Dibimbing - Design Brief: Arti, Isi, Contoh, dan Cara Membuatnya
Blog
UI/UX Design

Design Brief: Arti, Isi, Contoh, dan Cara Membuatnya

Author

DITULIS OLEH 

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Reviewer

DIREVIEW OLEH 

Sudah Direview Oleh Expert

Dibuat pada 10 Agt 2026

Diubah pada 10 Agt 2026

16

Image Thumbnail

Pernah merasa bingung karena permintaan desain dari klien kurang jelas? Design brief membantu klien dan desainer menyamakan arah proyek sejak awal.

Dokumen ini berisi tujuan, target audiens, ruang lingkup, dan tenggat proyek. Informasi tersebut membuat proses desain lebih terarah.

Warga Bimbingan, brief yang jelas juga membantu mengurangi revisi berulang. Hasil desain pun lebih mudah dievaluasi berdasarkan kebutuhan klien.

Nah, MinDi akan membahas arti, isi, contoh, dan cara membuatnya. Kamu juga bisa meningkatkan kemampuan melalui Bootcamp Graphic Design & UI/UX Dibimbing.

Baca Juga:

  1. Desain Grafis Adalah: Pengertian, Jenis, dan Manfaatnya
  2. Cara Memilih Graphic Design Styles yang Tepat
  3. Proses Desain UI/UX: Contoh Workflow dari Riset sampai Pengujian
  4. 6 Langkah Design Workflow untuk Membangun UI/UX yang Solid


Apa Itu Design Brief?

Design brief adalah dokumen yang merangkum informasi utama, tujuan, kebutuhan, dan ekspektasi dalam sebuah proyek desain. Dokumen ini menjadi panduan bersama bagi klien, desainer, dan pihak lain yang terlibat selama proses pengerjaan.

Menurut Asana, design brief berfungsi sebagai peta kerja yang menyelaraskan klien dan desainer menuju hasil yang sama. Isinya biasanya mencakup tujuan proyek, target audiens, ruang lingkup, hasil akhir, anggaran, dan jadwal pengerjaan.

Dokumen ini dapat digunakan dalam pembuatan identitas merek, konten media sosial, kemasan, poster, situs web, hingga aplikasi. Formatnya pun fleksibel, mulai dari dokumen tertulis, formulir, presentasi, sampai halaman pada aplikasi manajemen proyek.


Apa Fungsi Design Brief?

Design brief bukan sekadar daftar permintaan dari klien. Berikut lima fungsi utamanya dalam pengerjaan proyek desain:


1. Menyamakan Pemahaman Proyek

Design brief membantu semua pihak memahami tujuan dan arah proyek sejak awal. Klien dapat menjelaskan kebutuhannya, sedangkan desainer bisa memastikan apakah permintaan tersebut sudah cukup jelas. Kesepakatan ini mengurangi perbedaan persepsi selama proses pengerjaan.


2. Menjadi Pedoman bagi Desainer

Desainer membutuhkan batasan agar eksplorasi kreatif tetap relevan dengan kebutuhan klien. 

Informasi mengenai audiens, pesan, gaya visual, dan identitas merek dapat dijadikan dasar dalam mengambil keputusan desain. Dengan begitu, kreativitas tetap berkembang tanpa keluar dari tujuan utama.


3. Mengurangi Revisi Berulang

Revisi sering terjadi ketika permintaan klien belum terdokumentasi dengan jelas. Design brief memberikan acuan yang dapat digunakan untuk mengevaluasi apakah hasil desain sudah sesuai kesepakatan. Proses revisi pun menjadi lebih terarah dan tidak hanya berdasarkan selera pribadi.


4. Membantu Mengelola Waktu dan Anggaran

Dokumen ini mencantumkan jadwal, tahapan pekerjaan, serta hasil yang harus diserahkan. Tim dapat memperkirakan sumber daya dan biaya yang diperlukan sebelum proyek berjalan. 

Risiko keterlambatan atau pekerjaan tambahan di luar kesepakatan juga lebih mudah dikendalikan.


5. Menjadi Dasar Evaluasi Hasil Desain

Desain yang baik bukan hanya menarik, tetapi juga mampu memenuhi tujuan proyek. Tim dapat membandingkan hasil akhir dengan indikator keberhasilan yang tercantum dalam brief. Evaluasi menjadi lebih objektif karena didasarkan pada kebutuhan audiens dan bisnis.


Apa Saja Isi Design Brief?

