7 Syarat Menjadi Quality Assurance yang Wajib Tahu
Irhan Hisyam Dwi Nugroho
•
13 April 2026
•
124
Buat kamu warga bimbingan yang lagi tertarik masuk ke dunia tech, memahami syarat menjadi quality assurance itu penting sebagai langkah awal. Posisi ini bisa jadi pilihan karier yang menarik, apalagi kalau kamu suka hal detail dan analisis.
Banyak orang mengira jadi QA harus langsung jago teknis sejak awal. Padahal, ada beberapa bekal dasar yang bisa dipelajari pelan-pelan, bahkan oleh pemula sekalipun.
Di artikel ini, kita akan bahas 7 syarat menjadi quality assurance yang wajib kamu tahu sebelum terjun ke bidang ini. Jadi, kamu bisa lebih siap belajar dan punya gambaran yang jelas soal langkah awalnya.
Apa Itu Quality Assurance?
Quality Assurance adalah proses untuk memastikan sebuah aplikasi atau software berjalan sesuai standar kualitas yang sudah ditentukan.
Dalam praktiknya, peran ini tidak hanya fokus mencari bug, tetapi juga memastikan setiap fitur bekerja dengan baik, stabil, dan sesuai kebutuhan pengguna.
Orang yang bekerja di bidang ini biasanya akan melakukan pengujian, mengecek alur aplikasi, serta mencatat masalah yang ditemukan agar bisa segera diperbaiki oleh tim terkait.
Dengan peran tersebut, Quality Assurance menjadi bagian penting dalam pengembangan produk digital agar hasil akhirnya lebih aman, nyaman, dan minim kesalahan saat digunakan.
Baca juga: Panduan Memilih Bootcamp Quality Assurance Terbaik 2026
Syarat Menjadi Quality Assurance
Sumber: Canva
Kalau kamu ingin masuk ke bidang QA, ada beberapa hal dasar yang perlu dipahami sejak awal.
Syarat ini bukan berarti kamu harus langsung jago semuanya, tapi lebih ke bekal awal supaya proses belajarmu lebih terarah. Nah, berikut 7 syarat menjadi quality assurance yang wajib kamu tahu.
1. Memahami dasar software testing
Salah satu syarat paling penting untuk menjadi quality assurance adalah memahami dasar software testing. Kamu perlu tahu konsep seperti bug, error, test case, test scenario, dan alur pengujian supaya tidak bingung saat mulai praktik.
Pemahaman dasar ini penting karena pekerjaan QA memang berhubungan langsung dengan proses pengecekan kualitas aplikasi. Kalau fondasinya kuat, kamu akan lebih mudah mengikuti materi atau tugas QA yang lebih teknis.
Beberapa hal dasar yang perlu dipahami antara lain:
- Pengertian bug dan error
- Test case dan test scenario
- Alur pengujian aplikasi
- Jenis-jenis testing dasar
- Laporan hasil pengujian
2. Memiliki ketelitian yang baik
Quality assurance adalah bidang yang sangat mengandalkan ketelitian dalam bekerja. Kesalahan kecil yang terlihat sepele bisa berdampak besar kalau tidak ditemukan sejak awal.
Itulah kenapa seorang QA perlu terbiasa memeriksa detail, mengikuti langkah pengujian dengan rapi, dan memastikan hasilnya sesuai harapan. Semakin teliti kamu bekerja, semakin besar juga peluang menemukan masalah sebelum aplikasi digunakan user.
Beberapa bentuk ketelitian yang dibutuhkan yaitu:
- Memeriksa fitur satu per satu
- Membandingkan hasil aktual dan hasil yang diharapkan
- Menemukan bug kecil yang tersembunyi
- Mengecek alur aplikasi secara detail
- Menulis hasil testing dengan rapi
3. Mampu berpikir logis
Selain teliti, QA juga perlu punya cara berpikir yang logis saat menguji aplikasi. Skill ini membantu kamu memahami kemungkinan error yang bisa muncul dari berbagai kondisi penggunaan.
Dengan pola pikir yang logis, kamu bisa menyusun skenario testing yang lebih efektif dan tidak asal mencoba fitur. Ini juga membantu kamu saat harus menganalisis penyebab suatu bug ditemukan.
Beberapa hal yang berkaitan dengan pola pikir logis antara lain:
- Memahami alur penggunaan aplikasi
- Menentukan kemungkinan masalah
- Menyusun langkah pengujian
- Menganalisis penyebab bug
- Menghubungkan masalah dengan fitur terkait
4. Menguasai tools dasar QA
Syarat berikutnya adalah mengenal dan memahami tools dasar yang sering digunakan dalam pekerjaan QA. Tools ini membantu proses testing, pencatatan bug, dan dokumentasi jadi lebih terstruktur.
Kamu tidak harus langsung mahir semua tools, tapi setidaknya tahu fungsi dasarnya dan bagaimana cara menggunakannya. Pengetahuan ini akan sangat membantu saat kamu mulai masuk ke project atau dunia kerja.
Beberapa tools dasar yang perlu dikenali yaitu:
- Jira atau Trello untuk pelacakan bug
- Postman untuk pengujian API
- Spreadsheet untuk membuat test case
- Chrome DevTools untuk pengecekan sederhana
- TestRail atau tools dokumentasi testing lainnya
5. Memiliki kemampuan komunikasi
Quality assurance tidak bekerja sendirian, jadi kemampuan komunikasi juga menjadi syarat yang penting. Kamu harus bisa menyampaikan temuan bug atau hasil testing dengan jelas kepada developer dan tim lain.
