15 Metodologi Project Management, Wajib Kamu Kuasai!

Siti Khadijah Azzukhruf Firdausi

27 March 2024

211

Image Banner

Menguasai metodologi project management adalah sebuah keharusan bagi profesional di industri ini. Dengan keahlian implementasi metodologi tersebut, tantangan proyek akan lebih mudah di atasi.


Untuk membantu kamu mempelajarinya, MinDi sudah siapkan penjelasan lengkap mengenai metodologi project management di artikel ini. Simak sampai habis ya!



Apa Saja Metodologi Project Management?



Sumber: Freepik


Tujuan dari menerapkan metodologi project management adalah untuk meningkatkan efisiensi, memastikan pengiriman tepat waktu, dan memenuhi ekspektasi stakeholder. Berikut adalah beberapa metode yang perlu dikuasai:



1. Waterfall


Metodologi project management pertama adalah Waterfall. Ini merupakan pendekatan sekuensial di mana proyek dibagi menjadi fase yang berbeda.

Setiap fase harus selesai sebelum tahapan berikutnya dapat dimulai. Pendekatan ini juga cocok untuk proyek dengan ruang lingkup jelas dan tidak berubah-ubah. 

Fungsi metodologi ini adalah untuk mempermudah perencanaan dan eksekusi terstruktur dengan milestone yang jelas.



2. Agile


Berikutnya, metodologi project management adalah Agile. Ini merupakan pendekatan iteratif yang menekankan pada respons cepat terhadap perubahan dan pengembangan produk secara bertahap. 

Agile memungkinkan tim untuk bekerja dalam iterasi singkat. Kemampuan ini disebut sprint. Penerapannya berfokus pada kolaborasi tim, feedback pelanggan, dan adaptasi. 

Lebih lanjut, Agile berfungsi untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dan fleksibilitas dalam pengembangan produk.


Baca Juga: Tahapan Metode Agile: Panduan Lengkap untuk Keberhasilan Proyek



3. Scrum


Berikutnya adalah Scrum. Ini merupakan kerangka kerja dalam Agile yang memfokuskan pada pengelolaan proyek dengan tim kecil dan lintas fungsi. Scrum menggunakan sprint untuk merencanakan, mengembangkan, dan meninjau pekerjaan dalam iterasi. 



4. Lean


Metodologi project management berikutnya adalah Lean. Ini merupakan metodologi yang fokus pada penciptaan nilai bagi pelanggan dengan cara mengeliminasi pemborosan dalam proses. 

Pendekatan ini berakar dari prinsip manufaktur ramping Toyota. Fungsinya antara lain untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi sumber daya yang tidak perlu. Sehingga, ini bisa meningkatkan nilai produk.



5. Kanban


Selanjutnya, Kanban adalah sistem visual untuk mengelola pekerjaan saat bergerak melalui proses. Kanban memungkinkan tim untuk melihat status pekerjaan mereka saat ini dan mengidentifikasi kemacetan. 

Fungsi utamanya adalah untuk meningkatkan alur kerja dan efisiensi dengan membatasi jumlah pekerjaan dalam proses.



6. PRINCE2


PRINCE2 (Projects IN Controlled Environments) adalah metodologi project management yang terstruktur. Metodologi ini memberikan pedoman terperinci tentang bagaimana mengelola proyek secara efektif.

Metodologi ini juga dibagi menjadi fase yang dapat dikelola dan dikontrol. Fungsinya adalah untuk memastikan proyek selesai tepat waktu, dalam anggaran, dan hasilnya memenuhi persyaratan kualitas.



7. PMBOK


PMBOK (Project Management Body of Knowledge) bukanlah metodologi, tetapi kerangka kerja yang menggabungkan standar terbaik dalam manajemen proyek. PMBOK menyediakan pedoman untuk manajemen proyek melalui proses dan area pengetahuan.

Fungsinya adalah untuk menyediakan basis pengetahuan untuk manajer proyek untuk mencapai kesuksesan proyek.



8. Critical Path Method (CPM)


CPM adalah teknik manajemen proyek untuk merencanakan dan mengontrol proyek kompleks. Metode ini mengidentifikasi tugas-tugas kritis yang menentukan durasi proyek. Fungsinya adalah untuk mengoptimalkan jadwal proyek dan mengelola sumber daya dengan efisien.




9. Extreme Programming (XP)


Extreme Programming (XP) adalah metodologi Agile yang fokus pada kualitas perangkat lunak. Ini juga berfokus pada responsivitas terhadap kebutuhan pelanggan yang berubah. 

