Dibimbing - Compliance Adalah: Arti, Fungsi, Jenis, dan Contohnya
Blog
Risk Management

Compliance Adalah: Arti, Fungsi, Jenis, dan Contohnya

Author

DITULIS OLEH 

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Reviewer

DIREVIEW OLEH 

Sudah Direview Oleh Expert

Dibuat pada 5 Okt 2026

Diubah pada 5 Okt 2026

4

Image Thumbnail

Pernah dengar istilah compliance dalam dunia bisnis? Secara sederhana, compliance adalah upaya memastikan aktivitas perusahaan berjalan sesuai aturan, standar, dan kebijakan yang berlaku.

Penerapan compliance membantu perusahaan mengurangi risiko pelanggaran sekaligus menjaga proses bisnis tetap terkendali. Karena itu, konsep ini juga erat kaitannya dengan Bootcamp Risk Management.

Kalau kamu ingin memahami fungsi, jenis, dan contoh compliance di perusahaan, yuk simak pembahasan lengkapnya!

Baca Juga: Enterprise Risk Management: Pengertian, Manfaat, & Contohnya


Apa Itu Compliance?

Compliance adalah kepatuhan organisasi terhadap aturan, regulasi, standar, maupun kebijakan yang berkaitan dengan aktivitasnya. Aturan tersebut dapat berasal dari pemerintah, regulator, standar industri, kontrak, hingga kebijakan internal perusahaan.

ISO 37301 menjelaskan compliance management system sebagai sistem untuk membangun, menerapkan, mengevaluasi, memelihara, dan meningkatkan pengelolaan kepatuhan di dalam organisasi. Standar ini juga dapat digunakan oleh organisasi dari berbagai ukuran dan sektor. 

Artinya, compliance bukan hanya soal mematuhi hukum. Perusahaan juga perlu memastikan kebijakan dan proses internal berjalan konsisten dengan standar yang sudah ditentukan.

Baca Juga: 5 Framework Risk Management yang Populer di Perusahaan


Apa Tujuan Compliance dalam Perusahaan?

Tujuan utama compliance adalah membantu perusahaan menjalankan kegiatan bisnis sesuai kewajiban yang berlaku. Namun, fungsi kepatuhan juga berkaitan erat dengan pengendalian risiko dan tata kelola perusahaan.

Beberapa tujuannya antara lain:

  1. Memastikan aktivitas perusahaan sesuai regulasi.
  2. Mengurangi risiko pelanggaran hukum.
  3. Membantu menjaga reputasi perusahaan.
  4. Mendukung tata kelola yang lebih baik.
  5. Memastikan kebijakan internal diterapkan secara konsisten.
  6. Membantu mendeteksi potensi pelanggaran sejak dini.
  7. Mendorong budaya kerja yang lebih bertanggung jawab.
  8. Meningkatkan kepercayaan pelanggan dan pemangku kepentingan.

ISO 37301 juga menempatkan sistem manajemen kepatuhan sebagai sarana untuk mendukung integritas, tata kelola, dan praktik bisnis yang bertanggung jawab. 


Apa Saja Jenis Compliance?

apa-saja-jenis-compliance

Sumber: Desain oleh Dibimbing

Penerapan compliance bisa berbeda tergantung jenis industri, aktivitas bisnis, dan regulasi yang berlaku. Secara umum, beberapa jenis compliance yang sering diterapkan perusahaan meliputi:


1. Regulatory Compliance

Regulatory compliance adalah kepatuhan perusahaan terhadap peraturan yang ditetapkan pemerintah maupun lembaga pengawas. Jenis kepatuhan ini penting karena berkaitan langsung dengan legalitas dan operasional bisnis.

Beberapa contoh regulatory compliance antara lain:

  1. Peraturan ketenagakerjaan.
  2. Ketentuan perpajakan.
  3. Perlindungan data pribadi.
  4. Peraturan keselamatan dan kesehatan kerja atau K3.
  5. Regulasi khusus sesuai industri.
  6. Ketentuan dari lembaga pengawas.

Perusahaan perlu memantau perubahan regulasi secara berkala. Dengan begitu, kebijakan dan proses kerja dapat diperbarui sebelum menimbulkan risiko ketidakpatuhan.


