Decision Making Adalah: Proses, Jenis, dan Contohnya
DITULIS OLEH
Irhan Hisyam Dwi Nugroho
DIREVIEW OLEH
Sudah Direview Oleh Expert
Dibuat pada 19 Agt 2026
Diubah pada 20 Sep 2026
101
Decision making adalah proses memilih tindakan terbaik dari beberapa alternatif. Kemampuan ini dibutuhkan untuk menentukan prioritas dan menyelesaikan masalah dalam dunia kerja.
Namun, pengambilan keputusan bukan sekadar memilih opsi yang paling mudah, lho. Kamu perlu mempertimbangkan informasi, manfaat, dan risiko dari setiap pilihan.
Kemampuan decision making membantu Warga Bimbingan menghasilkan keputusan berbasis data. Skill ini juga penting dalam menentukan keputusan strategis dan strategi bisnis.
Lantas, bagaimana proses dan jenis pengambilan keputusan yang tepat? Yuk, simak penjelasan lengkapnya bersama MinDi!
Baca Juga:
- Pelatihan Problem Solving & Decision Making untuk Karyawan
- Problem Solving Adalah: Definisi, Tujuan, Langkah, & Contoh
- 7 Problem Solving Framework untuk Mengatasi Masalah
- 10 Problem Solving Tools Terbaik untuk Atasi Masalah
Apa Itu Decision Making?
Decision making atau pengambilan keputusan adalah proses menentukan satu tindakan dari beberapa alternatif berdasarkan tujuan, informasi, kriteria, dan konsekuensi yang dipertimbangkan. Hasilnya dapat berupa keputusan untuk bertindak, menunda tindakan, atau tidak melakukan sesuatu.
Sementara itu, decision making skill adalah kemampuan seseorang dalam menjalankan proses tersebut secara sistematis. Kemampuan ini melibatkan pemikiran kritis, analisis data, penilaian risiko, komunikasi, dan keberanian mengambil tindakan.
Keputusan yang baik bukan berarti selalu memberikan hasil sempurna. Sebuah keputusan dapat disebut baik apabila dibuat melalui proses yang logis, menggunakan informasi relevan, mempertimbangkan risiko, dan dapat dievaluasi.
Mengapa Decision Making Penting dalam Dunia Kerja?
Setiap karyawan akan menghadapi situasi yang membutuhkan keputusan, baik pada tingkat operasional maupun strategis. Berikut alasan mengapa kemampuan tersebut penting dalam dunia kerja:
1. Meningkatkan Efisiensi Kerja
Keputusan yang jelas membantu tim menentukan prioritas dan menggunakan sumber daya secara tepat. Dengan begitu, waktu dan tenaga tidak habis untuk mengerjakan aktivitas yang dampaknya rendah.
2. Mengurangi Risiko Kesalahan
Proses pengambilan keputusan mendorong seseorang untuk memeriksa informasi sebelum bertindak. Analisis tersebut membantu menemukan risiko dan menyiapkan langkah antisipasi.
3. Mempercepat Penyelesaian Masalah
Kemampuan decision making membantu tim memilih solusi setelah akar masalah dan alternatifnya ditemukan. Tanpa keputusan, proses problem solving dapat berhenti pada tahap diskusi.
4. Meningkatkan Kepercayaan Diri
Seseorang akan lebih percaya diri ketika memiliki alasan yang jelas di balik pilihannya. Ia juga dapat menjelaskan dasar keputusan tersebut kepada rekan kerja maupun atasan.
5. Mendukung Inovasi
Pengambilan keputusan memungkinkan perusahaan menguji gagasan baru dengan risiko yang terukur. Perusahaan pun tidak hanya bertahan pada cara lama yang belum tentu sesuai dengan perkembangan pasar.
Apa Tujuan Decision Making?
Tujuan utama decision making adalah menemukan tindakan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan sasaran. Secara lebih spesifik, berikut tujuan pengambilan keputusan:
- Menentukan solusi terbaik dari beberapa pilihan.
- Meningkatkan peluang tercapainya tujuan.
- Mengurangi risiko dan ketidakpastian.
- Menentukan prioritas penggunaan sumber daya.
- Memperjelas tanggung jawab setiap pihak.
- Menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan.
- Membantu organisasi merespons perubahan.
Apa Saja Jenis Decision Making?
Jenis pengambilan keputusan dapat dibedakan berdasarkan sifat masalah, jangka waktu, dan tingkat kepentingannya. Berikut ringkasannya:
Jenis Keputusan | Karakteristik | Contoh |
Terprogram | Rutin dan memiliki prosedur | Pemesanan ulang stok |
Tidak terprogram | Baru, kompleks, dan belum memiliki prosedur | Merespons krisis perusahaan |
Strategis | Berdampak jangka panjang | Membuka cabang baru |
Taktis | Menerjemahkan strategi menjadi rencana | Membagi anggaran pemasaran |
Operasional | Berkaitan dengan aktivitas sehari-hari | Menyusun jadwal kerja |
Individu | Dibuat oleh satu orang | Menentukan prioritas tugas |
Kelompok | Melibatkan beberapa pihak | Memilih strategi peluncuran produk |
Keputusan strategis biasanya memerlukan informasi dan analisis lebih mendalam karena dampaknya besar. Sebaliknya, keputusan operasional cenderung lebih sering dibuat dan berhubungan dengan kelancaran aktivitas harian.
Bagaimana Proses Decision Making?
Sumber: Canva
Proses decision making yang terstruktur membantu kamu menghasilkan keputusan yang lebih logis, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Berikut lima tahapan pengambilan keputusan yang dapat Warga Bimbingan terapkan:
1. Mengidentifikasi Masalah dan Tujuan
Tentukan kesenjangan antara kondisi saat ini dan kondisi yang ingin dicapai. Pastikan kamu menemukan akar masalah, bukan hanya gejala yang terlihat. Setelah itu, tentukan tujuan dan indikator keberhasilan dari keputusan tersebut.
2. Mengumpulkan Informasi
Kumpulkan data internal, hasil riset, masukan pelanggan, atau pendapat ahli sesuai kebutuhan.
Pastikan informasi yang dipilih relevan dan berasal dari sumber tepercaya. Hindari mengumpulkan terlalu banyak informasi yang tidak memengaruhi keputusan.
3. Menyusun Beberapa Alternatif
Buat beberapa pilihan yang realistis dan dapat diterapkan sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
Pertimbangkan kebutuhan sumber daya, waktu, dan kemungkinan dampak dari setiap alternatif. Hindari hanya membandingkan “ya” atau “tidak” apabila masih tersedia pilihan lain.
4. Mengevaluasi dan Memilih Alternatif
Bandingkan manfaat, biaya, kelemahan, serta risiko dari setiap alternatif menggunakan kriteria yang sama.
Kamu dapat menggunakan matriks keputusan, analisis SWOT, atau analisis biaya-manfaat agar penilaiannya lebih objektif. Pilih alternatif yang memberikan manfaat terbesar dengan tingkat risiko yang masih dapat diterima.
5. Menerapkan dan Memantau Keputusan
Tentukan penanggung jawab, kebutuhan sumber daya, waktu pelaksanaan, dan indikator keberhasilan keputusan.
Pantau hasil aktual selama keputusan tersebut diterapkan. Jika hasilnya belum sesuai, identifikasi penyebabnya dan lakukan penyesuaian.
Metode Apa yang Bisa Digunakan dalam Decision Making?
Beberapa metode dapat membantu kamu membandingkan alternatif secara lebih sistematis dan objektif. Berikut lima metode pengambilan keputusan yang umum digunakan:
1. Matriks Keputusan
Matriks keputusan digunakan untuk membandingkan beberapa alternatif berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.
Setiap kriteria dapat diberi bobot sesuai dengan tingkat kepentingannya. Alternatif dengan nilai keseluruhan tertinggi bisa dipertimbangkan sebagai keputusan utama.
2. Analisis SWOT
Analisis SWOT membantu kamu menilai kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dari setiap pilihan.
Metode ini memberikan gambaran mengenai faktor internal dan eksternal yang dapat memengaruhi keputusan. Analisis SWOT cocok digunakan dalam perencanaan bisnis, pengembangan produk, dan penyusunan strategi.
