Contoh Business Requirement Document (BRD): Struktur, Template, & Cara Membuat
DITULIS OLEH
Farijihan Putri
Dibuat pada 30 Jun 2026
Diubah pada 10 Jul 2026
93
Contoh business requirement document sering dicari oleh calon Business Analyst, Project Manager, maupun tim produk yang ingin memahami cara mendokumentasikan kebutuhan bisnis secara tepat.
Sayangnya, banyak proyek mengalami revisi berulang hanya karena kebutuhan awal tidak terdokumentasi dengan jelas. Akibatnya, tim pengembang, stakeholder, dan pengguna memiliki pemahaman yang berbeda terhadap tujuan proyek.
Jika Warga Bimbingan tertarik mendalami proses analisis bisnis secara lebih praktis, Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Online dari Dibimbing bisa menjadi tempat belajar yang tepat.
Melalui artikel ini, MinDi akan membahas struktur, template, hingga contoh business requirement document yang dapat langsung kamu jadikan referensi.
Apa Itu Business Requirement Document (BRD)?
Business Requirement Document (BRD) adalah dokumen yang menjelaskan kebutuhan bisnis yang ingin dicapai melalui suatu proyek atau pengembangan sistem. Dokumen ini menjadi penghubung antara stakeholder bisnis dan tim teknis agar memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan proyek.
BRD tidak membahas solusi teknis secara detail, melainkan fokus pada masalah bisnis yang ingin diselesaikan. Oleh sebab itu, dokumen ini biasanya dibuat pada tahap awal perencanaan proyek. Semakin jelas BRD yang disusun, semakin kecil risiko miskomunikasi selama proses pengerjaan.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Bootcamp Business Analyst Terbaik
Mengapa BRD Menjadi Dokumen Penting dalam Proyek?
Sebelum sebuah proyek berjalan, seluruh pihak perlu memahami tujuan dan kebutuhan yang sama. Di sinilah BRD berperan sebagai acuan utama selama proyek berlangsung.
- Menyamakan pemahaman stakeholder: Semua pihak memiliki referensi yang sama terkait tujuan dan kebutuhan proyek.
- Mengurangi miskomunikasi antar tim: Requirement yang terdokumentasi membantu menghindari perbedaan interpretasi.
- Menjadi dasar pengembangan solusi: Tim teknis dapat memahami kebutuhan bisnis sebelum menentukan solusi.
- Mempermudah evaluasi keberhasilan proyek: Target dan indikator keberhasilan sudah ditentukan sejak awal.
Kapan Business Requirement Document Digunakan?
Business Requirement Document biasanya dibuat sebelum tahap pengembangan dimulai. Dokumen ini digunakan saat proses requirement gathering untuk mengumpulkan kebutuhan dari berbagai stakeholder.
Setelah selesai disusun, BRD menjadi referensi utama dalam proses desain, pengembangan, hingga pengujian sistem. Selain itu, dokumen ini juga membantu tim mengelola perubahan kebutuhan selama proyek berjalan.
Itulah mengapa contoh business requirement document banyak digunakan sebagai acuan dalam berbagai jenis proyek bisnis dan teknologi.
Apa Saja Komponen dalam Business Requirement Document?
Sumber: Magnific
Agar lebih mudah dipahami, berikut komponen penting yang umumnya terdapat dalam BRD.
1. Latar Belakang dan Tujuan Bisnis
Bagian ini menjelaskan masalah bisnis yang sedang dihadapi organisasi. Selanjutnya, dijelaskan tujuan proyek serta hasil yang ingin dicapai setelah implementasi dilakukan. Dengan demikian, seluruh stakeholder memahami alasan proyek tersebut dijalankan.
2. Stakeholder dan Scope Proyek
Komponen ini berisi pihak-pihak yang terlibat dalam proyek beserta perannya masing-masing. Selain itu, ruang lingkup proyek dan batasan yang tidak termasuk dalam proyek juga perlu dijelaskan. Informasi ini membantu menghindari scope creep selama pengerjaan.
