Dibimbing - Apa Itu Ecommerce? Jenis, Contoh, dan Cara Kerjanya
Blog
Business Analyst

Apa Itu Ecommerce? Jenis, Contoh, dan Cara Kerjanya

Author

DITULIS OLEH 

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Reviewer

DIREVIEW OLEH 

Sudah Direview Oleh Expert

Dibuat pada 27 Okt 2026

Diubah pada 31 Okt 2026

19

Image Thumbnail

Apa itu ecommerce? E-commerce adalah aktivitas jual beli barang atau jasa melalui internet, mulai dari pemesanan, pembayaran, hingga pengiriman produk.


Namun, tanpa pengelolaan yang baik, bisnis bisa mengalami kendala transaksi hingga kehilangan pelanggan. Kemampuan analisis bisnis ini bisa kamu pelajari melalui Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Dibimbing.


Nah, Warga Bimbingan, bagaimana cara kerja e-commerce? Yuk, simak penjelasan MinDi mengenai jenis, manfaat, hingga contohnya berikut ini!



Apa Itu Ecommerce?

E-commerce merupakan singkatan dari electronic commerce, yaitu kegiatan jual beli barang atau jasa yang pemesanannya dilakukan melalui sistem elektronik, terutama internet.


Sederhananya, e-commerce memungkinkan penjual dan pembeli bertransaksi tanpa harus bertemu langsung. Pembayaran dapat dilakukan secara daring maupun saat barang diterima, sedangkan pengiriman menyesuaikan jenis produk atau layanan.


Dalam praktiknya, aktivitas e-commerce dapat mencakup:

  1. Penawaran produk: Penjual menampilkan foto, deskripsi, harga, dan ketersediaan barang atau jasa.
  2. Pemesanan: Pembeli memilih produk dan mengirimkan pesanan melalui situs atau aplikasi.
  3. Pembayaran: Pembeli menggunakan metode yang tersedia, seperti transfer bank, dompet digital, atau cash on delivery (COD).
  4. Pemenuhan pesanan: Penjual mengirim barang, memberikan akses produk digital, atau menyediakan layanan yang dipesan.


Misalnya, kamu memesan laptop melalui aplikasi belanja dan memilih pembayaran COD. Transaksi tersebut tetap termasuk e-commerce karena pemesanannya dilakukan secara elektronik. 


Memahami alur ini membantu pelaku bisnis dan calon Business Analyst melihat hubungan antara kebutuhan pelanggan, pembayaran, stok, serta pengiriman.


Baca Juga: Apa Itu Bisnis Digital? Definisi, Contoh, & Tips Sukses


Apa Saja Jenis-Jenis Ecommerce?


Apa Saja Jenis-Jenis Ecommerce

Sumber: Desain oleh Dibimbing


E-commerce dapat dibedakan berdasarkan pihak yang terlibat dalam transaksi. Berikut empat jenis yang umum digunakan dalam dunia bisnis.


1. Business to Business (B2B)

Business to Business (B2B) merupakan transaksi jual beli yang dilakukan antara perusahaan dengan perusahaan lainnya. Model ini biasanya digunakan untuk pengadaan bahan baku, perlengkapan operasional, atau layanan bisnis.


Contohnya:

  1. Perusahaan restoran membeli bahan baku melalui platform pemasok.
  2. Toko ritel memesan produk dalam jumlah besar dari distributor.
  3. Perusahaan berlangganan perangkat lunak melalui situs penyedia layanan.


2. Business to Consumer (B2C)

Business to Consumer (B2C) adalah transaksi ketika perusahaan menjual produk atau layanan secara langsung kepada konsumen akhir. Jenis ini banyak ditemukan pada toko online maupun platform belanja digital.


Contohnya:

  1. Pelanggan membeli sepatu melalui toko resmi suatu merek.
  2. Konsumen membeli produk elektronik di toko online.
  3. Pengguna berlangganan layanan digital dari perusahaan.


3. Consumer to Consumer (C2C)

Consumer to Consumer (C2C) merupakan transaksi jual beli antara individu melalui platform digital. Model ini sering digunakan untuk menjual produk pribadi maupun barang bekas.


