Kenapa Harga Saham Bisa Naik Turun? 9 Penyebabnya, Yuk Cek!
DITULIS OLEH
Irhan Hisyam Dwi Nugroho
DIREVIEW OLEH
Sudah Direview Oleh Expert
Dibuat pada 30 Okt 2026
Diubah pada 3 Nov 2026
10
Kenapa harga saham bisa naik turun? Perubahan ini dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran, kinerja perusahaan, kondisi ekonomi, hingga sentimen investor.
Harga saham dapat berubah dalam hitungan detik. Karena itu, kenali penyebabnya sebelum mengambil keputusan investasi.
Warga Bimbingan, memahami fluktuasi saham juga berkaitan dengan pengelolaan risiko keuangan. Yuk, pelajari lebih lanjut melalui Bootcamp Risk Management Dibimbing!
Baca Juga: Istilah dalam Saham yang Wajib Dipahami Investor Pemula
Kenapa Harga Saham Bisa Naik Turun?
Harga saham bisa naik turun karena perubahan permintaan dan penawaran di pasar modal. Harga cenderung naik ketika pembeli bersedia membayar lebih tinggi, sedangkan tekanan jual pada harga lebih rendah dapat membuatnya turun.
Penyebab harga saham naik turun dapat ditelusuri dari keputusan jual dan beli investor. Keputusan tersebut dipengaruhi kondisi perusahaan serta perkiraan prospek bisnisnya, seperti faktor berikut:
- Kinerja perusahaan: Perubahan laba, pendapatan, dan utang dapat memengaruhi minat investor.
- Kondisi ekonomi: Suku bunga, inflasi, dan nilai tukar dapat memengaruhi keuntungan serta prospek bisnis.
- Berita dan sentimen pasar: Kebijakan pemerintah, aksi korporasi, dan situasi politik dapat memicu keputusan jual atau beli.
- Ekspektasi investor: Harga juga mencerminkan perkiraan kinerja perusahaan ke depan, sehingga laba yang naik belum tentu diikuti kenaikan harga saham.
Bagaimana Mekanisme Naik Turunnya Harga Saham?
Sumber: Desain oleh Dibimbing
Pergerakan harga saham terbentuk melalui pencocokan pesanan jual dan beli di bursa. Investor memasukkan jumlah saham beserta harga yang bersedia mereka bayarkan atau terima.
Terdapat dua istilah penting dalam mekanisme perdagangan saham, yaitu:
- Bid: Harga yang bersedia dibayarkan pembeli untuk memperoleh saham.
- Offer: Harga yang diminta penjual ketika menawarkan saham.
Transaksi terjadi ketika pesanan pembelian dan penjualan dapat dipertemukan oleh sistem perdagangan bursa.
Contoh Pergerakan Harga Saham
Sebagai contoh, berikut simulasi antrean jual saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Angka harga dan jumlah lot hanya untuk ilustrasi, bukan data perdagangan aktual.
Lot Beli | Permintaan (Bid) | Penawaran (Offer) | Lot Jual |
25 lot | Rp3.990 | Rp4.000 | 20 lot |
35 lot | Rp3.980 | Rp4.010 | 30 lot |
45 lot | Rp3.970 | Rp4.020 | 40 lot |
Dalam simulasi BBRI ini, investor memesan 30 lot dengan harga maksimum Rp4.010. Jika antrean tidak berubah, pembelian mengambil 20 lot pada Rp4.000 dan 10 lot pada Rp4.010. Harga transaksi terakhir menjadi Rp4.010, sedangkan harga beli rata-ratanya sekitar Rp4.003,33 per lembar sebelum biaya transaksi.
Harga saham naik karena apa dalam simulasi ini? Setelah penawaran Rp4.000 habis dibeli, transaksi berikutnya terjadi pada Rp4.010 sehingga harga terakhir naik. Sebaliknya, harga bisa turun jika penjual menerima harga pada antrean beli yang lebih rendah. Satu lot setara dengan 100 lembar saham.
Baca Juga: Career Switch dari Lulusan Fisika ke Karier Finance Profesional
9 Penyebab Harga Saham Naik Turun
Setelah memahami mekanisme perdagangan, kamu perlu mengenali faktor yang mendorong keputusan investor. Faktor tersebut dapat berasal dari perusahaan maupun kondisi pasar.
Berikut sembilan penyebab utama perubahan harga saham beserta contohnya.
1. Permintaan dan Penawaran Saham
Permintaan dan penawaran menjelaskan kenapa harga saham bisa naik turun secara langsung. Harga cenderung meningkat ketika pembeli bersedia membeli pada harga yang semakin tinggi untuk mendapatkan saham.
