dibimbing.id - Panduan ESG Analyst: Tugas, Skill, dan Gaji 2026

ESG

Panduan ESG Analyst: Tugas, Skill, dan Gaji 2026

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

09 January 2026

278

Image Banner

Profesi ESG Analyst semakin dibutuhkan seiring meningkatnya tuntutan transparansi dan keberlanjutan di dunia bisnis. Pada tahun 2026, peran tersebut menjadi salah satu posisi kunci dalam mendukung strategi perusahaan berbasis ESG.

Dalam praktiknya, ESG Analyst bertanggung jawab menganalisis data lingkungan, sosial, dan tata kelola untuk menilai kinerja serta risiko perusahaan, Warga Bimbingan. 

Hasil analisis tersebut digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dan pelaporan kepada stakeholder.

Selain perannya yang strategis, profesi ESG Analyst juga menawarkan peluang karier dan gaji yang menjanjikan. Yuk, simak panduan ESG Analyst 2026 untuk memahami tugas, skill, dan gambaran penghasilannya.

Baca juga: Panduan Sukses Switch Career ke K3: Skill & Materi Terupdate


Apa Itu ESG Analyst?

ESG Analyst adalah profesional yang bertugas menganalisis kinerja perusahaan berdasarkan aspek lingkungan (Environmental), sosial (Social), dan tata kelola (Governance). 

Peran tersebut berfokus pada pengolahan data ESG untuk menilai risiko, peluang, serta dampak keberlanjutan terhadap kinerja bisnis. 

ESG Analyst juga menyusun laporan dan rekomendasi yang digunakan oleh manajemen maupun investor dalam proses pengambilan keputusan. 

Analisis yang komprehensif membantu perusahaan meningkatkan transparansi, kepatuhan, dan nilai bisnis jangka panjang.

​​Baca juga: 10 Panduan Memilih Bootcamp HSE/K3 Terbaik di 2026


Tugas ESG Analyst

Sumber: Canva

Peran ESG Analyst berfokus pada pengolahan data dan analisis untuk membantu perusahaan memahami dampak serta risiko keberlanjutan. 

Berikut lima tugas utama yang biasanya dijalankan dalam posisi ESG Analyst:


1. Mengumpulkan dan mengelola data ESG

ESG Analyst bertanggung jawab mengumpulkan data terkait aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan. 

Data tersebut dapat berasal dari laporan internal, aktivitas operasional, maupun sumber eksternal. Pengelolaan data yang rapi menjadi dasar analisis yang akurat.


2. Menganalisis kinerja dan risiko ESG

Analisis kinerja dan risiko ESG dilakukan secara mendalam untuk menilai sejauh mana perusahaan memenuhi standar dan praktik keberlanjutan yang berlaku. 

Proses tersebut membantu mengidentifikasi potensi risiko, dampak negatif, serta peluang peningkatan kinerja ESG. Hasil analisis digunakan sebagai bahan pertimbangan strategis bagi manajemen dan investor.


3. Menyusun laporan ESG dan sustainability

ESG Analyst menyusun laporan ESG yang sistematis dan mudah dipahami oleh berbagai pihak. 

Laporan tersebut mencerminkan kondisi kinerja keberlanjutan perusahaan secara menyeluruh. Dokumentasi yang baik mendukung transparansi dan kepatuhan terhadap standar pelaporan.


4. Memantau kepatuhan terhadap standar dan regulasi ESG

Pemantauan kepatuhan dilakukan dengan mengikuti perkembangan regulasi, kebijakan, dan standar ESG yang terus berubah. 

Setiap perubahan dianalisis untuk menilai dampaknya terhadap operasional dan pelaporan perusahaan. Proses tersebut membantu perusahaan tetap patuh serta mengurangi risiko hukum dan reputasi.


5. Memberikan rekomendasi berbasis data

Berdasarkan hasil analisis, ESG Analyst memberikan rekomendasi perbaikan atau pengembangan strategi ESG. 

Rekomendasi disusun secara objektif dan berbasis data. Masukan tersebut membantu perusahaan meningkatkan kinerja keberlanjutan jangka panjang.

Baca juga: Berapa Harga Bootcamp HSE/K3 di Indonesia? dan Faktornya


Skill yang Dibutuhkan ESG Analyst

Untuk tetap kompetitif di tahun 2026, ESG Analyst perlu menguasai skill yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga relevan dengan standar global dan kebutuhan bisnis. Berikut lima kategori skill utama yang dibutuhkan:


1. Analisis data dan visualisasi (Data Analytics)

Kemampuan analisis data menjadi fondasi penting dalam pekerjaan ESG Analyst karena hampir seluruh penilaian berbasis angka dan metrik. 

Penguasaan tools seperti Power BI, Tableau, atau Python membantu mengolah data ESG menjadi visual yang mudah dipahami investor. Di tahun 2026, kemampuan mengelola big data sangat krusial untuk memetakan tren risiko dan peluang keberlanjutan perusahaan.


2. Penguasaan framework dan standar pelaporan global

ESG Analyst wajib memahami framework dan standar pelaporan internasional yang berlaku secara luas. 

Standar seperti IFRS Sustainability Disclosure Standards (S1 & S2), GRI, dan SASB menjadi acuan utama di berbagai pasar modal. 

Penguasaan standar tersebut memastikan laporan keberlanjutan memenuhi aspek kepatuhan lintas negara.


3. Akuntansi karbon dan penilaian risiko iklim

Kemampuan menghitung emisi gas rumah kaca secara akurat menjadi skill teknis yang sangat dibutuhkan. 

