Dibimbing - Goodwill Adalah: Pengertian, Jenis, dan Cara Menghitung
Blog
Investment Banking

Goodwill Adalah: Pengertian, Jenis, dan Cara Menghitung

Author

DITULIS OLEH 

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Reviewer

DIREVIEW OLEH 

Sudah Direview Oleh Expert

Dibuat pada 24 Aug 2026

Diubah pada 9 Sep 2026

47

Image Thumbnail

Pernahkah kamu bertanya kenapa sebuah perusahaan bisa dibeli dengan harga lebih tinggi dibandingkan nilai asetnya? Nah, selisih nilai tersebut dapat berkaitan dengan goodwill.

Goodwill adalah aset tidak berwujud yang muncul ketika harga akuisisi bisnis lebih tinggi daripada nilai wajar aset bersih yang diperoleh. Nilai ini dapat mencerminkan reputasi, pelanggan, dan potensi pertumbuhan perusahaan.

Memahami goodwill penting bagi kamu yang ingin mempelajari bisnis, akuntansi, hingga investasi karena sering digunakan dalam analisis perusahaan. Konsep ini juga berkaitan dengan transaksi merger dan akuisisi.

Kalau ingin memahami analisis investasi lebih dalam, kamu bisa mengikuti Bootcamp Investment & Banking Dibimbing. Yuk, simak pembahasan MinDi tentang goodwill, jenis, contoh, dan cara menghitungnya!

Baca Juga: Valuasi Saham Adalah: Fungsi, Metode, dan Contohnya


Apa Itu Goodwill?

Goodwill adalah nilai lebih yang muncul ketika sebuah perusahaan mengakuisisi bisnis lain dengan nilai yang lebih tinggi dibandingkan nilai wajar aset bersih teridentifikasinya.

Sederhananya, perusahaan yang dibeli mungkin mempunyai nilai bisnis yang nggak sepenuhnya tercermin dari aset fisik seperti kas, gedung, mesin, atau persediaan.

Nilai tambahan tersebut dapat berkaitan dengan berbagai faktor, seperti:

  1. Reputasi perusahaan.
  2. Hubungan dengan pelanggan.
  3. Posisi bisnis di pasar.
  4. Kualitas sumber daya manusia.
  5. Jaringan distribusi.
  6. Kemampuan menghasilkan keuntungan.
  7. Potensi pertumbuhan.
  8. Sinergi setelah akuisisi.

Namun, nggak semua nilai tersebut dicatat satu per satu sebagai goodwill. Aset yang masih dapat diidentifikasi secara terpisah perlu dicatat sebagai aset tersendiri.


Bagaimana Goodwill Bisa Muncul?

Goodwill umumnya muncul melalui transaksi merger atau akuisisi. Misalnya, sebuah perusahaan memiliki nilai wajar aset bersih sebesar Rp10 miliar. Namun, perusahaan lain bersedia membelinya dengan harga Rp15 miliar karena melihat potensi pertumbuhan dan posisi bisnis yang kuat.

Dalam contoh sederhana tersebut, terdapat selisih Rp5 miliar. Nah, selisih itulah yang dapat menjadi goodwill setelah seluruh aset dan liabilitas teridentifikasi diperhitungkan.

Goodwill berarti perusahaan pembeli nggak hanya membayar aset yang terlihat di neraca. Ada nilai ekonomi tambahan dari bisnis tersebut yang ikut dipertimbangkan dalam harga akuisisi.


Apa Saja Jenis Goodwill?

Secara umum, goodwill dapat dibedakan berdasarkan bagaimana nilainya terbentuk.


1. Purchased Goodwill

Purchased goodwill adalah goodwill yang muncul ketika perusahaan membeli atau mengakuisisi perusahaan lain.

Jenis goodwill ini muncul dari transaksi nyata sehingga nilainya dapat dihitung berdasarkan harga akuisisi dan nilai wajar aset bersih perusahaan yang diperoleh.

Misalnya, perusahaan A mengakuisisi perusahaan B karena perusahaan B memiliki pelanggan loyal dan posisi pasar yang kuat.

Jika harga pembelian melebihi nilai wajar aset bersih teridentifikasinya, selisih tersebut dapat menghasilkan purchased goodwill.


2. Internally Generated Goodwill

Internally generated goodwill adalah nilai bisnis yang terbentuk dari aktivitas internal perusahaan.

Nilai tersebut dapat berkembang dari:

  1. Reputasi yang baik.
  2. Loyalitas pelanggan.
  3. Pengalaman karyawan.
  4. Hubungan dengan pemasok.
  5. Manajemen yang kuat.
  6. Kepercayaan konsumen.

