Dibimbing - Capital Gain Adalah: Pengertian, Rumus, dan Contohnya
Blog
Investment Banking

Capital Gain Adalah: Pengertian, Rumus, dan Contohnya

Author

DITULIS OLEH 

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Reviewer

DIREVIEW OLEH 

Sudah Direview Oleh Expert

Dibuat pada 30 Sep 2026

Diubah pada 2 Okt 2026

14

Image Thumbnail

Pernah melihat harga saham naik setelah dibeli? Selisih antara harga beli dan harga jual inilah yang disebut capital gain.

Capital gain adalah keuntungan saat aset dijual lebih tinggi dari harga awal. Konsep ini penting untuk menghitung hasil investasi.

Kalau ingin belajar analisis investasi lebih dalam, kamu bisa mengikuti Bootcamp Investment & Banking Dibimbing. Di artikel ini, MinDi akan membahas pengertian, rumus, contoh, dan risikonya.

Baca Juga: Bukan Lulusan Akuntansi? Intip Cara Rizky Switch Career ke Finance!


Apa Itu Capital Gain?

Capital gain adalah keuntungan yang diperoleh ketika suatu aset dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan harga belinya. 

Dalam investasi saham, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menjelaskan capital gain sebagai keuntungan ketika pemegang saham menjual saham dengan harga lebih tinggi dari harga beli. 

Misalnya, kamu membeli saham pada harga Rp2.000 per lembar dan menjualnya di Rp2.500. Selisih Rp500 per lembar tersebut merupakan capital gain sebelum memperhitungkan biaya transaksi dan pajak.

Konsep ini tidak terbatas pada saham. Capital gain juga dapat muncul dari aset lain yang mengalami kenaikan nilai sebelum dijual.


Apa Rumus Capital Gain?

apa-rumus-capital-gain

Sumber: Desain oleh Dibimbing

Rumus capital gain pada dasarnya menghitung selisih antara harga jual dan harga beli aset.

  1. Capital Gain = Harga Jual - Harga Beli

Kalau ingin mengetahui persentase keuntungan, gunakan rumus:

  1. Capital Gain (%) = ((Harga Jual - Harga Beli) ÷ Harga Beli) × 100%

Untuk investasi dalam jumlah beberapa lembar saham, kamu dapat menggunakan:

  1. Total Capital Gain = (Harga Jual - Harga Beli) × Jumlah Saham

Hasil tersebut merupakan keuntungan kotor. Dalam transaksi sebenarnya, investor masih perlu memperhitungkan fee broker dan pajak penjualan saham.

Baca Juga: Cerita Kak Nasrul Jadi Business Analyst di Perusahaan Fintech


Bagaimana Cara Menghitung Capital Gain?

Supaya lebih mudah, berikut contoh sederhana cara menghitung capital gain.


1. Tentukan Harga Beli

Misalnya, kamu membeli saham sebanyak 1 lot atau 100 lembar dengan harga Rp2.000 per lembar. Total nilai pembelian sebelum biaya transaksi adalah:

  1. 100 × Rp2.000 = Rp200.000


2. Tentukan Harga Jual

Beberapa waktu kemudian, harga saham naik menjadi Rp2.500 dan kamu memutuskan menjualnya. Nilai penjualannya menjadi:

  1. 100 × Rp2.500 = Rp250.000


3. Hitung Capital Gain

Selanjutnya, kurangi nilai penjualan dengan nilai pembelian:

  1. Rp250.000 - Rp200.000 = Rp50.000

Jadi, capital gain kotor yang diperoleh adalah Rp50.000.


4. Hitung Persentasenya

Persentase keuntungan dapat dihitung menggunakan:

  1. (Rp50.000 ÷ Rp200.000) × 100% = 25%

Artinya, kenaikan harga tersebut menghasilkan capital gain sekitar 25% sebelum biaya transaksi dan pajak.

Baca Juga: Rizki Sukses Jadi Product Manager di Tech Company, Begini Ceritanya!


Contoh Capital Gain Saham AADI

Supaya lebih nyata, kamu bisa melihat contoh pergerakan saham AADI (Adaro Andalan Indonesia Tbk.) dalam rentang grafik tiga bulan.

contoh-capital-gain-saham-aadi

Contoh pergerakan harga saham AADI dalam periode tiga bulan.

Sumber: Tangkapan layar Stockbit, 15 September 2026.

