dibimbing.id - Memahami Skema Merger and Acquisition di Indonesia (Panduan 2026)

Memahami Skema Merger and Acquisition di Indonesia (Panduan 2026)

Farijihan Putri

29 November 2025

52

Image Banner

Proses merger and acquisition di Indonesia sering menjadi pembicaraan panas di kalangan profesional finance. Bagi kamu yang ingin berkarier di investment banking atau corporate strategy, pemahaman mendalam tentang skema M&A bisa menjadi senjata rahasia untuk mendaki jenjang karier. 

Tanpa bekal ini, peluang kerja di bidang strategis seperti equity research atau M&A advisory pun bisa terlewat. Kabar baiknya, memahami kompleksitas merger and acquisition di Indonesia ternyata tidak serumit yang dibayangkan. 

Panduan 2026 dari MinDi akan memandu kamu melalui tahapan praktis mulai dari due diligence hingga post-merger integration. Langsung praktikkan ilmunya melalui Bootcamp Investment & Banking Dibimbing yang menyediakan studi kasus terkini. Yuk, tingkatkan kompetensi sebelum perusahaan incaranmu membuka lowongan!

Baca Juga: Berapa Biaya Bootcamp Investment & Banking Dibimbing? Worth It Buat Karier!


Konsep Dasar Merger and Acquisition dalam Ekosistem Bisnis Indonesia

Dalam kerangka hukum Indonesia, aktivitas Merger and Acquisition (M&A) terutama mengacu pada Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. 

Regulasi tersebut membedakan merger sebagai penggabungan dua entitas menjadi satu badan hukum baru, sementara akuisisi merupakan pengambilalihan saham yang menyebabkan peralihan kontrol manajemen. 

Proses strategis ini berada dalam pengawasan ketiga beberapa otoritas, termasuk Kementerian Hukum dan HAM, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), serta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang berperan memastikan transaksi tidak mengarah pada praktik monopoli.

Pelaksanaan M&A di Indonesia menghadapi beberapa ketentuan spesifik yang perlu diperhatikan. Untuk investor asing, pembatasan kepemilikan di sektor tertentu mengacu pada Daftar Investasi Positif yang wajib dipatuhi.

Selain itu, transaksi yang memenuhi ambang batas tertentu, seperti nilai aset gabungan di atas Rp 2,5 triliun, memiliki kewajiban pelaporan kepada KPPU dalam jangka waktu 30 hari kerja.

Meski kerumitan birokrasi menjadi tantangan, M&A tetap menjadi pilihan strategis untuk ekspansi pasar, terutama di sektor unggulan seperti teknologi, energi, dan farmasi yang mendominasi tren transaksi terkini.

Baca Juga: Rekomendasi Bootcamp Investment & Banking Terbaik


Jenis-Jenis Skema M&A yang Paling Relevan di Pasar Indonesia

Simak yuk, 4 skema M&A yang paling relevan dengan lanskap pasar Indonesia dan contohnya


1. M&A Horizontal

Penggabungan antara dua atau lebih perusahaan yang bergerak di industri dan lini produk yang sama, seringnya untuk mengurangi persaingan langsung. 

Skema M&A Horizontal memungkinkan perusahaan mencapai skala ekonomi yang lebih besar dan memperluas pangsa pasar secara signifikan. Sebagai contoh, merger antara Daimler-Benz dan Chrysler bertujuan untuk mengkonsolidasi kekuatan di industri otomotif yang sama.


2. M&A Vertikal

Selanjutnya, skema M & A vertikal adalah strategi yang menyatukan perusahaan dalam rantai pasok (supply chain) yang berbeda, seperti antara pemasok dan produsen.

Integrasi ini menciptakan efisiensi operasional dengan mengamankan pasokan bahan baku atau mengontrol distribusi produk. Keuntungan utamanya termasuk pengendalian kualitas yang lebih baik dan penurunan biaya produksi.


