dibimbing.id - 4 Cara Menghitung Valuasi Saham: Rumus dan Contohnya

4 Cara Menghitung Valuasi Saham: Rumus dan Contohnya

Farijihan Putri

19 March 2026

14

Image Banner

Ngomongin cara menghitung valuasi saham memang nggak ada habisnya, apalagi kalau kamu lagi serius mau terjun ke dunia investment banking. MinDi paham banget, topik ini kedengarannya teknis, tapi sebenarnya seru banget kalau udah ngerti dasarnya. 

Makanya, di artikel ini MinDi bakal ajak kamu buat kenalan lebih dekat sama rumus-rumus valuasi yang sering banget muncul di dunia kerja finance. Yuk, kita bahas bareng pelan-pelan biar makin pede pas masuk ke industri ini!


Apa Itu Valuasi Saham?

Valuasi saham adalah sebuah proses krusial untuk menentukan nilai intrinsik atau harga wajar dari sebuah perusahaan di pasar modal. Angka ini berfungsi sebagai indikator utama bagi investor untuk menilai apakah harga saham yang beredar saat ini tergolong murah atau justru terlalu mahal.

Melalui perhitungan yang akurat, kamu bisa terhindar dari jebakan membeli saham rongsokan dengan harga yang terlampau tinggi. Pemahaman konsep ini sangat penting karena harga pasar yang berfluktuasi setiap detik tidak selalu mencerminkan nilai perusahaan yang sesungguhnya.

Dengan membandingkan harga pasar dan nilai wajar tersebut, investor bisa mengambil keputusan jual atau beli secara lebih rasional dan berbasis data faktual. Oleh karena itu, menguasai ilmu perhitungan fundamental ini merupakan langkah awal yang wajib dilakukan oleh siapa saja yang ingin meraup keuntungan maksimal di bursa efek.

Baca Juga: Panduan Sukses Switch Career ke Investment Banking


4 Cara Menghitung Valuasi Saham

Sumber: Freepik

Biar Warga Bimbingan tidak salah langkah dalam berinvestasi, mari kita bedah empat metode paling populer yang sering digunakan oleh para analis profesional.


1. Price to Earnings Ratio (PER)

Rumus pertama nih, kita akan membahas cara menghitung valuasi saham menggunakan metode Price to Earnings Ratio (PER) yang sangat populer di kalangan investor.

PER mengukur seberapa besar pasar menghargai sebuah saham dibandingkan dengan laba bersih per saham atau Earnings Per Share (EPS) perusahaan.

Sebelum mencari nilai PER, hitunglah EPS dengan membagi total laba bersih dengan jumlah saham beredar.

  1. Rumus EPS = Laba Bersih ÷ Jumlah Saham Beredar}
  2. Rumus PER = Harga Saham ÷ EPS

Sebagai contoh, jika saham PT Makmur dihargai Rp1.000 per lembar dan EPS-nya Rp100, maka PER-nya adalah 10 kali. Interpretasinya, nilai PER yang rendah dibandingkan rata-rata industri menunjukkan bahwa saham tersebut berpotensi undervalued (murah).


2. Price to Book Value (PBV)

Selanjutnya, cara menghitung valuasi saham yang tidak kalah penting adalah menggunakan rasio Price to Book Value (PBV).

Metode ini membandingkan harga saham di pasar dengan nilai buku aset perusahaan setelah dikurangi seluruh kewajibannya. Untuk mendapatkan metrik ini, kamu wajib mencari Book Value Per Share (BVPS) terlebih dahulu.

  1. Rumus BVPS = Total Ekuitas ÷ Jumlah Saham Beredar
  2. Rumus PBV =Harga Saham ÷ BVPS

Contohnya, jika harga saham PT Jaya adalah Rp2.000 dan nilai BVPS-nya Rp2.500, maka PBV-nya adalah 0,8 kali. Secara umum, nilai PBV di bawah angka 1 sering dianggap murah karena harga saham tersebut berada di bawah nilai aset bersihnya.


3. Discounted Cash Flow (DCF)

Di samping itu, ada metode Discounted Cash Flow (DCF) yang lebih kompleks untuk mencari nilai intrinsik dengan memproyeksikan arus kas masa depan. Arus kas yang diproyeksikan tersebut kemudian didiskon kembali ke nilai saat ini untuk memperhitungkan nilai waktu dari uang.

Rumus dasar DCF:

Valuasi = Σ (Arus Kas Masa Depan ÷ (1 + r)^t)

( t = periode waktu, dan r = Tingkat Diskonto).

Sebagai ilustrasi, analis memproyeksikan arus kas perusahaan stabil selama lima tahun ke depan, lalu menarik nilai total tersebut ke hari ini. Pendekatan ini sangat cocok digunakan untuk menilai perusahaan yang memiliki proyeksi keuangan jangka panjang yang terprediksi.


4. Dividend Discount Model (DDM)

Terakhir, bagi kamu yang mengincar pendapatan pasif, metode Dividend Discount Model (DDM) adalah taktik yang sangat ampuh. Metode ini menilai sebuah saham berdasarkan nilai sekarang dari total dividen yang diharapkan akan dibayarkan perusahaan di masa depan.

Rumus dasar DDM:

P = {D_1} / {r - g}

(P = Nilai Harga Saham, D_1 = Dividen yang diharapkan tahun depan, r = Tingkat pengembalian, dan g = Tingkat pertumbuhan dividen).