Namun, internally generated goodwill pada umumnya tidak dicatat sebagai goodwill dalam laporan keuangan.

Jadi, perusahaan nggak bisa menentukan sendiri bahwa reputasinya bernilai Rp5 miliar lalu langsung memasukkannya ke dalam aset.

Baca Juga: 4 Cara Menghitung Valuasi Saham: Rumus dan Contohnya


Apa Perbedaan Goodwill dan Intangible Asset?

Goodwill memang termasuk aset yang tidak memiliki bentuk fisik. Namun, goodwill memiliki karakteristik berbeda dengan intangible asset yang dapat diidentifikasi.

Beberapa contoh intangible asset antara lain:

  1. Hak paten.
  2. Hak cipta.
  3. Merek dagang.
  4. Lisensi.
  5. Perangkat lunak.
  6. Hak kontraktual.

Aset tersebut biasanya dapat diidentifikasi secara terpisah dan dalam kondisi tertentu bisa dialihkan, dijual, atau dilisensikan.

Sementara itu, goodwill tidak dapat dipisahkan secara individual dari bisnis yang diakuisisi.

Sederhananya:

  1. Intangible asset: Dapat diidentifikasi secara spesifik.
  2. Goodwill: Melekat pada nilai keseluruhan bisnis yang diperoleh.

Baca Juga: Investment Analysis: Pengertian, Proses, dan Contohnya


Bagaimana Cara Menghitung Goodwill?

Cara menghitung goodwill dapat dijelaskan melalui rumus sederhana.

  1. Goodwill = Harga Akuisisi − Nilai Wajar Aset Bersih Teridentifikasi

Sementara itu, aset bersih teridentifikasi dapat dihitung dengan:

  1. Aset Bersih = Nilai Wajar Aset − Nilai Wajar Liabilitas

Warga Bimbingan perlu ingat bahwa rumus tersebut merupakan bentuk sederhana untuk memahami konsep goodwill.

Dalam transaksi akuisisi yang lebih kompleks, perhitungan goodwill juga dapat mempertimbangkan komponen lain seperti kepentingan nonpengendali dan kepemilikan yang sebelumnya telah dimiliki.


Contoh Cara Menghitung Goodwill

Misalnya, PT Alpha mengakuisisi PT Beta dengan harga Rp20 miliar.

PT Beta memiliki:

  1. Nilai wajar aset: Rp18 miliar.
  2. Nilai wajar liabilitas: Rp5 miliar.

Pertama, hitung aset bersihnya:

  1. Rp18 miliar − Rp5 miliar = Rp13 miliar

Selanjutnya, hitung goodwill:

  1. Rp20 miliar − Rp13 miliar = Rp7 miliar

Jadi, goodwill yang muncul dari transaksi tersebut sebesar Rp7 miliar.

Artinya, PT Alpha membayar Rp7 miliar lebih tinggi daripada nilai wajar aset bersih teridentifikasi PT Beta.

Baca Juga: Investment Banker Adalah: Tugas, Skill, dan Cara Menjadi Investment Banker


Contoh Goodwill pada Perusahaan Tbk: GoTo

contoh-goodwill-pada-perusahaan-tbk-goto

Sumber: Desain oleh Dibimbing

Contoh goodwill pada perusahaan terbuka dapat dilihat pada PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).

Berdasarkan laporan posisi keuangan konsolidasian perusahaan, nilai goodwill GoTo tercatat sebagai berikut:

  1. 2023: Rp4.065.549 juta atau sekitar Rp4,07 triliun.
  2. 2024: Rp372.575 juta atau sekitar Rp372,58 miliar.
  3. 2025: Rp15.745 juta atau sekitar Rp15,75 miliar.

Data tersebut menunjukkan bahwa goodwill benar-benar dicatat sebagai bagian dari aset tidak lancar perusahaan.

Nilainya juga dapat berubah secara signifikan dari satu periode ke periode berikutnya. Perubahan tersebut bisa berkaitan dengan transaksi korporasi, pelepasan bisnis, perubahan struktur perusahaan, maupun penyesuaian nilai berdasarkan kebijakan akuntansi yang berlaku.

Contoh GoTo juga menunjukkan bahwa goodwill bukan sekadar konsep yang digunakan dalam buku akuntansi. Goodwill dapat ditemukan langsung dalam laporan keuangan perusahaan Tbk dan menjadi salah satu komponen yang perlu diperhatikan ketika melakukan analisis perusahaan.


Bagaimana Goodwill Dicatat dalam Akuntansi?

Goodwill yang timbul dari kombinasi bisnis dicatat dalam laporan posisi keuangan sebagai bagian dari aset tidak lancar.

