Dibimbing - Monorepo Adalah: Pengertian, Cara Kerja, dan Tools
Blog
Full Stack Web Development

Monorepo Adalah: Pengertian, Cara Kerja, dan Tools

Author

DITULIS OLEH 

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Reviewer

DIREVIEW OLEH 

Sudah Direview Oleh Expert

Dibuat pada 1 Sep 2026

Diubah pada 19 Sep 2026

62

Image Thumbnail

Monorepo adalah pendekatan pengelolaan kode yang menyimpan beberapa aplikasi, package, atau library dalam satu repository. Struktur ini membantu tim mengelola proyek yang saling terhubung dengan lebih rapi.

Cara kerja monorepo memungkinkan frontend, backend, dan shared library berada dalam satu tempat. Pengelolaannya biasanya dibantu tools monorepo seperti Nx, Turborepo, atau workspace.

Nah, Warga Bimbingan, kalau kamu ingin memahami penerapannya dalam pengembangan aplikasi, MinDi rekomendasikan Bootcamp Full Stack Web Development Dibimbing. Yuk, pahami pengertian, cara kerja, kelebihan, dan tools monorepo selengkapnya.

Baca Juga: Git: Definisi, Fungsi, Fitur, Kelebihan, dan Kekurangannya


Apa Itu Monorepo?

Monorepo adalah strategi pengelolaan kode yang menyimpan beberapa proyek, aplikasi, atau library berbeda dalam satu repository. Meskipun berada dalam tempat yang sama, masing-masing proyek tetap dapat memiliki struktur, dependensi, proses testing, dan proses deployment sendiri.

Menurut dokumentasi Nx, monorepo dapat berisi beberapa aplikasi, library, atau tools dengan hubungan antarkomponen yang terdefinisi dengan jelas. Jadi, monorepo bukan sekadar menggabungkan banyak folder proyek ke satu repository

Sebagai contoh, sebuah perusahaan mempunyai:

  1. Aplikasi website untuk pelanggan.
  2. Aplikasi dashboard internal.
  3. Aplikasi backend.
  4. UI component library.
  5. Package autentikasi.
  6. Utility package.

Dengan pendekatan monorepo, seluruh proyek tersebut dapat disimpan dalam satu repository Git tanpa harus menjadikannya satu aplikasi besar.

Baca Juga: Github Adalah: Arti, Cara Kerja, Fitur, Daftar, dan Manfaat


Bagaimana Cara Kerja Monorepo?

Cara kerja monorepo dimulai dengan menempatkan beberapa proyek dalam satu struktur repository. Setiap proyek biasanya dipisahkan ke dalam direktori tertentu agar batas dan tanggung jawabnya tetap jelas.

Contoh sederhananya seperti berikut:

bagaimana-cara-kerja-monorepo

Folder apps dapat digunakan untuk menyimpan aplikasi utama, sedangkan packages berisi komponen atau fungsi yang dapat digunakan kembali oleh beberapa aplikasi.

Ketika developer mengubah komponen pada packages/ui, misalnya, aplikasi website dan dashboard yang menggunakan komponen tersebut dapat langsung memperoleh perubahan tanpa harus memublikasikan package ke repository terpisah terlebih dahulu.

Namun, proyek tetap dapat menjalankan proses build, test, atau deployment secara terpisah. Inilah alasan monorepo tidak sama dengan arsitektur monolitik. 

Baca Juga: Apa Itu CI/CD dan Container? Cara Kerja, Tools, dan Keuntungannya


Apa Perbedaan Monorepo dan Monolith?

Monorepo dan monolith sering dianggap sama karena keduanya dapat menyimpan banyak kode dalam satu tempat. Padahal, keduanya membahas aspek yang berbeda.

Monorepo adalah strategi pengelolaan repository, sedangkan monolith merupakan pendekatan arsitektur aplikasi.

Perbedaannya dapat dilihat dari beberapa aspek berikut:

  1. Monorepo: beberapa aplikasi atau library berada dalam satu repository.
  2. Monolith: berbagai fungsi aplikasi berada dalam satu unit aplikasi yang biasanya dibangun dan dijalankan bersama.
  3. Monorepo: setiap aplikasi dapat memiliki proses deployment sendiri.
  4. Monolith: biasanya aplikasi dirilis sebagai satu unit.
  5. Monorepo: fokus pada organisasi dan pengelolaan kode.
  6. Monolith: fokus pada struktur arsitektur aplikasi.

