Pareto Analysis: Pengertian, Prinsip 80/20, Langkah, & Contoh
DITULIS OLEH
Farijihan Putri
DIREVIEW OLEH
Sudah Direview Oleh Expert
Dibuat pada 29 Sep 2026
Diubah pada 2 Okt 2026
20
Pareto Analysis adalah metode untuk menentukan masalah atau faktor yang paling berpengaruh agar kamu bisa memprioritaskan tindakan dengan lebih tepat.
Kalau Warga Bimbingan tertarik mengolah data untuk membantu pengambilan keputusan bisnis, belajar lewat Kursus Business Analyst dengan penyaluran kerja bisa menjadi langkah untuk mengasah skill tersebut.
Daripada menghabiskan waktu menangani semua masalah sekaligus, Pareto Analysis membantumu melihat masalah mana yang memberikan dampak paling besar. Metode ini sering divisualisasikan menggunakan Pareto Chart sehingga pola prioritas lebih mudah dibaca dari data.
Apa Itu Pareto Analysis?
Pareto Analysis merupakan metode analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi beberapa faktor paling signifikan dari sekumpulan masalah. Hasil analisis biasanya disajikan dalam grafik batang yang diurutkan dari nilai terbesar ke terkecil, lalu dilengkapi garis persentase kumulatif.
Sederhananya, kamu sedang mencari “vital few”, yaitu sejumlah kecil penyebab yang memberikan kontribusi besar terhadap keseluruhan masalah. Konsep tersebut membantu tim menentukan area mana yang sebaiknya ditangani terlebih dahulu.
Baca Juga: Cerita Kak Nasrul Jadi Business Analyst di Perusahaan Fintech
Sejarah Pareto Analysis dan Prinsip 80/20
Konsep Pareto berawal dari Vilfredo Pareto, seorang ekonom Italia abad ke-19. Pareto mengamati pola distribusi kekayaan dan menemukan adanya ketimpangan dalam distribusi tersebut.
Konsep tersebut kemudian berkembang jauh melampaui ekonomi. Pada pertengahan abad ke-20, Joseph M. Juran membawa gagasan Pareto ke bidang manajemen kualitas dan mengembangkan penggunaannya sebagai prinsip untuk menentukan prioritas perbaikan.
Siapa Vilfredo Pareto?
Vilfredo Pareto merupakan ekonom dan sosiolog Italia yang hidup pada 1848–1923. Namanya kemudian digunakan untuk menyebut pola distribusi yang menjadi dasar dari prinsip Pareto.
Menariknya, Pareto sendiri tidak menciptakan istilah “Pareto Analysis” seperti yang dikenal dalam praktik bisnis sekarang. Penggunaan konsepnya kemudian berkembang ketika diterapkan pada berbagai persoalan manajemen dan kualitas.
Siapa Joseph M. Juran?
Joseph M. Juran merupakan tokoh penting dalam perkembangan manajemen kualitas. Pada 1950, ia memformulasikan prinsip 80/20 dalam konteks kualitas sebagai gagasan bahwa sebagian besar efek berasal dari sebagian kecil penyebab.
Juran juga menggunakan istilah “vital few” untuk menggambarkan sejumlah kecil penyebab yang memiliki kontribusi besar. Istilah ini membuat Pareto tidak hanya menjadi konsep statistik, tetapi juga alat bantu untuk menentukan prioritas perbaikan.
Apa Itu Prinsip Pareto 80/20?
Prinsip Pareto 80/20 menyatakan sebagian besar efek sering kali berasal dari sebagian kecil penyebab. Angka 80 dan 20 bukan aturan matematika yang wajib selalu muncul, melainkan gambaran pola konsentrasi dampak yang dapat ditemukan dalam berbagai situasi.
Misalnya, sebuah toko menerima 1.000 keluhan pelanggan dalam sebulan. Setelah dikelompokkan, ternyata sebagian besar keluhan berasal dari beberapa kategori masalah utama.
Daripada memperbaiki semua kategori sekaligus, perusahaan dapat memprioritaskan kategori dengan kontribusi terbesar terlebih dahulu. Nah, di situlah Pareto Analysis menjadi berguna.
