Dibimbing - Risk Based Budgeting: Pengertian, Manfaat, dan Cara Menerapkannya
Blog
Risk Management

Risk Based Budgeting: Pengertian, Manfaat, dan Cara Menerapkannya

Author

DITULIS OLEH 

Farijihan Putri

Dibuat pada 1 Jul 2026

Diubah pada 27 Jul 2026

94

Image Thumbnail

Bootcamp Risk Management Online di Dibimbing sering menjadi pilihan bagi banyak profesional yang ingin memahami bagaimana risiko memengaruhi keputusan bisnis, termasuk dalam risk based budgeting​ atau penyusunan anggaran. 

Soalnya, anggaran yang terlihat rapi di atas kertas belum tentu siap menghadapi berbagai ketidakpastian di dunia nyata. Kenaikan biaya operasional, perubahan regulasi, gangguan proyek, hingga kondisi ekonomi dapat memengaruhi pencapaian target organisasi. 

Di sinilah risk based budgeting hadir sebagai pendekatan yang membantu organisasi mengalokasikan anggaran dengan mempertimbangkan potensi risiko yang mungkin terjadi. Yuk, Warga Bimbingan, kenali konsepnya lebih dalam!


Apa Itu Risk Based Budgeting?

Risk based budgeting adalah pendekatan penyusunan anggaran yang mempertimbangkan berbagai risiko yang dapat memengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Fokusnya bukan hanya menghitung pendapatan dan pengeluaran, tetapi juga mengidentifikasi potensi ancaman yang bisa mengganggu operasional maupun kinerja bisnis.

Melalui pendekatan ini, organisasi dapat menentukan prioritas penggunaan anggaran berdasarkan tingkat risiko yang dihadapi. Dengan kata lain, setiap alokasi dana memiliki alasan yang lebih kuat dibanding sekadar mengikuti pola pengeluaran tahun sebelumnya.

Konsep ini juga memiliki hubungan erat dengan Framework Risk Management karena proses penyusunannya melibatkan identifikasi, analisis, evaluasi, dan mitigasi risiko sebelum anggaran ditetapkan.

Baca Juga: Rekomendasi Bootcamp Risk Management, Langsung Kerja!


Mengapa Risk Based Budgeting Penting bagi Organisasi?

Sumber: Magnific

Penyusunan anggaran tanpa mempertimbangkan risiko ibarat menyusun rencana perjalanan tanpa mengecek kondisi cuaca. Rencana memang ada, tetapi belum tentu siap menghadapi perubahan di lapangan.


1. Membantu Mengantisipasi Risiko Sejak Awal

Risk based budgeting mendorong organisasi untuk mengidentifikasi berbagai risiko sebelum anggaran disahkan. Langkah tersebut membantu perusahaan menyiapkan strategi mitigasi yang lebih matang.

Ketika risiko sudah dipetakan sejak awal, organisasi dapat mengurangi potensi kerugian yang muncul akibat kejadian tak terduga.


2. Meningkatkan Efektivitas Alokasi Anggaran

Tidak semua aktivitas memiliki tingkat risiko yang sama. Ada program yang membutuhkan perhatian lebih besar karena dampaknya terhadap bisnis sangat signifikan.

Melalui pendekatan berbasis risiko, organisasi dapat memprioritaskan alokasi dana pada area yang memiliki risiko tinggi maupun nilai strategis yang besar.


3. Mendukung Pengambilan Keputusan yang Lebih Terukur

Keputusan anggaran tidak lagi hanya mengandalkan asumsi atau kebiasaan tahunan. Sebaliknya, keputusan dibuat berdasarkan informasi risiko yang lebih objektif.

Pendekatan tersebut membantu manajemen melihat kemungkinan dampak dari setiap keputusan yang diambil.


4. Menjaga Stabilitas Keuangan Organisasi

Dana cadangan dan anggaran kontinjensi menjadi bagian penting dalam risk based budgeting. Kehadirannya membantu organisasi tetap beroperasi ketika menghadapi kondisi yang tidak sesuai rencana.


Apa Kata Penelitian tentang Risk Based Budgeting?