Contohnya:

  1. Menjual laptop bekas melalui OLX.
  2. Menawarkan pakaian preloved kepada pengguna lain.
  3. Menjual koleksi barang pribadi melalui platform digital.


4. Consumer to Business (C2B)

Consumer to Business (C2B) merupakan model transaksi ketika individu menawarkan produk atau jasa kepada perusahaan melalui platform digital. Model ini banyak ditemukan dalam industri kreatif dan layanan profesional.


Contohnya:

  1. Fotografer menjual lisensi foto kepada perusahaan.
  2. Desainer lepas menawarkan jasa pembuatan logo.
  3. Kreator konten menyediakan layanan promosi bagi merek.


Keempat model tersebut menunjukkan bahwa aktivitas e-commerce tidak terbatas pada transaksi antara toko dan konsumen.


Baca Juga: Business Process Mapping: Manfaat, Jenis, hingga Contohnya


Bagaimana Cara Kerja Ecommerce?

Dalam praktiknya, e-commerce memiliki alur transaksi yang menghubungkan pelanggan, sistem pembayaran, penjual, hingga penyedia pengiriman. Berikut contoh cara kerja e-commerce pada pembelian produk fisik.

  1. Pencarian Produk: Pelanggan mencari barang melalui situs web atau aplikasi dan membandingkan informasi produk.
  2. Pemesanan: Pelanggan memasukkan produk ke keranjang, menentukan jumlah pembelian, dan mengisi alamat pengiriman.
  3. Pembayaran: Sistem menyediakan metode pembayaran sesuai pilihan pelanggan.
  4. Konfirmasi Transaksi: Sistem memvalidasi pembayaran dan meneruskan pesanan kepada penjual.
  5. Pemrosesan Pesanan: Tim gudang memeriksa stok, menyiapkan produk, dan melakukan pengemasan.
  6. Pengiriman Barang: Produk diserahkan kepada kurir untuk dikirimkan kepada pelanggan.
  7. Penyelesaian Pesanan: Pelanggan menerima barang dan dapat memberikan ulasan atau mengajukan komplain.


Alur tersebut dapat berbeda berdasarkan model bisnis dan metode pembayaran. Misalnya, produk digital umumnya tidak membutuhkan proses pengiriman fisik.


Apa Saja Contoh Ecommerce di Indonesia?

Ada berbagai platform yang mendukung aktivitas perdagangan elektronik di Indonesia.


Berikut beberapa contohnya.


Platform

Contoh Aktivitas

Shopee

Pembelian produk dari berbagai penjual

Tokopedia

Transaksi produk melalui toko digital

Lazada

Pembelian produk ritel secara daring

Blibli

Penjualan produk dan layanan digital

OLX

Jual beli barang antarindividu

Toko online mandiri

Transaksi melalui situs resmi merek


Meskipun memiliki model layanan berbeda, platform tersebut membantu mempertemukan penjual dan pembeli secara digital. Selain menggunakan platform pihak ketiga, perusahaan juga dapat mengembangkan situs e-commerce sendiri untuk mengelola transaksi serta hubungan dengan pelanggan.


Apa Perbedaan Ecommerce dan Marketplace?

E-commerce dan marketplace sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki cakupan berbeda. E-commerce mencakup aktivitas perdagangan elektronik secara keseluruhan. Sementara itu, marketplace merupakan platform yang memfasilitasi transaksi antara penjual dan pembeli.


Berikut perbandingannya.


Aspek

Ecommerce

Marketplace

Pengertian

Aktivitas perdagangan elektronik

Platform perantara transaksi

Cakupan

Lebih luas

Bagian dari ekosistem e-commerce

Pengelolaan

Bergantung model bisnis

Dikelola penyedia platform

Contoh

Toko online mandiri dan transaksi digital

Shopee, Tokopedia, OLX


Sebagai contoh, perusahaan yang menjual produk melalui situs resmi menjalankan e-commerce tanpa harus bergabung dengan marketplace. 