Baca Juga: Bootcamp Business Analyst dengan Penyaluran Magang Terbaik
Bagaimana Cara Melakukan Pareto Analysis?
Prosesnya sebenarnya cukup mudah selama data yang digunakan jelas. Kamu bisa mengikuti beberapa langkah berikut.
1. Tentukan Masalah
Tentukan dulu masalah yang ingin dianalisis. Contohnya, kamu ingin mengetahui penyebab utama meningkatnya keluhan pelanggan.
2. Kumpulkan dan Kelompokkan Data
Catat data berdasarkan kategori yang relevan. Misalnya, keluhan dikelompokkan menjadi keterlambatan pengiriman, produk rusak, pembayaran, layanan pelanggan, dan masalah lainnya.
3. Hitung Frekuensi atau Dampak
Tentukan ukuran yang ingin digunakan, seperti jumlah kejadian, biaya, waktu, atau nilai kerugian. Pemilihan metrik harus disesuaikan dengan tujuan analisis.
4. Urutkan dari Terbesar ke Terkecil
Susun kategori berdasarkan nilai atau frekuensi tertinggi hingga terendah. Urutan tersebut nantinya menjadi dasar pembuatan Pareto Chart.
5. Hitung Persentase Kumulatif
Tambahkan kontribusi setiap kategori secara bertahap untuk melihat seberapa besar dampak yang sudah tercakup. Garis kumulatif kemudian membantu menunjukkan titik prioritas dalam data.
6. Tentukan Prioritas
Terakhir, identifikasi kategori yang memberikan kontribusi paling besar. Fokus perbaikan dapat dimulai dari kategori tersebut sebelum beralih ke masalah lain.
Contoh Aplikasi Pareto Analysis
Misalnya sebuah perusahaan mencatat 500 keluhan pelanggan dalam satu bulan:
- Keterlambatan pengiriman: 220 keluhan
- Produk rusak: 130 keluhan
- Kesalahan pesanan: 80 keluhan
- Respons customer service: 40 keluhan
- Masalah pembayaran: 30 keluhan
Data tersebut kemudian dibuat menjadi Pareto Chart dengan kategori terbesar berada di sisi kiri.
Dari sini, tim dapat melihat bahwa keterlambatan pengiriman dan produk rusak menyumbang porsi terbesar dari keluhan. Perusahaan kemudian bisa memprioritaskan evaluasi proses pengiriman dan kontrol kualitas sebelum mengalokasikan sumber daya lebih besar pada kategori dengan kontribusi lebih kecil.
Contoh tersebut menunjukkan satu hal penting: Pareto Analysis bukan mencari masalah yang paling mudah diselesaikan, tetapi masalah yang berpotensi menghasilkan dampak perbaikan paling besar.
Baca Juga: Tugas Business Analyst Intern: Cara Magang & Dapat Job Nyata!
Apa Manfaat Pareto Analysis?
Pareto Analysis dapat membantu tim mengambil keputusan berbasis data tanpa harus memperlakukan semua masalah sebagai prioritas yang sama. Beberapa manfaatnya meliputi:
- Membantu menentukan prioritas masalah.
- Membuat data lebih mudah dipahami secara visual.
- Membantu mengalokasikan waktu dan sumber daya.
- Mendukung proses pengambilan keputusan.
- Mempermudah komunikasi mengenai masalah utama.
- Membantu tim mengevaluasi dampak setelah perbaikan dilakukan.
Bagi Business Analyst, kemampuan seperti ini juga penting karena analisis data tidak berhenti pada menemukan angka. Kamu perlu mengubah data menjadi insight yang bisa membantu tim menentukan tindakan.
Apa Keterbatasan Pareto Analysis?
Pareto Analysis juga bukan alat yang bisa menjawab semua persoalan. Metode ini menunjukkan masalah atau kategori mana yang paling dominan, tetapi tidak otomatis menjelaskan akar penyebabnya.
Misalnya, keterlambatan pengiriman menjadi masalah terbesar. Data Pareto belum tentu bisa menjelaskan apakah penyebabnya berasal dari stok, vendor, proses gudang, atau perusahaan logistik.