2. Internal Compliance

Internal compliance berkaitan dengan kepatuhan terhadap kebijakan, aturan, dan prosedur yang dibuat oleh perusahaan sendiri. Tujuannya adalah menjaga proses kerja tetap konsisten sekaligus mengurangi kesalahan atau penyalahgunaan wewenang.

Contohnya meliputi:

  1. Standar operasional prosedur atau SOP.
  2. Kebijakan persetujuan transaksi.
  3. Batas kewenangan setiap jabatan.
  4. Kebijakan keamanan informasi.
  5. Aturan penggunaan aset perusahaan.
  6. Kode etik karyawan.

Meskipun bersifat internal, aturan tersebut tetap penting karena menjadi pedoman bagi karyawan dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari.


3. Industry Compliance

Industry compliance adalah kepatuhan terhadap standar atau ketentuan yang berlaku pada sektor tertentu. Setiap industri dapat memiliki persyaratan berbeda karena karakteristik risiko dan aktivitas bisnisnya juga berbeda.

Beberapa contohnya yaitu:

  1. Standar keamanan informasi.
  2. Standar mutu produk atau layanan.
  3. Standar pengelolaan lingkungan.
  4. Ketentuan khusus sektor keuangan.
  5. Standar keselamatan industri.
  6. Sertifikasi tertentu sesuai bidang usaha.

Misalnya, perusahaan keuangan memiliki kebutuhan kepatuhan yang berbeda dengan perusahaan manufaktur atau teknologi. Karena itu, perusahaan perlu memahami standar yang memang relevan dengan industrinya.


4. Ethical Compliance

Ethical compliance berkaitan dengan kepatuhan terhadap prinsip etika dan nilai yang diterapkan perusahaan. Fokusnya bukan hanya memastikan sebuah tindakan legal, tetapi juga sesuai dengan prinsip integritas organisasi.

Contoh penerapannya antara lain:

  1. Kebijakan antikorupsi.
  2. Larangan konflik kepentingan.
  3. Aturan mengenai hadiah atau gratifikasi.
  4. Perlindungan terhadap pelapor pelanggaran.
  5. Prinsip perlakuan adil terhadap karyawan.
  6. Kode etik dalam hubungan dengan pelanggan dan mitra.

Penerapan ethical compliance dapat membantu perusahaan membangun budaya kerja yang lebih transparan dan bertanggung jawab.


5. Contractual Compliance

Contractual compliance adalah kepatuhan terhadap ketentuan yang telah disepakati dalam kontrak antara perusahaan dengan pihak lain. Ketidakpatuhan terhadap kontrak dapat memicu sengketa, penalti, maupun kerugian finansial.

Beberapa hal yang biasanya diperhatikan meliputi:

  1. Ketepatan waktu pembayaran.
  2. Standar kualitas barang atau jasa.
  3. Target penyelesaian pekerjaan.
  4. Ketentuan kerahasiaan.
  5. Hak dan kewajiban setiap pihak.
  6. Ketentuan penghentian kerja sama.

Karena itu, isi kontrak perlu diterjemahkan menjadi kewajiban yang jelas agar masing-masing pihak dapat menjalankannya secara konsisten.

Baca Juga: COSO Framework: Tujuan, Komponen, & Implementasi Efektif


Apa Fungsi Compliance?

Fungsi compliance bukan sekadar memeriksa apakah perusahaan mengikuti aturan. Tim kepatuhan juga membantu mengidentifikasi potensi risiko dan memastikan kontrol perusahaan dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Beberapa fungsi utama compliance antara lain:

  1. Memantau perubahan regulasi.
  2. Mengidentifikasi kewajiban perusahaan.
  3. Menyusun dan mengevaluasi kebijakan internal.
  4. Mengidentifikasi risiko kepatuhan.
  5. Memantau penerapan prosedur.
  6. Memberikan edukasi kepada karyawan.
  7. Melaporkan ketidaksesuaian atau pelanggaran.
  8. Mengusulkan tindakan perbaikan.
  9. Membantu membangun budaya kepatuhan.

Dalam konteks perbankan, OJK menyebut fungsi kepatuhan mencakup pembentukan budaya kepatuhan, pengelolaan risiko kepatuhan, memastikan sistem dan prosedur sesuai ketentuan, serta memastikan komitmen bank kepada regulator terpenuhi. 

