Procurement vs Supply Chain Management: Memahami Peran & Perbedaannya
Farijihan Putri
•
11 Juni 2026
•
40
Warga Bimbingan sedang bingung ingin berkarier antara procurement vs supply chain management? Bootcamp Supply Chain Management Online dari Dibimbing akan memandu kamu memahami keduanya secara menyeluruh, mulai dari pengadaan (procurement) hingga distribusi.
Namun sebelum membahas lebih jauh, penting mengetahui apa itu procurement vs supply chain management dan apa bedanya.
Procurement fokus pada proses mendapatkan barang/jasa yang dibutuhkan perusahaan, sedangkan supply chain management (SCM) mengelola alur barang dari awal produksi sampai ke pelanggan akhir.
Keduanya saling terkait tetapi punya lingkup berbeda. Yuk, Warga Bimbingan bahas langkah demi langkah MinDi!
Baca Juga: 7 Rekomendasi Bootcamp Supply Chain Management
Apa Itu Procurement?
Procurement adalah proses sumber-membeli barang dan jasa yang diperlukan perusahaan. Misalnya, tim procurement menentukan spesifikasi produk, mencari dan mengevaluasi vendor, bernegosiasi harga dan kontrak, serta memastikan kualitas dan pengiriman tepat waktu. Singkatnya, procurement membantu perusahaan mendapatkan input yang tepat untuk mendukung operasional dan proyek.
Menurut Pipefy (2023), procurement merupakan satu langkah dalam keseluruhan supply chain process, mulai perencanaan, kontrol kualitas, pemilihan pemasok, hingga manajemen sampah industri. Dengan procurement yang baik, perusahaan bisa hemat biaya dan mengurangi risiko.
Apa Itu Supply Chain Management (SCM)
Supply chain management adalah pengelolaan alur barang/jasa dari awal hingga akhir. SCM mencakup semua aktivitas mulai dari perencanaan produksi, pengadaan bahan baku, manufaktur, pergudangan, logistik, distribusi, hingga sampai ke konsumen akhir.
Tujuannya adalah mengoptimalkan seluruh rantai pasok untuk meningkatkan efisiensi dan kepuasan pelanggan. SCM membutuhkan koordinasi antar tim, dari procurement, produksi, hingga logistik.
Contohnya, tim SCM harus memperkirakan permintaan pasar dan mengatur stok di gudang agar produk selalu siap tersedia.
Perbedaannya dengan procurement diantaranya: procurement hanya fokus di sisi belanja, sedangkan SCM memikirkan aliran seluruh proses.
Dapat MinDi simpulkan nih, SCM mengatur “seluruh alur produksi barang dari komponen mentah hingga pengiriman produk jadi”, sementara procurement hanya satu bagian di dalamnya.
Bagaimana Kaitan Procurement dan SCM?
Procurement dan SCM sebenarnya saling melengkapi. SCM memerlukan procurement untuk mendapatkan bahan baku yang pas, sedangkan procurement bekerja sesuai strategi SCM.
Misalnya, jika SCM memutuskan untuk menggunakan bahan baku lebih ramah lingkungan, tim procurement harus mencari vendor yang memenuhi kriteria tersebut.
Gimana praktiknya? Jika kamu berminat, ada pengalaman magang menarik seperti program Supply Chain Manager Intern yang menunjukkan para intern mempelajari hubungan kedua bidang ini di perusahaan.
Apa Saja Perbedaan Procurement vs Supply Chain Management?
Sumber: Pexels
Pendeknya, Procurement vs Supply Chain Management berbeda dalam fokus dan lingkup tugasnya. MinDi jelaskan satu persatu ya.
1. Fokus dan Lingkup
Procurement fokus pada get the right goods at the right price. Tim procurement bertugas mengidentifikasi kebutuhan, menghubungi vendor, bernegosiasi kontrak, dan memastikan barang/jasa dibeli tepat waktu.
Supply chain management, sebaliknya, mengurus kelancaran seluruh aliran produk. SCM mencakup perencanaan permintaan, produksi, pergudangan, transportasi, hingga pengiriman ke pelanggan.
Pipefy menekankan, “SCM menangani alur produksi keseluruhan; sedangkan procurement hanya satu aspek dalam SCM”. Jadi, procurement bekerja di ujung hulu rantai pasok (sebelum produksi), sementara SCM memantau hulu sampai hilir.
2. Tujuan Utama
Tujuan procurement adalah cost savings (hemat biaya) dan quality control. Tim procurement mengejar harga terbaik dan kualitas sesuai spesifikasi, serta menjaga kepatuhan kontrak.
Sementara itu, tujuan SCM adalah optimasi end-to-end. SCM ingin memastikan produk sampai ke pelanggan dengan cepat, biaya rendah, dan dalam jumlah yang cukup.
