Perbedaan ROI ROA dan ROE: Pahami Fungsi dan Rumusnya
DITULIS OLEH
Irhan Hisyam Dwi Nugroho
DIREVIEW OLEH
dibimbing.id
Dibuat pada 9 Jul 2026
Diubah pada 18 Agt 2026
152
Saat membaca laporan keuangan, kamu mungkin sering menemukan istilah ROI, ROA, dan ROE. Sekilas mirip, padahal ketiganya punya fungsi berbeda dalam menilai kinerja perusahaan.
Memahami perbedaan ROI ROA dan ROE penting agar kamu nggak salah membaca kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Rasio ini juga sering dipakai investor untuk menilai apakah sebuah bisnis layak dianalisis lebih lanjut.
Kalau ingin belajar membaca laporan keuangan, rasio profitabilitas, hingga valuasi perusahaan, Investment & Banking Bootcamp Dibimbing bisa jadi pilihan tepat. Kamu akan belajar lewat studi kasus nyata bersama mentor praktisi.
Nah, sekarang MinDi akan jelasin fungsi, rumus, dan cara menggunakan ROI, ROA, serta ROE dengan lebih sederhana. Yuk, simak pembahasannya!
Apa Perbedaan ROI, ROA, dan ROE?
Meskipun sama-sama termasuk rasio profitabilitas, ROI, ROA, dan ROE memiliki fokus pengukuran yang berbeda. Perbedaan ini terletak pada aspek yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.
ROI (Return on Investment) digunakan untuk mengukur seberapa besar keuntungan yang diperoleh dari suatu investasi. Rasio ini sering dimanfaatkan investor maupun perusahaan untuk menilai apakah investasi yang dilakukan memberikan hasil yang sesuai.
Sementara itu, ROA (Return on Assets) mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari seluruh aset yang dimiliki. Semakin tinggi nilai ROA, semakin efisien perusahaan memanfaatkan asetnya untuk menghasilkan keuntungan.
Berbeda dengan ROA, ROE (Return on Equity) berfokus pada tingkat keuntungan yang dihasilkan dari modal atau ekuitas pemegang saham. Nah, MinDi bisa bilang kalau ROE sering menjadi salah satu indikator penting bagi investor untuk menilai seberapa efektif perusahaan mengelola modal yang telah ditanamkan pemegang saham.
Baca Juga: Investment Banking: Definisi, Manfaat, hingga Cara Memulai Kariernya
Rumus ROI, ROA, dan ROE
Setelah memahami perbedaannya, langkah berikutnya adalah mengetahui cara menghitung masing-masing rasio. Warga Bimbingan, setiap rasio memiliki rumus yang berbeda karena mengukur aspek keuangan yang tidak sama.
1. Rumus ROI (Return on Investment)
Rumus:
ROI = (Laba Bersih ÷ Total Investasi) × 100%
Keterangan:
- Laba Bersih: Keuntungan yang diperoleh setelah dikurangi seluruh biaya.
- Total Investasi: Seluruh dana yang dikeluarkan untuk melakukan investasi.
2. Rumus ROA (Return on Assets)
Rumus:
ROA = (Laba Bersih ÷ Total Aset) × 100%
Keterangan:
- Laba Bersih: Keuntungan perusahaan setelah dikurangi seluruh beban.
- Total Aset: Seluruh aset yang dimiliki perusahaan, baik aset lancar maupun aset tetap.
3. Rumus ROE (Return on Equity)
Rumus:
ROE = (Laba Bersih ÷ Total Ekuitas) × 100%
Keterangan:
- Laba Bersih: Keuntungan perusahaan setelah dikurangi pajak dan seluruh beban.
- Total Ekuitas: Modal yang berasal dari pemegang saham atau pemilik perusahaan.
Baca Juga: Rekomendasi Bootcamp Investment & Banking Terbaik
Fungsi ROI, ROA, dan ROE
Setiap rasio memiliki fungsi yang berbeda dalam analisis keuangan perusahaan. Nah, supaya kamu lebih mudah menentukan kapan harus menggunakan ROI, ROA, atau ROE, simak penjelasannya berikut ini.
1. Mengukur Efektivitas Investasi (ROI)
ROI digunakan untuk mengetahui seberapa besar keuntungan yang dihasilkan dari suatu investasi.
Rasio ini membantu investor maupun perusahaan menilai apakah investasi yang dilakukan sudah memberikan hasil yang optimal. Semakin tinggi nilai ROI, semakin baik tingkat pengembalian investasinya.
2. Menilai Efisiensi Penggunaan Aset (ROA)
ROA berfungsi untuk mengukur seberapa efisien perusahaan memanfaatkan seluruh aset yang dimiliki dalam menghasilkan laba.
