Substantive Testing: Fungsi, Jenis, dan Contohnya
Irhan Hisyam Dwi Nugroho
•
05 Mei 2026
•
120
Pernah mendengar istilah substantive testing dalam proses audit, warga bimbingan? Substantive testing adalah prosedur yang digunakan auditor untuk memeriksa kebenaran transaksi, saldo akun, dan laporan keuangan.
Proses ini penting karena membantu auditor menemukan kemungkinan salah saji material dalam laporan keuangan. Dengan begitu, hasil audit bisa lebih akurat dan didukung oleh bukti yang memadai.
Yuk, simak pembahasan tentang fungsi, jenis, dan contoh substantive testing pada artikel ini. Penjelasannya dibuat ringan agar mudah dipahami, terutama bagi pemula di bidang audit.
Apa Itu Substantive Testing?
Substantive testing adalah prosedur audit yang dilakukan untuk memeriksa kebenaran saldo akun, transaksi, dan informasi dalam laporan keuangan.
Prosedur ini membantu auditor memastikan bahwa data keuangan sudah sesuai dengan bukti pendukung, seperti invoice, kontrak, rekening bank, atau dokumen transaksi lainnya.
Dalam praktik audit, substantive testing digunakan untuk menemukan kemungkinan salah saji material yang bisa memengaruhi kewajaran laporan keuangan.
Dengan melakukan pengujian ini, auditor dapat memperoleh bukti audit yang cukup sebelum memberikan opini atas laporan keuangan.
Baca juga: Sertifikasi Internal Audit: Jenis & Tips Lolos (Lengkap)
Tujuan Substantive Testing
Sumber: Canva
Substantive testing dilakukan untuk membantu auditor memperoleh bukti audit yang cukup dan memastikan laporan keuangan bebas dari salah saji material. Berikut 5 tujuan substantive testing yang perlu dipahami.
1. Memastikan Kebenaran Saldo Akun
Substantive testing bertujuan memastikan saldo akun dalam laporan keuangan sudah dicatat dengan benar.
Auditor akan membandingkan saldo tersebut dengan bukti pendukung seperti rekening bank, invoice, atau dokumen transaksi. Dengan cara ini, auditor dapat menilai apakah angka dalam laporan keuangan sudah sesuai kondisi sebenarnya.
2. Mendeteksi Salah Saji Material
Tujuan utama substantive testing adalah menemukan kemungkinan salah saji material dalam laporan keuangan.
Salah saji ini bisa terjadi karena kesalahan pencatatan, kelalaian, atau bahkan kecurangan. Jika ditemukan, auditor dapat meminta penyesuaian agar laporan keuangan lebih akurat.
3. Memeriksa Keabsahan Transaksi
Substantive testing juga digunakan untuk memastikan transaksi yang dicatat benar-benar terjadi.
Auditor biasanya memeriksa bukti seperti faktur, kontrak, bukti pembayaran, atau dokumen pendukung lainnya. Hal ini penting agar laporan keuangan tidak mencatat transaksi fiktif.
4. Menilai Kelengkapan Data Keuangan
Auditor melakukan substantive testing untuk memastikan semua transaksi penting sudah dicatat dalam laporan keuangan.
Jika ada transaksi yang belum dicatat, laporan keuangan bisa menjadi tidak lengkap. Pemeriksaan ini membantu menjaga keandalan informasi keuangan perusahaan.
5. Mendukung Opini Audit
Hasil substantive testing digunakan sebagai dasar auditor dalam memberikan opini atas laporan keuangan.
Semakin kuat bukti yang diperoleh, semakin baik dasar auditor dalam menilai kewajaran laporan. Karena itu, substantive testing menjadi bagian penting dalam proses audit.
Baca juga: Kursus Audit Laporan Keuangan: Praktek Magang Biar Siap Kerja!
Jenis-Jenis Substantive Testing
Substantive testing memiliki beberapa jenis prosedur yang digunakan auditor untuk memeriksa kewajaran transaksi, saldo akun, dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Berikut jenis-jenis substantive testing yang perlu dipahami.
1. Prosedur Analitis
Prosedur analitis adalah pengujian yang dilakukan dengan menganalisis hubungan logis antara data keuangan dan non-keuangan. Auditor biasanya membandingkan data tahun berjalan dengan tahun sebelumnya, anggaran, atau tren tertentu.
Contohnya, auditor membandingkan margin kotor tahun ini dengan tahun lalu. Jika ada perubahan yang tidak wajar, auditor dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
2. Pengujian Rinci Transaksi
Pengujian rinci transaksi berfokus pada pemeriksaan dokumen pendukung dari transaksi individual. Tujuannya untuk memastikan transaksi sudah dicatat dengan akurat, lengkap, dan sesuai otorisasi.
Contohnya, auditor memeriksa faktur penjualan dan dokumen pengiriman. Pemeriksaan ini membantu memastikan pendapatan yang dicatat benar-benar terjadi.
3. Pengujian Rinci Saldo
Pengujian rinci saldo dilakukan untuk memeriksa saldo akhir akun dalam laporan keuangan. Auditor memastikan saldo akun seperti kas, piutang, atau persediaan sudah disajikan dengan benar.
