Dibimbing - Markup Adalah: Arti, Rumus, Manfaat, dan Contohnya
Blog
Business Analyst

Markup Adalah: Arti, Rumus, Manfaat, dan Contohnya

Author

DITULIS OLEH 

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Reviewer

DIREVIEW OLEH 

Sudah Direview Oleh Expert

Dibuat pada 19 Agt 2026

Diubah pada 20 Sep 2026

96

Image Thumbnail

Markup adalah konsep penting dalam menentukan harga jual produk atau jasa. Dengan markup, bisnis dapat menutup biaya sekaligus memperoleh keuntungan.

Sederhananya, markup merupakan nilai yang ditambahkan di atas harga pokok. Besarnya perlu disesuaikan dengan biaya, kondisi pasar, dan target keuntungan.

Perhitungan markup cukup mudah jika kamu mengetahui harga pokok dan persentasenya. Warga Bimbingan juga perlu memahami manfaat serta penerapannya agar tidak keliru menentukan harga.

Konsep ini bisa kamu pelajari lebih dalam melalui Bootcamp Business Analyst & Product Strategy. Yuk, simak arti, rumus, manfaat, dan contoh markup bersama MinDi!

Baca Juga:

  1. Apa Itu Pricing Strategy? Manfaat dan Jenis-jenisnya
  2. Mengenal Strategi Penetapan Harga dan Contoh Pricing Strategy
  3. Apa Itu Marketing Mix 4P? Manfaat, Elemen, Contoh, dan Tips
  4. Market Research: Definisi, Tujuan, Jenis, Metode, dan Langkah


Apa Itu Markup?

Markup adalah selisih antara harga jual dan harga pokok produk atau jasa. Nilai tersebut menunjukkan besarnya tambahan harga yang diberikan perusahaan di atas biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh atau menghasilkan produk.

Dalam penerapannya, markup umumnya dinyatakan dalam bentuk nominal atau persentase dari harga pokok. Makin besar persentase markup yang digunakan, makin tinggi pula harga jual produk dibandingkan biaya pokoknya.

Sebagai contoh, sebuah toko membeli produk dengan harga Rp100.000, lalu menjualnya seharga Rp140.000. Artinya, toko tersebut menerapkan markup nominal sebesar Rp40.000 atau markup persentase sebesar 40%.

Namun, markup tidak selalu sama dengan laba bersih yang diterima bisnis, lho. Selisih tersebut masih dapat digunakan untuk menutup biaya operasional lain, seperti biaya pemasaran, pengemasan, sewa tempat, pajak, komisi, dan distribusi.


Apa Tujuan Markup dalam Bisnis?

Markup tidak hanya digunakan untuk menambahkan keuntungan ke dalam harga jual. Metode ini juga membantu bisnis menyusun harga secara terukur sesuai biaya, target keuntungan, dan kondisi pasar.


1. Menutup Harga Pokok Produk

Markup membantu bisnis menetapkan harga jual di atas biaya untuk memperoleh atau memproduksi barang. 

Harga pokok dapat mencakup bahan baku, tenaga kerja, dan biaya produksi langsung lainnya. Dengan begitu, bisnis tidak menjual produk di bawah modal yang telah dikeluarkan.


2. Menghasilkan Keuntungan

Salah satu tujuan utama markup adalah memberikan keuntungan dari setiap produk yang terjual. 

Keuntungan tersebut dapat digunakan untuk menambah modal, memperluas usaha, atau meningkatkan kualitas produk. Namun, persentasenya tetap perlu disesuaikan agar harga tidak terlalu tinggi bagi pelanggan.


3. Menutup Biaya Operasional

Selain harga pokok, bisnis perlu membayar biaya seperti sewa, listrik, pemasaran, dan distribusi. 

Sebagian nilai markup dapat digunakan untuk menutup berbagai pengeluaran tersebut. Oleh karena itu, perhitungan markup harus mempertimbangkan keseluruhan biaya operasional bisnis.


