15 Metode UX Research: Jenis dan Cara Menggunakannya
Irhan Hisyam Dwi Nugroho
•
25 September 2025
•
391
Metode UX research adalah kunci memahami kebutuhan pengguna. Tanpa riset, produk digital bisa gagal memberi pengalaman terbaik. Menurut Forrester, setiap $1 investasi di UX mampu menghasilkan return hingga $100.
Sayang banget kalau kesempatan ini terlewat, apalagi kalau ilmu dari kursus online UI UX belum dipraktikkan secara maksimal.
Karena itu, MinDi udah siapin 15 metode UX research beserta cara menggunakannya. Yuk simak, supaya risetmu lebih terarah dan hasil desain makin disukai pengguna.
Apa itu UX Research?
UX Research adalah proses riset yang dilakukan untuk menggali kebutuhan, perilaku, serta motivasi pengguna melalui observasi, wawancara, maupun analisis data.
Dengan riset ini, desainer dapat menemukan masalah nyata yang dialami pengguna dan mengubahnya menjadi peluang perbaikan produk.
Tujuannya tidak hanya membuat tampilan yang menarik secara visual, tetapi juga memastikan produk benar-benar bermanfaat, mudah digunakan, dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari.
Hasil dari UX Research membantu tim mengambil keputusan berbasis data sehingga produk digital lebih efektif, disukai, dan mampu meningkatkan loyalitas pengguna.
Baca juga: Panduan Memilih Bootcamp UI/UX yang Tepat untuk Karier 2025
Jenis-Jenis UX Research
Warga Bimbingan, Kalau kamu pernah ikut kursus UI design atau sedang belajar lewat kursus UI UX online, pembagian ini bakal bikin pemahamanmu makin jelas.
Nah, MinDi bakal jelaskan dengan sederhana supaya gampang dipahami.
1. UX Research Kualitatif
Riset kualitatif fokus pada mengapa pengguna melakukan sesuatu, bukan sekadar apa yang mereka lakukan. Dengan pendekatan ini, kita bisa menggali perasaan, motivasi, dan hambatan yang dialami pengguna secara mendalam.
Hasilnya lebih bersifat deskriptif, kaya cerita, dan sangat membantu memahami konteks penggunaan produk.
Contoh metode kualitatif:
- Wawancara pengguna (User Interview)
- Focus Group Discussion (FGD)
- Observasi langsung
- Diary Study
2. UX Research Kuantitatif
Riset kuantitatif berfokus pada data angka untuk menjawab apa yang terjadi dan seberapa sering itu terjadi.
Biasanya melibatkan survei dalam jumlah besar atau analisis perilaku pengguna di aplikasi/website.
Hasilnya memberikan gambaran yang lebih objektif dan bisa dijadikan dasar pengambilan keputusan berbasis data.
Contoh metode kuantitatif:
- Survei online
- A/B Testing
- Heatmap & Click Tracking
- Analisis Google Analytics
Baca juga: Panduan Kursus Desain Grafis dan Peluang Kariernya
15 Metode UX Research yang Populer
Sumber: Canva
Setelah tahu jenis-jenis UX Research, sekarang saatnya kita kenalan dengan metode yang paling sering dipakai desainer maupun peneliti.
Materi ini juga sering jadi topik penting di kursus UI UX design, karena bisa membantu peserta memahami bagaimana riset memengaruhi kualitas desain. Yuk simak bareng-bareng biar makin paham!
1. User Interview
User interview adalah metode klasik yang melibatkan percakapan langsung dengan pengguna untuk menggali pengalaman, kebutuhan, dan harapan mereka.
Dengan teknik tanya jawab ini, peneliti bisa menangkap insight yang sering kali tidak muncul lewat data angka.
Hasilnya membantu memahami motivasi terdalam pengguna yang nantinya jadi dasar perbaikan desain.
2. Survey/Questionnaire
Survei dilakukan dengan menyebarkan pertanyaan terstruktur kepada banyak pengguna sekaligus, biasanya dalam bentuk online.
Data yang terkumpul dapat berupa opini, preferensi, atau tingkat kepuasan yang mudah diolah secara statistik.
Metode ini sangat berguna untuk mendapatkan gambaran tren umum dan pola perilaku pengguna.
3. Focus Group Discussion (FGD)
FGD mengumpulkan beberapa pengguna dalam satu forum untuk berdiskusi tentang produk atau ide tertentu.
Diskusi kelompok ini memungkinkan munculnya berbagai perspektif karena peserta bisa saling melengkapi pendapat.
Dengan cara ini, peneliti dapat menangkap insight kualitatif yang kaya sekaligus menguji hipotesis awal.
4. Usability Testing
Usability testing fokus pada mengamati bagaimana pengguna menyelesaikan tugas spesifik di dalam produk.
Saat pengguna berinteraksi, peneliti mencatat kendala, kesalahan, atau kebingungan yang muncul.
Data yang dihasilkan sangat membantu memperbaiki antarmuka agar lebih mudah dipahami dan ramah pengguna.
Baca juga: Apa itu Design System? Manfaat, Komponen, hingga Contoh
5. Card Sorting
Card sorting digunakan untuk memahami cara pengguna mengelompokkan informasi berdasarkan logika mereka sendiri.