3. Perluasan Pasar (Market Extension)

Penggabungan ini terjadi antara perusahaan yang menjual produk sama, tetapi di pasar geografis yang berbeda. Tujuannya untuk mempercepat ekspansi wilayah dan memperkuat jaringan pemasaran.

Hasilnya, perusahaan dapat segera mengakses basis pelanggan yang lebih luas dan mendiversifikasi sumber pendapatannya.


4. Perluasan Produk (Product Extension)

Skema Product Extension menyatukan perusahaan dengan lini produk yang berbeda, namun terkait, untuk melengkapi penawaran masing-masing di pasar yang sama.

Sinergi yang diharapkan adalah kemampuan menawarkan solusi lebih lengkap kepada pelanggan dan berbagi sumber daya. Tantangannya terletak pada kompleksitas integrasi produk dan strategi pemasaran yang berbeda.

Baca Juga: 10 Investment Company Indonesia untuk Diversifikasi Aset


Tahapan dan Proses M&A Sesuai Regulasi OJK dan KPPU

Sumber: Freepik

Berikut 5 tahapan utama dalam proses merger and acquisition yang wajib mengikuti regulasi OJK dan KPPU di Indonesia.


1. Due Diligence Awal  

Tahap ini merupakan investigasi komprehensif terhadap kondisi keuangan, hukum, dan operasional perusahaan target. Proses due diligence membantu mengidentifikasi potensi liabilitas tersembunyi dan risiko hukum yang mungkin timbul.

Selanjutnya, hasil investigasi ini menjadi dasar penentuan struktur transaksi dan harga akuisisi. Tanpa due diligence yang mendalam, investor berisiko menghadapi kewajiban tak terduga pasca-transaksi.


2. Strukturisasi Transaksi  

Pada tahap ini, para pihak menentukan skema hukum yang tepat untuk kesepakatan mereka. M & A adalah proses yang membutuhkan pertimbangan matang antara akuisisi saham atau aset, disesuaikan dengan tujuan strategis dan implikasi pajak.

Selain itu, struktur pembayaran juga dirancang, apakah secara tunai, saham, atau kombinasi keduanya. Perancangan yang tepat pada tahap ini sangat krusial untuk meminimalisir konflik di kemudian hari.


3. Persetujuan Regulasi  

Setelah struktur transaksi final, perusahaan harus memenuhi berbagai kewajiban hukum. Proses merger and acquisition adalah aktivitas yang wajib mendapatkan persetujuan Menteri Hukum dan HAM untuk perubahan anggaran dasar. 

Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1999, transaksi yang memenuhi ambang batas tertentu wajib dilaporkan kepada KPPU dalam waktu 30 hari kerja. Laporan ini bertujuan memastikan transaksi tidak mengakibatkan praktik monopoli.


4. Implementasi dan Integrasi  

Tahap implementasi dimulai dengan pengumuman rencana M&A kepada kreditur dan karyawan. Kemudian, perusahaan melakukan konsolidasi operasional, sistem teknologi, dan sumber daya manusia secara bertahap.

Proses integrasi budaya perusahaan seringkali menjadi tantangan tersendiri yang membutuhkan pendekatan khusus. Kesuksesan integrasi secara langsung mempengaruhi nilai sinergi yang dapat direalisasikan.


5. Pelaporan Pasca-Transaksi  

Setelah transaksi selesai, perusahaan hasil penggabungan wajib melaporkan perubahan struktur kepemilikan kepada OJK khususnya untuk perusahaan publik. Selain itu, kewajiban pelaporan pajak dan laporan keuangan konsolidasi juga harus dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.

Pemenuhan kewajiban ini sangat penting untuk menjaga kepatuhan perusahaan terhadap regulasi. Kegagalan dalam pelaporan dapat berakibat pada sanksi administratif hingga pembatalan transaksi.