Misalnya, jika perusahaan rutin membagikan dividen yang bertumbuh setiap tahunnya, investor bisa menghitung harga wajar saham tersebut hari ini. Metode ini sangat relevan untuk perusahaan mapan yang memiliki rekam jejak pembagian dividen konsisten.

Baca Juga: Rekomendasi Bootcamp Investment & Banking Terbaik


Langkah Praktis Menghitung Valuasi

Agar kamu bisa langsung mempraktikkan teori di atas, ikuti empat panduan sistematis berikut ini saat menganalisis emiten incaranmu.


1. Kumpulkan Data Laporan Keuangan

Langkah krusial pertama adalah mengumpulkan seluruh data fundamental yang dibutuhkan langsung dari sumber resmi perusahaan.

Kamu wajib mengunduh laporan keuangan terbaru, khususnya bagian laba rugi dan neraca, untuk mengetahui kesehatan finansial emiten secara utuh.

Selain itu, pastikan kamu juga mencatat harga saham terkini yang sedang berlangsung di bursa efek sebagai variabel pembanding utamanya.


2. Hitung Metrik EPS dan BVPS

Setelah semua data mentah terkumpul, tugasmu selanjutnya adalah melakukan perhitungan dasar untuk menentukan nilai per lembar saham yang beredar.

Kamu harus memformulasikan Earnings Per Share (EPS) untuk melihat porsi keuntungan dan Book Value Per Share (BVPS) untuk mengevaluasi nilai aset bersihnya.

Kedua angka fundamental inilah yang akan menjadi fondasi utama sebelum kamu melangkah ke tahapan analisis rasio yang lebih mendalam.


3. Gunakan Rasio PER dan PBV

Tahapan berikutnya adalah menerapkan formula rasio valuasi seperti PER atau PBV untuk mendapatkan gambaran pasti mengenai posisi harga emiten di pasar.

Namun, angka rasio yang berdiri sendiri tidak akan memiliki makna yang valid tanpa adanya sebuah tolok ukur yang jelas.

Oleh karena itu, kamu sangat diwajibkan untuk membandingkan rasio emiten tersebut dengan rata-rata kompetitor terdekat yang beroperasi di sektor industri yang sama.


4. Lakukan Analisis Keputusan

Sebagai penutup proses, kamu harus menarik kesimpulan tajam dari perbandingan rasio yang telah dilakukan pada tahap analisis sebelumnya.

Jika harga pasar berada di bawah nilai wajarnya, maka saham tersebut tergolong undervalued dan menawarkan potensi beli yang sangat menguntungkan.

Sebaliknya, jika harga pasar sudah terlampau tinggi dari nilai wajarnya, saham tersebut masuk kategori overvalued sehingga kamu sebaiknya segera melakukan aksi jual.


Saatnya Menguasai Analisis Saham Bersama Dibimbing!

Memahami cara mencari nilai wajar perusahaan, menggunakan metode analisis yang akurat, hingga mengeksekusi langkah praktis di atas adalah modal utama yang wajib dimiliki oleh para investor.

Jika Warga Bimbingan ingin mendalami dunia ini, yuk segera bergabung dengan Bootcamp Investment & Banking dari Dibimbing!

Program ini untuk mengubah pemula menjadi analis keuangan melalui fasilitas unggulan seperti puluhan Live Class bersama mentor ahli, pengerjaan tugas studi kasus untuk portofolio, hingga mentoring 1-on-1.

Selain deretan benefit berkelas tersebut, program intensif ini juga memberikan fasilitas penyaluran kerja di mana sudah ada 96% alumni yang terbukti sukses bekerja di berbagai perusahaan ternama.

Kalo ada pertanyaan, "Apakah bootcamp ini ramah untuk pemula?" atau "Bagaimana sistem belajarnya?", konsultasi gratis aja di sini! Dibimbing pasti #BimbingSampeJadi investment banking analyst andal!

MinDi harap kamu segera mengambil keputusan cerdas ini demi mengamankan masa depan finansialmu, sampai jumpa di kesuksesan kariermu selanjutnya!


FAQ

1. Apakah pemula harus menggunakan semua metode valuasi saham sekaligus?

Tidak harus. Sebagai langkah awal, pemula cukup fokus menguasai rasio dasar yang lebih sederhana seperti PER (Price to Earnings Ratio) dan PBV (Price to Book Value) sebelum melangkah ke perhitungan DCF yang lebih rumit.

2. Dimana saya bisa mendapatkan data untuk menghitung valuasi saham?

Kamu bisa mengunduh laporan keuangan emiten secara gratis dan terpercaya melalui situs web resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) atau langsung melihat ringkasan datanya di aplikasi sekuritas yang kamu gunakan.

3. Apakah saham yang undervalued selalu menjamin keuntungan pasti?

Belum tentu. Terkadang harga saham menjadi murah karena fundamental perusahaannya memang sedang anjlok parah (value trap). Jadi, pastikan kamu tetap menganalisis prospek bisnis perusahaannya di masa depan.

Share

Author Image

Farijihan Putri

Farijihan is a passionate Content Writer with 3 years of experience in crafting compelling content, optimizing for SEO, and developing creative strategies for various brands and industries.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!