Pada grafik tersebut, terlihat harga AADI bergerak dari area sekitar Rp8.000-an hingga berada di atas Rp12.000. Untuk mempermudah perhitungan, anggap seorang investor membeli saham AADI pada harga Rp8.000 kemudian menjualnya pada harga Rp12.000.

Perhitungannya adalah:

  1. Capital Gain = Rp12.000 - Rp8.000 = Rp4.000 per lembar

Kemudian, persentase capital gain:

  1. (Rp4.000 ÷ Rp8.000) × 100% = 50%

Jadi, investor memperoleh capital gain kotor sekitar 50%. Kalau investor membeli 1 lot atau 100 lembar AADI, perhitungannya menjadi:

Modal awal:

  1. 100 × Rp8.000 = Rp800.000

Nilai penjualan:

  1. 100 × Rp12.000 = Rp1.200.000

Capital gain kotor:

  1. Rp1.200.000 - Rp800.000 = Rp400.000

Artinya, dari ilustrasi tersebut investor memperoleh keuntungan kotor sebesar Rp400.000 atau 50% sebelum memperhitungkan fee broker dan pajak.

Catatan: Harga Rp8.000 digunakan sebagai ilustrasi berdasarkan area harga yang terlihat pada grafik, bukan klaim bahwa harga tersebut merupakan harga AADI tepat pada awal periode tiga bulan. Contoh ini bersifat edukatif dan bukan rekomendasi jual atau beli saham.

Baca Juga: Private Equity Adalah: Pengertian, Cara Kerja, dan Contohnya


Apa Jenis-Jenis Capital Gain?

Capital gain dapat dibedakan berdasarkan apakah keuntungan tersebut sudah direalisasikan melalui penjualan atau masih berupa kenaikan nilai aset.


1. Realized Capital Gain

Realized capital gain adalah keuntungan yang sudah terealisasi karena investor telah menjual asetnya.

Misalnya, kamu membeli saham Rp8.000 dan kemudian menjualnya pada Rp12.000. Selisih Rp4.000 sudah menjadi keuntungan terealisasi karena transaksi penjualan telah dilakukan.


2. Unrealized Capital Gain

Unrealized capital gain merupakan kenaikan nilai aset yang belum direalisasikan melalui penjualan.

Jika saham yang dibeli Rp8.000 sekarang bernilai Rp12.000 tetapi masih kamu pegang, keuntungan Rp4.000 tersebut masih bersifat unrealized. Nilainya masih dapat berubah mengikuti harga pasar.


Apa Perbedaan Capital Gain dan Capital Loss?

Capital gain dan capital loss merupakan dua kemungkinan hasil ketika investor menjual aset. OJK menyebut capital loss sebagai kebalikan dari capital gain, yaitu ketika saham dijual lebih rendah daripada harga belinya. 

Aspek

Capital Gain

Capital Loss

Harga jual

Lebih tinggi dari harga beli

Lebih rendah dari harga beli

Hasil

Keuntungan

Kerugian

Harga beli

Rp8.000

Rp8.000

Contoh harga jual

Rp12.000

Rp6.000

Selisih

+Rp4.000

-Rp2.000

Jadi, kenaikan harga belum tentu menghasilkan keuntungan jika aset belum dijual. Begitu juga sebaliknya, penurunan nilai portofolio baru menjadi realized loss ketika investor benar-benar melakukan penjualan.


Apa Perbedaan Capital Gain dan Dividen?

Capital gain dan dividen sama-sama dapat menjadi sumber keuntungan bagi investor saham. Namun, keduanya berasal dari sumber yang berbeda.

Aspek

Capital Gain

Dividen

Sumber

Kenaikan harga saham

Pembagian laba perusahaan

Perlu menjual saham

Ya

Tidak

Besaran

Bergantung harga jual

Bergantung keputusan perusahaan

Waktu diterima

Setelah saham dijual

Saat dividen dibagikan

Jaminan

Tidak ada

Tidak selalu dibagikan

OJK menjelaskan bahwa keuntungan memiliki saham dapat berasal dari dividen maupun capital gain. Dividen berasal dari laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham, sedangkan capital gain berasal dari selisih harga jual yang lebih tinggi.

Investor juga bisa memperoleh keduanya apabila perusahaan membagikan dividen sekaligus harga saham mengalami kenaikan.


Faktor Apa yang Memengaruhi Capital Gain?