Sebaliknya, ketika perusahaan membuka toko di Shopee, aktivitas perdagangannya tetap termasuk e-commerce melalui platform marketplace.


Baca Juga: Customer Journey Map adalah: Pengertian, Manfaat, dan Contoh


Apa Saja Manfaat Ecommerce bagi Perusahaan?

Penerapan e-commerce dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi serta menjangkau pelanggan secara lebih luas. Berikut beberapa manfaat utamanya.


1. Memperluas Jangkauan Pasar

Perusahaan dapat menawarkan produk kepada pelanggan dari berbagai wilayah tanpa harus memiliki toko fisik di setiap lokasi.  


Dengan dukungan sistem pengiriman, bisnis dapat menjangkau konsumen di luar daerah operasionalnya. Jangkauan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kapasitas stok, biaya kirim, dan kemampuan pelayanan.


2. Meningkatkan Efisiensi Operasional

Sistem e-commerce dapat membantu mengotomatisasi pencatatan pesanan, pembaruan stok, dan konfirmasi pembayaran.  


Otomatisasi tersebut dapat mengurangi pekerjaan administratif manual dan mempercepat pemrosesan transaksi. Agar hasilnya optimal, perusahaan perlu memastikan data antarsistem terhubung dan memeriksa transaksi yang membutuhkan penanganan khusus.


3. Mempermudah Analisis Data Pelanggan

Platform e-commerce dapat menyediakan informasi mengenai perilaku pelanggan, produk populer, dan aktivitas transaksi.  


Data tersebut membantu perusahaan memahami kebutuhan konsumen serta mengevaluasi strategi bisnis. Misalnya, perusahaan dapat membandingkan pembelian ulang dan produk yang sering dilihat untuk menentukan prioritas promosi.


4. Mengembangkan Produk dan Pengalaman Pelanggan

Ulasan, keluhan, dan data penggunaan aplikasi membantu perusahaan menentukan perbaikan produk sesuai kebutuhan pelanggan. 


Misalnya, kendala pada proses checkout dapat ditindaklanjuti dengan memperjelas biaya pengiriman atau menyederhanakan formulir setelah penyebabnya diperiksa. 


Perbaikan tersebut dapat memudahkan transaksi sekaligus meningkatkan kenyamanan pelanggan.


Apa Saja Tantangan Ecommerce?

Selain memiliki manfaat, bisnis e-commerce juga menghadapi sejumlah tantangan operasional.


Berikut beberapa di antaranya.

  1. Persaingan Harga: Banyaknya penjual membuat perusahaan perlu memiliki keunggulan produk atau layanan.
  2. Keamanan Transaksi: Sistem harus mampu melindungi informasi pribadi dan pembayaran pelanggan.
  3. Pengelolaan Stok: Ketidaksesuaian data persediaan dapat menyebabkan pembatalan pesanan.
  4. Kendala Pengiriman: Keterlambatan logistik dapat menurunkan kepuasan pelanggan.
  5. Pengalaman Pengguna: Proses pemesanan yang rumit berpotensi membuat pelanggan membatalkan transaksi.


Karena itu, perusahaan membutuhkan pengelolaan proses bisnis serta evaluasi performa yang berkelanjutan.



Bagaimana Cara Mengukur Keberhasilan Ecommerce?

Keberhasilan e-commerce tidak hanya dilihat dari jumlah penjualan, tetapi juga efektivitas transaksi dan perilaku pelanggan. 


Untuk mengukurnya, perusahaan dapat menggunakan Key Performance Indicator (KPI) sebagai indikator kinerja bisnis. Berikut tiga KPI yang umum digunakan dalam e-commerce.


1. Conversion Rate

Conversion rate adalah persentase kunjungan yang berhasil menghasilkan transaksi. Indikator ini membantu perusahaan mengetahui seberapa efektif toko online mengubah pengunjung menjadi pembeli.


Rumus: (Jumlah transaksi ÷ Total sesi kunjungan) × 100%.

Contoh: Jika sebuah toko online memperoleh 50 transaksi dari 1.000 sesi kunjungan, maka conversion rate-nya sebesar 5%.


2. Average Order Value (AOV)

Average Order Value (AOV) adalah rata-rata nilai pembelian dalam setiap pesanan. KPI ini membantu perusahaan memahami jumlah uang yang dibelanjakan pelanggan per transaksi.


Rumus: Total nilai penjualan ÷ Jumlah pesanan.

Contoh: Jika toko memperoleh penjualan Rp10.000.000 dari 200 pesanan, maka AOV-nya sebesar Rp50.000 per pesanan.


3. Checkout Completion Rate

Checkout completion rate adalah persentase pelanggan yang berhasil menyelesaikan proses checkout setelah memulainya. Indikator ini membantu mengidentifikasi potensi hambatan pada tahap pembayaran atau pemesanan.


Rumus: (Jumlah checkout selesai ÷ Jumlah checkout dimulai) × 100%.

Contoh: Jika 200 proses checkout dimulai dan hanya 50 yang selesai, maka checkout completion rate-nya sebesar 25%.


Melalui ketiga KPI tersebut, perusahaan dapat mengevaluasi performa penjualan, nilai transaksi, dan efektivitas proses pembelian. Hasil analisisnya dapat digunakan untuk menentukan strategi perbaikan serta meningkatkan pengalaman pelanggan.


Contoh Analisis Ecommerce oleh Business Analyst

Agar lebih mudah dipahami, berikut simulasi analisis bisnis pada aplikasi e-commerce yang mengalami banyak pembatalan transaksi.


1. Identifikasi Masalah

Sebuah aplikasi mencatat 1.000 sesi kunjungan dan 200 proses checkout yang dimulai. Namun, hanya 50 proses checkout yang berhasil diselesaikan.


Artinya, tingkat penyelesaian checkout hanya 25%. Kondisi ini menjadi indikasi adanya hambatan yang perlu dianalisis.


2. Analisis Penyebab

Tim Business Analyst kemudian meninjau data transaksi dan mengumpulkan umpan balik pelanggan.


Beberapa dugaan masalah yang perlu diuji antara lain:

  1. Biaya pengiriman baru terlihat pada tahap akhir.
  2. Metode pembayaran yang tersedia kurang sesuai.
  3. Formulir alamat terlalu panjang.
  4. Proses pembayaran mengalami gangguan teknis.


3. Usulan Perbaikan

Setelah penyebab utama teridentifikasi, perusahaan dapat merancang solusi berdasarkan hasil analisis. 


Misalnya, menampilkan estimasi ongkos kirim lebih awal, menyederhanakan formulir, atau memperbaiki alur pembayaran.


4. Evaluasi Hasil

Perusahaan kemudian membandingkan tingkat penyelesaian checkout, jumlah transaksi gagal, dan kepuasan pelanggan sebelum serta sesudah perubahan. 


Pengujian seperti A/B testing dapat digunakan untuk membantu menentukan apakah perubahan benar-benar memberikan dampak positif.


Baca Juga: Business Analyst: Tugas, Skill, Gaji, dan Cara Mulai Karier


Apa Hubungan Ecommerce dengan Business Analyst?

Dalam perusahaan e-commerce, seorang Business Analyst membantu memahami kebutuhan bisnis, menganalisis masalah, dan memberikan rekomendasi pengembangan sistem.


Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Business Process Analysis: Menganalisis alur pemesanan, pembayaran, hingga pengiriman barang.
  2. Requirement Gathering: Mengumpulkan kebutuhan pengguna dan pemangku kepentingan.
  3. Data Analysis: Mengevaluasi transaksi, perilaku pelanggan, serta performa bisnis.
  4. Customer Journey Mapping: Memetakan pengalaman pelanggan ketika menggunakan aplikasi.
  5. Product Improvement: Merekomendasikan perbaikan fitur berdasarkan masalah dan kebutuhan pengguna.


Misalnya, ketika pelanggan mengalami kesulitan saat pembayaran, Business Analyst dapat bekerja sama dengan tim produk dan pengembang untuk menentukan solusi yang sesuai. 


Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dalam menghubungkan kebutuhan bisnis dengan pengembangan produk digital.


Baca Juga: Kisah Haifa Dari Bootcamp Dibimbing hingga ke detikcom


Rekomendasi Bootcamp Business Analyst untuk Tingkatkan Skill

Memahami e-commerce merupakan langkah awal untuk mengenal proses bisnis digital. Namun, untuk berkarier sebagai Business Analyst, kamu juga perlu menguasai analisis data, identifikasi kebutuhan pengguna, hingga strategi pengembangan produk.


Nah, berbagai kemampuan tersebut bisa kamu pelajari melalui Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Dibimbing. Program ini menggabungkan kelas interaktif, praktik studi kasus, pembangunan portofolio, serta pendampingan mentor profesional.


Benefit Bootcamp Business Analyst Dibimbing:

  1. Kelas Interaktif: Ikuti 60+ live class dan 7+ sesi tambahan bersama mentor ahli.
  2. Portofolio Profesional: Kerjakan weekly assignment terstruktur untuk membangun portofolio.
  3. Technical Problem Class: Tingkatkan kemampuan problem solving sebagai Business Analyst dan Product Manager.
  4. Konsultasi 1-on-1: Dapatkan sesi konsultasi personal tanpa batas bersama instruktur ahli.
  5. Pendampingan Mentor: Nikmati dukungan fasilitator dan mentor berdedikasi yang tersedia 24/7.
  6. Pengalaman Magang: Dapatkan kesempatan magang selama 12 minggu di perusahaan mitra sesuai ketentuan program.
  7. Penyaluran Kerja: Ikuti program penyaluran kerja melalui jaringan 1.100+ perusahaan mitra.
  8. Komunitas Profesional: Bangun koneksi dengan sesama peserta dan praktisi Business Analyst & Product Strategy.


Siap Memulai Karier sebagai Business Analyst?

Warga Bimbingan, memahami cara kerja e-commerce saja belum cukup untuk menjadi Business Analyst. Kamu juga perlu mengembangkan kemampuan analisis proses bisnis, pengolahan data, dan penyusunan strategi produk melalui pengalaman praktik. 


Yuk, konsultasikan rencana kariermu bersama MinDi melalui Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Dibimbing dan mulai persiapkan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja!


FAQ:

1. Apa Itu Ecommerce dan Contohnya?

E-commerce adalah aktivitas jual beli barang atau jasa melalui internet. Contohnya adalah pembelian pakaian di Shopee, transaksi produk di Tokopedia, serta pemesanan barang melalui situs resmi suatu merek.


2. Apa Saja Jenis-Jenis Ecommerce?

Jenis e-commerce yang umum adalah B2B, B2C, C2C, dan C2B. Keempatnya dibedakan berdasarkan pihak yang terlibat dalam transaksi, seperti perusahaan, konsumen, atau individu penyedia jasa.


3. Apa Perbedaan Ecommerce dan Marketplace?

E-commerce merupakan aktivitas perdagangan elektronik, sedangkan marketplace adalah platform yang memfasilitasi transaksi antara penjual dan pembeli. Jadi, marketplace merupakan salah satu sarana menjalankan e-commerce.


4. Apa Manfaat Ecommerce bagi Perusahaan?

E-commerce membantu memperluas jangkauan pasar, meningkatkan efisiensi operasional, serta menyediakan data pelanggan. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi bisnis dan mengembangkan produk.


5. Mengapa Business Analyst Penting dalam Ecommerce?

Business Analyst membantu perusahaan menganalisis proses transaksi, memahami kebutuhan pelanggan, dan mengidentifikasi masalah sistem. Hasil analisis tersebut digunakan untuk merekomendasikan solusi yang mendukung tujuan bisnis.

Kategori:

Share:

Penulis

Penulis Image

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.

Reviewer

Reviewer Image

Sudah Direview Oleh Expert

Setiap artikel yang berlabel "Sudah Direview Oleh Expert" telah melalui proses peninjauan oleh praktisi atau mentor yang berpengalaman di bidangnya untuk memastikan informasi yang disajikan berkualitas, akurat, dan relevan bagi pembaca.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!