Artinya, perusahaan bisa saja menggunakan arsitektur microservices, tetapi tetap menyimpan berbagai layanan tersebut dalam satu monorepo.


Apa Kelebihan Monorepo?

Penggunaan monorepo memberikan beberapa keuntungan, terutama ketika banyak aplikasi menggunakan komponen atau kode yang sama. Berikut beberapa kelebihan monorepo yang perlu kamu tahu.


1. Mempermudah Code Sharing

Salah satu keuntungan terbesar monorepo adalah proses berbagi kode yang lebih sederhana.

Tim dapat membuat library bersama untuk autentikasi, desain antarmuka, tipe data, validasi, hingga fungsi utilitas yang digunakan oleh beberapa aplikasi.

Dengan begitu, developer tidak perlu membuat fungsi yang sama berulang kali pada repository berbeda.


2. Memiliki Single Source of Truth

Karena banyak proyek berada dalam satu repository, kode yang digunakan bersama dapat mempunyai satu sumber utama.

Jika terdapat kesalahan pada sebuah shared library, developer cukup memperbaikinya pada satu tempat. Proyek lain yang menggunakan library tersebut kemudian dapat mengikuti perubahan yang sama. Pendekatan ini membantu mengurangi duplikasi dan inkonsistensi kode. 


3. Mempermudah Perubahan Lintas Proyek

Bayangkan tim mengubah struktur respons sebuah API sekaligus harus menyesuaikan aplikasi frontend yang menggunakannya.

Dalam monorepo, perubahan pada backend dan frontend dapat dimasukkan dalam satu commit atau pull request.

Konsep ini dikenal sebagai atomic changes. Developer bisa memperbarui beberapa proyek terkait secara bersamaan sehingga risiko ketidaksesuaian antarversi lebih kecil. 


4. Standar Development Lebih Konsisten

Monorepo juga membantu perusahaan menerapkan aturan pengembangan secara lebih konsisten.

Misalnya, tim dapat menggunakan konfigurasi bersama untuk:

  1. Linting.
  2. Formatting.
  3. Testing.
  4. Versi dependensi.
  5. Aturan arsitektur.
  6. Konfigurasi build.

Developer baru pun nggak perlu mempelajari konfigurasi berbeda setiap kali berpindah proyek.


5. Kolaborasi Tim Lebih Mudah

Ketika seluruh proyek berada dalam satu repository, developer lebih mudah melihat hubungan antar aplikasi.

Misalnya, developer backend dapat memeriksa bagaimana API digunakan oleh tim frontend. Begitu juga sebaliknya.

Visibilitas seperti ini bisa membuat proses debugging dan pengembangan fitur lintas tim menjadi lebih cepat.


Apa Kekurangan Monorepo?

Walaupun menawarkan banyak keuntungan, monorepo bukan solusi yang otomatis cocok untuk semua proyek. Ada beberapa tantangan yang perlu dipertimbangkan.


1. Repository Bisa Menjadi Sangat Besar

Semakin banyak proyek yang dimasukkan, ukuran repository dapat bertambah secara signifikan.

Jika tidak dikelola dengan benar, proses clone, build, dan testing bisa menjadi lebih berat.

Inilah sebabnya monorepo skala besar biasanya menggunakan tooling tambahan untuk mengatur proses build dan caching.


2. CI/CD Bisa Menjadi Lebih Kompleks

Perubahan kecil pada satu aplikasi seharusnya tidak membuat seluruh proyek harus melalui proses build dan testing.

Tanpa konfigurasi yang tepat, pipeline CI/CD justru dapat menjalankan semua proses setiap kali terdapat perubahan.

Tools monorepo modern biasanya mengatasi masalah ini dengan fitur seperti affected detection dan task caching


3. Dependency Antarproyek Harus Dijaga

Kemudahan menggunakan kode dari proyek lain juga bisa menjadi masalah.