Komunikasi yang baik membantu proses perbaikan jadi lebih cepat dan mengurangi miskomunikasi dalam tim. Selain itu, kamu juga perlu tahu cara menjelaskan masalah secara singkat, padat, dan mudah dipahami.
Beberapa kemampuan komunikasi yang dibutuhkan antara lain:
- Menjelaskan bug dengan jelas
- Menulis laporan testing yang mudah dipahami
- Berkomunikasi dengan developer
- Menyampaikan kendala saat testing
- Berdiskusi dengan tim produk atau tim teknis
6. Siap belajar manual dan automation testing
Untuk menjadi quality assurance, kamu juga perlu siap belajar jenis testing yang digunakan di industri, baik manual maupun automation. Banyak pemula memulai dari manual testing, lalu berkembang ke automation seiring bertambahnya skill.
Kemauan untuk terus belajar jadi hal penting karena kebutuhan industri QA juga terus berkembang. Semakin terbuka kamu untuk belajar hal baru, semakin besar peluangmu berkembang di bidang ini.
Beberapa hal yang bisa mulai dipelajari yaitu:
- Dasar manual testing
- Penggunaan automation testing
- Tools seperti Selenium atau Cypress
- Dasar coding untuk automation
- Konsep testing yang dipakai di project modern
7. Memiliki portofolio atau hasil latihan
Kalau kamu belum punya pengalaman kerja, portofolio bisa jadi syarat tambahan yang sangat membantu. Portofolio menunjukkan bahwa kamu sudah mencoba praktik dan memahami proses QA secara nyata.
Dengan adanya hasil latihan, recruiter bisa melihat kemampuanmu lebih jelas meskipun kamu masih pemula. Ini juga bisa jadi nilai tambah saat kamu melamar posisi junior atau internship.
Beberapa contoh portofolio yang bisa dibuat yaitu:
- Contoh test case
- Bug report dari aplikasi latihan
- Hasil testing website sederhana
- Project automation dasar
- Dokumentasi proses testing di GitHub atau Notion
Baca juga: Panduan Lengkap Roadmap QA Engineer dari Nol Sampai Ahli
Apakah Harus Bisa Coding?
Sumber: Canva
Tidak, kamu tidak harus bisa coding untuk mulai masuk ke bidang quality assurance. Banyak pemula memulai dari QA manual yang lebih fokus pada pengujian fitur, alur aplikasi, dan pelaporan bug.
Meski begitu, kemampuan coding tetap bisa jadi nilai tambah kalau kamu ingin berkembang lebih jauh. Skill ini biasanya dibutuhkan saat kamu mulai belajar automation testing dan ingin menangani pengujian yang lebih kompleks.
Jadi, kalau saat ini kamu belum bisa coding, kamu tetap punya peluang untuk jadi QA. Yang penting, mulai dulu dari dasar software testing, lalu tingkatkan skill secara bertahap sesuai kebutuhan.
Baca juga: 10 Contoh KPI Quality Assurance untuk Ukur Performa QA
Ingin Jadi Quality Assurance Profesional?
Setelah memahami syarat menjadi quality assurance, sekarang saatnya kamu mulai mempersiapkan skill yang dibutuhkan untuk masuk ke dunia kerja!
Yuk, ikuti Bootcamp Quality Assurance di dibimbing! Di sini, kamu akan mempelajari dasar software testing, manual testing, automation testing, hingga penggunaan tools QA yang sering dipakai di industri.
Belajar langsung dari mentor berpengalaman dengan kurikulum aplikatif dan praktis yang membantumu memahami alur kerja quality assurance secara lebih nyata dan terarah.
Dengan lebih dari 840+ hiring partner dan tingkat keberhasilan alumni hingga 96%, peluang kariermu di dunia tech sebagai Quality Assurance semakin terbuka lebar!
Jadi, tunggu apa lagi? Daftar sekarang disini dan mulai perjalananmu menjadi seorang Quality Assurance profesional. #BimbingSampeJadi!
FAQ
1. Apa saja syarat menjadi quality assurance?
Syarat menjadi quality assurance meliputi memahami dasar software testing, memiliki ketelitian, dan mampu berpikir logis. Selain itu, kamu juga perlu mengenal tools QA dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Semua skill ini bisa dipelajari secara bertahap, bahkan oleh pemula.
2. Apakah quality assurance harus bisa coding?
Tidak harus, terutama jika kamu memulai dari QA manual. Banyak QA pemula yang belum memiliki kemampuan coding di awal kariernya. Namun, coding akan menjadi nilai tambah jika kamu ingin berkembang ke QA automation.
3. Apakah quality assurance cocok untuk pemula?
Ya, quality assurance termasuk bidang yang cukup ramah untuk pemula. Kamu bisa mulai dari dasar tanpa harus memiliki pengalaman sebelumnya. Yang penting adalah kemauan belajar dan konsistensi dalam latihan.
4. Berapa lama belajar quality assurance?
Waktu belajar QA biasanya sekitar 2–6 bulan tergantung intensitas belajar. Jika kamu rutin praktik dan membuat portofolio, prosesnya bisa lebih cepat. Semakin sering latihan, semakin siap kamu untuk masuk dunia kerja.
Tags
Irhan Hisyam Dwi Nugroho
Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.