3. Business Requirements
Bagian ini memuat kebutuhan bisnis utama yang harus dipenuhi oleh solusi yang akan dikembangkan. Selanjutnya, requirement dapat diprioritaskan berdasarkan tingkat urgensinya. Tak kalah penting, aturan bisnis yang berlaku juga perlu didokumentasikan secara jelas.
4. Success Criteria dan KPI
Komponen ini menjelaskan bagaimana keberhasilan proyek akan diukur. Oleh karena itu, KPI dan target bisnis perlu ditentukan sejak awal. Hasil evaluasi nantinya akan mengacu pada indikator yang telah disepakati tersebut.
5. Risiko dan Asumsi Proyek
Setiap proyek memiliki risiko yang berpotensi memengaruhi keberhasilannya. Selain mengidentifikasi risiko, dokumen juga perlu mencatat asumsi bisnis yang digunakan selama perencanaan. Langkah ini membantu tim mengantisipasi perubahan yang mungkin terjadi.
Baca Juga: 7 Tips Lolos Business Analyst Internship untuk Fresh Graduate
Contoh Business Requirement Document yang Sederhana
Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa contoh business requirement document yang umum digunakan dalam dunia kerja.
1. Contoh BRD untuk Pengembangan Aplikasi E-Commerce
Tujuan bisnis proyek ini adalah meningkatkan jumlah transaksi online dan pengalaman pengguna. Kebutuhan pengguna dapat berupa proses checkout yang lebih cepat, fitur pencarian produk, dan metode pembayaran yang beragam. Adapun outcome yang diharapkan adalah peningkatan conversion rate dan kepuasan pelanggan.
2. Contoh BRD untuk Sistem HRIS
Proyek HRIS bertujuan mendigitalisasi proses administrasi sumber daya manusia. Selanjutnya, sistem diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan data karyawan dan absensi. Hasil akhirnya berupa proses HR yang lebih cepat, akurat, dan terdokumentasi dengan baik.
3. Contoh BRD untuk Dashboard Penjualan
Dashboard penjualan dibutuhkan untuk memantau performa bisnis secara real-time. Selain menyajikan laporan penjualan, dashboard juga membantu analisis tren dan pencapaian KPI. Dengan demikian, manajemen dapat mengambil keputusan berdasarkan data yang lebih akurat.
Contoh Template Business Requirement Document yang Bisa Digunakan
Bagaimana Cara Membuat Business Requirement Document yang Efektif?
Membuat BRD tidak cukup hanya menuliskan kebutuhan bisnis. Dokumen tersebut juga harus mudah dipahami dan dapat digunakan sebagai acuan selama proyek berlangsung.
1. Lakukan Requirement Gathering Secara Menyeluruh
Mulailah dengan melakukan wawancara, workshop, dan observasi proses bisnis secara langsung. Semakin lengkap informasi yang diperoleh, semakin akurat requirement yang terdokumentasi. Oleh sebab itu, libatkan stakeholder utama sejak awal proses.
2. Dokumentasikan Kebutuhan dengan Jelas
Gunakan bahasa yang spesifik dan mudah dipahami seluruh pihak. Selain itu, fokuslah pada kebutuhan bisnis, bukan langsung menawarkan solusi. Pendekatan ini membantu tim menemukan alternatif solusi yang paling tepat.
3. Validasi Requirement dengan Stakeholder
Setelah requirement disusun, lakukan review bersama stakeholder terkait. Selanjutnya, pastikan seluruh kebutuhan telah terakomodasi dengan benar. Langkah ini membantu mencegah revisi besar di tahap akhir proyek.
4. Tetapkan Prioritas Requirement
Tidak semua kebutuhan memiliki tingkat urgensi yang sama. Oleh karena itu, requirement dapat dikategorikan menjadi Must Have, Should Have, dan Could Have. Prioritas yang jelas membantu tim menentukan fokus pengerjaan.
