7 Strategi Investasi Minim Risiko agar Tetap Untung
Farijihan Putri
•
30 September 2025
•
298
Strategi investasi kini menjadi sorotan karena banyak yang pengen mulai tapi takut salah langkah. Warga Bimbingan, data Investing per Agustus 2025 mencatat jumlah investor pasar modal Indonesia sudah hampir 17,59 juta orang, naik 18% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Masalahnya, banyak di antara kita belum tahu bagaimana cara investasi yang minim risiko tapi tetap untung. Rasa takut terhadap fluktuasi pasar, kurangnya pemahaman produk investasi, atau godaan return tinggi tanpa cek keamanan sering bikin bingung.
MinDi akan jelasin 7 strategi investasi minim risiko agar tetap untung dan kalau kamu serius, ikut Bootcamp Investment & Banking dibimbing.id bisa menjadi solusi paling tepat untuk upskill keuanganmu!
Baca Juga: Bootcamp Dibimbing Apa Saja? Cek Bidang Sesuai Minatmu!
7 Contoh Strategi Investasi
Strategi investasi adalah pendekatan yang digunakan investor untuk mengelola modal agar berkembang sesuai tujuan finansial.
Yuk Warga Bimbingan, simak tujuh contoh strategi investasi yang populer dan bisa kamu terapkan sesuai profil risiko.
1. Value Investing
Pendekatan ini berfokus pada pembelian saham perusahaan yang undervalued atau dihargai di bawah nilai intrinsiknya.
Investor berharap harga saham akan naik seiring waktu sehingga memberikan keuntungan besar di masa depan.
Analisis fundamental biasanya dipakai untuk menilai apakah suatu saham tergolong undervalued. Cara ini cocok buat kamu yang sabar menunggu pertumbuhan jangka panjang.
2. Dividend Investing
Strategi investasi ini menekankan pada pemilihan saham dari perusahaan yang konsisten membagikan dividen. Investor mendapat pendapatan pasif rutin yang bisa menjadi sumber cashflow tambahan.
Selain itu, saham berdeviden cenderung berasal dari perusahaan mapan dan stabil. Pilihan ini tepat untuk kamu yang ingin menggabungkan pertumbuhan modal sekaligus arus kas reguler.
3. Dollar-Cost Averaging (DCA)
Metode DCA dilakukan dengan menyetor jumlah dana yang sama secara rutin, misalnya bulanan. Langkah ini membantu mengurangi risiko dari fluktuasi harga pasar yang sulit diprediksi.
Investor juga dilatih untuk lebih disiplin dalam berinvestasi. Hasilnya, portofolio bisa tumbuh konsisten meski kondisi pasar sedang naik-turun.
4. Growth Investing
Strategi investasi satu ini berfokus pada perusahaan dengan potensi pertumbuhan pendapatan dan laba yang tinggi. Investor biasanya mencari sektor yang sedang berkembang pesat, seperti teknologi atau kesehatan.
Walau risikonya cenderung lebih tinggi, potensi keuntungannya juga besar. Pendekatan ini ideal untuk kamu yang berani menghadapi volatilitas demi hasil optimal.
5. ESG Investing (Environmental, Social, and Governance)
Pendekatan ini memilih perusahaan yang memiliki kinerja baik dalam aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Investor tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga ingin berkontribusi pada keberlanjutan.
Popularitas ESG makin meningkat karena kesadaran terhadap isu global terus berkembang. Pilihan ini pas buat kamu yang ingin investasi sambil mendukung nilai positif.
6. Index Investing
Strategi investasi ini dilakukan dengan menempatkan dana pada indeks pasar seperti IHSG atau S&P 500. Pendekatan ini lebih sederhana karena mengikuti pergerakan pasar secara keseluruhan.
Investor tidak perlu repot memilih saham satu per satu. Selain biaya rendah, strategi ini juga memberi diversifikasi yang otomatis.
7. Sector Rotation
Pendekatan ini fokus pada perpindahan dana ke sektor-sektor yang sedang memiliki prospek bagus.
Investor memantau tren ekonomi untuk melihat sektor mana yang berpotensi unggul dalam periode tertentu.
Strategi ini memerlukan riset mendalam dan pemahaman kondisi makro. Kalau dikelola dengan tepat, hasilnya bisa lebih optimal daripada hanya fokus pada satu sektor saja.
Baca Juga: Rekomendasi Bootcamp Investment & Banking Terbaik