Isi design brief dapat berbeda sesuai jenis dan kompleksitas proyek. Namun, dokumen yang baik umumnya memiliki beberapa unsur berikut:


1. Latar Belakang Proyek

Jelaskan alasan proyek desain perlu dikerjakan dan masalah yang ingin diselesaikan. Informasi ini memberikan konteks agar desainer tidak hanya memahami apa yang dibuat, tetapi juga alasan di balik pembuatannya.


2. Tujuan Desain

Tentukan hasil yang ingin dicapai melalui desain tersebut. Tujuannya dapat berupa meningkatkan kesadaran merek, memperkenalkan produk, menaikkan konversi, atau mempermudah pengguna dalam menjalankan fitur tertentu.


3. Target Audiens

Tuliskan karakteristik orang yang akan melihat atau menggunakan desain. Informasinya dapat mencakup usia, pekerjaan, lokasi, kebutuhan, perilaku, hingga permasalahan yang mereka hadapi.


4. Pesan Utama

Pesan utama merupakan informasi paling penting yang harus dipahami audiens. Pesan sebaiknya singkat, spesifik, dan sesuai dengan tujuan komunikasi agar hierarki visual bisa dirancang dengan tepat.


5. Ruang Lingkup dan Deliverables

Bagian ini menjelaskan pekerjaan yang termasuk maupun tidak termasuk dalam proyek. Cantumkan pula bentuk deliverables, seperti logo, poster, halaman situs web, konten media sosial, atau purwarupa aplikasi.


6. Panduan Merek dan Referensi Visual

Sertakan logo, warna, tipografi, gaya ilustrasi, serta brand guideline yang harus digunakan. Referensi visual dapat membantu menunjukkan suasana desain, tetapi sebaiknya tidak membatasi kreativitas desainer secara berlebihan.


7. Jadwal dan Anggaran

Tuliskan waktu mulai, tenggat setiap tahap, jadwal presentasi, serta tanggal penyerahan akhir. Cantumkan juga anggaran agar desainer dapat menyesuaikan proses, sumber daya, dan tingkat kompleksitas desain.


8. Pihak yang Terlibat

Tentukan siapa yang bertanggung jawab memberikan materi, meninjau desain, dan menyetujui hasil akhir. Alur persetujuan yang jelas dapat mencegah munculnya masukan berbeda dari terlalu banyak pihak.


Apa Perbedaan Design Brief dan Creative Brief?

Design brief dan creative brief sama-sama digunakan untuk mengarahkan pekerjaan kreatif, tetapi fokus keduanya berbeda. Design brief lebih menekankan kebutuhan bisnis dan teknis proyek, sedangkan creative brief membahas arah komunikasi serta eksekusi kreatif secara lebih mendalam.

Menurut Adobe, creative brief berisi tujuan, ruang lingkup, dan elemen utama sebagai panduan bagi tim kreatif. Dokumen ini dapat mencakup pesan kampanye, nada komunikasi, respons yang diharapkan dari audiens, serta saluran distribusi.

Secara sederhana, design brief menjawab pertanyaan “Apa yang perlu dibuat dan mengapa?”, sementara creative brief menjawab “Bagaimana pesan tersebut akan disampaikan secara kreatif?”. Pada proyek sederhana, keduanya dapat digabungkan dalam satu dokumen.


Bagaimana Cara Membuat Design Brief?

bagaimana-cara-membuat-design-brief

Sumber: Desain oleh Dibimbing

Membuat design brief tidak harus menggunakan format yang rumit. Kamu bisa mengikuti tujuh tahapan berikut agar informasinya tetap lengkap dan mudah dipahami:


1. Gali Kebutuhan Klien

Mulailah dengan melakukan wawancara atau mengirim formulir kepada klien. Tanyakan masalah yang sedang dihadapi, alasan proyek dibuat, dan hasil yang ingin dicapai.


2. Tentukan Tujuan yang Spesifik

Ubah permintaan umum menjadi tujuan yang lebih terukur. Misalnya, permintaan “membuat tampilan lebih modern” dapat diperjelas menjadi “memperbarui tampilan situs agar sesuai dengan identitas merek dan mudah digunakan pengguna berusia 18–30 tahun”.


3. Kenali Target Audiens

Kumpulkan informasi mengenai pengguna yang akan berinteraksi dengan desain. Pemahaman audiens akan memengaruhi pilihan warna, bahasa, ukuran tulisan, ilustrasi, hingga struktur informasi.


