Desil 1–10: Arti, Rumus, Contoh, dan Cara Hitungnya
DITULIS OLEH
Irhan Hisyam Dwi Nugroho
DIREVIEW OLEH
Sudah Direview Oleh Expert
Dibuat pada 18 Sep 2026
Diubah pada 18 Sep 2026
1
Desil 1–10 adalah pembagian data ke dalam sepuluh kelompok berdasarkan posisi relatifnya. Istilah ini sempat ramai dibahas karena digunakan dalam pemetaan kondisi sosial-ekonomi masyarakat.
Namun, desil nggak hanya berkaitan dengan bansos. Dalam analisis data, konsep ini juga digunakan untuk membaca distribusi dan mengelompokkan data.
Kalau kamu ingin memahami statistik lebih dalam sebagai skill Data Analyst, kamu bisa mempelajarinya melalui Bootcamp Data Analyst Dibimbing. Di artikel ini, kamu akan melihat arti, rumus, contoh, dan cara menghitung desil.
Kenapa Desil 1–10 Sempat Viral di Indonesia?
Desil semakin banyak dibicarakan setelah masyarakat melihat posisi kesejahteraan keluarganya dalam DTSEN. Data ini digunakan pemerintah untuk membantu perencanaan dan penentuan sasaran berbagai program sosial.
Salah satu kasus yang sempat ramai terjadi di Kulon Progo. Posisi desil keluarga seorang warga bernama Timbul sempat berubah dari Desil 1 ke Desil 9, lalu diperbarui menjadi Desil 3 setelah pengecekan lapangan.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa data sosial dan ekonomi bersifat dinamis. Karena itu, DTSEN juga diperbarui secara berkala agar lebih sesuai dengan kondisi masyarakat terkini.
Namun, perubahan desil nggak ditentukan hanya dari satu faktor seperti gaji atau kondisi rumah. Ada berbagai variabel yang digunakan untuk membaca kondisi sosial dan ekonomi keluarga.
Apa Itu Desil?
Dalam statistik, desil adalah ukuran letak yang membagi data terurut menjadi sepuluh bagian. Setiap bagian mewakili sekitar 10% dari keseluruhan data.
Sederhananya, jika ada 100 pelanggan yang diurutkan berdasarkan total transaksi, datanya bisa dibagi menjadi 10 kelompok. Masing-masing kelompok berisi sekitar 10 pelanggan.
Dalam konteks DTSEN, desil digunakan untuk menunjukkan posisi relatif tingkat kesejahteraan keluarga. Desil 1 berada pada kelompok relatif terendah, sedangkan Desil 10 berada pada kelompok relatif tertinggi.
Namun, desil bukan angka pendapatan tertentu. Dua keluarga dalam desil yang sama juga belum tentu memiliki penghasilan atau kondisi ekonomi yang identik.
Baca Juga: Perjalanan Ibu Rumah Tangga Jadi Profesional Data Science
Apa Arti Desil 1 sampai Desil 10?
Untuk memahaminya, bayangkan seluruh data sudah diurutkan dari posisi relatif terendah sampai tertinggi.
Kelompok | Posisi dalam Distribusi |
Desil 1 | 10% terbawah |
Desil 2 | 10–20% |
Desil 3 | 20–30% |
Desil 4 | 30–40% |
Desil 5 | 40–50% |
Desil 6 | 50–60% |
Desil 7 | 60–70% |
Desil 8 | 70–80% |
Desil 9 | 80–90% |
Desil 10 | 10% teratas |
Dalam pembahasan kesejahteraan DTSEN, semakin tinggi nomor desil menunjukkan semakin tinggi pula posisi relatif keluarga dalam pemeringkatan kesejahteraan. Namun, angka tersebut tetap harus dibaca dalam konteks data dan tujuan analisisnya.
Ada sedikit perbedaan istilah yang juga perlu kamu pahami. Dalam statistik formal, D1 sampai D9 biasanya merujuk pada sembilan titik batas yang membagi distribusi menjadi sepuluh kelompok, sedangkan istilah Desil 1 sampai Desil 10 bisa digunakan untuk menyebut kesepuluh kelompoknya.
Bagaimana Desil Masyarakat Indonesia Ditentukan?
Kalau membahas DTSEN, posisi desil tidak ditentukan hanya berdasarkan pendapatan. BPS menggunakan berbagai karakteristik sosial dan ekonomi secara bersama-sama untuk memperkirakan posisi relatif kesejahteraan keluarga.
