Contoh Portofolio Quality Assurance Engineer dan Cara Membuatnya
Farijihan Putri
•
29 Mei 2026
•
40
Karier di bidang Quality Assurance IT masih terus dibutuhkan karena company semakin fokus menjaga kualitas software dan user experience. Recruiter sekarang juga lebih memperhatikan kemampuan praktik dibanding hanya melihat sertifikat course saja.
Tidak heran, banyak beginner mulai membangun portofolio sejak awal belajar supaya lebih siap menghadapi proses hiring.
Dibimbing punya program Bootcamp Quality Assurance Online Dibimbing dengan sistem belajar intensif, live class interaktif, dan pengalaman magang supaya peserta lebih dekat dengan kebutuhan industri QA modern.
Untuk Warga Bimbingan yang tertarik masuk dunia software testing, memahami cara membuat portofolio bisa menjadi langkah awal yang cukup penting.
Menariknya lagi, laporan terbaru Credence tahun 2026 menyebutkan, recruiter QA Engineer kini lebih tertarik pada kandidat yang memiliki bug report, automation testing, hingga dokumentasi testing dalam portofolio dibanding hanya sertifikat belajar.
Bahkan satu lowongan QA bisa menerima ratusan pelamar sehingga portofolio sering menjadi pembeda utama kandidat.
Baca Juga: Rekomendasi Bootcamp Quality Assurance dengan Cicilan
4 Contoh Portofolio QA Engineer
Supaya lebih kebayang, MinDi sudah siapkan 4 contoh portofolio Quality Assurance Engineer yang bisa menjadi inspirasi untuk membangun portfolio sendiri.
1. QA Testing Portfolio Presentation
Contoh pertama milik Selvia Tunjungsih alumni Bootcamp Quality Assurance Batch 1 Dibimbing memakai format presentation portfolio yang berisi profil, skill testing, tools yang digunakan, hingga project QA yang pernah dikerjakan.
Selain itu, terdapat dokumentasi bug report dan testing scenario yang membuat portfolio terasa lebih profesional. Tampilan slide juga cukup clean sehingga recruiter lebih mudah memahami pengalaman kandidat dalam software testing.
Menariknya lagi, portfolio tersebut menampilkan workflow testing secara runtut mulai dari planning sampai reporting. Format presentasi seperti tersebut cukup cocok dipakai sebagai Contoh portofolio QA untuk fresh graduate maupun career switcher.
2. Manual Testing Portfolio dengan Real Bug Documentation
Portfolio berikutnya milik Anita Auliani alumni Bootcamp Quality Assurance Batch 1 fokus pada manual testing dan dokumentasi bug secara detail. Candidate menampilkan test case, severity bug, expected result, actual result, sampai screenshot issue yang ditemukan selama testing berjalan.
Selain memperlihatkan kemampuan analisis, portfolio tersebut juga menunjukkan cara berpikir QA saat menemukan problem pada aplikasi.
Recruiter biasanya menyukai portfolio yang memiliki evidence testing nyata dibanding hanya penjelasan teori semata. Karena itu, model portfolio seperti tersebut sering dipakai sebagai referensi portofolio Quality Assurance Engineer untuk pemula.
3. QA Portfolio GitHub
Contoh berikutnya dari M. Aidil Kamal Adlim memakai GitHub sebagai tempat penyimpanan project dan testing documentation. Repository tersebut berisi automation testing, test scenario, API testing, hingga berbagai hasil practice software testing yang tersusun cukup rapi.
Selain mempermudah recruiter melihat kemampuan technical, penggunaan GitHub juga menunjukkan bahwa candidate terbiasa memakai workflow developer modern.
Menariknya lagi, portfolio berbasis GitHub terasa lebih praktis karena recruiter bisa langsung melihat file testing secara langsung tanpa harus membuka banyak dokumen tambahan. Tidak heran kalau banyak QA beginner mulai membangun Portofolio QA Engineer berbasis GitHub.
4. QA Portfolio Website Personal
Portfolio berbentuk personal website milik Anisa Nur Sekar Arum juga mulai cukup populer di kalangan QA Engineer. Selain terlihat lebih profesional, website portfolio mempermudah candidate menampilkan project, skill, tools testing, dan pengalaman belajar dalam satu halaman yang rapi. Tampilan visual yang clean biasanya membantu recruiter lebih nyaman membaca isi portfolio.
Di samping itu, personal website juga memberi kesan candidate memiliki effort lebih dalam membangun personal branding di bidang QA. Model tersebut bisa menjadi contoh portofolio QA yang menarik untuk kamu yang ingin tampil lebih standout saat melamar kerja.
Menurut laporan Software Testing and QA Services Market Forecast, sekitar 80% software team diproyeksikan mulai mengintegrasikan AI-powered testing pada akhir 2025.
Kondisi tersebut membuat portfolio QA modern semakin perlu menunjukkan kemampuan automation testing dan penggunaan tools testing modern.