3. Analisis Biaya-Manfaat
Analisis biaya-manfaat membandingkan biaya yang harus dikeluarkan dengan manfaat yang berpotensi diperoleh.
Perbandingan tersebut membantu kamu melihat apakah sebuah pilihan layak diterapkan. Alternatif dengan manfaat paling besar dan biaya yang masih dapat diterima bisa diprioritaskan.
4. Decision Tree
Decision tree menggambarkan pilihan, kemungkinan hasil, dan konsekuensinya dalam bentuk cabang.
Setiap cabang menunjukkan skenario yang mungkin terjadi setelah suatu keputusan diambil. Metode ini cocok digunakan ketika keputusan memiliki beberapa pilihan dan hasil lanjutan.
Analisis risiko digunakan untuk menilai kemungkinan terjadinya risiko dan besarnya dampak yang dapat ditimbulkan.
Hasil analisis membantu kamu membandingkan tingkat risiko dari setiap alternatif. Kamu juga dapat menyiapkan strategi mitigasi sebelum keputusan diterapkan.
Contoh Decision Making di Berbagai Divisi
Penerapan pengambilan keputusan dapat berbeda sesuai fungsi setiap divisi. Berikut beberapa contohnya:
Divisi | Situasi | Keputusan |
Marketing | Performa iklan menurun | Memilih kanal promosi baru |
Sales | Penjualan tidak mencapai target | Menyesuaikan strategi penawaran |
Finance | Anggaran terbatas | Menentukan prioritas investasi |
Human Resources | Banyak kandidat memenuhi kriteria | Memilih kandidat berdasarkan kebutuhan |
IT | Sistem lama tidak lagi efisien | Memilih teknologi pengganti |
Project Management | Proyek mengalami keterlambatan | Mengatur ulang sumber daya |
Agar keputusan dapat dievaluasi, setiap divisi perlu menetapkan indikator keberhasilan. Contohnya meliputi peningkatan penjualan, penghematan biaya, percepatan proses, atau penurunan jumlah kesalahan.
Apa Perbedaan Decision Making dan Problem Solving?
Decision making dan problem solving merupakan dua proses yang berhubungan, tetapi memiliki fokus berbeda. Berikut perbandingannya:
Aspek | Decision Making | Problem Solving |
Fokus | Memilih tindakan | Memahami dan menyelesaikan masalah |
Tujuan | Menentukan alternatif terbaik | Menemukan solusi |
Proses | Membandingkan beberapa pilihan | Mencari akar masalah |
Hasil | Keputusan atau tindakan | Alternatif solusi |
Penggunaan | Dapat dilakukan tanpa masalah | Dilakukan ketika terdapat masalah |
Problem solving biasanya menghasilkan beberapa alternatif solusi. Setelah itu, decision making digunakan untuk memilih solusi yang paling sesuai untuk diterapkan.
Skill Apa yang Dibutuhkan dalam Decision Making?
Pengambilan keputusan membutuhkan kombinasi keterampilan teknis dan nonteknis. Berikut beberapa kemampuan yang perlu dikembangkan:
- Critical thinking untuk menilai informasi secara objektif.
- Analisis data untuk menemukan pola dan bukti.
- Problem solving untuk memahami akar masalah.
- Komunikasi untuk menjelaskan alasan keputusan.
- Kolaborasi untuk mengumpulkan perspektif berbeda.
- Kreativitas untuk menghasilkan alternatif baru.
- Manajemen risiko untuk mengantisipasi konsekuensi.
- Integritas untuk menjaga keputusan tetap etis.
Apa Saja Tantangan dalam Mengambil Keputusan?
Mengambil keputusan tidak selalu berjalan mudah karena informasi dan kondisi yang tersedia bisa terbatas. Berikut beberapa tantangan yang sering muncul:
- Kekurangan informasi, sehingga dampak pilihan sulit diperkirakan.
- Terlalu banyak informasi, sehingga seseorang kesulitan menentukan data yang relevan.
- Tekanan waktu, yang membuat proses analisis menjadi terbatas.
- Konflik kepentingan, karena setiap pihak memiliki prioritas berbeda.
- Ketakutan akan kegagalan, yang dapat mendorong keputusan terlalu hati-hati.
- Analysis paralysis, yaitu terus menganalisis tanpa mengambil tindakan.