Besarnya capital gain sangat dipengaruhi pergerakan harga aset. Pada saham, perubahan harga dapat dipengaruhi kondisi internal perusahaan maupun faktor eksternal.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan meliputi:

  1. Kinerja perusahaan: Pertumbuhan pendapatan dan laba dapat memengaruhi persepsi investor.
  2. Valuasi saham: Harga saham yang terlalu mahal dapat membatasi potensi kenaikan selanjutnya.
  3. Kondisi industri: Pertumbuhan maupun pelemahan sektor dapat memengaruhi harga saham.
  4. Kondisi ekonomi: Inflasi, suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi memengaruhi sentimen pasar.
  5. Permintaan dan penawaran: Banyaknya investor yang membeli atau menjual dapat menggerakkan harga.
  6. Sentimen pasar: Berita dan ekspektasi dapat memengaruhi harga dalam jangka pendek.

Karena itu, jangan hanya melihat saham yang sedang naik. Analisis fundamental dan valuasi tetap diperlukan untuk memahami apakah kenaikan harga didukung oleh kondisi bisnis perusahaan.

Baca Juga: Market Value: Pengertian, Cara Menghitung, & Contohnya


Apakah Capital Gain Saham Kena Pajak?

Untuk transaksi saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, penjualan saham dikenakan PPh Final sebesar 0,1% dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan. Jadi, dasar pengenaan pajaknya adalah nilai penjualan, bukan besar capital gain yang diperoleh. 

Sebagai contoh, jika 1 lot AADI pada ilustrasi sebelumnya dijual senilai Rp1.200.000, maka PPh Final sederhananya adalah:

  1. 0,1% × Rp1.200.000 = Rp1.200

Jadi, pajaknya dihitung dari Rp1,2 juta nilai penjualan, bukan dari capital gain Rp400.000. Direktorat Jenderal Pajak juga menegaskan bahwa dasar pengenaan pajak penjualan saham adalah seluruh nilai penjualan. 

Perhitungan tersebut belum memasukkan fee jual dan beli dari perusahaan sekuritas. Besarnya fee dapat berbeda tergantung broker yang digunakan.


Bagaimana Cara Mendapatkan Capital Gain?

Tidak ada cara yang dapat menjamin investor memperoleh capital gain. Namun, kamu dapat meningkatkan kualitas pengambilan keputusan melalui analisis yang lebih terukur.


1. Analisis Fundamental Perusahaan

Periksa pendapatan, laba, arus kas, utang, serta prospek bisnis perusahaan sebelum membeli saham.

Tujuannya bukan sekadar mencari saham yang sedang naik, tetapi memahami apakah bisnis mempunyai fundamental yang cukup kuat.


2. Perhatikan Valuasi

Harga saham yang bagus belum tentu merupakan harga beli yang bagus. Investor perlu membandingkan harga pasar dengan nilai perusahaan menggunakan metode seperti PER, PBV, atau DCF.

Valuasi membantu kamu menghindari membeli perusahaan berkualitas pada harga yang terlalu mahal.


3. Tentukan Target Investasi

Tentukan sejak awal tujuan dan jangka waktu investasi. Strategi investor jangka panjang tentu berbeda dengan trader yang mencari keuntungan dari pergerakan harga jangka pendek.

Target yang jelas juga dapat membantu mengurangi keputusan impulsif ketika pasar berfluktuasi.


4. Diversifikasi Portofolio

Hindari menempatkan seluruh dana pada satu saham. Diversifikasi dapat membantu mengurangi dampak apabila salah satu aset mengalami penurunan.

Namun, diversifikasi tetap perlu disertai analisis. Memiliki banyak saham tanpa memahami kondisi perusahaan tidak otomatis membuat portofolio aman.


Apa Risiko Mengejar Capital Gain?

Potensi capital gain selalu berjalan bersama risiko kerugian. Investor tidak dapat mengetahui secara pasti ke mana harga saham akan bergerak setelah membeli.

Beberapa risikonya antara lain:

  1. Capital loss: Harga saham turun dan dijual di bawah harga beli.
  2. Volatilitas: Harga dapat berubah cukup cepat dalam waktu singkat.
  3. Risiko fundamental: Kinerja perusahaan dapat memburuk setelah investasi dilakukan.
  4. Risiko likuiditas: Saham tertentu mungkin sulit dijual pada harga yang diinginkan.
  5. FOMO: Investor membeli karena harga sedang naik tanpa melakukan analisis.
  6. Panic selling: Penurunan harga membuat investor mengambil keputusan secara emosional.