4. Tentukan Ruang Lingkup Pekerjaan

Tuliskan jumlah desain, ukuran, format berkas, media publikasi, dan batas revisi. Informasi ini mencegah bertambahnya pekerjaan yang belum disepakati atau sering disebut scope creep.


5. Kumpulkan Aset dan Referensi

Mintalah logo, panduan merek, foto, teks, dan aset pendukung lainnya sebelum pengerjaan dimulai. Pastikan pula lisensi aset memungkinkan penggunaannya untuk kepentingan proyek.


6. Susun Jadwal Pengerjaan

Bagi proyek menjadi beberapa tahapan, seperti riset, pembuatan konsep, presentasi, revisi, dan penyerahan. Berikan waktu yang cukup untuk proses peninjauan agar tenggat akhir tetap realistis.


7. Minta Persetujuan Semua Pihak

Kirimkan dokumen kepada klien dan pemangku kepentingan untuk diperiksa. Proyek sebaiknya dimulai setelah tujuan, ruang lingkup, jadwal, anggaran, dan hasil akhir mendapat persetujuan.


Contoh Design Brief Sederhana

Berikut contoh design brief untuk proyek konten media sosial sebuah kedai kopi:

  1. Nama proyek: Desain Kampanye Peluncuran Menu Kopi Susu Baru
  2. Latar belakang: Kedai ingin memperkenalkan menu baru kepada pelanggan muda.
  3. Tujuan: Meningkatkan kesadaran terhadap produk dan mendorong kunjungan ke kedai.
  4. Target audiens: Mahasiswa dan pekerja berusia 18–30 tahun di wilayah perkotaan.
  5. Pesan utama: Kopi susu lokal dengan rasa ringan dan harga terjangkau.
  6. Deliverables: Lima konten Instagram, tiga story, dan satu poster digital.
  7. Gaya visual: Cerah, kasual, modern, serta menggunakan warna merek.
  8. Tenggat: Konsep awal diserahkan dalam lima hari kerja.
  9. Anggaran: Disesuaikan dengan jumlah konten dan dua tahap revisi.

Contoh tersebut dapat dikembangkan sesuai kebutuhan proyek. Untuk proyek UI/UX, kamu dapat menambahkan alur pengguna, kebutuhan fitur, platform, perangkat, dan indikator keberhasilan produk.


1. Contoh Desain Brief Logo Perusahaan 

Design brief logo membantu desainer memahami karakter, nilai, dan target audiens perusahaan. 

Informasi tersebut digunakan untuk menentukan bentuk, warna, tipografi, serta gaya visual yang tepat.

Contoh:

contoh-desain-brief-logo-perusahaan


2. Contoh Desain Brief Poster

Design brief poster berfokus pada pesan utama, hierarki informasi, dan tindakan yang diharapkan dari audiens. 

Desainer juga perlu mengetahui ukuran, media publikasi, serta identitas visual yang digunakan.

Contoh:

contoh-desain-brief-poster


3. Contoh Desain Brief UI/UX

Design brief UI/UX menjelaskan kebutuhan pengguna, tujuan produk, fitur, dan platform yang akan dirancang. 

Dokumen ini menjadi dasar untuk melakukan riset, menyusun user flow, membuat wireframe, dan mengembangkan purwarupa.

Contoh:

contoh-desain-brief-ui-ux


Kesalahan saat Membuat Design Brief

Design brief yang terlalu panjang belum tentu lebih efektif. Dokumen ini perlu cukup terperinci untuk memberikan arah, tetapi tetap ringkas agar mudah digunakan selama proses desain.

Beberapa kesalahan yang perlu kamu hindari meliputi:

  1. Menggunakan tujuan yang terlalu umum.
  2. Tidak menjelaskan karakteristik target audiens.
  3. Memberikan terlalu banyak referensi yang saling bertentangan.
  4. Tidak menentukan batas pekerjaan dan jumlah revisi.
  5. Menetapkan tenggat tanpa mempertimbangkan tingkat kesulitan.
  6. Tidak menentukan pihak yang memberikan persetujuan akhir.
  7. Mengarahkan desainer pada satu solusi sebelum proses eksplorasi.

Brief seharusnya memberikan arah, bukan mendikte seluruh keputusan visual. Desainer tetap membutuhkan ruang untuk melakukan riset dan menawarkan solusi berdasarkan keahliannya.


Download Template Design Brief

Ingin menyusun arahan proyek desain dengan lebih praktis? Kamu bisa menggunakan template design brief yang berisi latar belakang proyek, tujuan desain, ringkasan utama, dan daftar deliverables.

