Apa Itu Pseudocode? Pengertian, Contoh, dan Cara
DITULIS OLEH
Farijihan Putri
DIREVIEW OLEH
Sudah Direview Oleh Expert
Dibuat pada 1 Jul 2024
Diubah pada 15 Sep 2026
7266
Catatan Redaksi:
Artikel ini pertama kali diterbitkan pada Juli 2024 dan diperbarui pada 3 September 2026 untuk memastikan informasi tetap akurat dan relevan.
Mau mulai belajar coding, tapi masih suka bingung menerjemahkan logika ke dalam kode? Apa contoh pseudocode yang bisa dipraktikkan untuk memahami alur program dengan lebih mudah? Menulis pseudocode dapat membantu kamu menyusun langkah sebelum masuk ke syntax pemrograman yang lebih teknis.
Warga Bimbingan, setelah menguasai dasar tersebut, kamu juga bisa mengembangkan skill lewat Kursus Front End Developer sebagai bekal untuk mempersiapkan karier di bidang teknologi.
Apa Itu Pseudocode?
Pseudocode adalah cara menuliskan algoritma menggunakan bahasa yang sederhana dan menyerupai instruksi program. Penulisannya tidak terikat syntax bahasa pemrograman tertentu, sehingga kamu bisa fokus menyusun alur logika sebelum menerjemahkannya ke kode.
Salah satu alasan pseudocode banyak digunakan saat belajar programming adalah kemudahannya untuk dibaca dan diperbaiki. Kamu dapat mengubah alur program terlebih dahulu tanpa harus memikirkan aturan penulisan bahasa seperti JavaScript, Python, atau PHP.
Secara umum, pseudocode dapat memuat input, proses, kondisi, dan output. Struktur sederhananya dapat membantu kamu memahami hubungan antara satu langkah dengan langkah berikutnya.
Baca Juga: Review Lengkap Bootcamp Full Stack Developer Dibimbing
Apa Contoh Pseudocode yang Bisa Dipelajari Pemula?
Sumber: Magnific
Kalau kamu masih mencari contoh pseudocode sederhana, latihan dengan masalah sehari-hari bisa menjadi titik awal yang enak. Berikut contohnya.
1. Pseudocode Menghitung Luas Persegi Panjang
Contoh pertama cocok untuk memahami input, proses, dan output.
START INPUT panjang INPUT lebar luas = panjang × lebar OUTPUT luas END |
Alurnya cukup simpel: pengguna memasukkan panjang dan lebar, sistem menghitung hasil perkalian, lalu menampilkan luas. Latihan seperti ini membantu kamu memahami bahwa setiap program memiliki data masuk, proses pengolahan, dan hasil akhir.
2. Pseudocode Menghitung Total Belanja
Contoh berikutnya mulai mendekatkan pseudocode dengan kasus yang sering ditemukan dalam aplikasi.
START INPUT harga INPUT jumlah total = harga × jumlah OUTPUT total END |
Program menerima harga dan jumlah barang sebagai input, kemudian mengalikan keduanya untuk mendapatkan total belanja. Dari pseudocode algoritma tersebut, kamu bisa melihat bahwa logika sederhana sudah cukup untuk membentuk sebuah program.
3. Pseudocode Menghitung Harga Setelah Diskon
Sekarang kita tambahkan proses perhitungan yang sedikit lebih panjang.
START INPUT harga INPUT diskon potongan = harga × diskon / 100 total = harga - potongan OUTPUT total END |
Pengguna memasukkan harga awal dan persentase diskon, lalu program menghitung nilai potongannya. Setelah itu, hasil pengurangan ditampilkan sebagai harga setelah diskon.
4. Pseudocode Menentukan Bilangan Ganjil atau Genap
Mulai dari contoh ini, kamu sudah berkenalan dengan kondisi atau percabangan.
START INPUT angka IF angka MOD 2 = 0 THEN OUTPUT "Bilangan Genap" ELSE OUTPUT "Bilangan Ganjil" END IF END |
Operator MOD digunakan untuk mendapatkan sisa pembagian. Jika sisanya 0, angka termasuk genap; jika tidak, angka tersebut termasuk ganjil.
5. Pseudocode Menentukan Lulus atau Tidak
Percabangan juga bisa digunakan untuk mengambil keputusan berdasarkan nilai tertentu.
START INPUT nilai IF nilai >= 75 THEN OUTPUT "Lulus" ELSE OUTPUT "Tidak Lulus" END IF END |
Program membandingkan nilai yang dimasukkan dengan batas kelulusan 75. Contoh ini menunjukkan contoh pseudocode percabangan dapat digunakan untuk membuat keputusan berdasarkan kondisi tertentu.
6. Pseudocode Menghitung Rata-Rata Tiga Nilai
Selanjutnya, kamu bisa mencoba pseudocode yang memiliki beberapa input sekaligus.
START INPUT nilai1 INPUT nilai2 INPUT nilai3 rata_rata = (nilai1 + nilai2 + nilai3) / 3 OUTPUT rata_rata END |
Program menerima tiga nilai kemudian menjumlahkannya sebelum membaginya dengan tiga. Pola seperti ini bisa menjadi dasar untuk memahami pengolahan data dalam program yang lebih kompleks.
7. Pseudocode Menampilkan Angka 1 sampai 10
Contoh terakhir memperkenalkan konsep perulangan atau looping.
START FOR i = 1 TO 10 OUTPUT i END FOR END |
Perintah FOR membuat program mengulang instruksi yang sama dari angka 1 hingga 10. Konsep tersebut nantinya banyak digunakan ketika kamu perlu memproses data dalam jumlah besar tanpa menulis instruksi yang sama berkali-kali.