Pencatatan tersebut dilakukan setelah perusahaan mengidentifikasi nilai wajar aset dan liabilitas yang diperoleh melalui transaksi akuisisi.

Sebagai contoh, jika transaksi menghasilkan goodwill Rp7 miliar, nilai tersebut akan dicatat sebagai aset goodwill dalam laporan posisi keuangan perusahaan pengakuisisi.

Namun, goodwill berbeda dari sebagian aset yang nilainya dapat berkurang melalui penyusutan atau amortisasi rutin.

Goodwill perlu dipantau untuk mengetahui apakah nilainya masih dapat dipertahankan atau telah mengalami impairment.


Apa Itu Impairment Goodwill?

Impairment goodwill adalah kondisi ketika nilai goodwill yang tercatat sudah lebih tinggi dibandingkan nilai ekonomis yang dapat dipulihkan dari bisnis terkait.

Kondisi tersebut dapat terjadi ketika bisnis yang sebelumnya diharapkan memberikan keuntungan justru mengalami penurunan performa.

Beberapa kondisi yang dapat berkaitan dengan penurunan nilai antara lain:

  1. Pendapatan bisnis turun.
  2. Kondisi pasar memburuk.
  3. Persaingan meningkat.
  4. Proyeksi keuntungan menurun.
  5. Terjadi perubahan regulasi.
  6. Strategi akuisisi tidak berjalan sesuai rencana.
  7. Nilai bisnis yang diakuisisi menurun.

Jika hasil pengujian menunjukkan adanya penurunan nilai, perusahaan dapat mencatat kerugian impairment sesuai standar akuntansi yang berlaku.


Mengapa Goodwill Penting bagi Perusahaan?

Goodwill membantu memberikan gambaran mengenai nilai tambahan yang dibayarkan perusahaan ketika melakukan transaksi akuisisi.

Bagi tim finance maupun investor, nilai goodwill juga dapat digunakan sebagai salah satu informasi ketika menganalisis bagaimana perusahaan melakukan ekspansi melalui akuisisi.

Beberapa alasan goodwill penting antara lain:

  1. Membantu memahami nilai transaksi akuisisi.
  2. Menjadi bagian dari pencatatan aset perusahaan.
  3. Membantu menganalisis aktivitas merger dan akuisisi.
  4. Menunjukkan adanya nilai ekonomi selain aset teridentifikasi.
  5. Menjadi bagian dari analisis laporan keuangan.
  6. Membutuhkan evaluasi impairment secara berkala.

Nilai goodwill yang sangat besar juga perlu dianalisis lebih lanjut karena dapat menunjukkan bahwa perusahaan membayar premi yang cukup tinggi ketika mengakuisisi bisnis.


Apa Perbedaan Goodwill dan Brand Value?

Goodwill dan brand value juga sering dianggap sama, padahal keduanya berbeda.

Brand value merujuk pada nilai ekonomi yang melekat pada sebuah merek. Merek tertentu bahkan dapat memenuhi kriteria sebagai aset tidak berwujud yang dapat diidentifikasi.

Sementara itu, goodwill memiliki cakupan lebih luas.

Goodwill dapat merepresentasikan manfaat ekonomi yang berasal dari kombinasi berbagai faktor, mulai dari reputasi, pelanggan, sumber daya manusia, hingga sinergi yang tidak dapat dipisahkan menjadi aset individual.

Jadi, sebuah merek dapat menjadi salah satu faktor yang membuat perusahaan bernilai tinggi, tetapi bukan berarti keseluruhan goodwill sama dengan nilai merek.


Apakah Goodwill Bisa Dijual?

Goodwill umumnya tidak dapat dijual secara terpisah seperti tanah, kendaraan, saham, atau aset tertentu lainnya.

Hal tersebut terjadi karena goodwill melekat pada keseluruhan bisnis yang diperoleh.

Misalnya, sebuah perusahaan memiliki reputasi kuat, basis pelanggan loyal, dan jaringan distribusi luas.

Nilai tersebut sulit dipisahkan menjadi satu aset yang dapat dijual secara individual. Karena itu, goodwill biasanya mengikuti transaksi penjualan atau akuisisi bisnis secara keseluruhan.


Apakah Goodwill Bisa Bernilai Negatif?

Kamu mungkin pernah menemukan istilah negative goodwill ketika harga pembelian perusahaan lebih rendah dibandingkan nilai aset bersih yang diperoleh.

Dalam praktik akuntansi modern, kondisi ini lebih dikenal sebagai bargain purchase.

Contohnya, sebuah perusahaan memiliki aset bersih senilai Rp15 miliar tetapi berhasil diakuisisi seharga Rp12 miliar.