Sebaliknya, ketika penjual bersedia menurunkan harga penawaran agar sahamnya segera terjual, harga transaksi dapat bergerak turun.
Perlu dipahami bahwa setiap transaksi selalu melibatkan pembeli dan penjual. Karena itu, pergerakan harga lebih tepat dijelaskan melalui agresivitas pesanan dan ketersediaan saham pada setiap tingkat harga, bukan sekadar banyaknya orang yang membeli atau menjual.
2. Kinerja Keuangan Perusahaan
Kinerja keuangan termasuk faktor yang memengaruhi harga saham. Perusahaan yang mampu meningkatkan pendapatan dan laba secara konsisten cenderung lebih menarik apabila hasilnya sesuai dengan ekspektasi pasar.
Sebaliknya, kerugian berulang, peningkatan utang, atau penurunan arus kas dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap kemampuan perusahaan mempertahankan bisnisnya.
Beberapa indikator yang perlu diperhatikan antara lain:
- Pendapatan: Menggambarkan nilai penjualan atau kegiatan usaha perusahaan.
- Laba bersih: Menunjukkan keuntungan setelah memperhitungkan beban dan pajak.
- Earnings per Share (EPS): Menunjukkan laba yang diatribusikan per lembar saham.
- Return on Equity (ROE): Mengukur kemampuan menghasilkan laba dari ekuitas.
- Debt-to-Equity Ratio (DER): Membandingkan jumlah utang dengan ekuitas perusahaan.
Sebagai contoh, pertumbuhan laba yang tinggi belum tentu menjadi sinyal positif apabila sebagian besar peningkatannya berasal dari keuntungan tidak berulang.
Untuk menilai respons pasar setelah laporan keuangan terbit, baca laporannya secara menyeluruh. Jangan hanya memperhatikan angka laba bersih.
Baca Juga: Cara Membaca Laporan Keuangan Saham untuk Pemula
3. Ekspektasi Investor dan Valuasi Saham
Ekspektasi keuntungan masa depan turut memengaruhi pergerakan harga saham. Investor tidak hanya menilai kinerja perusahaan saat ini.
Misalnya, investor memperkirakan perusahaan akan mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 30%. Namun, ketika laporan keuangan diumumkan, pertumbuhan aktual hanya mencapai 15%.
Meskipun laba tetap bertumbuh, harga saham berpotensi turun karena hasilnya berada di bawah ekspektasi pasar.
Valuasi menjelaskan mengapa saham bisa terkoreksi meskipun bisnisnya bertumbuh. Saham yang terlalu mahal relatif terhadap fundamental lebih rentan turun ketika prospeknya tidak sesuai harapan.
Investor biasanya menggunakan rasio seperti Price-to-Earnings Ratio (PER) dan Price-to-Book Value (PBV) sebagai bagian dari analisis valuasi.
4. Perubahan Suku Bunga
Perubahan suku bunga termasuk faktor yang memengaruhi harga saham. Faktor ini memengaruhi biaya pendanaan perusahaan sekaligus pilihan investasi masyarakat.
Ketika suku bunga meningkat, perusahaan yang memiliki pinjaman berbunga mengambang berpotensi menghadapi kenaikan biaya bunga. Kondisi tersebut dapat mengurangi laba apabila perusahaan tidak mampu mengimbanginya melalui peningkatan pendapatan.
Pada saat yang sama, instrumen pendapatan tetap mungkin menjadi lebih menarik bagi sebagian investor karena menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih kompetitif.
Sebaliknya, penurunan suku bunga dapat mengurangi tekanan biaya pinjaman dan mendukung aktivitas ekonomi.
Namun, dampaknya tidak selalu sama pada setiap sektor. Perbankan, properti, konstruksi, dan perusahaan dengan tingkat utang tinggi dapat merespons perubahan suku bunga secara berbeda.
5. Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah
Inflasi dapat menjadi salah satu penyebab harga saham naik turun. Kenaikan harga barang dan jasa dapat meningkatkan biaya bahan baku, distribusi, tenaga kerja, hingga operasional perusahaan.
Jika perusahaan kesulitan menaikkan harga jual untuk mengimbangi kenaikan biaya, margin keuntungannya berpotensi menurun. Nilai tukar juga dapat memengaruhi pergerakan saham. Pengaruhnya bergantung pada struktur pendapatan, biaya, dan utang perusahaan.
Contohnya, perusahaan yang mengimpor bahan baku menggunakan dolar AS dapat menghadapi kenaikan biaya ketika rupiah melemah. Sebaliknya, perusahaan eksportir tertentu mungkin memperoleh keuntungan dari peningkatan nilai pendapatan dalam rupiah. Karena itu, pelemahan rupiah tidak otomatis berdampak negatif pada seluruh saham.