Baca Juga: Cara Membuat Risk Register Manajemen Risiko Perusahaan


Bagaimana Proses Compliance Dilakukan?

Penerapan compliance perlu dilakukan secara berkelanjutan. Perusahaan nggak cukup hanya memiliki dokumen kebijakan, tetapi juga harus memastikan aturan tersebut benar-benar dijalankan.


1. Identifikasi Regulasi dan Kewajiban

Perusahaan perlu memetakan regulasi, standar, kontrak, serta kebijakan yang relevan dengan aktivitas bisnis. Daftar tersebut juga perlu diperbarui ketika terdapat perubahan aturan.


2. Identifikasi Risiko Kepatuhan

Setelah kewajiban diketahui, perusahaan dapat menilai kemungkinan terjadinya pelanggaran. Risiko biasanya dianalisis berdasarkan kemungkinan terjadinya dan dampak yang dapat ditimbulkan.


3. Menentukan Kebijakan dan Kontrol

Perusahaan kemudian menentukan kontrol untuk mengurangi risiko tersebut. Bentuknya dapat berupa prosedur persetujuan, pembatasan akses, dokumentasi, hingga mekanisme verifikasi.


4. Memberikan Sosialisasi dan Pelatihan

Karyawan perlu memahami aturan yang berkaitan dengan pekerjaan mereka. Karena itu, sosialisasi dan pelatihan menjadi bagian penting dari penerapan compliance.


5. Monitoring dan Evaluasi

Penerapan kebijakan perlu dipantau secara rutin. Perusahaan dapat menggunakan audit, review dokumen, pengujian kontrol, maupun analisis data untuk mengetahui apakah sistem berjalan efektif.


6. Melakukan Perbaikan

Jika ditemukan ketidaksesuaian, perusahaan perlu mengetahui penyebabnya dan menentukan tindakan korektif. Hasil evaluasi juga dapat digunakan untuk memperbaiki kebijakan maupun kontrol yang sudah ada.


Apa Itu Compliance Risk?

Compliance risk atau risiko kepatuhan adalah risiko yang muncul ketika organisasi tidak memenuhi regulasi maupun kewajiban yang berlaku.

Dalam konteks perbankan Indonesia, OJK mendefinisikan risiko kepatuhan sebagai risiko akibat bank tidak mematuhi atau tidak melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan. Untuk bank syariah, cakupannya juga termasuk prinsip syariah. 

Beberapa faktor yang dapat memicu risiko kepatuhan antara lain:

  1. Kurangnya pemahaman terhadap regulasi.
  2. Kebijakan internal yang tidak diperbarui.
  3. Lemahnya pengawasan.
  4. Kesalahan manusia.
  5. Dokumentasi yang tidak lengkap.
  6. Perubahan regulasi yang terlambat direspons.
  7. Kontrol internal yang tidak efektif.
  8. Kurangnya koordinasi antarunit perusahaan.

Kalau risiko tersebut nggak dikelola, dampaknya dapat meluas dari masalah administratif sampai mengganggu aktivitas bisnis.


Apa Dampak Jika Perusahaan Tidak Compliance?

Ketidakpatuhan dapat menimbulkan dampak berbeda tergantung aturan dan tingkat pelanggarannya. Konsekuensinya juga nggak selalu berhenti pada denda.

Beberapa dampaknya meliputi:

  1. Sanksi administratif: teguran atau tindakan dari regulator.
  2. Kerugian finansial: denda dan biaya penyelesaian masalah.
  3. Risiko hukum: sengketa atau proses hukum.
  4. Gangguan operasional: aktivitas tertentu dapat dibatasi.
  5. Kerusakan reputasi: kepercayaan pelanggan atau mitra dapat menurun.
  6. Risiko bisnis: hubungan dengan investor maupun pihak lain dapat terdampak.

Itulah mengapa compliance sering menjadi bagian penting dari pengelolaan risiko perusahaan.


Apa Contoh Compliance di Perusahaan?

Penerapan compliance dapat ditemukan hampir di setiap fungsi bisnis. Bentuknya bergantung pada regulasi dan karakter aktivitas perusahaan.