Silakan download template design brief melalui Google Docs, lalu buat salinan sebelum mengeditnya. Kamu dapat menyesuaikan setiap bagian dengan kebutuhan proyek logo, poster, maupun UI/UX.

Baca Juga:

  1. 6 Tahapan Desain dalam Menciptakan UI yang Ramah Pengguna
  2. Wireframing Tools Terbaik untuk Desain UI/UX Profesional
  3. 10 Prinsip Desain UI/UX Terbaik
  4. 5 Contoh Portofolio Desain Grafis Terbaik


Kesimpulan

Design brief adalah dokumen yang membantu klien dan desainer menyepakati tujuan, target audiens, ruang lingkup, serta hasil akhir proyek. Dokumen yang jelas membuat proses desain lebih terarah dan mengurangi risiko revisi berulang.

Untuk membuatnya, kamu perlu mencantumkan kebutuhan proyek, referensi visual, jadwal, anggaran, dan pihak yang bertanggung jawab. Dengan begitu, hasil desain dapat memenuhi kebutuhan klien sekaligus tetap relevan bagi audiens.


Bootcamp Graphic Design & UI/UX Terbaik: Dibimbing

Kalau kamu ingin berkarier sebagai graphic designer atau UI/UX Designer, menguasai teori saja belum cukup. Kamu juga perlu memahami prinsip desain, menggunakan software industri, menyusun design brief, dan membangun portofolio yang relevan.

Bootcamp Graphic Design & UI/UX Dibimbing dirancang untuk mahasiswa, fresh graduate, dan profesional yang ingin upskill atau beralih karier. Program ini menggabungkan kelas interaktif, praktik, proyek nyata, dan pendampingan mentor ahli.


Program Bootcamp Graphic Design & UI/UX Dibimbing:

  1. Kelas dan Praktik: 40+ live class dan 10+ sesi praktik bersama mentor.
  2. Portofolio: Mengerjakan 20+ proyek dan real case.
  3. Proyek Akhir: Menyelesaikan proyek sesuai standar industri.
  4. Mentoring: Pendampingan fasilitator 24/7 dan one-on-one mentoring tanpa batas.
  5. Penyaluran Kerja: Terhubung dengan lebih dari 1.100 perusahaan mitra.
  6. Komunitas: Akses ke komunitas Graphic Design dan UI/UX.
  7. Persiapan Karier: Mengikuti simulasi tes rekrutmen kerja.


Siap Berkarier di Bidang Graphic Design dan UI/UX?

Melalui program ini, kamu bisa belajar secara terstruktur, membangun portofolio, dan mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan industri kreatif. 

Kunjungi Bootcamp Graphic Design & UI/UX Dibimbing untuk melihat kurikulum, jadwal, dan informasi pendaftaran.


FAQ

1. Apa Pengertian Design Brief?

Design brief adalah dokumen yang merangkum tujuan, kebutuhan, dan ekspektasi dalam sebuah proyek desain. Dokumen ini menjadi pedoman kerja bagi klien dan desainer.

2. Apa Fungsi Design Brief?

Fungsi design brief adalah menyamakan pemahaman, mengarahkan proses pengerjaan, dan mengurangi revisi berulang. Dokumen ini juga membantu tim mengevaluasi hasil desain.

3. Apa Saja Isi Design Brief?

Isi design brief biasanya mencakup tujuan, target audiens, ruang lingkup, referensi visual, deliverables, jadwal, dan anggaran. Informasinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan proyek.

4. Bagaimana Cara Membuat Design Brief?

Cara membuat design brief dimulai dengan menggali kebutuhan klien dan menentukan tujuan proyek. Setelah itu, susun informasi secara ringkas, lalu mintalah persetujuan pihak terkait.

5. Apa Perbedaan Design Brief dan Creative Brief?

Design brief berfokus pada kebutuhan dan batasan proyek desain. Sementara itu, creative brief lebih menekankan pesan, konsep, serta arah eksekusi kreatif.

Kategori:

Share:

Penulis

Penulis Image

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.

Reviewer

Reviewer Image

Sudah Direview Oleh Expert

Setiap artikel yang berlabel "Sudah Direview Oleh Expert" telah melalui proses peninjauan oleh praktisi atau mentor yang berpengalaman di bidangnya untuk memastikan informasi yang disajikan berkualitas, akurat, dan relevan bagi pembaca.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!