuan pengembangan solusi.
- Stakeholder Communication: Mengomunikasikan kebutuhan dan perubahan kepada pihak terkait.
Misalnya, ketika perusahaan ingin membuat aplikasi baru, Business Analyst perlu memahami kebutuhan manajemen, pengguna, dan tim teknis agar solusi yang dikembangkan sesuai tujuan bisnis.
Baca Juga: Kisah Haifa Dari Bootcamp Dibimbing hingga ke detikcom
Rekomendasi Bootcamp Business Analyst untuk Tingkatkan Skill
Memahami stakeholder merupakan bekal penting bagi kamu yang ingin berkarier sebagai Business Analyst. Namun, kamu juga perlu menguasai analisis kebutuhan bisnis, komunikasi dengan stakeholder, pemecahan masalah, hingga strategi pengembangan produk.
Nah, berbagai kemampuan tersebut bisa kamu pelajari melalui Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Dibimbing. Program ini menggabungkan kelas interaktif, praktik studi kasus, pembangunan portofolio, serta pendampingan mentor profesional.
Benefit Bootcamp Business Analyst Dibimbing:
- Kelas Interaktif: Ikuti 60+ live class dan 7+ sesi tambahan bersama mentor ahli.
- Portofolio Profesional: Kerjakan weekly assignment terstruktur untuk membangun portofolio.
- Technical Problem Class: Tingkatkan kemampuan problem solving teknis sebagai Business Analyst dan Product Manager.
- Konsultasi 1-on-1: Dapatkan sesi konsultasi personal tanpa batas bersama instruktur ahli.
- Pendampingan Mentor: Nikmati dukungan fasilitator dan mentor berdedikasi yang tersedia 24/7.
- Pengalaman Magang: Dapatkan kesempatan magang selama 12 minggu di perusahaan mitra sesuai ketentuan program.
- Penyaluran Kerja: Ikuti program graduation dan penyaluran kerja melalui jaringan 1.100+ perusahaan.
- Komunitas Profesional: Bergabung dengan komunitas Business Analyst & Product Strategy untuk memperluas koneksi.
Siap Memulai Karier sebagai Business Analyst?
Warga Bimbingan, memahami stakeholder saja belum cukup untuk menjadi Business Analyst profesional. Kamu juga perlu mengembangkan keterampilan analisis data, komunikasi bisnis, dan pengelolaan kebutuhan proyek melalui pengalaman praktik.
Yuk, konsultasikan rencana kariermu bersama MinDi melalui Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Dibimbing dan mulai persiapkan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja!
FAQ:
1. Apa Itu Stakeholder dalam Perusahaan?
Stakeholder adalah individu atau kelompok yang memiliki kepentingan, memengaruhi, atau terdampak oleh aktivitas perusahaan. Contohnya adalah karyawan, pelanggan, investor, dan pemasok.
2. Apa Saja Jenis-Jenis Stakeholder?
Secara umum, stakeholder dibagi menjadi internal dan eksternal. Selain itu, stakeholder juga dapat dikategorikan sebagai primer atau sekunder berdasarkan hubungan serta keterlibatannya dengan kegiatan bisnis.
3. Apa Contoh Stakeholder dalam Kehidupan Sehari-hari?
Contohnya pada sebuah restoran, stakeholder meliputi pemilik, karyawan, pelanggan, pemasok bahan makanan, dan masyarakat sekitar. Setiap pihak memiliki kepentingan berbeda terhadap kegiatan restoran.
4. Apa Perbedaan Stakeholder dan Shareholder?
Stakeholder merupakan pihak yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan, sedangkan shareholder adalah pemilik saham perusahaan. Semua shareholder termasuk stakeholder, tetapi stakeholder tidak harus memiliki saham.
5. Mengapa Stakeholder Penting dalam Business Analyst?
Karena Business Analyst perlu memahami kebutuhan berbagai pihak sebelum merancang solusi bisnis. Analisis stakeholder membantu memastikan keputusan dan pengembangan sistem sesuai kebutuhan perusahaan serta pengguna.
Kategori:
Penulis
Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.