Area

Contoh Compliance

Keuangan

Melakukan pencatatan dan pelaporan sesuai ketentuan

Perbankan

Memenuhi ketentuan regulator dan kebijakan risiko

Data

Mengatur akses dan pengelolaan informasi

SDM

Menjalankan aturan ketenagakerjaan dan kode etik

Pengadaan

Memastikan proses pembelian mengikuti prosedur

Antikorupsi

Mengatur konflik kepentingan dan gratifikasi

Operasional

Menjalankan kegiatan sesuai SOP

Kontrak

Memenuhi hak dan kewajiban yang telah disepakati

Misalnya, perusahaan dapat menerapkan proses persetujuan berlapis untuk transaksi tertentu. Mekanisme tersebut membantu memastikan transaksi mengikuti kebijakan sekaligus mengurangi potensi penyalahgunaan.

Baca Juga: 7 Contoh Manajemen Risiko Perusahaan yang Efektif & Sukses


Apa Perbedaan Compliance dan Risk Management?

Compliance dan risk management memiliki hubungan yang erat, tetapi fokus keduanya berbeda. Compliance berfokus pada pemenuhan kewajiban, sedangkan risk management mencakup pengelolaan berbagai risiko yang dapat memengaruhi perusahaan.

Aspek

Compliance

Risk Management

Fokus

Kepatuhan terhadap aturan dan standar

Mengelola berbagai risiko perusahaan

Tujuan

Mengurangi ketidakpatuhan

Mengurangi kemungkinan dan dampak risiko

Dasar

Regulasi, standar, kebijakan, kontrak

Risiko internal dan eksternal

Proses

Monitoring kepatuhan dan kontrol

Identifikasi, analisis, mitigasi, monitoring

Contoh

Regulatory compliance

Risiko kredit, pasar, operasional, dan likuiditas

Dalam regulasi perbankan, fungsi kepatuhan bahkan diposisikan sebagai bagian dari kerangka manajemen risiko. 

Artinya, kemampuan memahami compliance juga relevan kalau kamu ingin mendalami bidang risk management.


Skill Apa yang Dibutuhkan untuk Bekerja di Bidang Compliance?

Pekerjaan di bidang compliance membutuhkan kombinasi kemampuan analisis, pemahaman regulasi, dan komunikasi. Kamu perlu mampu membaca aturan kemudian menerjemahkannya menjadi kebijakan atau kontrol yang bisa diterapkan perusahaan.

Beberapa skill yang relevan antara lain:

  1. Analisis risiko.
  2. Pemahaman regulasi.
  3. Critical thinking.
  4. Ketelitian membaca dokumen.
  5. Penyusunan kebijakan.
  6. Komunikasi bisnis.
  7. Pelaporan dan dokumentasi.
  8. Monitoring kontrol.
  9. Problem solving.
  10. Pemahaman risk management.

Kemampuan tersebut bisa menjadi bekal untuk posisi seperti Compliance Officer, Risk Analyst, Risk Officer, maupun profesional di bidang tata kelola dan risiko.


Bagaimana Hubungan Compliance dengan Risk Management?

Compliance dapat menjadi salah satu area risiko yang perlu dikelola perusahaan. Risiko muncul ketika terdapat kemungkinan organisasi gagal mematuhi regulasi, kebijakan, atau kewajiban yang sudah ditentukan.

Tim risk management dapat membantu mengidentifikasi dan menilai risiko tersebut, sementara fungsi compliance memastikan kegiatan perusahaan tetap mengikuti aturan. Keduanya kemudian dapat bekerja sama dalam menentukan kontrol serta langkah mitigasi.

Dalam konteks perbankan, regulator juga menempatkan risiko kepatuhan sebagai salah satu risiko yang perlu dikelola melalui proses manajemen risiko. 


Rekomendasi Bootcamp Risk Management Terbaik: Dibimbing

Kalau ingin memahami compliance lebih jauh, kamu juga perlu mengenal bagaimana perusahaan mengidentifikasi, menilai, dan memitigasi berbagai risiko. Bootcamp Risk Management Dibimbing dapat membantu kamu mempelajari konsep tersebut melalui live class, sesi praktik, dan studi kasus yang relevan dengan kebutuhan industri.

Programnya membahas berbagai area risiko, seperti credit risk, market risk, operational risk, hingga liquidity & treasury. Berdasarkan informasi program Dibimbing, pembelajarannya juga dilengkapi proyek untuk membangun portofolio.