Beberapa informasi yang dapat diperhitungkan antara lain:
- Kondisi tempat tinggal.
- Sumber air minum.
- Bahan bakar dan energi untuk memasak.
- Kepemilikan aset.
- Daya dan konsumsi listrik.
- Komposisi keluarga.
- Pendidikan.
- Pekerjaan.
- Kondisi kesehatan.
- Disabilitas.
BPS menjelaskan bahwa berbagai karakteristik tersebut dipertimbangkan menggunakan metode statistik Proxy Means Test (PMT). Karena indikatornya banyak, perubahan satu variabel saja nggak otomatis membuat suatu keluarga langsung berpindah desil.
Jadi, misalnya seseorang memiliki penghasilan tertentu, informasi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa keluarganya pasti berada pada Desil 3, Desil 5, atau kategori lainnya.
Kenapa Posisi Desil Bisa Berubah?
Inilah salah satu bagian yang banyak menimbulkan pertanyaan setelah isu desil ramai dibicarakan. Posisi desil memang bisa berubah karena kondisi keluarga maupun data pembandingnya juga dapat berubah.
Misalnya, terdapat perubahan pekerjaan, pendidikan, kondisi tempat tinggal, anggota keluarga, kepemilikan aset, atau informasi administratif lainnya. Selain itu, karena desil merupakan posisi relatif, perubahan kondisi keluarga lain dalam distribusi juga dapat berpengaruh terhadap pemeringkatan.
DTSEN sendiri terus dimutakhirkan dari data administrasi, sensus dan survei, informasi kementerian/lembaga, pemerintah daerah, ground check, hingga pembaruan yang disampaikan masyarakat. Per 10 Juli 2026, DTSEN Versi 3 mencakup sekitar 290,13 juta record individu dan 95,98 juta record keluarga.
Karena itulah desil lebih tepat dibaca sebagai potret posisi relatif berdasarkan data pada periode tertentu, bukan label permanen yang nggak akan pernah berubah.
Baca Juga: Cerita Sukses Dini, Alumni Bootcamp Business Intelligence
Bagaimana Cara Kerja Pembagian Desil?
Sekarang kita pindah dari konteks DTSEN ke konsep statistik yang biasa dipelajari Data Analyst. Secara sederhana, pembagian desil bisa dilakukan melalui beberapa langkah.
- Kumpulkan data yang ingin dianalisis.
- Urutkan data dari nilai terkecil sampai terbesar.
- Hitung jumlah observasi.
- Tentukan titik batas desil.
- Kelompokkan observasi berdasarkan batas tersebut.
- Interpretasikan karakteristik setiap kelompok.
Misalnya kamu memiliki data transaksi 100 pelanggan. Setelah diurutkan, pelanggan dapat dikelompokkan menjadi Desil 1 yang berisi kelompok transaksi relatif rendah sampai Desil 10 yang berisi kelompok transaksi relatif tinggi.
Di sinilah desil menjadi berguna. Dataset yang awalnya terdiri dari ratusan atau jutaan baris dapat disederhanakan menjadi kelompok yang lebih mudah dianalisis.
Apa Rumus Desil?
Dalam pembelajaran statistik dasar, posisi desil pada data tunggal sering ditentukan menggunakan bentuk berikut:
Posisi Di = i(n + 1) / 10
Keterangan:
- Di: desil ke-i.
- i: nomor desil, mulai 1 sampai 9.
- n: jumlah observasi.
Sebagai catatan, metode interpolasi desil dapat berbeda antara buku statistik maupun software. Karena itu, hasil perhitungan manual bisa sedikit berbeda dengan Excel, Python, atau aplikasi statistik tertentu.
Rumus Desil Data Berkelompok
Untuk data yang sudah disusun dalam distribusi frekuensi, salah satu bentuk rumus yang umum digunakan adalah:
Di = L + ((iN/10 - F) / f) × c
Keterangan:
- L: batas bawah kelas desil.
- N: total frekuensi.
- F: frekuensi kumulatif sebelum kelas desil.
- f: frekuensi kelas desil.
- c: panjang kelas.
Untuk pekerjaan Data Analyst sehari-hari, perhitungan seperti ini biasanya sudah dibantu menggunakan Excel, Python, SQL, atau software statistik.