Indikator keberhasilan procurement bisa berupa penghematan persentase pembelian dan kepuasan supplier, sedangkan SCM lebih ke on-time delivery, inventory turns, dan kecepatan response rantai pasok.
3. Perbedaan Proses
Procurement berproses melalui siklus seperti identifikasi kebutuhan, RFI/RFQ, negosiasi, pemesanan (PO), penerimaan, dan pembayaran. SCM melibatkan perencanaan produksi, pengaturan gudang, distribusi, hingga evaluasi kinerja rantai.
Dengan kata lain, procurement sibuk di belakang layar pembelian, sedangkan SCM sibuk mengatur on the road alur barang.
Perbedaan gampangnya, procurement berfokus pada cara perusahaan mendapatkan barang dari supplier, sedangkan supply chain management mengelola seluruh proses dan langkah mengubah bahan mentah menjadi produk jadi hingga dikirim ke pelanggan.
Baca Juga: Panduan Memilih Bootcamp Supply Chain Management Terbaik
Tugas Utama di Bidang Procurement
Procurement punya peran khusus dalam rantai pasok. Berikut beberapa tugas utama yang sering dilakukan tim procurement:
1. Sourcing dan Pemilihan Vendor
Procurement mencari dan mengevaluasi pemasok terbaik. Mereka menetapkan kriteria seperti harga, kualitas, dan keandalan supplier.
Kemudian, procurement mengundang vendor untuk membuat penawaran (bid/RFP) dan memilih yang paling tepat. Misalnya, tim procurement memilih penyedia bahan baku produksi dengan track record delivery on-time dan harga bersaing.
2. Negosiasi dan Manajemen Kontrak
Setelah memilih vendor, procurement bertugas menegosiasi harga, kuantitas, jadwal pengiriman, dan syarat pembayaran. Negosiasi ini penting agar perusahaan tidak over-budget.
Procurement juga membuat dan mengawasi kontrak jangka panjang, memastikan vendor mematuhi kesepakatan. Dengan negosiasi yang baik, perusahaan bisa mengurangi biaya beli dan mendapatkan fleksibilitas (misal diskon volume atau opsi retur barang).
3. Pengelolaan Risiko dan Kinerja Pemasok
Procurement juga memonitor kinerja pemasok. Tim mengecek apakah vendor on-time delivery, kualitas barang sesuai, dan kepatuhan prosedur.
Jika ada masalah (misal keterlambatan atau kerusakan produk), tim procurement harus mengambil langkah, seperti mencari alternatif supplier atau menegosiasi penalti. Dengan demikian, procurement membantu menjaga kelangsungan pasokan dan mengurangi risiko supply disruption.
Selain itu, procurement juga mengelola risiko fluktuasi harga (misalnya melakukan perjanjian harga atau hedging) agar biaya tidak membengkak. Keandalan pemasok diukur, misalnya, hingga skor kinerja diukur.
Tugas Utama di Supply Chain Management
Sumber: Pexels
Tim SCM menangani keseluruhan alur barang/jasa. Berikut tugas umumnya:
1. Perencanaan Permintaan (Demand Planning)
SCM membuat prediksi kebutuhan produk berdasarkan data penjualan, tren pasar, dan rencana bisnis. Dari prediksi ini, mereka menentukan seberapa banyak bahan baku perlu dibeli dan produksi dijalankan. Perencanaan yang baik mencegah kekurangan stok maupun kelebihan persediaan.
Supply chain menggabungkan informasi penjualan (forecast) dan kapasitas produksi untuk menentukan jadwal produksi dan pembelian material.
2. Logistik dan Distribusi
Setelah barang diproduksi, SCM bertugas mengatur penyimpanan dan pengiriman ke pelanggan. Hal ini termasuk manajemen gudang, pengaturan rute, dan pemilihan operator logistik.
SCM memastikan produk tersedia di gudang atau toko dengan jumlah tepat dan dikirim ke konsumen tepat waktu. Tujuannya agar order pelanggan terpenuhi cepat dengan biaya distribusi optimal.
3. Optimasi Rantai Pasok
SCM terus mencari cara membuat rantai pasok lebih efisien. Misalnya, memperpendek waktu siklus produksi, mengurangi biaya inventory, atau memperbaiki proses antar departemen. Tim SCM juga memantau KPI seperti inventory turnover, biaya logistik, dan lead time produksi.
Dengan perbaikan proses berkelanjutan, perusahaan bisa beradaptasi dengan perubahan pasar. Implementasi sistem terpadu (seperti ERP) sangat membantu SCM agar data dari procurement, produksi, dan logistik saling terhubung.
Tren Digital dan Kolaborasi Procurement vs Supply Chain Management
Di era digital, teknologi semakin mengubah cara kerja procurement dan SCM. Warga Bimbingan wajib update tren berikut:
1. E-Procurement dan ERP
Banyak perusahaan kini pakai sistem e-procurement dan ERP untuk otomasi. E-procurement memudahkan pengajuan PO elektronik, approval digital, dan pelacakan order. ERP (Enterprise Resource Planning) mengintegrasikan data procurement dengan produksi dan keuangan.