Rasio ini sering digunakan untuk membandingkan kinerja perusahaan dalam industri yang sama. Nilai ROA yang tinggi menunjukkan aset perusahaan dikelola secara efektif.
3. Mengukur Pengembalian Modal Pemegang Saham (ROE)
ROE digunakan untuk melihat kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modal yang ditanamkan pemegang saham.
Rasio ini menjadi salah satu indikator yang sering diperhatikan investor sebelum membeli saham suatu perusahaan. Semakin tinggi ROE, semakin baik perusahaan dalam mengelola ekuitasnya.
4. Membantu Analisis Fundamental Perusahaan
ROI, ROA, dan ROE sering digunakan secara bersamaan dalam analisis fundamental. Ketiga rasio tersebut memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai profitabilitas dan kinerja perusahaan.
Dengan begitu, investor dapat mengambil keputusan investasi yang lebih objektif dan terukur.
Baca Juga: 7 Strategi Investasi Minim Risiko agar Tetap Untung
Kapan Sebaiknya Menggunakan ROI, ROA, dan ROE?
Sumber: Desain oleh Dibimbing
Dalam analisis keuangan, ROI, ROA, dan ROE nggak selalu digunakan untuk kondisi yang sama. Biar hasil analisismu lebih tepat, kamu perlu memahami kapan masing-masing rasio paling relevan digunakan.
1. Saat Membandingkan Hasil Investasi (ROI)
ROI paling cocok digunakan ketika kamu ingin mengetahui investasi mana yang memberikan keuntungan paling besar. Rasio ini membantu membandingkan hasil dari beberapa instrumen investasi dengan modal yang telah dikeluarkan.
Misalnya, kamu ingin membandingkan keuntungan investasi saham ASII dengan reksa dana saham selama satu tahun. Dari situ, ROI bisa menunjukkan pilihan investasi mana yang memberikan tingkat pengembalian lebih tinggi.
2. Saat Menilai Efisiensi Penggunaan Aset Perusahaan (ROA)
Gunakan ROA ketika tujuanmu adalah mengetahui seberapa efektif perusahaan memanfaatkan asetnya untuk menghasilkan laba. Rasio ini banyak digunakan saat melakukan analisis fundamental atau membandingkan perusahaan dalam sektor yang sama.
Contohnya, jika ASII memiliki ROA sebesar 6,46%, artinya setiap Rp100 aset perusahaan mampu menghasilkan laba sekitar Rp6,46. Jadi, ROA membantu kamu melihat apakah aset perusahaan sudah digunakan secara efisien.
3. Saat Mengetahui Imbal Hasil bagi Pemegang Saham (ROE)
ROE digunakan untuk melihat seberapa besar keuntungan yang dihasilkan dari modal yang ditanamkan pemegang saham. Semakin tinggi nilai ROE, semakin baik kemampuan perusahaan dalam mengelola ekuitas untuk menghasilkan laba.
Sebagai contoh, jika ASII memiliki ROE sebesar 14,32%, artinya setiap Rp100 modal pemegang saham mampu menghasilkan laba sekitar Rp14,32. Nah, rasio ini penting buat investor yang ingin menilai kualitas pengembalian modal perusahaan.
4. Saat Melakukan Analisis Fundamental Saham
Dalam praktiknya, investor biasanya tidak hanya melihat satu rasio saja sebelum membeli saham. ROI, ROA, dan ROE bisa dikombinasikan dengan rasio lain, seperti PER dan PBV, agar analisis lebih menyeluruh.
Misalnya, saat menganalisis saham ASII, kamu bisa menggunakan ROA untuk menilai efisiensi aset, ROE untuk melihat kualitas pengembalian modal, dan ROI untuk mengevaluasi keuntungan investasi. Dengan cara ini, keputusan investasi bisa lebih objektif.
Baca Juga: Apa Itu Investasi? Tujuan, Jenis, dan Contohnya
Kesalahan Menggunakan ROI, ROA, dan ROE
Meskipun ketiga rasio ini sering digunakan dalam analisis keuangan, masih banyak investor yang keliru dalam menggunakannya. Nah, supaya hasil analisismu lebih akurat, berikut beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.
1. Hanya Mengandalkan Satu Rasio
Banyak investor hanya melihat ROI, ROA, atau ROE secara terpisah tanpa mempertimbangkan rasio lainnya.
Padahal, satu rasio saja belum cukup untuk menggambarkan kondisi perusahaan secara menyeluruh. Sebaiknya gunakan beberapa rasio sekaligus agar hasil analisis lebih komprehensif.