XP juga menekankan pada pengembangan berkelanjutan, pengujian, dan umpan balik. Fungsinya adalah untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya perubahan.



10. Six Sigma


Six Sigma adalah pendekatan yang fokus pada peningkatan kualitas dan pengurangan variabilitas dalam proses. Metodologi ini menggunakan data statistik untuk mengidentifikasi dan mengeliminasi penyebab cacat. 

Fungsinya adalah untuk mencapai efisiensi operasional maksimum. Ini juga befungsi dalam meningkatkan kepuasan pelanggan melalui peningkatan kualitas yang konsisten.



11. Design Thinking


Design Thinking adalah pendekatan yang berfokus pada pemecahan masalah dengan cara yang inovatif. Hal ini dilakukan dengan memprioritaskan kebutuhan dan perspektif pengguna akhir. 

Ini melibatkan iterasi desain yang cepat berdasarkan prototyping dan feedback pengguna. Fungsinya adalah untuk menghasilkan solusi kreatif guna memenuhi kebutuhan nyata pengguna dengan cara yang tidak konvensional.



12. Critical Chain Project Management (CCPM)


CCPM adalah metodologi project management yang berfokus pada pengelolaan sumber daya manusia dan fisik proyek. Hal ini khususnya berlaku dalam mengatur buffer untuk tugas dan proyek. 

Pendekatan ini berfokus pada pengurangan durasi proyek dan penanganan ketidakpastian dengan efektif. Fungsinya adalah untuk memastikan penyelesaian proyek lebih cepat.


Baca Juga: Apa Itu Project Management Plan dan Bagaimana Cara Membuatnya?



13. Adaptive Project Framework (APF)


APF memungkinkan manajer proyek untuk menyesuaikan ruang lingkup proyek secara dinamis. Tujuannya adalah untuk memenuhi perubahan kebutuhan dan persyaratan. 

Metodologi ini berakar pada prinsip bahwa tidak semua variabel proyek dapat dikenali di awal. Fungsinya adalah untuk memberikan fleksibilitas maksimum dalam manajemen proyek. Ini memungkinkan adaptasi terhadap perubahan lingkungan dan persyaratan.



14. Feature Driven Development (FDD)


FDD adalah metodologi Agile yang berfokus pada pengembangan dan pengiriman fitur-fitur dalam proyek software development. Pendekatan ini mengutamakan pemodelan dan pembangunan fitur berdasarkan nilai bisnis. 

Fungsinya adalah untuk mempercepat waktu pengiriman dengan memastikan bahwa pengembangan berfokus pada fitur yang paling penting. Ini juga memberikan nilai terbesar kepada pengguna.



15. Scaled Agile Framework (SAFe)


SAFe adalah kerangka kerja untuk menerapkan Agile, Lean, dan DevOps pada skala besar. Hal ini khususnya berlaku dalam organisasi besar dengan tim multiproyek. 

SAFe juga menyediakan struktur dan panduan untuk skala enterprise guna mencapai agility. Fungsinya adalah untuk memfasilitasi koordinasi, kolaborasi, dan pengiriman yang cepat di antara banyak tim Agile.



Itulah beberapa metodologi project management yang bisa kamu gunakan dalam proyekmu. Apabila tertarik belajar lebih dalam lagi, MinDi rekomendasikan kamu untuk ikut Bootcamp product and project management dibimbing.id


Lewat program ini, kamu bisa belajar konsep dasar, kembangkan skills, hingga praktik dengan real-case project. Selain itu, programnya dirancang dengan kurikulum beginner-friendly yang cocok untuk pemula atau career-switcher.


Kamu juga terjamin dapatkan pekerjaan lewat layanan job connection ke 500+ companies. Menarik kan? Yuk, segera daftarkan dirimu! Apapun tujuanmu, Dibimbing siap #BimbingSampeJadi karir impianmu.



Share

Author Image

Siti Khadijah Azzukhruf Firdausi

Khadijah adalah SEO Content Writer di Dibimbing dengan pengalaman menulis konten selama kurang lebih setahun. Sebagai lulusan Bahasa dan Sastra Inggris yang berminat tinggi di digital marketing, Khadijah aktif berbagi pandangan tentang industri ini. Berbagai topik yang dieksplorasinya mencakup digital marketing, project management, data science, web development, dan career preparation.

Hi!👋

Kalau kamu butuh bantuan,

hubungi kami via WhatsApp ya!