Fokus utama mencakup perhitungan emisi Scope 1, Scope 2, hingga Scope 3 yang berasal dari rantai pasok. Selain itu, ESG Analyst perlu memahami analisis skenario iklim dan dampaknya terhadap kinerja perusahaan.


4. Pengetahuan regulasi dan kepatuhan (Compliance)

Pemahaman regulasi lokal dan internasional menjadi kunci dalam mencegah risiko hukum dan reputasi. 

Regulasi seperti Taksonomi Hijau Indonesia dan kebijakan transparansi global terus berkembang di tahun 2026. Pengetahuan ini membantu perusahaan menghindari praktik greenwashing yang sanksinya semakin ketat.


5. Literasi keuangan dan materialitas bisnis

ESG Analyst perlu mampu menghubungkan metrik ESG dengan kinerja finansial perusahaan. 

Pemahaman terhadap ROI, EBITDA, dan profil risiko membantu menjelaskan nilai bisnis dari inisiatif keberlanjutan. Skill tersebut sangat penting saat menyampaikan rekomendasi strategis kepada manajemen dan investor.

Baca juga: 7 Rekomendasi Bootcamp HSE/K3 Terbaik di Indonesia


Gaji ESG Analyst

Berdasarkan data Glassdoor, gaji ESG Analyst di Indonesia berada pada kisaran Rp6,7 juta hingga Rp7,2 juta per bulan. Median total gaji tercatat sekitar Rp7 juta per bulan, sehingga bisa dijadikan gambaran rata-rata penghasilan.

Dari sisi komponen, gaji pokok ESG Analyst berada di rentang Rp6,2 juta sampai Rp6,7 juta per bulan. Selain itu, terdapat tambahan penghasilan seperti bonus dengan kisaran Rp485 ribu hingga Rp523 ribu per bulan.

Rentang gaji yang relatif terbatas menunjukkan bahwa peran ESG Analyst masih berkembang di Indonesia. Meski data Glassdoor masih minim, angka tersebut cukup relevan sebagai acuan awal standar gaji ESG Analyst

Baca juga: Safety Officer: Tugas, Skill, Gaji, & Tips Karier Sukses (2026)


Cara Menjadi ESG Analyst

Sumber: Canva

Untuk memulai karier sebagai ESG Analyst, diperlukan kombinasi pendidikan, kemampuan analitis, dan pemahaman standar keberlanjutan. 

Berikut lima langkah yang bisa dilakukan agar persiapan karier lebih terarah:


1. Menempuh pendidikan yang relevan

Latar belakang pendidikan seperti ekonomi, manajemen, akuntansi, teknik lingkungan, atau ilmu lingkungan sangat mendukung. 

Materi akademik membantu memahami hubungan antara kinerja bisnis dan isu ESG. Pendidikan yang tepat memudahkan adaptasi dengan tuntutan analisis ESG.


2. Memahami framework dan standar ESG

ESG Analyst perlu memahami standar pelaporan seperti GRI, SASB, dan IFRS Sustainability Disclosure. 

Pengetahuan tersebut menjadi dasar dalam menilai kinerja dan kepatuhan perusahaan. Penguasaan framework membantu menghasilkan analisis yang kredibel.


3. Memahami framework dan standar ESG

ESG Analyst perlu memahami standar pelaporan seperti GRI, SASB, dan IFRS Sustainability Disclosure. 

Pengetahuan tersebut menjadi dasar dalam menilai kinerja dan kepatuhan perusahaan. Penguasaan framework membantu menghasilkan analisis yang kredibel.


4. Menguasai analisis data dan tools pendukung

Kemampuan analisis data menjadi inti pekerjaan ESG Analyst karena seluruh penilaian ESG berbasis angka dan metrik yang terukur. 

Penguasaan tools seperti Excel, Power BI, Tableau, atau software analisis lainnya membantu mengolah data ESG secara lebih sistematis dan akurat. Skill ini memudahkan penyajian insight yang relevan bagi manajemen, investor, dan stakeholder.


5. Mengumpulkan pengalaman melalui magang atau proyek

Pengalaman praktik dapat diperoleh melalui magang, riset, atau proyek sustainability dan ESG. 

Aktivitas tersebut melatih kemampuan mengolah data dan memahami kondisi nyata perusahaan. Pengalaman lapangan sering menjadi nilai tambah saat melamar kerja.


6. Membangun portofolio dan jejaring profesional

Portofolio berisi hasil analisis, laporan ESG, atau studi kasus menunjukkan kemampuan secara nyata. 

Selain itu, membangun jejaring di komunitas ESG membantu memahami tren industri terbaru. Koneksi profesional sering membuka peluang karier lebih cepat.


Ingin Berkarier sebagai ESG Analyst atau ESG Professional?

Setelah memahami peran, skill, dan peluang karier di bidang ESG, sekarang saatnya meningkatkan kompetensi agar siap masuk industri. Kebutuhan talenta ESG terus meningkat seiring tuntutan transparansi dan keberlanjutan perusahaan.

Yuk, ikuti Bootcamp ESG & Sustainability Management di dibimbing.id. Program ini dirancang dengan kurikulum aplikatif dan praktis yang membahas ESG framework, analisis data ESG, pelaporan keberlanjutan, hingga studi kasus nyata sesuai kebutuhan industri.

Belajar langsung dari mentor berpengalaman dengan pendekatan hands-on untuk membangun portofolio yang relevan. 

Didukung lebih dari 840+ hiring partner dan tingkat keberhasilan alumni 96%, peluang karier di bidang ESG semakin terbuka lebar.

Jadi, tunggu apa lagi? Daftar sekarang disini dan mulai perjalanan kariermu di dunia ESG. #BimbingSampeJadi

Tags

ESG

Share

Author Image

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!