4. Menentukan Harga yang Kompetitif

Markup membantu bisnis menetapkan harga yang sesuai dengan nilai produk dan kondisi pasar. 

Harga tersebut dapat dibandingkan dengan harga kompetitor untuk mengetahui daya saingnya. Dengan perhitungan yang tepat, bisnis tetap bisa memperoleh keuntungan tanpa kehilangan pelanggan.


5. Mendukung Perencanaan Bisnis

Perhitungan markup dapat membantu bisnis memproyeksikan pendapatan dan keuntungan dari penjualan. 

Informasi tersebut berguna saat menyusun target penjualan, anggaran, dan strategi pengembangan usaha. Alhasil, keputusan bisnis dapat dibuat berdasarkan perhitungan yang lebih terukur.


Bagaimana Rumus Markup?

bagaimana-rumus-markup

Sumber: Desain oleh Dibimbing

Markup dapat dihitung dalam bentuk nominal maupun persentase. Berikut rumus yang bisa kamu gunakan.


1. Rumus Markup Nominal

  1. Markup = Harga Jual − Harga Pokok

Rumus ini digunakan untuk mengetahui jumlah tambahan harga dalam rupiah. Jika harga pokok produk sebesar Rp80.000 dan harga jualnya Rp120.000, markup nominalnya adalah:

  1. Markup = Rp120.000 − Rp80.000 = Rp40.000

Jadi, perusahaan menambahkan harga sebesar Rp40.000 pada produk tersebut.


2. Rumus Persentase Markup

  1. Markup (%) = (Harga Jual − Harga Pokok) ÷ Harga Pokok × 100%

Dengan menggunakan contoh sebelumnya, perhitungannya menjadi:

  1. Markup = (Rp120.000 − Rp80.000) ÷ Rp80.000 × 100%
  2. Markup = 50%

Artinya, harga jual produk tersebut memiliki markup sebesar 50% dari harga pokok.


3. Rumus Menentukan Harga Jual

Jika harga pokok dan target persentase markup sudah diketahui, gunakan rumus berikut:

  1. Harga Jual = Harga Pokok + (Harga Pokok × Persentase Markup)

Misalnya, sebuah produk memiliki harga pokok Rp200.000 dan perusahaan ingin menerapkan markup sebesar 30%. Maka, perhitungannya adalah:

  1. Harga Jual = Rp200.000 + (Rp200.000 × 30%)
  2. Harga Jual = Rp200.000 + Rp60.000 = Rp260.000

Dengan demikian, harga jual produk yang ditetapkan adalah Rp260.000.


Contoh Cara Menghitung Markup

Supaya lebih mudah dipahami, perhatikan contoh markup pada sebuah bisnis minuman. Anggaplah biaya yang diperlukan untuk membuat satu produk terdiri dari:

  1. Bahan baku: Rp12.000
  2. Kemasan: Rp3.000
  3. Tenaga kerja langsung: Rp2.000
  4. Biaya produksi lainnya: Rp3.000

Total harga pokok produk tersebut adalah Rp20.000. Jika pemilik bisnis ingin menerapkan markup sebesar 50%, perhitungannya sebagai berikut:

  1. Nilai markup = Rp20.000 × 50% = Rp10.000
  2. Harga jual = Rp20.000 + Rp10.000 = Rp30.000

Jadi, produk dapat dijual dengan harga Rp30.000. Selisih Rp10.000 belum tentu seluruhnya menjadi laba bersih karena bisnis masih mungkin menanggung biaya sewa, pemasaran, pajak, dan pengeluaran tidak langsung lainnya.

Karena itu, kamu sebaiknya memasukkan seluruh komponen biaya yang relevan sebelum menentukan persentase markup. Perhitungan biaya yang tidak lengkap dapat membuat harga terlihat menguntungkan, padahal laba sebenarnya sangat kecil.


Apa Perbedaan Markup dan Margin?