Menariknya, berbagai penelitian terbaru menunjukkan kualitas informasi anggaran dan pengelolaan risiko memiliki pengaruh besar terhadap kinerja organisasi. Warga Bimbingan bisa melihat dua hasil penelitian berikut ini ya!


1. Kualitas Informasi Anggaran Memengaruhi Keputusan

Menurut penelitian Azam dan Bouckaert (2024), organisasi sektor publik yang terus memperbaiki indikator kinerja dalam proses penganggaran cenderung menghasilkan informasi yang lebih berorientasi pada hasil. 

Namun, penelitian tersebut juga menemukan bahwa keterbatasan kapasitas organisasi dan aturan yang terlalu kaku sering membuat pembaruan indikator berjalan lambat.

Temuan tersebut memberikan pelajaran penting risk based budgeting bukan hanya soal menambahkan daftar risiko ke dalam dokumen anggaran. Kualitas informasi yang digunakan juga harus terus diperbarui agar keputusan yang diambil tetap relevan dengan kondisi organisasi.

Artinya, semakin baik kualitas data risiko dan kinerja yang digunakan, semakin efektif pula proses pengambilan keputusan anggaran.


2. Penganggaran yang Lebih Sophisticated Meningkatkan Kinerja

Penelitian selanjutnya adalah yang dilakukan oleh Darmansyah, Ali, dan Parveen (2025). Mereka melakukan penelitian terhadap 590 perusahaan Indonesia selama periode 2014–2023 menemukan penggunaan pendekatan capital budgeting yang lebih sophisticated mampu meningkatkan kinerja keuangan perusahaan secara signifikan.

Menariknya lagi, penelitian tersebut menunjukkan manajemen risiko berperan sebagai faktor yang memperkuat hubungan antara keputusan investasi dan kinerja keuangan. Dengan kata lain, organisasi yang mengelola risiko dengan baik memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh manfaat dari keputusan penganggaran yang dibuat.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa risk based budgeting tidak hanya membantu mengurangi ancaman, tetapi juga berkontribusi terhadap penciptaan nilai bisnis jangka panjang.


Apa Saja Komponen dalam Risk Based Budgeting?

Supaya lebih mudah dipahami, berikut 5 komponen utama yang biasanya digunakan dalam proses risk based budgeting.


1. Identifikasi Risiko

Langkah pertama adalah mengenali berbagai risiko yang berpotensi memengaruhi tujuan organisasi.

Risiko tersebut bisa berasal dari faktor internal maupun eksternal, mulai dari operasional, keuangan, teknologi, hingga regulasi.


2. Penilaian Risiko

Setelah risiko teridentifikasi, organisasi perlu mengukur tingkat kemungkinan dan dampaknya. Proses tersebut membantu menentukan risiko mana yang memerlukan perhatian lebih besar.


3. Penentuan Prioritas Risiko

Tidak semua risiko harus mendapatkan perlakuan yang sama. Risiko dengan dampak besar dan kemungkinan tinggi biasanya menjadi prioritas utama. Pendekatan tersebut membuat penggunaan anggaran menjadi lebih efisien.


4. Penyusunan Anggaran Mitigasi

Tahap berikutnya adalah mengalokasikan dana untuk mengurangi atau mengendalikan risiko yang telah diprioritaskan. Dana tersebut dapat berupa biaya pengendalian, pelatihan, pengembangan sistem, hingga anggaran kontinjensi.


5. Monitoring dan Evaluasi

Risiko dapat berubah seiring waktu. Oleh sebab itu, organisasi perlu melakukan evaluasi secara berkala agar anggaran tetap relevan dengan kondisi terbaru.


Bagaimana Cara Menerapkan Risk Based Budgeting?

Penerapan risk based budgeting membutuhkan proses yang terstruktur agar hasilnya optimal.


1. Menentukan Tujuan Organisasi

Target bisnis, KPI, dan sasaran strategis perlu ditetapkan terlebih dahulu sebelum menyusun anggaran.

Kejelasan tujuan membantu organisasi menentukan risiko yang paling relevan untuk dikelola.


2. Membuat Risk Register

Risk register berisi daftar risiko yang berpotensi memengaruhi pencapaian target organisasi.