Baca Juga: Belajar Front End Web Developer 6 Bulan (Garansi Magang & Siap Kerja)
Bagaimana Cara Membuat Pseudocode yang Mudah Dipahami?
Setelah melihat beberapa contoh, kamu bisa mulai membuat pseudocode sendiri dengan langkah sederhana.
1. Tentukan Masalah yang Ingin Diselesaikan
Tuliskan dulu tujuan program secara jelas, misalnya menghitung total belanja atau menentukan nilai kelulusan. Tujuan yang spesifik akan membuat alur program lebih mudah disusun.
2. Tentukan Input dan Output
Cari tahu data apa yang perlu dimasukkan pengguna dan hasil apa yang harus diberikan program. Dengan begitu, kamu dapat menentukan proses yang berada di antara keduanya.
3. Susun Langkah Secara Berurutan
Tuliskan setiap instruksi mulai dari langkah pertama hingga selesai. Gunakan kata yang sederhana seperti INPUT, PROCESS, IF, ELSE, FOR, dan OUTPUT.
4. Uji Logikanya
Baca kembali pseudocode seolah-olah kamu adalah komputer yang menjalankannya. Pastikan setiap kondisi, perhitungan, dan perulangan menghasilkan output sesuai tujuan.
Apa Bedanya Pseudocode dengan Flowchart?
Pseudocode dan flowchart sama-sama digunakan untuk merancang algoritma, tetapi bentuk penyampaiannya berbeda.
Pseudocode | Flowchart |
Menggunakan teks dan instruksi | Menggunakan simbol dan diagram |
Lebih cepat ditulis | Lebih visual untuk melihat alur |
Mudah diubah ketika logika berubah | Cocok untuk menggambarkan hubungan antar proses |
Bisa langsung dijadikan acuan coding | Membantu memvisualisasikan proses |
Jadi, pemilihannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Pseudocode cocok ketika kamu ingin menjabarkan logika dengan cepat, sedangkan flowchart membantu ketika alur perlu divisualisasikan secara lebih jelas.
Baca Juga: Cara Magang Front End Developer Lewat Dibimbing & Tips Lolos
Mengapa Pseudocode Penting untuk Belajar Programming?
Pseudocode membantu kamu membangun pola pikir algoritmik sebelum berhadapan dengan syntax yang lebih teknis. Dengan begitu, ketika mulai belajar bahasa pemrograman, fokusmu tidak terpecah antara memahami logika dan menghafalkan aturan syntax.
Selain itu, pseudocode juga berguna saat merancang fitur aplikasi bersama tim. Alur yang ditulis secara sederhana lebih mudah didiskusikan sebelum developer mulai mengubahnya menjadi program.
Kemampuan memahami logika programming ini menjadi dasar penting, baik bagi kamu yang ingin berkarier sebagai Front-End Developer, Back-End Developer, maupun Full-Stack Web Developer. Front-end developer membutuhkan logika untuk membangun interaksi pada website, back-end developer menggunakannya untuk mengembangkan business logic dan proses di sisi server, sedangkan full-stack developer perlu memahami keduanya.
Buat kamu yang ingin memperkuat dasar programming sekaligus menerapkannya dalam project nyata, Bootcamp Front-End, Bootcamp Back-End, dan Bootcamp Full-Stack Web Development Dibimbing dapat menjadi pilihan untuk belajar secara lebih terstruktur.
Pilih jalur sesuai tujuanmu: Front-End untuk fokus pada tampilan dan interaksi website, Back-End untuk mendalami sistem, API, dan database, atau Full-Stack untuk mempelajari pengembangan aplikasi web secara menyeluruh dari front-end hingga back-end.
Rekomendasi Bootcamp Front-End Web Development Terbaik dengan Penyaluran Kerja
Setelah memahami pseudocode, langkah berikutnya adalah menerapkan logika tersebut ke bahasa pemrograman dan project yang lebih nyata.
Bootcamp Front-End Web Development Dibimbing membantu kamu belajar melalui praktik, project, dan pendampingan untuk mempersiapkan karier di bidang teknologi, dengan 96% alumni Dibimbing sudah mendapatkan kerja.
Benefit yang bisa kamu dapatkan:
- 45+ Live Class & 12+ Extra Live Session bersama mentor ahli
- 15+ Assignment & 3+ Real Case Project untuk portofolio
- Akses selamanya untuk API
- Live Technical Coding untuk meningkatkan skill programming
- Pendampingan mentor & fasilitator 24/7
- 8 minggu pengalaman magang di hiring company
- Penyaluran kerja ke 1.100+ perusahaan
- Komunitas expertise Front-End Web Development
Kalau kamu masih bertanya seperti “Apakah pemula yang belum pernah coding bisa mengikuti bootcamp ini?” atau “Apakah project selama bootcamp bisa dipakai sebagai portofolio saat melamar kerja?”, konsultasikan bersama tim Dibimbing yang siap #BimbingSampeJadi impianmu!
FAQ
1. Apakah pseudocode bisa langsung dijalankan di komputer?
Tidak. Pseudocode perlu diterjemahkan terlebih dahulu ke bahasa pemrograman agar dapat dieksekusi oleh komputer.
2. Apakah pseudocode harus menggunakan bahasa Inggris?
Tidak. Kamu bisa menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, atau kombinasi istilah yang mudah dipahami selama alurnya konsisten.
3. Apakah pseudocode hanya digunakan sebelum membuat program?
Tidak. Pseudocode juga dapat digunakan untuk menjelaskan atau mendiskusikan logika sebuah program ketika bekerja dalam tim.
Kategori:
Penulis
Farijihan is a passionate Content Writer with 3 years of experience in crafting compelling content, optimizing for SEO, and developing creative strategies for various brands and industries.