Karena itu, jangan hanya menghitung berapa keuntungan yang bisa diperoleh. Pertimbangkan juga potensi kerugian dan berapa besar risiko yang sanggup kamu tanggung.


Kesimpulan

Capital gain adalah keuntungan yang diperoleh ketika aset dijual dengan harga lebih tinggi dari harga beli. Keuntungan ini bisa dihitung dalam nominal maupun persentase dan baru terealisasi setelah aset dijual.

Meski menarik, capital gain tetap memiliki risiko seperti capital loss dan volatilitas pasar. Karena itu, analisis fundamental, valuasi, biaya transaksi, dan pajak tetap perlu diperhitungkan sebelum berinvestasi.


Bootcamp Investment & Banking Terbaik untuk Belajar Analisis Investasi

Memahami capital gain penting, tetapi kemampuan investasi nggak berhenti pada menghitung selisih harga beli dan jual. Kamu juga perlu memahami valuasi, laporan keuangan, financial modeling, hingga cara menilai risiko sebelum mengambil keputusan.

Melalui Bootcamp Investment & Banking Dibimbing, kamu bisa belajar lebih terstruktur lewat kelas interaktif, praktik, dan studi kasus yang relevan dengan kebutuhan industri.


Benefit Bootcamp Investment & Banking Dibimbing:

  1. 50+ Live Class & 7 Sesi Praktik bersama mentor berpengalaman.
  2. Weekly Assignment & Study Case untuk melatih analisis investasi.
  3. Konsultasi 1-on-1 Tanpa Batas bersama instruktur.
  4. Pendampingan 24/7 selama proses belajar.
  5. Final Project Berbasis Studi Kasus untuk membantu membangun portofolio.
  6. Kurikulum Terstruktur yang membahas valuasi, analisis keuangan, dan financial modeling.
  7. Penyaluran Kerja dengan akses peluang karier ke 1.100+ perusahaan.
  8. Komunitas Investment & Banking untuk memperluas relasi profesional.


Siap Berkarier di Bidang Investment & Banking?

Kalau kamu ingin memahami capital gain sekaligus meningkatkan kemampuan analisis investasi secara lebih praktis, Bootcamp Investment & Banking Dibimbing bisa menjadi langkah untuk mempersiapkan skill yang dibutuhkan industri.

Yuk, cek kurikulum, jadwal kelas, biaya, dan informasi pendaftarannya untuk mulai membangun kemampuan di bidang investasi dan perbankan.


FAQ

1. Apa Itu Capital Gain?

Capital gain adalah keuntungan yang diperoleh ketika aset dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan harga belinya. Dalam investasi saham, capital gain baru terealisasi setelah saham benar-benar dijual.

2. Bagaimana Rumus Capital Gain?

Rumus capital gain adalah harga jual dikurangi harga beli. Jika ingin mengetahui persentasenya, hasil selisih tersebut dibagi harga beli lalu dikalikan 100%.

3. Apa Contoh Capital Gain?

Contoh capital gain adalah ketika kamu membeli saham di harga Rp8.000 lalu menjualnya di Rp12.000. Capital gain saham tersebut sebesar Rp4.000 per lembar atau sekitar 50% sebelum biaya transaksi dan pajak.

4. Apa Perbedaan Capital Gain dan Capital Loss?

Capital gain menghasilkan keuntungan investasi karena harga jual lebih tinggi dari harga beli. Sementara itu, capital loss terjadi ketika aset dijual pada harga yang lebih rendah dibandingkan harga belinya.

5. Apakah Capital Gain Selalu Menguntungkan?

Tidak selalu, karena harga aset bisa berubah sebelum dijual. Investor tetap perlu mempertimbangkan risiko capital loss, volatilitas, biaya transaksi, dan kondisi fundamental sebelum mengejar keuntungan investasi.

Kategori:

Share:

Penulis

Penulis Image

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.

Reviewer

Reviewer Image

Sudah Direview Oleh Expert

Setiap artikel yang berlabel "Sudah Direview Oleh Expert" telah melalui proses peninjauan oleh praktisi atau mentor yang berpengalaman di bidangnya untuk memastikan informasi yang disajikan berkualitas, akurat, dan relevan bagi pembaca.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!