Baca Juga: Rekomendasi Bootcamp QA Automation dan Tips Memilihnya
Bagaimana Memulai Membuat Portofolio QA Engineer?
Setelah melihat contoh di atas, sekarang waktunya mulai menyusun portfolio yang relevan dengan kebutuhan industri QA saat ini.
1. Mulai dari Manual Testing Project
Manual testing masih menjadi fondasi penting dalam software testing. Karena itu, kamu bisa mulai dari membuat test case, bug report, dan dokumentasi issue sederhana dari website atau aplikasi yang sering dipakai sehari-hari.
Proses tersebut membantu membangun dasar portofolio Quality Assurance Engineer sebelum masuk ke automation testing.
2. Gunakan GitHub untuk Menyimpan Project
GitHub membantu portfolio terlihat lebih profesional dan mudah diakses recruiter. Selain itu, penggunaan repository juga menunjukkan kamu terbiasa memakai workflow version control yang umum dipakai di industri tech.
Menariknya lagi, recruiter QA modern sering lebih tertarik melihat project testing langsung dibanding CV panjang tanpa evidence praktik.
3. Pelajari Automation Testing Dasar
Skill automation testing sekarang mulai banyak dicari company karena proses testing software semakin kompleks. Kamu bisa mulai belajar Selenium, Postman, atau API testing sederhana untuk menambah isi Portofolio QA Engineer.
Walaupun belum expert, project automation sederhana tetap bisa memberi nilai tambah saat proses hiring.
4. Dokumentasikan Semua Hasil Testing
Portfolio QA bukan cuma soal hasil akhir project. Recruiter juga ingin melihat cara berpikir candidate saat menemukan bug dan melakukan testing scenario. Karena itu, biasakan mendokumentasikan expected result, actual result, severity issue, hingga screenshot bug secara detail.
5. Bangun Portfolio Secara Konsisten
Banyak beginner terlalu fokus membuat portfolio yang langsung sempurna sampai akhirnya tidak kunjung mulai.
Padahal, portofolio Quality Assurance Engineer bisa berkembang sedikit demi sedikit seiring bertambahnya pengalaman testing dan project practice. Konsistensi jauh lebih penting dibanding menunggu portfolio terlihat “wah” sejak awal.
Kalau masih bingung harus mulai belajar QA dari mana, kamu juga bisa membaca Kursus QA Engineer supaya proses belajarnya terasa lebih terarah.
Selain itu, buat yang penasaran soal peluang internship di bidang QA, artikel Quality Assurance Intern juga bisa membantu memberi gambaran career path di industri software testing.
Baca Juga: Panduan Lengkap Roadmap QA Engineer dari Nol Sampai Ahli
Mulai Siapkan Portofolio QA Engineer Sekarang!
Belajar QA Engineer tidak cukup hanya memahami teori testing tanpa praktik langsung. Recruiter sekarang lebih tertarik pada candidate yang memiliki project testing, dokumentasi bug, hingga pengalaman workflow QA secara nyata.
Belajar di Bootcamp Quality Assurance Online Dibimbing terasa worth it buat kamu yang ingin membangun career QA lebih serius dengan portofolio yang relevan kebutuhan industri.
Programnya menawarkan 45+ Live Class dan 8+ Extra Live Session, 20+ Project & Final Project Quality Assurance untuk Portfolio Building, silabus terlengkap, 1-on-1 Unlimited Personalized Session, sampai pengalaman magang 8 minggu di hiring company.
Tidak cuma itu, tersedia juga gratis mengulang kelas, dukungan 1.100+ hiring partner untuk penyaluran kerja, dan terbukti 96% alumni berhasil mendapat kerja setelah lulus.
Kalau masih punya pertanyaan seperti “Apakah peserta pemula tanpa background IT bisa mengikuti bootcamp?” atau “Bagaimana sistem magang dan portfolio building selama kelas berlangsung?”, konsultasi gratis di sini saja!
Buat yang ingin mengetahui detail pembayarannya terlebih dahulu, kamu juga bisa membaca Biaya Bootcamp QA Engineer sebelum menentukan langkah belajar berikutnya. Pastinya, Dibimbing siap #BimbingSampeJadi QA Engineer andal!
FAQ
1. Apakah QA Engineer harus bisa coding?
Tidak selalu. Manual QA biasanya lebih fokus pada testing dan dokumentasi bug, tetapi memahami basic coding bisa menjadi nilai tambah saat masuk automation testing.
2. Apakah portfolio QA harus memakai bahasa Inggris?
Tidak wajib, tetapi penggunaan English sering terlihat lebih profesional karena industri tech banyak memakai istilah dan dokumentasi berbahasa Inggris.
3. Berapa jumlah project ideal dalam portfolio QA Engineer?
Tidak ada angka pasti, tetapi beberapa project testing yang rapi dan detail biasanya lebih menarik dibanding banyak project tanpa dokumentasi yang jelas.
Referensi
Tags