6. Kebijakan Pemerintah dan Kondisi Ekonomi Global
Kebijakan pemerintah dapat memengaruhi pergerakan harga saham karena mengubah prospek bisnis emiten.
Perubahan tarif pajak, subsidi, regulasi impor, ketentuan ekspor, maupun kebijakan industri dapat memengaruhi pendapatan dan beban operasional perusahaan.
Misalnya, pembatasan ekspor komoditas tertentu berpotensi mengubah strategi penjualan perusahaan yang bergantung pada pasar internasional.
Faktor yang memengaruhi harga saham di Indonesia juga berasal dari kondisi global. Perlambatan ekonomi, konflik geopolitik, dan perubahan harga komoditas dunia dapat memengaruhi keputusan investor.
Dampaknya berbeda-beda bergantung pada jenis industri, sumber pendapatan, dan kemampuan perusahaan menyesuaikan operasionalnya.
7. Aksi Korporasi Perusahaan
Aksi korporasi merupakan keputusan perusahaan yang berkaitan dengan struktur modal, kepemilikan, atau pembagian keuntungan kepada pemegang saham.
- Beberapa aksi korporasi yang perlu diperhatikan meliputi:
- Dividend: Pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham.
- Stock Split: Pemecahan saham sehingga jumlah lembar bertambah dan harga per lembar disesuaikan secara proporsional.
- Rights Issue: Penerbitan saham baru dengan pemberian hak kepada pemegang saham tertentu sesuai ketentuan.
- Buyback: Pembelian kembali saham oleh perusahaan.
- Merger and Acquisition: Penggabungan atau pengambil alihan perusahaan.
Setiap aksi korporasi memiliki konsekuensi berbeda. Misalnya, harga saham umumnya disesuaikan ketika memasuki periode tanpa hak dividen atau ex-dividend date.
Kenapa harga saham turun setelah memasuki periode tanpa hak dividen? Perubahan hak atas dividen perlu diperhitungkan, sehingga penurunan tersebut tidak selalu menandakan fundamental perusahaan memburuk.
8. Sentimen Pasar dan Psikologi Investor
Psikologi investor turut menjadi penyebab harga saham naik turun. Selain fundamental, persepsi dan respons emosional dapat memengaruhi pesanan jual maupun beli.
Ketika berita positif beredar, sebagian investor mungkin membeli saham karena khawatir kehilangan peluang keuntungan atau fear of missing out (FOMO).
Sebaliknya, berita negatif dapat memicu panic selling, yaitu penjualan saham secara terburu-buru karena kekhawatiran harga akan terus menurun.
Sentimen juga dapat terbentuk melalui rekomendasi analis, perkembangan industri, dan pemberitaan mengenai perusahaan.
Bedakan fakta, ekspektasi, dan rumor saat menilai pergerakan saham. Informasi yang ramai diperbincangkan belum tentu akurat.
9. Likuiditas Saham dan Aktivitas Investor Besar
Likuiditas rendah dapat meningkatkan risiko investasi saham karena transaksi besar lebih mudah menggerakkan harga. Likuiditas menunjukkan kemudahan saham dibeli atau dijual tanpa perubahan harga yang signifikan.
Saham dengan volume perdagangan tinggi dan antrean transaksi yang tebal umumnya lebih mudah diperdagangkan dibandingkan saham yang aktivitas transaksinya sangat terbatas.
Sebaliknya, saham berlikuiditas rendah berpotensi mengalami perubahan harga tajam ketika terdapat transaksi dalam jumlah besar.
Contohnya, jika antrean pembelian sangat tipis, investor yang ingin menjual banyak saham sekaligus mungkin harus menerima harga lebih rendah untuk menyelesaikan seluruh transaksinya.
Untuk menganalisis pergerakan harga saham, perhatikan volume perdagangan, nilai transaksi, dan selisih harga bid-offer sebelum membeli.
Baca Juga: Contoh Kasus Risk Management dan Strategi Mitigasi Terbaik
Kenapa Harga Saham Perusahaan Bagus Tetap Bisa Turun?
Pertanyaan kenapa harga saham bisa naik turun juga berlaku pada perusahaan berfundamental baik. Harga mencerminkan ekspektasi pasar, bukan hanya kualitas bisnis perusahaan.
Sebagai contoh, perusahaan ABC mencatatkan peningkatan laba dari Rp100 miliar menjadi Rp120 miliar atau tumbuh 20%.