Contoh Desil dalam Data Sederhana
Misalnya seorang Data Analyst mempunyai data transaksi 10 pelanggan yang sudah diurutkan:
Pelanggan | Nilai Transaksi |
A | Rp100.000 |
B | Rp150.000 |
C | Rp200.000 |
D | Rp250.000 |
E | Rp300.000 |
F | Rp400.000 |
G | Rp500.000 |
H | Rp700.000 |
I | Rp900.000 |
J | Rp1.200.000 |
Karena contoh hanya memiliki 10 observasi, masing-masing pelanggan dapat digunakan untuk menggambarkan satu kelompok 10%. Pelanggan A berada pada kelompok relatif terbawah, sedangkan pelanggan J berada pada kelompok relatif tertinggi.
Dalam dataset sebenarnya, Data Analyst tentu akan menangani jauh lebih banyak observasi. Batas antar-desil kemudian dihitung menggunakan metode statistik agar kelompok dapat dibuat secara konsisten.
Apa Kegunaan Desil bagi Data Analyst?
Sumber: Desain oleh Dibimbing
Desil bukan hanya konsep yang muncul saat membahas kondisi sosial-ekonomi. Teknik pembagian data seperti ini juga berguna untuk menyederhanakan dataset menjadi kelompok yang lebih mudah dibandingkan.
Beberapa penerapannya antara lain:
1. Segmentasi Pelanggan
Data Analyst dapat mengurutkan pelanggan berdasarkan total transaksi kemudian membaginya menjadi sepuluh kelompok. Tim marketing kemudian bisa melihat pelanggan mana yang berada pada kelompok transaksi tertinggi.
Misalnya, Desil 9–10 dapat dianalisis lebih lanjut sebagai kelompok pelanggan bernilai tinggi. Strategi komunikasi untuk kelompok tersebut tentu bisa berbeda dengan pelanggan pada kelompok transaksi lebih rendah.
2. Analisis Penjualan
Desil juga dapat digunakan untuk mengurutkan toko, cabang, atau Sales berdasarkan pencapaiannya. Dengan begitu, perusahaan bisa melihat distribusi performa secara lebih detail dibandingkan sekadar membagi menjadi kategori tinggi dan rendah.
3. Menentukan Kelompok Prioritas
Jika perusahaan memiliki sumber daya terbatas, pengelompokan berbasis data membantu menentukan kelompok yang perlu mendapat perhatian terlebih dahulu. Contohnya bisa berupa pelanggan berisiko churn, wilayah dengan performa rendah, atau cabang dengan potensi tinggi.
4. Analisis Risiko
Dalam industri tertentu, data dapat diurutkan berdasarkan risk score. Desil kemudian membantu analis melihat karakteristik observasi dengan risiko relatif paling rendah sampai paling tinggi.
5. Membuat Dashboard
Hasil pengelompokan desil dapat divisualisasikan dalam dashboard. Stakeholder pun lebih mudah memahami distribusi data tanpa harus membaca ribuan baris transaksi satu per satu.
Baca Juga: Lulusan Geografi Jadi Data Analyst? Kisah Sukses Fuad Buktinya
Cara Menghitung Desil di Excel
Untuk analisis praktis, Excel menyediakan fungsi persentil yang bisa digunakan untuk menentukan titik batas kelompok.
Misalnya data berada pada sel A2:A101, kamu dapat menggunakan:
Batas | Formula Excel |
D1 | =PERCENTILE.INC(A2:A101,0.1) |
D5 | =PERCENTILE.INC(A2:A101,0.5) |
D9 | =PERCENTILE.INC(A2:A101,0.9) |
Nilai 0.1 menunjukkan persentil ke-10, 0.5 menunjukkan persentil ke-50, dan 0.9 menunjukkan persentil ke-90.
Setelah mengetahui titik batasnya, kamu bisa membuat kategori untuk setiap observasi. Hasil tersebut kemudian dapat digunakan untuk segmentasi maupun visualisasi.
Apa Perbedaan Desil, Kuartil, dan Persentil?
Ketiganya sama-sama digunakan untuk memahami posisi data dalam distribusi. Perbedaannya terletak pada jumlah kelompok yang dibentuk.
Ukuran | Pembagian Data | Contoh Penggunaan |
Kuartil | 4 kelompok | Melihat 25% data teratas atau terbawah |
Desil | 10 kelompok | Segmentasi menjadi kelompok 10% |
Persentil | 100 kelompok | Analisis posisi yang lebih detail |
Kuartil lebih sederhana karena hanya membentuk empat bagian. Sementara itu, desil memberikan segmentasi yang lebih detail tanpa sebanyak persentil.