Dokumen tersebut menjadi fondasi utama dalam proses analisis risiko.


3. Mengukur Dampak Finansial Risiko

Setiap risiko perlu dihitung dampak finansialnya. Langkah ini membantu organisasi memahami besarnya potensi kerugian yang mungkin terjadi.


4. Menentukan Prioritas Penggunaan Anggaran

Anggaran kemudian dialokasikan berdasarkan tingkat risiko dan urgensi penanganannya. Pendekatan ini membuat organisasi lebih fokus pada area yang paling membutuhkan perhatian.


5. Menyusun Skenario dan Dana Cadangan

Organisasi biasanya menyiapkan beberapa skenario seperti best case, moderate case, dan worst case. Pendekatan tersebut membuat perusahaan lebih siap menghadapi perubahan kondisi bisnis.

Baca Juga: Kurikulum Terlengkap Bootcamp Risk Management Dibimbing


Apa Perbedaan Risk Based Budgeting dan Traditional Budgeting?

Meskipun sama-sama digunakan untuk menyusun anggaran, kedua pendekatan ini memiliki fokus yang berbeda. Secara garis besar, MinDi sudah buatkan perbedaannya berikut ini!

Aspek

Traditional Budgeting

Risk Based Budgeting

Fokus

Pengeluaran dan pendapatan

Risiko dan tujuan bisnis

Dasar Penyusunan

Data historis

Risiko dan data historis

Fleksibilitas

Relatif rendah

Lebih adaptif

Pendekatan

Reaktif

Proaktif


Traditional Budgeting Lebih Reaktif

Traditional budgeting umumnya mengandalkan data historis sebagai dasar penyusunan anggaran. Pendekatan tersebut cukup efektif dalam kondisi yang stabil, tetapi sering kesulitan menghadapi perubahan yang cepat.


Risk Based Budgeting Lebih Proaktif

Risk based budgeting mendorong organisasi mempersiapkan berbagai kemungkinan sebelum risiko benar-benar terjadi. Pendekatan ini membuat organisasi lebih siap menghadapi ketidakpastian.


Bagaimana Risk Budgeting Digunakan dalam Dunia Investasi?

Konsep risk budgeting ternyata tidak hanya digunakan dalam organisasi atau perusahaan.

Dalam dunia investasi, risk budgeting digunakan untuk menentukan seberapa besar risiko yang dapat dialokasikan pada setiap aset dalam portofolio.

Tujuannya bukan sekadar mengejar keuntungan, tetapi juga menjaga keseimbangan risiko secara keseluruhan.

Menurut penelitian Pesenti dkk. (2024), pendekatan risk budgeting memungkinkan alokasi risiko dilakukan secara lebih terstruktur melalui kontribusi risiko yang dihitung secara dinamis. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa strategi risk budgeting dapat dioptimalkan menggunakan pendekatan matematis dan deep learning.

Menariknya, prinsip yang sama dapat diterapkan dalam organisasi. Artinya, anggaran dapat dialokasikan berdasarkan tingkat risiko sehingga sumber daya digunakan secara lebih efektif.

Bagi profesional yang ingin melihat Contoh Manajemen Risiko Perusahaan, pendekatan seperti ini sering menjadi bagian penting dalam proses perencanaan strategis modern.


Tantangan dalam Menerapkan Risk Based Budgeting

Meski memiliki banyak manfaat, penerapannya tetap menghadapi sejumlah tantangan.


1. Kualitas Data yang Kurang Memadai

Keputusan yang baik membutuhkan data yang baik pula. Data yang tidak akurat dapat menghasilkan penilaian risiko yang kurang tepat.


2. Kesulitan Mengukur Risiko

Tidak semua risiko mudah dikonversi menjadi nilai finansial. Beberapa risiko memerlukan pendekatan analisis yang lebih kompleks.


3. Kurangnya Kolaborasi Antar Departemen

Risk based budgeting melibatkan berbagai fungsi dalam organisasi. Kurangnya koordinasi dapat menghambat proses penyusunan anggaran.


4. Resistensi terhadap Perubahan

Sebagian organisasi masih terbiasa menggunakan pendekatan anggaran tradisional. Akibatnya, perubahan menuju pendekatan berbasis risiko sering membutuhkan waktu dan edukasi tambahan.


