Apabila kamu ingin berkarier di sektor keberlanjutan (ESG), menguasai cara menghitung emisi karbon perusahaan adalah skill wajib yang dicari industri. Banyak fresh graduate atau career switch yang tertarik pada ESG namun kesulitan karena tidak tahu metodologi perhitungan carbon accounting yang kompleks.
Padahal, kemampuan untuk mengukur jejak karbon sebuah organisasi merupakan fondasi utama dari setiap strategi netralitas karbon. Memahami dan mempraktikkan perhitungan ini akan secara langsung membuka peluang kamu mendapatkan peran sebagai Sustainability Analyst atau ESG Officer.
Jangan biarkan kerumitan angka dan scope menghambat impianmu. Warga Bimbingan, keahlian teknis ini bisa kamu kuasai secara intensif dalam 6 bulan. MinDi mengajak kamu untuk mengikuti Bootcamp ESG & Sustainability Management Dibimbing!
Baca Juga: Biaya Bootcamp ESG & Sustainability Management? Cek Di Sini
Apa Itu Emisi Gas Rumah Kaca (GRK)?
Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) adalah pelepasan gas-gas tertentu ke atmosfer yang memerangkap panas dan menyebabkan efek rumah kaca.
Gas-gas ini meliputi Karbon Dioksida, Metana, dan Nitrous Oksida. Emisi ini, terutama yang dihasilkan dari aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, merupakan penyebab utama perubahan iklim global.
Dalam konteks perhitungan korporasi, semua gas ini dikonversi menjadi unit setara Karbon Dioksida untuk memudahkan pelaporan dan perbandingan. Mengukur GRK perusahaan adalah langkah pertama menuju mitigasi dan pelaporan keberlanjutan yang kredibel.
Baca Juga: Cara Mendapat Sertifikasi ESG untuk Tingkatkan Karier
Cara Menghitung Emisi Karbon Perusahaan
Sumber: Freepik
Memahami cara menghitung emisi karbon perusahaan adalah fondasi bagi setiap strategi keberlanjutan yang kredibel. Perhitungan ini mengikuti metodologi standar global, yang paling umum adalah GHG Protocol.
1. Tentukan Batasan (Scope)
Langkah awal krusial dalam perhitungan adalah menentukan batasan operasional dan organisasi. Penentuan scope yang benar adalah langkah awal penting dalam cara menghitung emisi karbon perusahaan secara akurat, memastikan semua sumber emisi tercakup.
- Scope 1: Emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan oleh perusahaan. Contohnya adalah pembakaran bahan bakar di boiler, generator, dan kendaraan operasional milik perusahaan sendiri.
- Scope 2: Emisi tidak langsung dari energi yang dibeli dan dikonsumsi oleh perusahaan. Contoh utamanya adalah konsumsi listrik, uap, atau panas yang dipasok dari luar.
- Scope 3: Semua emisi tidak langsung lainnya yang terjadi dalam rantai nilai perusahaan, baik hulu maupun hilir. Contohnya mencakup perjalanan bisnis karyawan, pengadaan barang dan jasa, limbah, dan penggunaan produk yang dijual perusahaan oleh konsumen.
2. Kumpulkan Data Aktivitas
Setelah scope ditetapkan, catat data kuantitatif dari semua sumber emisi yang teridentifikasi. Data yang dikumpulkan harus spesifik dan akurat, karena ini adalah input utama perhitungan.
Contoh data yang harus dikumpulkan adalah Konsumsi listrik (dalam kWh), Konsumsi bahan bakar (dalam liter solar/bensin), Jumlah perjalanan bisnis (dalam km), dan Pembelian barang dan jasa (dalam kg atau ton).
Data ini harus dikumpulkan secara sistematis selama periode pelaporan tertentu (misalnya, satu tahun fiskal).
3. Gunakan Faktor Emisi (Emission Factor)
Kalikan data aktivitas yang terkumpul dengan Faktor Emisi yang relevan untuk mengubahnya menjadi satuan CO₂e.
Faktor emisi adalah nilai standar yang menunjukkan jumlah emisi yang dihasilkan per unit aktivitas. Faktor emisi didapatkan dari sumber otoritatif seperti DEFRA (Inggris) atau sumber IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change).
Contoh:
10.000 kWh (Data Aktivitas) x 0,193 kg CO₂e / kWh (Faktor Emisi DEFRA) = 1.930 kg CO₂e
4. Hitung Total Emisi
Langkah terakhir dalam cara menghitung emisi karbon perusahaan adalah menjumlahkan semua hasil emisi dari setiap aktivitas di semua scope.
Hasil penjumlahan ini akan memberikan total jejak karbon perusahaan (carbon footprint) dalam satuan kg CO₂e atau ton CO₂e selama periode pelaporan.
Contoh Perhitungan Emisi Karbon Perusahaan
Misalkan sebuah perusahaan logistik kecil ingin menghitung emisi Scope 1 dan Scope 2 mereka selama satu bulan.
Data Aktivitas:
- Konsumsi Solar (Kendaraan Operasional, Scope 1): 500 liter
- Konsumsi Listrik Kantor (Scope 2): 2.000 kWh
Faktor Emisi:
- Solar: 2,68 kg CO₂e / liter
- Listrik (Rata-rata Grid Indonesia): 0,6 kg CO₂e / kWh
Perhitungan:
- Emisi Scope 1 (Solar): 500 liter x 2,68 kg CO₂e / liter = 1.340 kg CO₂e
- Emisi Scope 2 (Listrik): 2.000 kWh x 0,6 kg CO₂e / kWh = 1.200 kg CO₂e
- Total Emisi Bulanan: 1.340 kg CO₂e + 1.200 kg CO₂e = 2.540 kg CO₂e
Total emisi karbon perusahaan tersebut adalah 2.540 kg CO₂e per bulan. Hasil ini menjadi dasar untuk program efisiensi energi di masa depan.
Baca Juga: Panduan Lengkap Roadmap ESG Sustainability untuk Perusahaan
Ambil Langkah Nyata: Kuasai Perhitungan Carbon Accounting!
Menguasai cara menghitung emisi karbon perusahaan memberikan kredibilitas teknis yang membedakan kamu dari kandidat lain di sektor ESG. Setelah mengetahui perhitungan carbon accounting, kini saatnya kamu mengimplementasikannya.
Yuk, belajar secara lengkap di bidang keberlanjutan di Bootcamp ESG & Sustainability Management Dibimbing. Kamu akan mendapatkan gratis mengulang kelas dan 40+ Live Class bersama Praktisi Ahli. Pembelajaranmu diperkuat oleh 20+ Weekly Assignment untuk Portfolio Building dan Case Study dari berbagai industri.
Kamu akan mendapat Konsultasi 1-on-1, serta Final Project dan Exam Penyaluran untuk Persiapan Karier, yang didukung Career Preparation Service (Review CV & LinkedIn, Career Class) dan kesempatan Bergabung di Komunitas. Faktanya, 96% alumni sudah berhasil kerja berkat dukungan 840+ hiring partner.
Masih ragu atau punya pertanyaan seperti, "Apakah di bootcamp diajarkan perhitungan Scope 3 secara mendalam?" atau "Apakah ada sesi praktik menggunakan tool seperti GHG Protocol?" Konsultasi gratis aja sekarang, karena dibimbing.id pasti #BimbingSampeJadi ESG profesional yang kamu impikan!
Tags