- Bias kognitif, yang membuat informasi dinilai secara tidak seimbang.
Bias Apa yang Dapat Memengaruhi Decision Making?
Bias kognitif dapat membuat seseorang mengambil keputusan berdasarkan pola pikir yang tidak objektif. Berikut beberapa jenis bias yang perlu diwaspadai:
- Confirmation bias: Hanya mencari informasi yang mendukung keyakinan sendiri.
- Anchoring bias: Terlalu bergantung pada informasi pertama yang diterima.
- Overconfidence bias: Terlalu percaya pada pengetahuan atau kemampuan pribadi.
- Availability bias: Menilai kemungkinan berdasarkan informasi yang paling mudah diingat.
- Sunk cost fallacy: Mempertahankan keputusan karena sudah mengeluarkan banyak biaya atau usaha.
Bias dapat dikurangi dengan mencari bukti yang berlawanan, menggunakan kriteria terukur, dan melibatkan orang dengan perspektif berbeda. Dokumentasi alasan keputusan juga membantu proses evaluasi menjadi lebih objektif.
Bagaimana Cara Meningkatkan Kemampuan Decision Making?
Kemampuan mengambil keputusan dapat ditingkatkan melalui latihan, kebiasaan, dan evaluasi dari pengalaman sebelumnya. Berikut lima cara yang bisa Warga Bimbingan terapkan untuk mengembangkan kemampuan decision making:
1. Definisikan Masalah Secara Spesifik
Jelaskan kondisi saat ini, target, pihak yang terdampak, dan batasan yang dihadapi secara spesifik.
Pastikan kamu tidak menganggap gejala sebagai akar masalah. Rumusan yang jelas akan mempermudah pencarian alternatif keputusan.
2. Gunakan Data Secara Proporsional
Kumpulkan informasi yang benar-benar relevan dan dapat memengaruhi setiap pilihan. Tetapkan batas waktu analisis agar kamu tidak mengalami analysis paralysis.
Data seharusnya membantu pengambilan keputusan, bukan menjadi alasan untuk terus menundanya.
3. Pertimbangkan Perspektif Berbeda
Mintalah pendapat dari rekan kerja, mentor, atau pihak yang terdampak oleh keputusan tersebut.
Perspektif berbeda dapat membantu menemukan risiko atau informasi yang sebelumnya terlewat. Cara ini juga mengurangi pengaruh confirmation bias.
4. Gunakan Matriks Keputusan
Matriks keputusan membantu kamu membandingkan alternatif berdasarkan kriteria yang sama. Berikan bobot pada aspek seperti biaya, waktu, manfaat, kemudahan penerapan, dan risiko. Alternatif dengan nilai keseluruhan paling sesuai dapat dijadikan pilihan utama.
5. Evaluasi Hasil Keputusan
Bandingkan hasil aktual dengan target dan perkiraan yang telah ditentukan sebelumnya. Identifikasi informasi, risiko, atau asumsi yang sempat terlewat tanpa langsung menyalahkan pihak tertentu. Gunakan hasil evaluasi tersebut untuk memperbaiki keputusan berikutnya.
Apa Ciri-Ciri Keputusan yang Baik?
Keputusan yang baik tidak hanya dinilai berdasarkan hasil akhirnya. Berikut beberapa indikator yang dapat digunakan:
- Selaras dengan tujuan yang ingin dicapai.
- Menggunakan informasi yang relevan.
- Mempertimbangkan beberapa alternatif.
- Memiliki risiko yang dapat diterima.
- Realistis untuk diterapkan.
- Memiliki penanggung jawab yang jelas.
- Dapat diukur dan dievaluasi.
Dengan indikator tersebut, perusahaan dapat membedakan kualitas proses pengambilan keputusan dari hasil yang hanya dipengaruhi keberuntungan. Evaluasi pun dapat dilakukan tanpa langsung menyalahkan pihak tertentu.