Markup dan margin sama-sama membandingkan harga pokok dengan harga jual. Namun, keduanya menggunakan dasar perhitungan yang berbeda.

  1. Markup membandingkan keuntungan kotor dengan harga pokok.
  2. Margin membandingkan keuntungan kotor dengan harga jual.
  3. Markup lebih sering digunakan untuk menentukan harga jual.
  4. Margin digunakan untuk melihat porsi keuntungan dari pendapatan penjualan.

Rumus margin adalah:

  1. Margin (%) = (Harga Jual − Harga Pokok) ÷ Harga Jual × 100%

Misalnya, suatu produk memiliki harga pokok Rp100.000 dan dijual seharga Rp150.000. Produk tersebut memiliki markup sebesar 50%, tetapi marginnya adalah:

  1. Margin = (Rp150.000 − Rp100.000) ÷ Rp150.000 × 100%
  2. Margin = 33,33%

Nah, markup 50% tidak berarti bisnis memperoleh margin 50%. Kesalahan memahami kedua istilah ini bisa menyebabkan perusahaan menetapkan target harga atau keuntungan yang kurang tepat.


Faktor yang Memengaruhi Besarnya Markup

Tidak ada persentase markup yang ideal untuk seluruh bisnis. Besarnya markup perlu disesuaikan dengan struktur biaya, kondisi pasar, dan nilai yang ditawarkan kepada pelanggan.


1. Harga Pokok Produk

Harga pokok menjadi dasar utama dalam menghitung markup suatu produk. Komponen ini mencakup biaya pembelian, bahan baku, tenaga kerja, dan biaya produksi langsung lainnya. 

Jika perhitungannya kurang tepat, harga jual bisa terlalu rendah dan berisiko menimbulkan kerugian.


2. Biaya Operasional

Bisnis juga perlu mempertimbangkan biaya sewa, listrik, pemasaran, administrasi, dan distribusi. 

Biaya-biaya tersebut harus ditutup melalui pendapatan dari penjualan produk. Oleh karena itu, markup perlu memberikan ruang yang cukup untuk membayar pengeluaran operasional.


3. Harga Kompetitor

Harga produk kompetitor dapat digunakan sebagai acuan untuk memahami kondisi pasar. Markup yang terlalu tinggi berpotensi membuat pelanggan beralih ke produk lain. 

Namun, bisnis tetap dapat menetapkan harga lebih tinggi jika memiliki kualitas dan nilai tambah yang kuat.


4. Permintaan Pasar

Tingkat permintaan dapat memengaruhi besarnya markup yang diterapkan bisnis. Produk dengan permintaan tinggi atau persediaan terbatas biasanya memiliki ruang markup lebih besar. 

Sebaliknya, markup mungkin perlu diturunkan ketika permintaan melemah agar produk tetap menarik.


5. Nilai yang Dirasakan Pelanggan

Pelanggan tidak hanya membayar biaya produksi, tetapi juga kualitas, kemudahan, pelayanan, dan reputasi merek. 

Semakin tinggi nilai yang dirasakan pelanggan, semakin besar kemungkinan mereka bersedia membayar lebih. Karena itu, besarnya markup perlu sebanding dengan manfaat yang diterima pelanggan.


Bagaimana Cara Menentukan Markup yang Tepat?

Menentukan markup yang tepat tidak cukup hanya dengan memilih persentase keuntungan karena bisnis juga perlu mempertimbangkan seluruh biaya, harga pasar, dan nilai produk. Agar harga lebih realistis dan tetap kompetitif, ikuti enam langkah berikut ini.


1. Hitung Seluruh Biaya Produk

Langkah pertama adalah mencatat seluruh biaya yang berkaitan dengan bahan baku, pembelian barang, tenaga kerja, kemasan, produksi, dan distribusi. 

Pisahkan biaya langsung dengan biaya operasional agar perhitungannya lebih mudah dipahami. Langkah ini membantu bisnis mengetahui modal sebenarnya dari setiap produk.