Namun, sebelum laporan keuangan diumumkan, harga sahamnya sudah naik dari Rp1.000 menjadi Rp1.600 karena investor mengharapkan pertumbuhan laba yang jauh lebih tinggi.
Ketika realisasi kinerja tidak memenuhi harapan, sebagian investor dapat menjual saham untuk merealisasikan keuntungan atau menyesuaikan valuasi.
Dengan demikian, harga saham bisa turun meskipun perusahaan sebenarnya masih menghasilkan laba dan mengalami pertumbuhan.
Pemahaman ini membantu investor membedakan perusahaan berkualitas dengan saham yang dibeli pada harga menarik.
Baca Juga: Cara Investasi Saham untuk Pemula dengan Modal Kecil
Bagaimana Mengetahui Penurunan Harga Saham Masih Wajar?
Menelusuri kenapa harga saham turun membantu membedakan fluktuasi pasar dari perubahan fundamental bisnis. Penurunan harga tidak selalu menunjukkan masalah serius pada perusahaan.
Beberapa hal yang dapat diperiksa antara lain:
- Periksa laporan keuangan terbaru. Bandingkan pendapatan, laba, arus kas, dan jumlah utang dengan periode sebelumnya untuk melihat perkembangan bisnis.
- Identifikasi penyebab penurunan. Perhatikan apakah harga turun akibat kondisi pasar secara keseluruhan, berita perusahaan, atau perubahan prospek industri.
- Bandingkan dengan saham satu sektor. Jika sebagian besar saham dalam industri yang sama mengalami penurunan, faktor sektoral mungkin ikut berperan.
- Evaluasi valuasi saham. Harga yang sudah turun belum tentu murah apabila prospek keuntungan perusahaan juga memburuk.
Analisis pergerakan saham tidak menjamin harga akan pulih. Namun, proses ini membantu investor memahami risiko secara lebih objektif.
Baca Juga: Apa Itu Risiko Investasi dan Contohnya? Kenali Strategi Meminimalisirnya
Bagaimana Cara Mengelola Risiko Saat Harga Saham Turun?
Sumber: Desain oleh Dibimbing
Dalam investasi, potensi keuntungan selalu disertai risiko kerugian. Perubahan nilai aset akibat pergerakan harga pasar dikenal sebagai market risk atau risiko pasar.
Setelah memahami kenapa harga saham bisa naik turun, investor perlu menyusun strategi sebelum bertransaksi. Hindari mengambil keputusan hanya ketika harga sudah jatuh.
1. Tentukan Profil Risiko dan Tujuan Investasi
Setiap investor memiliki toleransi kerugian yang berbeda. Tentukan jangka waktu investasi serta jumlah dana yang siap menghadapi fluktuasi pasar.
Hindari menggunakan uang kebutuhan pokok atau dana darurat untuk transaksi saham berisiko tinggi.
2. Lakukan Diversifikasi Portofolio
Diversifikasi dilakukan dengan menyebarkan dana ke beberapa aset atau sektor dengan sumber risiko berbeda. Misalnya, investor dapat mengombinasikan saham teknologi, perbankan, dan barang konsumsi sesuai profil risiko serta hasil analisisnya.
Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan pada satu perusahaan atau sektor. Namun, diversifikasi tidak menghilangkan seluruh risiko investasi saham karena penurunan pasar dapat memengaruhi banyak saham sekaligus.
3. Batasi Risiko pada Setiap Transaksi
Tentukan batas kerugian sebelum membeli saham agar ukuran transaksi sesuai dengan kemampuan keuangan. Sebagai ilustrasi, jika modal investasi Rp3.000.000 dan batas risiko per transaksi 2% dari modal, anggaran kerugiannya adalah:
- Rp3.000.000 × 2% = Rp60.000
Rp60.000 merupakan batas kerugian yang direncanakan, bukan jumlah dana untuk membeli saham. Ukuran posisi perlu disesuaikan dengan selisih harga beli dan rencana harga keluar, serta memperhitungkan biaya transaksi.
Kerugian aktual tetap dapat melebihi batas tersebut jika harga bergerak cepat atau transaksi tidak terlaksana pada harga yang direncanakan.
Baca Juga: Risk Management Trading: Skill Penting yang Perlu Dipahami Calon Risk Analyst
4. Hindari Keputusan Berdasarkan Emosi
Ketika harga saham turun drastis, rasa takut dapat membuat investor menjual tanpa mempertimbangkan kondisi perusahaan.
Sebaliknya, keinginan memperoleh keuntungan cepat juga dapat mendorong pembelian saham hanya karena harganya sedang naik.
Gunakan data, rencana investasi, dan evaluasi risiko untuk mengurangi keputusan emosional.