Program Bootcamp Risk Management Dibimbing:

  1. Live Class: 55+ kelas bersama praktisi ahli.
  2. Practical Session: 45+ sesi praktik untuk memperkuat pemahaman.
  3. Portfolio: 25+ proyek untuk membantu membangun portofolio.
  4. Real Case Study: Studi kasus yang mencakup risiko kredit, pasar, operasional, serta likuiditas dan treasury.
  5. Final Project: Proyek akhir berbasis standar industri.
  6. Pendampingan: Dukungan fasilitator dan mentor selama proses belajar.
  7. Konsultasi: Sesi 1-on-1 bersama instruktur untuk program tertentu.
  8. Job Placement: Program graduasi dan penyaluran kerja melalui 1.100+ jaringan perusahaan mitra.
  9. Komunitas: Akses komunitas Risk Management untuk berdiskusi dan memperluas relasi.

Program ini bisa dipertimbangkan oleh mahasiswa, fresh graduate, maupun profesional yang ingin meningkatkan kemampuan analisis risiko dan mempersiapkan karier di bidang risk management.


Siap Memahami Compliance dan Risk Management Lebih Dalam?

Memahami bahwa compliance adalah bagian penting dalam pengelolaan risiko merupakan langkah awal. Namun, kamu juga perlu belajar bagaimana risiko diidentifikasi, dianalisis, dimitigasi, dan dipantau dalam konteks bisnis.

Yuk, pelajari skill tersebut melalui Bootcamp Risk Management Dibimbing dan bangun pengalaman melalui sesi praktik, studi kasus, serta proyek yang relevan dengan kebutuhan industri. #BimbingSampeJadi!


Kesimpulan

Compliance adalah kepatuhan perusahaan terhadap regulasi, standar, kebijakan, dan kewajiban yang berlaku. Penerapannya membantu perusahaan mengurangi risiko pelanggaran sekaligus menjaga proses bisnis tetap berjalan sesuai aturan.

Konsep ini juga berkaitan erat dengan risk management karena ketidakpatuhan dapat menjadi sumber risiko bagi perusahaan. Karena itu, kemampuan memahami compliance dan manajemen risiko dapat menjadi bekal penting untuk berkarier di bidang risiko maupun kepatuhan.


FAQ

1. Compliance Adalah Apa?

Compliance adalah kepatuhan organisasi terhadap peraturan, standar, kebijakan, dan kewajiban yang berlaku. Tujuannya adalah memastikan kegiatan perusahaan tetap sesuai ketentuan dan mengurangi risiko ketidakpatuhan.

2. Apa Tugas Compliance Officer?

Compliance Officer membantu memantau regulasi, mengevaluasi kebijakan, mengidentifikasi risiko kepatuhan, dan memastikan proses perusahaan sesuai ketentuan. Tugasnya dapat berbeda tergantung industri dan struktur organisasi.

3. Apa Itu Compliance Risk?

Compliance risk adalah risiko yang muncul karena perusahaan tidak mematuhi aturan atau kewajiban yang berlaku. Risiko tersebut dapat menimbulkan dampak hukum, finansial, operasional, maupun reputasi.

4. Apa Perbedaan Compliance dan Risk Management?

Compliance berfokus pada kepatuhan terhadap kewajiban, sedangkan risk management mencakup proses identifikasi, analisis, mitigasi, dan pemantauan berbagai risiko perusahaan. Compliance risk menjadi salah satu area yang dapat dikelola dalam manajemen risiko.

5. Mengapa Compliance Penting bagi Perusahaan?

Compliance membantu perusahaan menjalankan bisnis sesuai regulasi, mengurangi potensi sanksi, dan memperkuat tata kelola. Sistem kepatuhan yang baik juga mendukung budaya integritas dan kepercayaan pemangku kepentingan

Kategori:

Share:

Penulis

Penulis Image

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.

Reviewer

Reviewer Image

Sudah Direview Oleh Expert

Setiap artikel yang berlabel "Sudah Direview Oleh Expert" telah melalui proses peninjauan oleh praktisi atau mentor yang berpengalaman di bidangnya untuk memastikan informasi yang disajikan berkualitas, akurat, dan relevan bagi pembaca.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!