Developer dapat secara tidak sengaja membuat dependensi antarproyek menjadi terlalu kompleks. Akhirnya, batas antaraplikasi menjadi tidak jelas.

Karena itu, monorepo tetap membutuhkan aturan arsitektur dan module boundaries yang baik.


4. Membutuhkan Tooling yang Tepat

Sekadar menggabungkan banyak proyek ke satu Git repository belum tentu menghasilkan monorepo yang efektif.

Tanpa tooling, tim dapat menghadapi build lambat, dependensi yang sulit dilacak, hingga proses testing yang tidak efisien.

Karena itu, pengelolaan monorepo biasanya dibantu package manager workspace dan build system.


Monorepo vs Multi-Repo, Apa Bedanya?

Selain monorepo, ada pendekatan lain yang disebut multi-repo atau polyrepo. Dalam pendekatan ini, setiap aplikasi atau layanan memiliki repository masing-masing.

Contohnya:

  1. frontend-repository
  2. backend-repository
  3. admin-repository
  4. shared-ui-repository
  5. authentication-repository

Sedangkan pada monorepo, struktur tersebut disatukan:

monorepo-multi-repo-apa-bedanya

Perbedaannya bisa dilihat dari beberapa aspek:

  1. Penyimpanan kode: monorepo menggunakan satu repository, sementara multi-repo menggunakan banyak repository.
  2. Berbagi kode: monorepo cenderung lebih mudah karena proyek berada dalam satu tempat.
  3. Perubahan lintas proyek: monorepo dapat melakukan perubahan beberapa proyek dalam satu commit.
  4. Kontrol akses: multi-repo dapat memberikan isolasi akses lebih sederhana.
  5. CI/CD: monorepo membutuhkan konfigurasi yang mampu mendeteksi proyek mana yang terdampak perubahan.
  6. Skalabilitas: keduanya dapat digunakan dalam skala besar selama memiliki arsitektur dan tooling yang tepat.

Jadi, tidak ada pendekatan yang selalu lebih baik. Pemilihannya bergantung pada hubungan antarproyek dan kebutuhan tim.


Apa Saja Tools untuk Mengelola Monorepo?

Mengelola monorepo akan lebih efektif jika menggunakan tools yang dapat mengatur dependensi, task execution, hingga caching. Berikut beberapa tools monorepo yang cukup umum digunakan.


1. Nx

Nx merupakan build system yang dirancang untuk mengelola beberapa proyek dalam satu workspace.

Beberapa kemampuannya antara lain:

  1. Task scheduling.
  2. Local dan remote caching.
  3. Affected detection.
  4. Project dependency graph.
  5. Code generation.
  6. Module boundaries.

Nx juga dapat digunakan dalam proyek JavaScript dan TypeScript serta beberapa ekosistem lain melalui sistem plugin


2. Turborepo

Turborepo merupakan build system untuk monorepo JavaScript dan TypeScript yang dikembangkan oleh Vercel.

Tools ini menyediakan fitur seperti:

  1. Task scheduling.
  2. Caching.
  3. Remote caching.
  4. Deteksi perubahan.
  5. Pengelolaan dependensi antartugas.

Turborepo sering digunakan bersama package manager seperti npm, pnpm, atau Yarn.


3. Package Manager Workspaces

Beberapa package manager juga menyediakan fitur workspace, misalnya:

  1. npm Workspaces.
  2. pnpm Workspaces.
  3. Yarn Workspaces.
  4. Bun Workspaces.

Fitur ini membantu proses instalasi dan menghubungkan package lokal yang berada dalam satu repository.

Namun, workspace saja tidak selalu menangani kebutuhan seperti task graph, caching, dan deteksi proyek terdampak. 


4. Bazel

Bazel merupakan sistem build yang dapat digunakan untuk proyek berskala besar dan berbagai bahasa pemrograman.

Tools ini menyediakan mekanisme build berbasis dependensi dan caching sehingga proses pengembangan proyek besar dapat lebih efisien.


Kapan Sebaiknya Menggunakan Monorepo?

Monorepo biasanya cocok ketika beberapa proyek memiliki hubungan yang cukup kuat.