5. Evaluasi Risiko Secara Berkala
Perubahan kondisi ekonomi dan kinerja perusahaan dapat memengaruhi risiko portofolio dari waktu ke waktu.
Evaluasi faktor yang memengaruhi harga saham secara berkala dengan meninjau fundamental dan kondisi pasar. Sesuaikan alokasi investasi dengan tujuan keuangan.
Dalam praktik profesional, pengukuran risiko juga dapat menggunakan metode seperti Value at Risk (VaR) untuk memperkirakan potensi kerugian berdasarkan tingkat kepercayaan dan periode tertentu.
Baca Juga: Value at Risk: Pengertian, Metode, dan Cara Menghitungnya
Rekomendasi Bootcamp Risk Management untuk Tingkatkan Skill
Memahami penyebab naik turunnya harga saham merupakan langkah awal untuk mengenali risiko pasar atau market risk. Namun, untuk berkarier di bidang manajemen risiko, kamu juga perlu menguasai analisis, pengukuran risiko, dan strategi mitigasi melalui praktik langsung.
Melalui Bootcamp Risk Management Dibimbing, kamu bisa belajar bersama mentor profesional dengan kurikulum berbasis kebutuhan industri. Program ini cocok untuk mahasiswa, fresh graduate, profesional, maupun career switcher yang ingin membangun karier di bidang manajemen risiko.
Program Bootcamp Risk Management Dibimbing:
- Live Class dan Praktik: Ikuti 55+ live class dan 45+ sesi praktik bersama mentor berpengalaman.
- Portofolio: Bangun portofolio profesional melalui 25+ proyek berbasis kasus nyata.
- Materi Komprehensif: Pelajari empat pilar risiko, yaitu Credit Risk, Market Risk, Operational Risk, serta Liquidity & Treasury.
- Final Project: Kerjakan proyek akhir berdasarkan standar dan kebutuhan industri terkini.
- Pendampingan: Dapatkan dukungan fasilitator dan mentor selama 24/7.
- Mentoring: Akses konsultasi 1-on-1 tanpa batas bersama instruktur ahli, khusus program Job Connect.
- Penyaluran Kerja: Dapatkan akses program penyaluran kerja ke 840+ perusahaan mitra, khusus program Job Connect.
- Komunitas: Bergabung dengan komunitas Risk Management untuk memperluas relasi profesional.
Siap Memulai Karier di Bidang Risk Management?
Kalau kamu tertarik mendalami analisis risiko pasar, kredit, maupun operasional, Bootcamp Risk Management Dibimbing bisa menjadi langkah awal untuk meningkatkan keterampilan sekaligus membangun portofolio profesional.
Yuk, konsultasikan rencana kariermu bersama tim Dibimbing dan temukan program belajar yang paling sesuai dengan kebutuhanmu!
FAQ:
1. Siapa yang menentukan harga saham naik atau turun?
Harga saham terbentuk melalui interaksi permintaan dan penawaran investor di bursa. Tidak ada satu pihak yang secara sepihak menentukan harga seluruh transaksi saham, karena harga terbentuk melalui mekanisme perdagangan sesuai aturan bursa.
2. Kenapa harga saham bisa turun secara tiba-tiba?
Penurunan mendadak dapat disebabkan oleh laporan keuangan yang mengecewakan, berita negatif, perubahan kondisi ekonomi, atau tekanan penjualan dalam jumlah besar. Pada saham berlikuiditas rendah, transaksi tertentu juga dapat menyebabkan perubahan harga yang tajam.
3. Apakah harga saham yang turun pasti akan naik lagi?
Tidak. Sebagian saham dapat mengalami pemulihan harga, tetapi saham lainnya mungkin terus menurun akibat memburuknya kondisi perusahaan atau prospek bisnis. Harga saham yang turun bukan jaminan adanya peluang keuntungan.
4. Apakah IHSG turun berarti semua harga saham ikut turun?
Tidak. IHSG menggambarkan pergerakan gabungan saham yang termasuk dalam perhitungannya, tetapi setiap saham dapat bergerak berbeda. Ketika IHSG melemah, beberapa saham masih berpotensi mengalami kenaikan karena faktor perusahaan atau sektornya masing-masing.
5. Apakah kenaikan dan penurunan harga saham bisa diprediksi?
Pergerakan saham dapat dianalisis melalui pendekatan fundamental, teknikal, dan kondisi makroekonomi. Namun, tidak ada metode yang dapat memprediksi harga dengan akurasi sempurna, sehingga pengelolaan risiko tetap diperlukan dalam setiap keputusan investasi.
Kategori:
Penulis
Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.