Skill yang Dibutuhkan untuk Risk Based Budgeting

Penerapan risk based budgeting membutuhkan kombinasi kemampuan teknis dan strategis.

  1. Risk Assessment: Kemampuan menilai risiko membantu organisasi menentukan prioritas yang tepat dalam penggunaan anggaran.
  2. Financial Analysis: Analisis keuangan diperlukan untuk mengukur dampak risiko terhadap kondisi bisnis dan stabilitas organisasi.
  3. Budget Planning: Perencanaan anggaran yang baik membantu memastikan setiap alokasi dana memiliki tujuan yang jelas.
  4. Data Analysis: Data menjadi fondasi dalam proses identifikasi dan evaluasi risiko.
  5. Strategic Thinking: Pemikiran strategis membantu organisasi melihat hubungan antara risiko, tujuan bisnis, dan penggunaan sumber daya.

Skill-skill tersebut juga menjadi modal penting bagi profesional yang ingin Sukses Switch Career ke Risk Management dan berkarier di bidang risk management, governance, maupun compliance.

Baca Juga: Biaya Bootcamp Risk Management Dibimbing: Benefit & Prospek


Yuk, Belajar Risk Management Secara Praktis Bersama Dibimbing!

Risk based budgeting menunjukkan bahwa pengelolaan risiko bukan hanya tugas tim risk management, tetapi bagian penting dari proses pengambilan keputusan bisnis yang lebih cerdas.

Kalau kamu ingin memahami manajemen risiko secara lebih mendalam dan relevan dengan kebutuhan industri saat ini, Bootcamp Risk Management Online di Dibimbing bisa menjadi pilihan yang tepat.

Benefit yang bisa kamu dapatkan:

  1. 55+ Live Class & 45+ Sesi Praktek Bersama Praktisi Ahli
  2. 25+ Project untuk Portfolio Building
  3. Studi Kasus Nyata dengan 4 Pilar (Credit, Market, Operational, Liquidity & Treasury)
  4. Final Project Berbasis Standar Industri Terkini
  5. Dampingan Fasilitator dengan Mentor Berdedikasi yang Tersedia 24/7
  6. Konsultasi 1-on-1 Tanpa Batas Bersama Instruktur Expert (Khusus Program Job Connect)
  7. Program Graduation & Penyaluran Kerja ke 1.100+ Perusahaan (Khusus Program Job Connect)
  8. Bergabung di Komunitas Expertise Risk Management

Menariknya lagi, 96% alumni Dibimbing telah sukses bekerja dan mengembangkan karier di berbagai industri.

Kalau masih penasaran seperti "Bagaimana memulai karier di bidang risk management?" atau "Skill apa yang paling dibutuhkan Risk Management Analyst?", konsultasi gratis saja di sini! Dibimbing siap #BimbingSampeJadi profesional risk management yang siap bersaing di dunia kerja!


FAQ

1. Apakah risk based budgeting hanya digunakan perusahaan besar?

Tidak. UKM maupun organisasi nirlaba juga dapat menerapkan risk based budgeting sesuai kompleksitas operasionalnya.

2. Apa perbedaan risk register dan budget plan?

Risk register berisi daftar risiko yang perlu dikelola, sedangkan budget plan berisi alokasi dana untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi.

3. Apakah risk based budgeting harus memiliki dana kontinjensi?

Idealnya ya. Dana kontinjensi membantu organisasi menghadapi kejadian yang tidak terduga tanpa mengganggu operasional utama.


Referensi

  1. Risk Budgeting Allocation for Dynamic Risk Measures [Buka]
  2. Sophisticated Capital Budgeting Decisions for Financial Performance and Risk Management—A Tale of Two Business Entities [Buka]
  3. Performance-based budgeting reform and evolution of performance information quality: empirical analysis of Indonesia [Buka]

Kategori:

Share:

Penulis

Penulis Image

Farijihan Putri

Farijihan is a passionate Content Writer with 3 years of experience in crafting compelling content, optimizing for SEO, and developing creative strategies for various brands and industries.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!