Kesalahan dalam Membaca Desil yang Perlu Dihindari
Ramainya pembahasan Desil 1–10 juga menunjukkan bahwa konsep statistik bisa mudah disalahartikan. Karena itu, ada beberapa kesalahan yang perlu dihindari:
- Menganggap angka desil sebagai nominal pendapatan.
- Menganggap batas setiap desil selalu sama.
- Menggunakan satu indikator untuk menentukan desil.
- Menyamakan kelompok dari dua distribusi yang berbeda.
- Menganggap posisi desil nggak dapat berubah.
- Menyamakan desil statistik dengan keputusan penerimaan program tertentu.
Dalam konteks DTSEN, BPS juga menegaskan bahwa desil merupakan alat pemeringkatan dan bukan daftar penerima program. Penentuan penerima tetap bergantung pada tujuan serta ketentuan masing-masing program pemerintah.
Kesimpulan
Desil 1–10 membantu menunjukkan posisi relatif suatu data setelah dibagi menjadi sepuluh kelompok. Dalam konteks DTSEN maupun analisis data, desil perlu dibaca sebagai bagian dari distribusi, bukan sebagai nominal pendapatan tertentu.
Bagi Data Analyst, konsep desil juga berguna untuk segmentasi, membaca pola, dan menentukan kelompok prioritas. Dengan memahami cara kerja dan perhitungannya, kamu bisa menginterpretasikan data dengan lebih tepat.
Siap Belajar Data Analytics dan Bangun Karier sebagai Data Analyst?
Kalau kamu ingin memahami cara mengolah, menganalisis, dan menyajikan data secara profesional, Bootcamp Data Analyst Dibimbing bisa menjadi pilihan. Program ini dirancang dengan kurikulum berbasis kebutuhan industri serta pembelajaran praktis untuk membantu kamu membangun skill dan portofolio.
Kamu juga akan mendapatkan berbagai benefit yang mendukung proses belajar hingga persiapan karier.
Program Bootcamp Data Analyst Dibimbing:
- 61+ Live Class interaktif bersama mentor ahli.
- 25+ Assignment untuk membangun portofolio.
- Live Coding Test untuk persiapan proses rekrutmen.
- Career Preparation Service berupa review CV & LinkedIn, career class, latihan interview, dan showcase.
- Program penyaluran kerja ke 1.100+ perusahaan mitra.
- Pendampingan fasilitator dan mentor yang tersedia 24/7.
- Akses ke komunitas expert Business Intelligence & Data Analyst.
Jadi, kamu nggak hanya belajar teori, tetapi juga mengerjakan proyek dan mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan industri.
Yuk, hubungi tim Dibimbing untuk konsultasi dan cari tahu Bootcamp Data Analyst yang paling sesuai dengan kebutuhan belajar serta target kariermu!
FAQ
1. Apa arti desil dalam statistik?
Arti desil dalam statistik adalah ukuran letak yang membagi data terurut menjadi sepuluh kelompok. Setiap kategori desil mewakili sekitar 10% dari keseluruhan observasi.
2. Apa perbedaan Desil 1 dan Desil 10?
Dalam desil data, Desil 1 berada pada kelompok 10% terbawah, sedangkan Desil 10 berada pada kelompok 10% teratas. Posisi tersebut bersifat relatif terhadap distribusi data yang dianalisis.
3. Bagaimana cara menghitung desil?
Cara menghitung desil dimulai dengan mengurutkan data, menentukan posisi desil, lalu mencari nilai pada posisi tersebut. Metodenya bisa berbeda tergantung apakah data berbentuk tunggal atau berkelompok.
4. Apa rumus desil yang digunakan?
Rumus desil data tunggal umumnya menggunakan posisi Di = i(n+1)/10. Untuk data berkelompok, perhitungannya mempertimbangkan batas kelas, frekuensi kumulatif, frekuensi kelas, dan panjang kelas.
5. Apa contoh penggunaan desil dalam analisis data?
Contoh desil dalam analisis desil bisa digunakan untuk mengelompokkan pelanggan berdasarkan nilai transaksi, membandingkan performa cabang, atau menentukan kelompok prioritas. Teknik ini membantu Data Analyst membaca distribusi data dengan lebih mudah.
Kategori:
Penulis
Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.