Oleh karena itu, Pareto Analysis sebaiknya digunakan bersama metode lain seperti root cause analysis, Fishbone Diagram, atau 5 Whys. Dengan kombinasi tersebut, kamu bisa bergerak dari “masalah mana yang paling besar?” menuju “kenapa masalah tersebut terjadi?”
Pareto Analysis Bukan Sekadar Aturan 80/20
Warga Bimbingan, bagian paling menarik dari Pareto Analysis justru bukan angka 80/20-nya. Angka tersebut sering dianggap sebagai aturan wajib, padahal inti metodenya adalah menemukan konsentrasi dampak dan menentukan prioritas berdasarkan data.
Artinya, kamu tidak perlu memaksakan data agar menghasilkan tepat 80% dan 20%. Kalau tiga kategori sudah menyumbang sebagian besar dampak, tiga kategori itulah yang layak menjadi fokus awal.
MinDi melihat cara berpikir tersebut sebagai skill penting bagi Business Analyst. Sebab, dunia kerja tidak selalu membutuhkan orang yang sekadar bisa membuat grafik, tetapi orang yang mampu menjawab “dari semua masalah ini, mana yang paling perlu kita tangani dulu?”
Baca Juga: Switch Career ke Business Analyst: Panduan Sukses
Kesimpulan
Pareto Analysis adalah metode untuk menemukan sejumlah kecil faktor yang memberikan dampak terbesar terhadap suatu masalah. Dengan prinsip 80/20, Pareto Chart, dan analisis data yang tepat, kamu bisa menentukan prioritas secara lebih terarah.
Bootcamp Business Analyst Terpercaya dengan Penyaluran Kerja di Indonesia
Kalau kamu ingin belajar business analyst secara lebih mendalam dan mempraktikkan cara mengolah data menjadi insight, MinDi menyarankan Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Online Dibimbing.
Benefit Kelas Business Analyst & Product Strategy Online Dibimbing
- 60+ Live Class dan 7+ Extra Live Session Bersama Mentor Ahli
- Structured Weekly Assignment untuk Portfolio Building
- Technical Problem Class untuk Membangun Kemampuan Problem Solving Teknis bagi BA & PM
- 1-on-1 Unlimited Personalized Session Bersama Instruktur Expert
- Dampingan Fasilitator & Mentor Berdedikasi yang Tersedia 24/7
- 12 Minggu Pengalaman Magang di Hiring Company Dibimbing
- Program Graduation & Penyaluran Kerja ke 700+ Perusahaan
- Bergabung di Komunitas Expertise Business Analyst & Product Strategy
Kalau ada pertanyaan seputar kurikulum atau penyaluran kerja, konsultasi Bootcamp Business Analyst bersama Dibimbing yang pasti #BimbingSampeJadi impianmu!
FAQ
1. Apakah Pareto Analysis bisa dibuat menggunakan Excel?
Bisa. Excel dapat digunakan untuk mengolah data, menghitung persentase kumulatif, serta membuat visualisasi Pareto Chart tanpa membutuhkan software analisis khusus.
2. Apakah Pareto Analysis sama dengan Pareto Chart?
Tidak sepenuhnya. Pareto Analysis merupakan proses analisis untuk menentukan prioritas, sedangkan Pareto Chart adalah salah satu alat visualisasi yang digunakan untuk menampilkan hasil analisis tersebut.
3. Apakah Pareto Analysis cocok untuk semua jenis data?
Tidak selalu. Metode ini paling berguna ketika data dapat dikelompokkan berdasarkan kategori dan kamu ingin mengetahui kategori mana yang memiliki kontribusi atau dampak paling besar.
Kategori:
Penulis
Farijihan Putri adalah SEO Content Writer dengan pengalaman 4+ tahun menulis dan mengoptimalkan konten untuk berbagai topik. Di Dibimbing, ia mengolah beragam insight seputar karier dan industri, mulai dari digital marketing, HR, data, finance, business, hingga technology. Melalui tulisannya, Jihan membantu pembaca memahami skill yang dibutuhkan di dunia kerja serta menemukan informasi yang relevan untuk mendukung perkembangan karier mereka.