2. Tentukan Target Keuntungan

Setelah mengetahui total biaya produk, tentukan persentase keuntungan yang ingin diperoleh bisnis dari setiap penjualan. 

Target tersebut perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan, kondisi bisnis, dan karakteristik produk. Pastikan target tetap realistis agar harga jual tidak terlalu tinggi bagi pelanggan.


3. Lakukan Riset Harga Pasar

Agar harga tetap kompetitif, bandingkan harga produk sejenis yang ditawarkan oleh beberapa kompetitor di pasar. 

Riset ini membantu kamu mengetahui kisaran harga yang masih dapat diterima pelanggan. Dengan begitu, bisnis dapat menghindari penetapan harga yang terlalu tinggi atau rendah.


4. Kenali Nilai Produk

Selain memperhitungkan biaya, identifikasi manfaat dan keunggulan yang membuat produkmu berbeda dari pilihan lainnya. 

Nilai tambah dapat berasal dari kualitas, desain, pelayanan, kecepatan, atau pengalaman pelanggan. Semakin kuat nilai yang ditawarkan, semakin besar peluang bisnis menerapkan markup lebih tinggi.


5. Hitung Harga dengan Beberapa Skenario

Sebelum menetapkan harga akhir, buatlah beberapa perhitungan menggunakan skenario markup rendah, sedang, dan tinggi. 

Bandingkan dampak setiap skenario terhadap harga jual, potensi keuntungan, dan volume penjualan. Setelah itu, pilih persentase yang paling sesuai dengan tujuan dan kondisi bisnis.


6. Uji dan Evaluasi Harga

Setelah harga diterapkan, pantau respons pelanggan dan performa penjualan selama periode tertentu. 

Evaluasi volume penjualan, laba kotor, tingkat konversi, serta komentar pelanggan secara berkala. Jika hasilnya belum sesuai target, lakukan penyesuaian pada harga atau persentase markup.


Kesalahan dalam Menentukan Markup

Perhitungan markup memang terlihat sederhana, tetapi penerapannya tetap bisa keliru. Berikut beberapa kesalahan yang perlu dihindari:

  1. Hanya menghitung biaya bahan baku, tanpa memasukkan tenaga kerja dan biaya pendukung lainnya.
  2. Menganggap markup sama dengan margin, sehingga target keuntungan menjadi tidak sesuai.
  3. Meniru harga kompetitor secara langsung, tanpa memahami struktur biaya bisnis sendiri.
  4. Menerapkan persentase yang sama pada semua produk, padahal setiap produk memiliki risiko dan permintaan berbeda.
  5. Tidak mengevaluasi harga, meskipun biaya produksi atau kondisi pasar telah berubah.
  6. Menetapkan markup terlalu tinggi, tanpa didukung nilai produk yang sepadan.
  7. Memberikan diskon tanpa perhitungan, sehingga harga setelah diskon tidak lagi menutup seluruh biaya.

Baca Juga:

  1. 10 Jenis Strategi Produk yang Efektif, Lengkap dengan Contoh dan Tips
  2. Product Life Cycle: Arti, Tahapan, Penggunaan, dan Contoh


Kesimpulan

Markup adalah tambahan nilai di atas harga pokok yang digunakan untuk menentukan harga jual produk atau jasa. Dengan perhitungan yang tepat, bisnis dapat menutup biaya, memperoleh keuntungan, dan menjaga harga tetap kompetitif.

Oleh karena itu, pastikan kamu menghitung seluruh biaya, melakukan riset pasar, dan menyesuaikan markup dengan nilai produk. Jangan lupa mengevaluasi harga secara berkala agar tetap sesuai dengan kondisi bisnis dan kebutuhan pelanggan.


Rekomendasi Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Terbaik: Dibimbing

Memahami arti, rumus, manfaat, dan contoh markup dapat membantu kamu menentukan harga jual secara lebih terukur. Namun, untuk berkarier sebagai Business Analyst atau Product Strategist, kamu juga perlu menguasai riset pasar, analisis data, strategi produk, dan pengambilan keputusan bisnis.

Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Dibimbing dirancang untuk membantumu mempelajari keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri. Program ini cocok untuk mahasiswa, fresh graduate, profesional yang ingin meningkatkan kemampuan, maupun kamu yang berencana beralih karier.


Program Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Dibimbing:

  1. Kurikulum Industri: Pelajari SQL untuk Business Analyst, Tableau atau Power BI, Agile Framework, hingga market research.
  2. Mentor Profesional: Belajar bersama lebih dari 475 mentor profesional yang berpengalaman di bidangnya.
  3. Akses Materi: Dapatkan akses materi pembelajaran seumur hidup agar kamu bisa mempelajarinya kembali.
  4. Mengulang Kelas: Nikmati fasilitas mengulang kelas secara gratis untuk memperkuat pemahaman materi.
  5. Konsultasi Karier: Ikuti konsultasi karier dan portofolio secara personal melalui sesi 1-on-1.
  6. Persiapan Rekrutmen: Dapatkan layanan ulasan CV dan LinkedIn, latihan wawancara, serta talent showcase.
  7. Penyaluran Kerja: Perluas peluang karier melalui layanan penyaluran kerja bersama lebih dari 1.100 perusahaan mitra.
  8. Komunitas Digital: Bangun koneksi dengan lebih dari 100.000 pembelajar digital dari berbagai bidang.


Siap Berkarier sebagai Business Analyst atau Product Strategist?

Kalau kamu ingin menguasai analisis bisnis, riset pasar, dan strategi produk melalui materi yang relevan dengan industri, Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Dibimbing bisa menjadi pilihan yang tepat. Yuk, mulai tingkatkan kemampuan dan persiapkan karier impianmu bersama Dibimbing!


FAQ

1. Apa Pengertian Markup dalam Bisnis?

Pengertian markup adalah tambahan nilai yang diberikan di atas harga pokok untuk menentukan harga jual produk atau jasa. Fungsi markup adalah membantu perusahaan menutup biaya sekaligus memperoleh keuntungan bisnis dari setiap penjualan.

2. Apa Rumus Markup dan Bagaimana Cara Menghitungnya?

Rumus markup adalah (Harga Jual − Harga Pokok) ÷ Harga Pokok × 100%. Cara menghitung markup dilakukan dengan mencari selisih harga jual dan harga pokok, lalu membaginya dengan harga pokok untuk memperoleh persentase markup.

3. Bagaimana Contoh Markup pada Penjualan Produk?

Contoh markup dapat dilihat ketika produk dengan harga pokok Rp100.000 dijual seharga Rp150.000 sehingga memiliki markup sebesar 50%. Metode ini dikenal sebagai cost-plus pricing karena harga ditentukan dengan menambahkan persentase tertentu ke biaya produk.

4. Apa Perbedaan Markup dan Margin?

Perbedaan markup dan margin terletak pada dasar perhitungannya. Markup dihitung berdasarkan harga pokok, sedangkan margin membandingkan keuntungan kotor dengan harga jual.

5. Berapa Persentase Markup yang Ideal?

Tidak ada persentase markup yang berlaku untuk seluruh jenis bisnis karena setiap produk memiliki biaya, target pasar, dan tingkat persaingan berbeda. Dalam menyusun strategi penetapan harga, bisnis perlu mempertimbangkan biaya operasional, nilai produk, harga kompetitor, dan target keuntungan bisnis.

Kategori:

Share:

Penulis

Penulis Image

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.

Reviewer

Reviewer Image

Sudah Direview Oleh Expert

Setiap artikel yang berlabel "Sudah Direview Oleh Expert" telah melalui proses peninjauan oleh praktisi atau mentor yang berpengalaman di bidangnya untuk memastikan informasi yang disajikan berkualitas, akurat, dan relevan bagi pembaca.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!