Selisih Rp3 miliar tersebut bukan dicatat sebagai goodwill negatif biasa, tetapi perlu dievaluasi dan diperlakukan sesuai standar akuntansi yang berlaku.


Kesimpulan

Goodwill adalah aset tidak berwujud yang muncul ketika nilai akuisisi bisnis lebih tinggi daripada nilai wajar aset bersih teridentifikasinya. Nilai ini dapat mencerminkan reputasi, hubungan pelanggan, hingga potensi pertumbuhan perusahaan.

Dalam akuntansi, goodwill perlu dicatat dan dievaluasi untuk mengetahui kemungkinan impairment. Karena itu, memahami goodwill penting untuk membantu kamu membaca laporan keuangan dan transaksi akuisisi dengan lebih baik.


Rekomendasi Bootcamp Investment & Banking Terbaik di Indonesia: Dibimbing

Kalau kamu ingin berkarier di bidang investment dan banking, memahami teori keuangan saja belum cukup. Kamu juga perlu menguasai analisis investasi, financial modeling, studi kasus, hingga pengambilan keputusan berbasis data.

Bootcamp Investment & Banking Dibimbing dirancang untuk membantumu meningkatkan kemampuan melalui kelas interaktif, praktik bersama mentor, tugas mingguan, dan studi kasus nyata. Program ini cocok untuk mahasiswa, fresh graduate, profesional, maupun kamu yang ingin beralih karier ke bidang investasi dan perbankan.


Program Bootcamp Investment & Banking Dibimbing:

  1. Live Class: 50+ kelas dan 7 sesi praktik bersama mentor ahli.
  2. Weekly Assignment & Study Case: Tugas mingguan dan studi kasus untuk membantu membangun portofolio.
  3. 1-on-1 Consultation: Konsultasi tanpa batas bersama instruktur expert.
  4. Mentor Support: Pendampingan fasilitator dan mentor berdedikasi selama 24/7.
  5. Job Placement: Program graduation dan penyaluran kerja ke lebih dari 1.100 perusahaan.
  6. Final Project: Proyek akhir berbasis studi kasus nyata di bidang investment.
  7. Structured Curriculum: Kurikulum terstruktur untuk mempersiapkan karier sebagai Investment & Banking Analyst.
  8. Expertise Community: Bergabung dalam komunitas Investment & Banking untuk memperluas relasi dan berbagi wawasan.


Siap Berkarier di Bidang Investment & Banking?

Kalau kamu ingin mendalami analisis investasi, perbankan, dan pengambilan keputusan finansial secara lebih terarah, Bootcamp Investment & Banking Dibimbing bisa menjadi pilihan untuk meningkatkan kemampuanmu.

Yuk, persiapkan skill dan pengalaman yang dibutuhkan untuk memulai karier di bidang investment dan banking bersama Dibimbing!


FAQ

1. Apa Pengertian Goodwill?

Pengertian goodwill adalah aset tidak berwujud yang muncul ketika nilai akuisisi lebih tinggi daripada nilai wajar aset bersih teridentifikasi. Goodwill dalam akuntansi dicatat sebagai bagian dari aset hasil kombinasi bisnis.

2. Apa Arti Goodwill bagi Perusahaan?

Arti goodwill bagi perusahaan adalah nilai lebih yang melekat pada bisnis. Nilai goodwill dapat mencerminkan reputasi, hubungan pelanggan, dan potensi pertumbuhan.

3. Apa Saja Jenis Goodwill?

Jenis goodwill meliputi purchased goodwill dan internally generated goodwill. Namun, goodwill aset tidak berwujud yang terbentuk secara internal tidak dicatat sebagai aset.

4. Bagaimana Cara Menghitung Goodwill?

Cara menghitung goodwill menggunakan rumus goodwill, yaitu harga akuisisi dikurangi nilai wajar aset bersih teridentifikasi. Contoh goodwill muncul ketika nilai pembelian lebih tinggi daripada aset bersih perusahaan.

5. Apa Itu Impairment Goodwill?

Impairment goodwill adalah penurunan nilai goodwill ketika nilai tercatatnya tidak lagi sesuai dengan nilai ekonomis bisnis. Karena itu, pencatatan goodwill perlu dievaluasi secara berkala.

Kategori:

Share:

Penulis

Penulis Image

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.

Reviewer

Reviewer Image

Sudah Direview Oleh Expert

Setiap artikel yang berlabel "Sudah Direview Oleh Expert" telah melalui proses peninjauan oleh praktisi atau mentor yang berpengalaman di bidangnya untuk memastikan informasi yang disajikan berkualitas, akurat, dan relevan bagi pembaca.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!