2. Membandingkan Perusahaan dari Industri yang Berbeda
Setiap industri memiliki karakteristik bisnis dan struktur aset yang berbeda. Karena itu, membandingkan nilai ROA atau ROE antara perusahaan perbankan dan manufaktur, misalnya, dapat menghasilkan kesimpulan yang kurang tepat. Lakukan perbandingan dengan perusahaan yang berada dalam sektor industri yang sama.
3. Mengabaikan Tren Kinerja Perusahaan
Sebagian orang hanya melihat nilai rasio pada satu periode tanpa memperhatikan perkembangannya dari tahun ke tahun.
Padahal, tren kenaikan atau penurunan rasio sering kali memberikan informasi yang lebih penting dibandingkan satu angka saja. Warga Bimbingan, analisis historis akan membantu kamu memahami arah kinerja perusahaan.
4. Tidak Memahami Faktor di Balik Angka Rasio
Nilai ROI, ROA, atau ROE yang tinggi belum tentu selalu menunjukkan perusahaan dalam kondisi baik.
Rasio tersebut bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti penjualan aset, penggunaan utang, atau kondisi ekonomi tertentu.
Oleh karena itu, MinDi menyarankan agar kamu tetap membaca laporan keuangan secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.
Baca Juga: Memahami Investment Analysis: Contoh dan Prosesnya
Bootcamp Investment & Banking Terbaik di Indonesia: Dibimbing
Kalau kamu ingin memahami analisis laporan keuangan, rasio profitabilitas seperti ROI, ROA, dan ROE, hingga valuasi perusahaan, Investment & Banking Bootcamp Dibimbing bisa jadi pilihan yang tepat. Program ini dirancang untuk membantumu menguasai keterampilan yang dibutuhkan di industri investment dan banking melalui pembelajaran berbasis praktik.
Program Investment & Banking Bootcamp Dibimbing:
- Durasi: 50+ live class dan 7 sesi praktik bersama mentor ahli.
- Metode Pembelajaran: Online live class, video learning, dan akses recording selama program.
- Kurikulum: Analisis laporan keuangan, valuasi perusahaan, IPO, equity research, investment banking, hingga studi kasus nyata.
- Project & Portofolio: Weekly assignment dan final project berbasis kasus riil.
- Dukungan Karier: Review CV & LinkedIn, career class, interview practice, konsultasi mentor, serta akses ke 1.100+ perusahaan.
- Benefit Tambahan: Sertifikat penyelesaian bootcamp dan komunitas Investment & Banking.
Siap Menguasai Analisis Keuangan?
Kalau kamu ingin memahami cara membaca laporan keuangan dan menggunakan rasio seperti ROI, ROA, maupun ROE untuk menganalisis perusahaan, Investment & Banking Bootcamp Dibimbing siap membantumu belajar dari dasar hingga tingkat lanjut. Seluruh materi disusun berdasarkan kebutuhan industri dan dibimbing langsung oleh mentor praktisi.
Tertarik untuk bergabung? Yuk, kunjungi Investment & Banking Bootcamp Dibimbing untuk melihat kurikulum lengkap, jadwal kelas, dan informasi pendaftarannya. Mulai perjalananmu menjadi profesional di bidang investment dan banking bersama Dibimbing!
FAQ
1. Apa perbedaan ROI, ROA, dan ROE?
ROI mengukur keuntungan dari investasi, ROA mengukur efisiensi penggunaan aset, sedangkan ROE mengukur keuntungan yang dihasilkan dari modal pemegang saham.
2. Mana yang lebih baik, ROI, ROA, atau ROE?
Tidak ada yang paling baik karena masing-masing memiliki fungsi yang berbeda sesuai tujuan analisis.
3. Apakah ROA dan ROE termasuk rasio profitabilitas?
Ya. ROA dan ROE merupakan rasio profitabilitas yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
4. Mengapa ROI penting dalam investasi?
ROI membantu investor mengetahui seberapa besar keuntungan yang diperoleh dibandingkan dengan dana yang telah diinvestasikan.
5. Apakah ROI, ROA, dan ROE bisa digunakan bersamaan?
Bisa. Ketiga rasio tersebut justru saling melengkapi untuk memberikan gambaran yang lebih menyeluruh tentang kinerja keuangan perusahaan.
Kategori:
Penulis
Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.
Reviewer
Ditulis oleh tim diimbing.id, platform pembelajaran dan persiapan karir digital terkemuka di Indonesia. Mendapatkan penghargaan Startup Terpilih oleh Kominfo tahun 2021 dan telah mendapat akreditasi oleh KemdikbudRistek sebagai penyelenggara pendidikan. Beberapa referensi terpercaya: Media Indonesia, Dailysocial, Suara.com, Liputan6, Times Indonesia, Tribunnews, dan sebagainya.