Kamu dapat mempertimbangkannya ketika:

  1. Memiliki beberapa aplikasi yang menggunakan komponen bersama.
  2. Banyak proyek menggunakan tipe data atau library yang sama.
  3. Perubahan fitur sering melibatkan beberapa aplikasi sekaligus.
  4. Tim ingin menggunakan standar development yang konsisten.
  5. Proyek membutuhkan koordinasi frontend dan backend secara intensif.
  6. Tim memiliki konfigurasi CI/CD yang mampu menangani banyak proyek.

Sebaliknya, monorepo mungkin belum diperlukan jika hanya memiliki satu aplikasi sederhana atau beberapa proyek yang benar-benar tidak memiliki hubungan satu sama lain.

Jadi, jangan menggunakan monorepo hanya karena pendekatan ini terdengar lebih modern. Struktur repository sebaiknya mengikuti kebutuhan proyek dan tim.

Baca Juga: Metode DevOps: Pengertian, Tahapan, dan Manfaat


Apakah Monorepo Cocok untuk Microservices?

Ya, monorepo dapat digunakan bersama arsitektur microservices.

Setiap service tetap dapat memiliki kode, dependensi, testing, dan proses deployment sendiri, meskipun seluruhnya berada dalam satu repository.

Contohnya:

services/

├── user-service/

├── payment-service/

├── notification-service/

└── order-service/

Pendekatan tersebut bahkan dapat mempermudah penggunaan library bersama, standar API, hingga konfigurasi pengembangan.

Namun, tim perlu menjaga batas antar-service agar perubahan pada satu layanan tidak membuat semua layanan menjadi saling bergantung.


Apakah Monorepo Lebih Baik daripada Multi-Repo?

Nggak selalu.

Monorepo lebih menarik ketika banyak proyek memiliki dependensi dan perubahan lintas aplikasi yang tinggi. Sementara itu, multi-repo bisa lebih sederhana jika setiap aplikasi benar-benar independen atau dimiliki tim berbeda dengan kebutuhan akses terpisah.

Sebelum memilih, kamu dapat mempertimbangkan:

  1. Seberapa banyak kode yang digunakan bersama?
  2. Seberapa sering perubahan melibatkan beberapa aplikasi?
  3. Apakah tim memiliki CI/CD yang mendukung monorepo?
  4. Seberapa kuat kebutuhan isolasi antarproyek?
  5. Apakah standar teknologi setiap proyek sama?

Jawaban terhadap pertanyaan tersebut akan lebih menentukan daripada sekadar mengikuti tren arsitektur terbaru.

Baca Juga: Panduan Belajar Full Stack Developer dengan Mudah


Rekomendasi Bootcamp Full-Stack Web Development dengan Penyaluran kerja!

Monorepo adalah pendekatan yang menyimpan beberapa aplikasi, package, atau library dalam satu repository. Strategi ini memudahkan code sharing, kolaborasi tim, dan pengelolaan proyek yang saling terhubung.

Namun, monorepo tetap membutuhkan pengelolaan dependensi, CI/CD, dan tooling yang tepat. Karena itu, penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta skala proyek.

Setelah memahami monorepo adalah, cara kerja, serta tools yang digunakan untuk mengelola banyak proyek dalam satu repository, kamu juga perlu memahami bagaimana front-end, back-end, database, dan API saling terhubung dalam sebuah aplikasi.

Bootcamp Full-Stack Web Development Dibimbing membantu kamu mempelajari pengembangan website secara menyeluruh melalui kelas interaktif, praktik, proyek, dan pendampingan mentor berpengalaman.


Program Bootcamp Full-Stack Web Development Dibimbing:

  1. Live Class & Praktik: Pelajari pengembangan full-stack melalui kelas interaktif dan praktik langsung bersama mentor.
  2. Kurikulum Industri: Kuasai HTML, CSS, JavaScript, front-end, back-end, database, API, hingga proses deployment.
  3. Proyek & Portofolio: Kerjakan berbagai proyek untuk mengasah kemampuan sekaligus membangun portofolio.
  4. Final Project: Terapkan keterampilan yang sudah dipelajari melalui proyek akhir berbasis studi kasus.
  5. Mentoring: Dapatkan pendampingan dari mentor dan fasilitator selama proses pembelajaran.
  6. Persiapan Karier: Persiapkan kemampuan teknis yang dibutuhkan untuk berkarier sebagai full-stack developer.
  7. Komunitas: Terhubung dengan sesama peserta dan praktisi untuk memperluas networking dan kesempatan belajar.