Baca Juga: Portofolio Investment: Komponen Aset & Cara Membuatnya


Studi Kasus: Kesuksesan dan Kegagalan M&A di Indonesia

Simak yuk, 3 contoh studi kasus nyata M&A di Indonesia yang menggambarkan dinamika transaksi strategis di pasar domestik.


1. Merger Tokopedia dan TikTok Shop (2024)

Transaksi strategis ini mempertemukan platform e-commerce lokal terkemuka dengan raksasa sosial media global. Merger tersebut bertujuan membentuk kemitraan strategis untuk memperkuat posisi di pasar digital Indonesia yang sangat kompetitif.

Prosesnya telah berjalan sejak 2023 dan finalisasi di awal 2024 mendapat respons positif dari pasar. Kesuksesan transaksi ini menjadi pionir bagi dinamika M&A di sektor teknologi Indonesia sepanjang tahun 2024.


2. Akuisisi PT Vale Indonesia Tbk oleh PT Mineral Industri Indonesia (Persero) / MIND ID (2024)

Sebagai BUMN holding industri pertambangan, MIND ID mengakuisisi saham pengendali PT Vale Indonesia. 

Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat kendali negara atas sumber daya mineral yang krusial. Transaksi ini juga menandai konsolidasi signifikan di sektor pertambangan Indonesia.


3. Akuisisi PT Elektronik Kualitas Unggul (EKU) terhadap PT Maju Berjaya (MB)

Akuisisi PT Elektronik Kualitas Unggul (EKU) terhadap PT Maju Berjaya (MB) yang bermasalah. EKU mengakuisisi 60% saham MB pada 2011 untuk mendukung ekspansi, membentuk entitas baru bernama PT Maju Unggul Berjaya (MUB). 

Sayangnya, integrasi pasca-akuisisi diwarnai pengabaian manajemen risiko operasional dan SDM, seperti temuan audit internal yang tidak ditindaklanjuti dan masalah outsourcing yang menyebabkan turnover karyawan tinggi. 

Masalah over capacity gudang dan sistem pencatatan manual yang berantakan menyebabkan 50% stok fisik hilang. Akibatnya, integrasi justru mengancam keandalan pasokan, meningkatkan biaya, dan berpotensi merusak reputasi perusahaan.

Baca Juga: Kuliah Jurusan Ekonomi Jadi Apa? Peluang Karier & Gaji


Siap Menjadi Ahli M&A yang Dicari Perusahaan?

Menguasai strategi dan implementasi merger and acquisition merupakan kompetensi kunci untuk berkarir di dunia finance dan investment banking yang kompetitif.

Bootcamp Investment & Banking Dibimbing memberikan kamu paket pembelajaran lengkap: akses mengulang kelas gratis, 50+ Live Class & 7 Sesi Praktek intensif, pembangunan portofolio melalui weekly assignment & studi kasus, hingga final project berbasis kasus nyata di bidang investment

Kamu juga akan dapat konsultasi 1-on-1 dan career preparation. Menariknya, program ini telah membukukan 96% tingkat kesuksesan alumni dengan jaringan 840+ hiring partner.

Mungkin ada pertanyaan seperti, "Bagaimana kelayakan instruktur yang mengajar?" atau "Apakah ada jaminan penyaluran kerja?", konsultasi gratis aja sekarang! Yuk, wujudkan karir impianmu di investment and banking bersama Dibimbing yang #BimbingSampeJadi!


Referensi

  1. Mergers & Acquisitions Laws and Regulations 2025 – Indonesia [Buka]
  2. Indonesia: Mergers & Acquisitions [Buka]
  3. Dampak Abai Manajemen Risiko: 2 Perusahaan di Indonesia Ini Gagal Total [Buka]

Share

Author Image

Farijihan Putri

Farijihan is a passionate Content Writer with 3 years of experience in crafting compelling content, optimizing for SEO, and developing creative strategies for various brands and industries.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!