Baca Juga:
- 15 Contoh Kasus Problem Solving dan Penyelesaiannya
- 12 Skill yang Harus Dimiliki Business Analyst 2026
- Strategic Thinking Adalah: Pengertian dan Cara Meningkatkannya
Kesimpulan
Decision making adalah proses memilih tindakan terbaik dari beberapa alternatif berdasarkan tujuan, informasi, manfaat, dan risiko yang tersedia. Dengan proses yang terstruktur, Warga Bimbingan dapat menghasilkan keputusan yang lebih objektif, tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kemampuan ini dapat ditingkatkan dengan membiasakan diri menganalisis masalah, menggunakan data, serta mengevaluasi hasil keputusan. Terus latih kemampuan decision making agar kamu semakin siap menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan maupun dunia kerja.
Rekomendasi Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Terbaik: Dibimbing
Kalau kamu ingin berkarier sebagai Business Analyst atau Product Manager, memahami teori bisnis saja belum cukup. Kamu juga perlu menguasai analisis data, problem solving, riset pasar, hingga penyusunan strategi produk yang relevan dengan kebutuhan industri.
Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Dibimbing dirancang untuk membantumu meningkatkan kemampuan melalui live class, tugas terstruktur, dan pendampingan mentor profesional. Program ini cocok untuk mahasiswa, fresh graduate, profesional, maupun kamu yang ingin beralih karier.
Program Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Dibimbing:
- 60+ Live Class dan 7+ Extra Live Session: Belajar secara interaktif bersama mentor ahli dan praktisi berpengalaman.
- Structured Weekly Assignment: Kerjakan tugas mingguan terstruktur untuk membangun portofolio profesional.
- Technical Problem Class: Tingkatkan kemampuan teknis dan problem solving sebagai Business Analyst atau Product Manager.
- 1-on-1 Unlimited Personalized Session: Nikmati sesi personal tanpa batas bersama instruktur ahli.
- Pendampingan 24/7: Dapatkan dukungan dari fasilitator dan mentor berdedikasi selama proses belajar.
- 12 Minggu Pengalaman Magang: Terapkan kemampuanmu secara langsung di perusahaan rekanan Dibimbing.
- Graduation dan Penyaluran Kerja: Dapatkan kesempatan penyaluran kerja ke lebih dari 700 perusahaan.
- Komunitas Profesional: Bergabunglah dalam komunitas Business Analyst & Product Strategy untuk membangun relasi dan berbagi pengetahuan.
Siap Berkarier sebagai Business Analyst?
Kalau kamu ingin menguasai analisis bisnis, strategi produk, dan pengambilan keputusan berbasis data, Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Dibimbing bisa menjadi pilihan yang tepat. Yuk, mulai perjalanan kariermu sebagai Business Analyst atau Product Manager bersama Dibimbing!
FAQ
1. Apa yang Dimaksud dengan Decision Making?
Decision making adalah proses pengambilan keputusan untuk memilih tindakan terbaik dari beberapa alternatif yang tersedia. Proses ini melibatkan analisis keputusan, tujuan, informasi, dan risiko keputusan yang mungkin muncul.
2. Apa Saja Tahapan dalam Proses Pengambilan Keputusan?
Proses pengambilan keputusan meliputi identifikasi masalah, pengumpulan informasi, penyusunan alternatif, evaluasi pilihan, penerapan keputusan, dan pemantauan hasil. Setiap tahapan membantu menghasilkan keputusan berbasis data yang lebih objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
3. Apa Perbedaan Decision Making dan Problem Solving?
Problem solving berfokus pada identifikasi masalah dan pencarian beberapa alternatif solusi. Sementara itu, decision making menggunakan kemampuan critical thinking untuk membandingkan alternatif dan memilih solusi yang paling sesuai.
4. Apa yang Dimaksud dengan Keputusan Strategis?
Keputusan strategis adalah keputusan yang berhubungan dengan arah dan tujuan jangka panjang perusahaan. Contohnya meliputi pengembangan produk, ekspansi pasar, investasi, dan penyusunan strategi bisnis.
5. Bagaimana Cara Mengurangi Risiko dalam Mengambil Keputusan?
Risiko keputusan dapat dikurangi dengan mengumpulkan informasi relevan, membandingkan beberapa alternatif, dan menggunakan analisis risiko. Pengambil keputusan juga perlu memantau hasilnya agar dapat segera melakukan penyesuaian apabila muncul dampak yang tidak diharapkan.
Kategori:
Penulis
Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.