Pilihan Bootcamp Developer Terbaiik dari Dibimbing

Bagi kamu yang ingin berkarier sebagai Web Developer, memilih program belajar yang sesuai dengan tujuan dan fokus skill menjadi langkah penting. Dibimbing menyediakan beberapa pilihan Bootcamp Web Development yang dapat disesuaikan dengan jalur karier yang ingin kamu bangun.

  1. Bootcamp Full-Stack Web Development: Cocok untuk kamu yang ingin mempelajari pengembangan aplikasi secara menyeluruh, mulai dari front-end, back-end, database, API, hingga deployment. Pilihan ini tepat jika kamu ingin memahami bagaimana berbagai komponen dalam aplikasi web saling terhubung.
  2. Bootcamp Front-End Web Development: Berfokus pada pengembangan sisi tampilan dan interaksi website. Kamu dapat mempelajari bagaimana membangun website yang responsif, interaktif, dan user-friendly menggunakan teknologi front-end yang relevan dengan kebutuhan industri.
  3. Bootcamp Back-End Development: Ditujukan bagi kamu yang ingin mendalami proses di balik sebuah aplikasi, mulai dari business logic, database, API, authentication, hingga server-side development.


Siap Berkarier sebagai Full-Stack Developer?

Warga Bimbingan bisa belajar bagaimana berbagai komponen aplikasi saling terhubung sekaligus mempraktikkannya melalui proyek. Jadi, konsep seperti struktur proyek, repository, hingga pengelolaan kode yang sudah MinDi bahas dalam artikel monorepo bisa lebih mudah kamu pahami dalam praktik.

Yuk, cek Bootcamp Full-Stack Web Development Dibimbing untuk melihat kurikulum, jadwal kelas, dan informasi pendaftarannya!


FAQ

1. Apa Itu Monorepo?

Monorepo adalah pendekatan pengelolaan kode dengan menyimpan beberapa aplikasi, package, atau library dalam satu repository. Struktur monorepo biasanya dibuat agar setiap proyek tetap terorganisasi meskipun berada dalam tempat yang sama.

2. Bagaimana Cara Kerja Monorepo?

Cara kerja monorepo adalah mengelola beberapa proyek dalam satu repository dengan dependensi dan konfigurasi yang saling terhubung. Tim juga bisa mengatur monorepo CI/CD agar hanya proyek yang terdampak perubahan yang menjalankan proses build atau deployment.

3. Apa Kelebihan dan Kekurangan Monorepo?

Kelebihan monorepo meliputi code sharing yang lebih mudah, standar pengembangan yang konsisten, dan perubahan lintas proyek yang lebih praktis. Sementara itu, kekurangan monorepo adalah ukuran repository yang bisa membesar serta pengelolaan dependensi dan CI/CD yang lebih kompleks.

4. Apa Perbedaan Monorepo vs Multi-Repo?

Pada monorepo vs multi-repo, perbedaan utamanya terletak pada penyimpanan kode. Monorepo menyatukan beberapa proyek dalam satu repository, sedangkan multi-repo memisahkan setiap aplikasi atau layanan ke repository masing-masing.

5. Apa Saja Tools Monorepo yang Bisa Digunakan?

Beberapa tools monorepo yang umum digunakan adalah Nx monorepo, Turborepo, npm Workspaces, Yarn Workspaces, dan pnpm Workspaces. Tools tersebut dapat membantu mengelola dependensi, task, build, hingga caching dalam proyek monorepo.

Share:

Penulis

Penulis Image

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.

Reviewer

Reviewer Image

Sudah Direview Oleh Expert

Setiap artikel yang berlabel "Sudah Direview Oleh Expert" telah melalui proses peninjauan oleh praktisi atau mentor yang berpengalaman di bidangnya untuk memastikan informasi yang disajikan berkualitas, akurat, dan relevan bagi pembaca.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!