Dalam praktiknya, peserta diminta menyusun kartu berisi label konten sesuai kategori yang mereka anggap cocok.
Hasil pengelompokan ini jadi bahan penting untuk membangun struktur navigasi yang lebih intuitif.
6. Tree Testing
Tree testing adalah metode untuk menguji struktur menu atau navigasi yang sudah dirancang sebelumnya.
Peserta diminta mencari item tertentu dalam hierarki menu, dan peneliti melihat apakah pencarian tersebut mudah atau membingungkan.
Dari sini bisa diketahui seberapa efektif struktur informasi yang ada sebelum masuk tahap desain visual.
7. Diary Study
Diary study meminta pengguna mendokumentasikan pengalaman mereka menggunakan produk dalam kurun waktu tertentu.
Catatan harian ini memberi peneliti gambaran perilaku nyata pengguna di kehidupan sehari-hari.
Dengan begitu, data yang terkumpul lebih autentik dan mencerminkan kebutuhan jangka panjang.
8. Field Study / Observasi Langsung
Dalam field study, peneliti langsung turun ke lapangan untuk melihat bagaimana pengguna berinteraksi dengan produk dalam konteks asli mereka.
Metode ini memungkinkan peneliti menangkap detail kecil yang sering terlewat dalam setting laboratorium.
Observasi nyata ini sangat berguna untuk merancang solusi yang sesuai dengan kondisi lingkungan pengguna.
9. A/B Testing
A/B testing dilakukan dengan membandingkan dua versi desain atau fitur untuk melihat mana yang lebih efektif.
Hasil perbandingan biasanya diukur dengan data kuantitatif, misalnya tingkat klik, durasi interaksi, atau tingkat konversi.
Dengan pendekatan ini, keputusan desain bisa diambil berdasarkan bukti nyata, bukan sekadar asumsi.
10. Eye Tracking
Eye tracking menggunakan teknologi untuk melacak pergerakan mata pengguna saat melihat layar atau produk.
Dari data ini, peneliti bisa tahu area mana yang pertama kali menarik perhatian dan bagian mana yang sering diabaikan.
Informasi ini sangat bermanfaat untuk mengoptimalkan tata letak visual agar pesan penting tersampaikan dengan baik.
11. Heatmap Analysis
Heatmap menampilkan representasi visual tentang area di layar yang paling sering diklik, digulir, atau dilihat pengguna.
Dengan pola warna panas dan dingin, peneliti dapat mengidentifikasi bagian mana yang efektif dan mana yang terabaikan.
Hasil analisis ini biasanya digunakan untuk memperbaiki tata letak, tombol, maupun elemen penting lainnya.
12. Analytics Data Review
Analytics data review menggunakan alat seperti Google Analytics untuk memantau perilaku pengguna secara kuantitatif.
Data yang dikumpulkan bisa berupa jumlah pengunjung, jalur navigasi, lama kunjungan, hingga halaman dengan bounce rate tinggi.
Analisis ini memberi gambaran objektif tentang performa produk sehingga bisa jadi dasar keputusan strategis.
13. Remote Testing
Remote testing memungkinkan pengguna mencoba produk dari jarak jauh, biasanya lewat aplikasi atau platform online.
Peneliti tetap bisa memantau interaksi meski tidak tatap muka langsung. Praktis untuk menjangkau partisipan dari lokasi berbeda.
14. Competitive Analysis
Metode ini membandingkan produk dengan kompetitor untuk menemukan kelebihan dan kekurangan.
Dengan analisis ini, tim bisa belajar strategi apa yang berhasil dan apa yang perlu dihindari. Cocok dilakukan sebelum merancang produk baru atau mengembangkan fitur.
15. Customer Journey Mapping
Customer journey mapping memvisualisasikan langkah-langkah pengguna saat berinteraksi dengan produk.
Fokusnya pada titik kontak (touchpoint) dan emosi yang dirasakan di setiap tahap. Dengan ini, tim bisa menemukan peluang perbaikan pengalaman pengguna secara menyeluruh.
Baca juga: Cara Membuat UI/UX di Figma dengan Mudah dan Praktis!
Ingin Jadi UI/UX Designer Profesional?
Setelah mempelajari 15 Metode UX Research: Jenis dan Cara Menggunakannya, kini saatnya Warga Bimbingan mempraktikkan ilmu tersebut agar bisa bikin produk digital yang lebih menarik dan ramah pengguna!
Yuk, ikuti Bootcamp UI/UX di dibimbing.id! Di sini, kamu akan belajar langsung dari mentor berpengalaman tentang UX research, UI design, prototyping, hingga testing dengan kurikulum aplikatif dan praktis.
Dengan lebih dari 840+ hiring partner dan tingkat keberhasilan alumni mencapai 91%, peluang kariermu di bidang desain digital semakin terbuka lebar.
Jadi, tunggu apa lagi? Hubungi kami dan daftar sekarang disini untuk mulai perjalananmu menjadi seorang UI/UX Designer profesional. #BimbingSampeJadi!
Referensi
Tags
Irhan Hisyam Dwi Nugroho
Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.