Hasil riset Sarjono et al. menunjukkan penerapan e-procurement dan sistem ERP secara signifikan meningkatkan kinerja perusahaan. Namun ingat, teknologi harus dibarengi proses yang jelas.
Sebagaimana studi Maharani (2026) pada salah satu perusahaan tambang di Indonesia menemukan, meski ERP terpasang, masih terjadi keterlambatan karena proses manual dan kurang koordinasi antardepartemen. Warga Bimbingan, ini bukti kalau software saja tidak cukup tanpa penataan proses yang rapi.
2. Blockchain dan Transparansi
Teknologi blockchain mulai diuji coba di supply chain. Blockchain mencatat transaksi secara transparan dan aman. Deloitte mencatat, “Using blockchain can improve both supply chain transparency and traceability as well as reduce administrative costs.” Artinya rantai pasok bisa lebih terbuka dan efisien.
Penelitian Amalia dkk (2023) menambahkan, contoh globalnya Walmart dan Unilever sudah menggunakan blockchain untuk manajemen rantai pasok agar lebih aman dan efisien.
Meski blockchain masih baru di procurement publik, penelitiannya menyarankan teknologi ini dapat diterapkan untuk memperbaiki transparansi dan mengurangi penyalahgunaan dalam proses pengadaan. Intinya, kedua bidang ini makin bergantung pada data dan keamanan digital di masa depan.
3. Pelatihan dan Sertifikasi (Praktik Lapangan)
Untuk menghadapi tren itu, Warga Bimbingan perlu keterampilan baru. Banyak bootcamp dan kelas online muncul, termasuk di Dibimbing. Misalnya, ada Kelas Supply Chain Management benefit magang yang memberikan pengalaman praktek langsung lewat magang industri.
Bootcamp Supply Chain Management Dibimbing juga memasukkan simulasi kerja, pengolahan data, dan proyek nyata agar kamu siap kerja. Jadi, selain belajar teori, ikut program pelatihan semacam ini bisa bantu kamu praktis menerapkan ilmu di dunia nyata.
Baca Juga: Berapa Biaya Bootcamp Supply Chain Management?
Mulai Karier Supply Chain Sekarang bersama Dibimbing!
Sekarang Warga Bimbingan sudah paham nih perbedaan antara procurement vs supply chain management. Tertarik memperdalam ilmu supply chain & procurement dengan praktik nyata? Yuk, ikuti Bootcamp Supply Chain Management Online dari Dibimbing!
Dalam program ini kamu akan belajar langsung dari praktisi industri, mengerjakan 20+ projek nyata untuk portofolio, dan mendapat pendampingan intensif. Benefit yang didapat:
- Ulang Kelas Gratis: Bisa mengulang kelas kapan saja tanpa biaya tambahan.
- Job Placement: Terkoneksi dengan 1.100+ perusahaan partner untuk membantu penyaluran kerja.
- Akses Materi Sepanjang Masa: Materi bootcamp bisa diakses selamanya sebagai sumber belajar.
- 475+ Mentor Profesional: Belajar langsung dari praktisi supply chain berpengalaman.
- Komunitas 100.000+ Learner: Bergabung dengan komunitas besar untuk berbagi ilmu dan networking.
Program ini pasti #BimbingSampeJadi profesional SCM yang siap kerja. Yuk, konsultasi gratis sekarang di sini dan wujudkan karier impianmu di bidang Supply Chain Management!
FAQ
1. Apa perbedaan utama antara procurement dan supply chain management?
Procurement hanya fokus pada proses pembelian barang/jasa dari pemasok. Sedangkan supply chain management mengelola keseluruhan alur produk, mulai pengadaan bahan mentah hingga pengiriman ke pelanggan akhir.
2. Skill apa yang dibutuhkan untuk profesi di procurement?
Skill penting meliputi kemampuan negosiasi, analisis biaya, serta manajemen vendor. Keahlian komunikasi dan manajemen kontrak juga krusial. Selain itu, menguasai sistem e-procurement/ERP dan memahami data analisis dapat meningkatkan efisiensi kerja di procurement.
3. Apakah procurement lebih cocok untuk profesi fresh graduate atau berpengalaman?
Procurement bisa dipelajari siapa saja, baik fresh graduate maupun profesional. Fresh graduate bisa mulai dari posisi junior buyer atau procurement assistant, sambil mengembangkan pemahaman supply chain.
Referensi
- E-Supply Chain E-Procurement ERP’s Impact on Indonesia’sIndustry Performance [Buka]
- An Analysis Of The Procurement Business Process In The Supply Management Department Of An Indonesian Mining Contractor Company [Buka]
- Digitalization of the Public Procurement System in Indonesia: Challenges and Problems [Buka]