5. Perbarui Dokumen Secara Berkala
Kebutuhan bisnis dapat berubah seiring perkembangan proyek. Karena itu, BRD perlu diperbarui secara berkala agar tetap relevan. Praktik ini juga sangat mendukung pendekatan agile development yang banyak digunakan saat ini.
Baca Juga: Kurikulum Bootcamp Business Analyst & Product Strategy
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membuat Business Requirement Document
Sumber: Magnific
Meskipun terlihat sederhana, masih banyak organisasi yang melakukan kesalahan saat menyusun BRD.
1. Requirement Terlalu Umum dan Ambigu
Requirement yang terlalu umum sering kali sulit dipahami oleh tim sehingga memicu interpretasi yang berbeda dan revisi berulang.
2. Tidak Melibatkan Stakeholder Sejak Awal
Kebutuhan bisnis yang penting berpotensi terlewat ketika stakeholder tidak dilibatkan sejak tahap awal proyek.
3. Fokus pada Solusi, Bukan Kebutuhan Bisnis
Pendekatan ini dapat membatasi eksplorasi alternatif dan mengurangi fleksibilitas dalam menentukan solusi terbaik.
4. Tidak Memiliki Success Criteria yang Jelas
Tanpa KPI dan target yang terdefinisi, keberhasilan proyek akan sulit diukur secara objektif. Menurut penelitian Mabelo (2025), kegagalan mengelola requirement masih menjadi salah satu penyebab utama keterlambatan proyek, pembengkakan biaya, dan kegagalan operasional.
Penelitian tersebut menekankan keberhasilan proyek sangat bergantung pada kemampuan organisasi memastikan the right requirements are implemented right.
Baca Juga: Berapa Harga Bootcamp Business Analyst Dibimbing?
Ingin Belajar Menyusun Business Requirement Document Seperti Business Analyst Profesional?
Memahami contoh business requirement document saja belum cukup jika kamu ingin berkarier sebagai Business Analyst. Kamu juga perlu menguasai requirement gathering, stakeholder management, business process analysis, hingga penyusunan dokumen yang digunakan di dunia kerja.
Melalui Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Online Dibimbing, kamu akan belajar langsung dari mentor berpengalaman melalui 60+ Live Class dan 7+ Extra Live Session, mengerjakan Structured Weekly Assignment untuk Portfolio Building, mengikuti Technical Problem Class, hingga mendapatkan 1-on-1 Unlimited Personalized Session bersama instruktur expert.
Tidak hanya itu, tersedia 12 minggu pengalaman magang di hiring company Dibimbing, akses komunitas Business Analyst & Product Strategy, serta program penyaluran kerja ke 1.100+ perusahaan.
Jika kamu punya pertanyaan seperti, “Bagaimana proses penyaluran kerja? atau Apakah pembuatan portofolio menggunakan proyek nyata yang terkait perusahaan tertentu?”, konsultasi gratis saja di sini! Dibimbing pasti #BimbingSampeJadi karier impianmu!
FAQ
1. Apa perbedaan Business Requirement Document (BRD) dan Software Requirement Specification (SRS)?
BRD berfokus pada kebutuhan dan tujuan bisnis, sedangkan SRS menjelaskan kebutuhan teknis yang akan digunakan tim pengembang untuk membangun solusi.
2. Siapa yang bertanggung jawab membuat Business Requirement Document?
Umumnya BRD disusun oleh Business Analyst dengan melibatkan stakeholder bisnis, Project Manager, dan tim terkait agar kebutuhan proyek terdokumentasi secara lengkap.
3. Apakah Business Requirement Document masih digunakan dalam proyek Agile?
Ya. Meskipun Agile lebih fleksibel, dokumentasi kebutuhan bisnis tetap diperlukan sebagai acuan awal agar tim memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan dan prioritas proyek.
Referensi
Kategori:
