Shifting Career: Arti, Tanda, dan Cara Tepat Memulainya
DITULIS OLEH
Irhan Hisyam Dwi Nugroho
DIREVIEW OLEH
Sudah Direview Oleh Expert
Dibuat pada 14 Agt 2026
Diubah pada 14 Agt 2026
14
Pernah merasa kariermu stagnan atau pekerjaan saat ini tidak lagi mendukung tujuan profesionalmu, Warga Bimbingan? Kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa kamu perlu mempertimbangkan shifting career ke bidang atau posisi yang lebih sesuai.
Keinginan untuk berkembang menjadi salah satu faktor penting dalam keputusan karier. Riset Randstad Workmonitor 2025 terhadap lebih dari 26.000 pekerja menemukan bahwa 48% responden bersedia meninggalkan pekerjaan yang tidak menawarkan peluang perkembangan karier.
Namun, shifting career memerlukan perencanaan agar kamu tidak sekadar berpindah pekerjaan tanpa arah yang jelas. Dalam artikel ini, MinDi akan membahas arti, tanda, dan cara tepat memulai transisi karier, jadi yuk, baca sampai akhir!
Baca Juga:
- Merasa Karier Mandek? Cek 10 Tanda Karier Stuck Ini
- Tips Switching Career di Usia 30-an Tanpa Ragu
- Tips Career Switch di Usia 25 Tahun Secara Realistis
Apa Itu Shifting Career?
Shifting career adalah proses berpindah dari bidang pekerjaan saat ini ke bidang lain yang memiliki fungsi, keterampilan, atau jalur karier berbeda. Istilah ini juga kerap disebut sebagai career switch, pergantian karier, atau pindah jalur karier.
Perubahan tersebut bisa terjadi dalam perusahaan yang sama maupun melalui perpindahan ke perusahaan lain. Misalnya, seorang sales executive beralih menjadi digital marketer atau staf administrasi memulai karier sebagai analis data.
Perpindahan karier tidak selalu berarti kamu harus menghapus seluruh pengalaman sebelumnya. Beberapa keterampilan lama tetap dapat digunakan selama relevan dengan posisi tujuan.
Apa Perbedaan Shifting Career dan Pindah Kerja?
Pindah kerja umumnya berarti berganti perusahaan tanpa mengubah bidang utama. Contohnya, seorang HR di perusahaan ritel pindah menjadi HR di perusahaan teknologi.
Sementara itu, shifting career melibatkan perubahan fungsi pekerjaan atau jalur profesional. Berikut perbedaan utamanya:
Aspek | Shifting Career | Pindah Kerja |
Bidang pekerjaan | Berubah ke bidang baru | Biasanya tetap |
Keterampilan utama | Memerlukan penyesuaian | Relatif sama |
Portofolio | Perlu disesuaikan | Bisa menggunakan pengalaman lama |
Risiko adaptasi | Cenderung lebih tinggi | Cenderung lebih rendah |
Tujuan | Membangun jalur karier baru | Mendapat perusahaan atau posisi lebih baik |
Kamu perlu mengenali jenis perpindahan yang diinginkan karena persiapannya berbeda. Jangan sampai kamu sebenarnya hanya membutuhkan lingkungan baru, tetapi buru-buru meninggalkan bidang yang masih diminati.
Mengapa Seseorang Melakukan Shifting Career?
Keputusan pindah jalur biasanya muncul setelah seseorang mengevaluasi pekerjaan, tujuan hidup, dan peluang pada bidang lain. Alasannya pun tidak selalu berkaitan dengan gaji.
Berdasarkan data Careershifters, alasan utama seseorang ingin mengganti karier meliputi lingkungan kerja yang tidak sehat, keseimbangan hidup yang buruk, serta pekerjaan yang tidak lagi selaras dengan nilai pribadi.
Beberapa alasan lain yang umum meliputi:
1. Karier Terasa Stagnan
Posisi, tanggung jawab, dan penghasilan yang tidak berkembang dapat membuat karier terasa stagnan.
Pekerjaan juga tidak lagi memberikan kesempatan belajar. Kondisi ini mendorong seseorang mencari jenjang karier yang lebih jelas.
2. Minat Profesional Berubah
Pengalaman kerja selama beberapa tahun dapat membantu kamu memahami bidang yang benar-benar diminati.
Karena itu, perubahan minat profesional merupakan hal yang wajar. Beralih karier bisa menjadi pilihan untuk menemukan pekerjaan yang lebih sesuai.
3. Mencari Penghasilan Lebih Baik
Beberapa bidang pekerjaan menawarkan potensi penghasilan dan fasilitas yang lebih menarik.
Hal ini dapat menjadi alasan seseorang berpindah karier. Namun, kemampuan dan permintaan pasar tetap perlu dipertimbangkan.
4. Ingin Mendapatkan Tantangan Baru
Pekerjaan yang terlalu repetitif dan minim tantangan dapat menurunkan motivasi untuk berkembang.
Beralih bidang membuka kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru. Tantangan tersebut juga dapat membantu kamu berkembang secara profesional.
5. Mengikuti Perubahan Industri
Perkembangan otomatisasi dan kecerdasan buatan terus mengubah kebutuhan tenaga kerja di berbagai industri.
Beberapa pekerjaan berkurang, sementara profesi baru bermunculan. Oleh sebab itu, profesional perlu melakukan reskilling agar tetap relevan.
6. Mencari Keseimbangan Hidup
Jadwal kerja yang terlalu padat dapat memengaruhi kesehatan dan kehidupan pribadi seseorang.
Karena itu, sebagian orang mencari pekerjaan yang lebih fleksibel. Tujuannya agar karier dan kehidupan pribadi tetap seimbang.
Apa Tanda Kamu Perlu Melakukan Shifting Career?
Sumber: Desain oleh Dibimbing
Merasa bosan sesekali bukan berarti kamu harus langsung berpindah bidang. Kamu perlu melihat apakah ketidakpuasan tersebut berlangsung lama dan berkaitan dengan pekerjaan itu sendiri.
Berikut beberapa tanda yang bisa dipertimbangkan:
- Kamu tidak lagi tertarik mempelajari perkembangan di bidang saat ini.
- Pekerjaan membuatmu tertekan dalam waktu lama.
- Nilai pribadi tidak selaras dengan pekerjaan yang dijalani.
- Kamu merasa kemampuanmu lebih cocok digunakan di bidang lain.
- Jenjang karier dan peluang penghasilan sangat terbatas.
- Kamu sudah mencoba berpindah perusahaan, tetapi tetap tidak puas.
- Kamu terus tertarik mempelajari bidang lain secara konsisten.
- Kamu memiliki target posisi baru yang cukup spesifik.
- Kamu siap meluangkan waktu untuk belajar kembali.
- Kamu sudah memperhitungkan risiko finansial selama masa transisi.
Kalau masalahnya hanya berasal dari atasan atau budaya perusahaan, pindah tempat kerja mungkin sudah cukup. Namun, jika fungsi pekerjaannya memang tidak lagi sesuai, perubahan jalur karier dapat menjadi pilihan yang lebih masuk akal.
Baca Juga: Tips Switching Career di Usia 30-an Tanpa Ragu
Apa Manfaat Melakukan Shifting Career?
Perpindahan karier yang direncanakan dengan baik dapat memberi ruang pertumbuhan baru. Kamu juga bisa memanfaatkan pengalaman lama untuk menghadirkan sudut pandang berbeda dalam bidang tujuan.
Manfaat yang dapat diperoleh antara lain:
- Kesempatan bekerja pada bidang yang lebih sesuai dengan minat.
- Peluang memperoleh jenjang karier yang lebih menjanjikan.
- Kesempatan meningkatkan pendapatan dalam jangka panjang.
- Bertambahnya keterampilan teknis dan nonteknis.
- Jaringan profesional menjadi lebih luas.
- Motivasi kerja dapat kembali meningkat.
- Kemampuan beradaptasi dan memecahkan masalah semakin terasah.
- Terbukanya peluang bekerja di industri yang sedang berkembang.
Manfaat tersebut tidak selalu dirasakan secara instan. Pada tahap awal, kamu mungkin perlu menerima tanggung jawab baru atau beradaptasi dengan pola kerja yang berbeda.
Apa Risiko Shifting Career?
Beralih bidang juga memiliki risiko yang perlu diperhitungkan. Salah satunya adalah kemungkinan mengalami penurunan posisi atau penghasilan pada masa awal.
Risiko lainnya meliputi:
- Membutuhkan waktu untuk menguasai keterampilan baru.
- Harus bersaing dengan kandidat yang lebih berpengalaman.
- Belum memiliki portofolio yang relevan.
- Masa pencarian kerja dapat berlangsung lebih lama.
- Perlu menyesuaikan diri dengan istilah dan budaya industri baru.
- Muncul rasa tidak percaya diri karena kembali menjadi pemula.
- Bidang tujuan ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi.
Risiko ini dapat dikurangi melalui riset, pengelolaan keuangan, dan uji coba sebelum mengambil keputusan. Kamu juga tidak harus mengundurkan diri sebelum memperoleh gambaran yang jelas mengenai bidang tujuan.
10 Cara Melakukan Shifting Career dengan Tepat
Nah, berpindah jalur karier bukan sekadar mengganti jabatan pada CV. Kamu perlu membangun bukti bahwa pengalaman sebelumnya tetap relevan dan kamu siap menjalankan peran baru.
1. Evaluasi Alasan Pindah Karier
Tuliskan alasan utama kamu ingin berpindah bidang. Bedakan antara ketidakpuasan sementara dan persoalan yang memang berasal dari jalur karier saat ini.
Coba jawab pertanyaan berikut:
- Bagian pekerjaan apa yang paling tidak kamu sukai?
- Aktivitas apa yang justru membuatmu bersemangat?
- Apakah masalah akan selesai jika kamu pindah perusahaan?
- Apa tujuan jangka panjang yang ingin dicapai?
2. Tentukan Posisi Tujuan secara Spesifik
Hindari target umum seperti “ingin bekerja di bidang teknologi”. Pilih nama posisi, industri, tingkat jabatan, lokasi, dan kisaran gaji yang realistis.
Target yang spesifik mempermudah kamu menentukan keterampilan yang perlu dipelajari. Kamu juga bisa menyusun strategi lamaran secara lebih terarah.
3. Riset Kebutuhan Pasar Kerja
Pelajari deskripsi pekerjaan dari berbagai perusahaan. Catat persyaratan yang sering muncul lalu bandingkan dengan kemampuanmu saat ini.
Perhatikan pula jumlah lowongan, jenjang karier, kisaran gaji, dan perkembangan industrinya. Jangan berpindah hanya karena suatu profesi sedang ramai dibicarakan di media sosial.
4. Identifikasi Transferable Skills
Transferable skills merupakan kemampuan yang dapat digunakan pada berbagai pekerjaan. Contohnya adalah komunikasi, analisis, kepemimpinan, pengelolaan proyek, dan pemecahan masalah.
Seorang staf pemasaran yang ingin menjadi analis data, misalnya, mungkin sudah memahami perilaku konsumen dan penyusunan laporan. Pengalaman tersebut tetap bernilai apabila disampaikan dalam konteks posisi baru.
5. Tutup Kesenjangan Keterampilan
Bandingkan persyaratan posisi dengan kemampuan yang sudah dimiliki. Setelah itu, prioritaskan keterampilan yang paling sering diminta perusahaan.
Kamu dapat mengikuti kursus, bootcamp, sertifikasi, atau belajar mandiri. Pilih metode yang memberikan kesempatan praktik agar hasil belajar dapat dibuktikan.
6. Bangun Portofolio yang Relevan
Portofolio membantu rekruter menilai kemampuanmu meskipun belum memiliki pengalaman formal. Kamu bisa menggunakan proyek pribadi, studi kasus, pekerjaan sukarela, atau proyek lepas.
Jelaskan masalah, proses, alat yang digunakan, dan hasil setiap proyek. Hindari hanya menampilkan hasil akhir tanpa penjelasan mengenai kontribusimu.
7. Sesuaikan CV dan LinkedIn
Jangan menggunakan CV lama tanpa perubahan. Tonjolkan pengalaman dan pencapaian yang berhubungan dengan pekerjaan tujuan.
Gunakan kata kunci dari deskripsi pekerjaan secara natural. Perbarui pula judul profil, ringkasan, keterampilan, serta portofolio pada LinkedIn.
8. Bangun Jaringan Profesional
Mulailah berinteraksi dengan profesional yang bekerja pada bidang tujuan. Kamu dapat mengikuti komunitas, seminar, atau diskusi di LinkedIn.
Jangan langsung meminta pekerjaan saat baru berkenalan. Bangun hubungan melalui diskusi dan pertukaran informasi yang relevan.
9. Persiapkan Cerita Transisi Karier
Rekruter kemungkinan akan menanyakan alasan kamu berpindah bidang. Siapkan jawaban yang positif, logis, dan menunjukkan bahwa keputusan tersebut telah dipertimbangkan.
Hindari terlalu banyak membicarakan keburukan perusahaan lama. Fokuslah pada keterampilan yang dibawa, proses belajar, dan kontribusi yang dapat diberikan.
10. Lakukan Transisi secara Bertahap
Kamu nggak harus langsung mengundurkan diri, lho. Mulailah belajar, membuat proyek, dan membangun relasi sambil tetap bekerja apabila memungkinkan.
Siapkan dana darurat untuk menghadapi masa pencarian kerja. Tentukan juga batas waktu evaluasi agar proses transisi tidak berjalan tanpa arah.
Apakah Shifting Career Harus Dimulai dari Nol?
Tidak selalu. Pengalaman kerja sebelumnya tetap memiliki nilai selama kamu bisa menghubungkannya dengan kebutuhan posisi baru.
Sebagai contoh, pengalaman menangani klien dapat mendukung perpindahan ke account management. Kemampuan membuat laporan juga dapat menjadi modal untuk masuk ke bidang analisis bisnis.
Kamu mungkin perlu memulai dari level berbeda jika kesenjangan keterampilannya terlalu besar. Namun, perpindahan ke bidang yang masih berdekatan atau adjacent career biasanya memungkinkan kamu mempertahankan sebagian level profesional.
Kapan Waktu yang Tepat untuk Pindah Karier?
Waktu yang tepat bukan hanya ketika kamu merasa jenuh. Idealnya, kamu sudah memiliki target, keterampilan dasar, portofolio, jaringan, dan kesiapan finansial.
Gunakan daftar berikut sebagai pemeriksaan:
- Target posisi sudah jelas.
- Kamu memahami tanggung jawab pekerjaan tujuan.
- Keterampilan dasar telah dikuasai.
- CV dan portofolio telah disesuaikan.
- Dana darurat sudah tersedia.
- Kamu siap menghadapi proses rekrutmen.
- Keputusan tidak dibuat karena emosi sesaat.
Jika sebagian besar poin belum terpenuhi, gunakan waktu beberapa bulan untuk mempersiapkannya. Strategi ini lebih aman daripada mengundurkan diri tanpa rencana lanjutan.
Baca Juga:
- Bootcamp Terbaik untuk Switch Career agar Siap Kerja
- Contoh CV yang Disukai HRD dan Tips Menulisnya
- 15 Tips Lolos Interview Senior Level agar HRD Tertarik
- Apa Itu Dibimbing Placement Program? Baca Reviewnya!
Kesimpulan
Perubahan karier dapat terjadi karena berbagai alasan, mulai dari pekerjaan yang stagnan hingga keinginan memperoleh keseimbangan hidup. Apa pun alasannya, keputusan ini perlu dipertimbangkan berdasarkan minat, kemampuan, dan peluang di pasar kerja.
Jika sudah memiliki keterampilan dan portofolio, kamu bisa mengikuti Dibimbing Placement Program untuk mempersiapkan karier secara lebih terarah. Program ini menyediakan pendampingan personal serta penyaluran kerja bergaransi melalui akses ke lebih dari 1.100 perusahaan mitra.
Mulai Shifting Career bersama Dibimbing Placement Program
Jika kamu sudah berpengalaman tetapi mengalami karier stagnan, mengirim lamaran saja belum tentu cukup untuk memulai shifting career. Kamu memerlukan strategi transisi karier yang tepat untuk memperkuat profil profesional, menghadapi rekrutmen, dan memperoleh posisi yang sesuai.
Dibimbing Placement Program (DPP) dirancang bagi profesional berpengalaman yang ingin pindah jalur karier, naik level, atau bekerja di perusahaan yang lebih baik. Program ini menggabungkan pendampingan personal dengan penyaluran kerja bergaransi selama enam bulan.
Melalui Dibimbing Placement Program, kamu akan mendapatkan:
- Asesmen Karier: Mengevaluasi kesiapan dan menentukan target karier sebelum mengikuti program.
- Pendampingan Personal: Didampingi personal advisor dari tahap persiapan hingga memperoleh pekerjaan.
- Optimasi Profil: Penyusunan CV ramah ATS, optimasi LinkedIn, dan perbaikan portofolio.
- Persiapan Rekrutmen: Simulasi wawancara HR dan user serta latihan negosiasi gaji.
- Strategi Melamar: Evaluasi kecocokan posisi, target lamaran mingguan, dan pemantauan progres.
- Akses Perusahaan: Terhubung dengan lebih dari 1.100 perusahaan mitra dan lowongan eksklusif.
- Program Fleksibel: Persiapan karier dapat dijalankan tanpa harus langsung mengundurkan diri.
- Garansi Penyaluran: Kesempatan memperoleh pekerjaan dalam enam bulan atau pengembalian biaya 100% sesuai ketentuan program.
Siap Memulai Transisi Karier?
Melalui DPP, kamu bisa menjalankan strategi pindah kerja secara lebih terarah dengan dukungan advisor. Kamu juga akan dibantu mempersiapkan proses rekrutmen, mulai dari optimasi profil hingga negosiasi penawaran kerja.
Yuk, konsultasikan rencana shifting career bersama Tim Dibimbing Placement Program untuk mengetahui persyaratan, alur seleksi, biaya, dan pendaftarannya. Sampaikan bahwa kamu memperoleh informasi program ini dari blog Dibimbing.
FAQ
1. Apa Itu Career Switch atau Transisi Karier?
Career switch adalah proses pindah jalur karier ke bidang, profesi, atau industri yang berbeda. Perubahan karier biasanya dilakukan untuk memperoleh peluang karier profesional yang lebih sesuai.
2. Kapan Seseorang Perlu Mempertimbangkan Pindah Karier?
Pindah karier dapat dipertimbangkan ketika karier stagnan dan tidak memberikan ruang untuk berkembang. Namun, keputusan tersebut tetap membutuhkan perencanaan karier yang matang.
3. Apa Strategi Pindah Kerja ke Bidang Baru?
Strategi pindah kerja dapat dimulai dengan menentukan posisi tujuan dan mempelajari keterampilan baru. Kamu juga perlu mengidentifikasi transferable skills yang masih relevan untuk mendukung pengembangan karier.
4. Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Beralih Karier?
Lakukan optimasi CV dengan menonjolkan pengalaman dan keterampilan yang sesuai posisi tujuan. Persiapan wawancara juga diperlukan agar kamu mampu menjelaskan alasan transisi karier secara meyakinkan.
5. Apakah Pendampingan Karier Diperlukan Saat Career Switch?
Pendampingan karier dapat membantu menyusun strategi, mengevaluasi CV, dan mempersiapkan proses rekrutmen. Kamu juga dapat mempertimbangkan job placement program untuk memperoleh akses ke peluang kerja yang relevan.
Kategori:
Penulis
Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.