Contohnya, auditor melakukan konfirmasi saldo bank langsung ke pihak bank. Auditor juga bisa melakukan stock opname untuk memastikan jumlah persediaan sesuai catatan.
4. Pengujian Detail Pengungkapan
Pengujian detail pengungkapan dilakukan untuk memastikan informasi dalam catatan laporan keuangan sudah sesuai standar akuntansi. Pengungkapan ini penting agar pembaca laporan memahami informasi keuangan secara lengkap.
Contohnya, auditor memeriksa pengungkapan utang, aset tetap, transaksi pihak berelasi, atau kebijakan akuntansi. Dengan begitu, laporan keuangan menjadi lebih transparan dan mudah dipahami.
Baca juga: Panduan Menjawab 12 Pertanyaan Interview Internal Audit
Contoh Substantive Testing
Substantive testing bisa dilakukan dengan berbagai cara, tergantung akun atau transaksi yang sedang diperiksa auditor.
Berikut beberapa contoh substantive testing yang sering digunakan dalam proses audit laporan keuangan.
1. Memeriksa Invoice Penjualan
Auditor dapat memeriksa invoice penjualan untuk memastikan transaksi benar-benar terjadi dan dicatat dengan jumlah yang tepat.
Pemeriksaan ini biasanya dibandingkan dengan dokumen pendukung seperti surat jalan, bukti pengiriman, atau kontrak penjualan. Dengan cara ini, auditor bisa menilai apakah pendapatan perusahaan sudah dicatat secara wajar.
2. Konfirmasi Saldo Piutang
Auditor bisa mengirim konfirmasi kepada pelanggan untuk memastikan saldo piutang yang tercatat benar.
Jika pelanggan mengonfirmasi jumlah yang sama, maka saldo piutang dianggap memiliki bukti pendukung yang kuat. Namun, jika ada selisih, auditor perlu melakukan pemeriksaan lanjutan.
3. Rekonsiliasi Saldo Bank
Auditor melakukan rekonsiliasi bank untuk mencocokkan saldo kas di laporan keuangan dengan rekening koran bank.
Proses ini membantu menemukan selisih pencatatan, transaksi tertunda, atau kesalahan input. Hasil rekonsiliasi digunakan untuk memastikan saldo kas disajikan dengan benar.
4. Stock Opname Persediaan
Auditor dapat melakukan stock opname untuk menghitung fisik persediaan yang dimiliki perusahaan.
Hasil perhitungan kemudian dibandingkan dengan catatan persediaan dalam laporan keuangan. Jika terdapat perbedaan, auditor perlu menelusuri penyebab selisih tersebut.
Baca juga: Panduan Memilih Bootcamp Audit untuk Karier di 2026
Manfaat Substantive Testing
Sumber: Canva
Substantive testing memiliki manfaat penting dalam proses audit karena membantu auditor memperoleh bukti yang cukup, menilai kewajaran laporan keuangan, dan menemukan potensi salah saji. Berikut 4 manfaat substantive testing yang perlu dipahami.
1. Membantu Menemukan Salah Saji
Substantive testing membantu auditor menemukan kesalahan pencatatan atau salah saji dalam laporan keuangan.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan membandingkan data keuangan dengan bukti pendukung. Dengan begitu, laporan keuangan bisa disajikan lebih akurat.
2. Memperkuat Bukti Audit
Prosedur ini membantu auditor mengumpulkan bukti audit yang lebih kuat dan relevan. Bukti tersebut bisa berasal dari invoice, rekening bank, konfirmasi pihak ketiga, atau dokumen transaksi lainnya.
Semakin kuat bukti yang diperoleh, semakin baik dasar auditor dalam mengambil kesimpulan.
3. Meningkatkan Keandalan Laporan Keuangan
Substantive testing membantu memastikan angka dalam laporan keuangan sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Jika data sudah diuji dan didukung bukti yang memadai, laporan menjadi lebih dapat dipercaya. Hal ini penting bagi manajemen, investor, dan pihak lain yang menggunakan laporan keuangan.
4. Mendukung Opini Auditor
Hasil substantive testing menjadi salah satu dasar auditor dalam memberikan opini atas laporan keuangan.
Jika bukti audit cukup dan tidak ditemukan salah saji material, auditor dapat memberikan opini yang lebih meyakinkan. Karena itu, substantive testing menjadi bagian penting dalam proses audit.
Ingin Berkarier di Bidang Audit?
Setelah memahami substantive testing, sekarang kamu sudah mulai mengenal bagaimana proses audit dilakukan untuk memeriksa transaksi, saldo akun, dan laporan keuangan secara lebih detail.
Yuk, ikuti Bootcamp Audit di dibimbing! Di sini, kamu akan belajar audit, analisis laporan keuangan, pemeriksaan bukti transaksi, hingga proses penyusunan audit langsung bersama mentor berpengalaman.
Kurikulumnya dibuat praktis dan aplikatif agar kamu lebih siap menghadapi kebutuhan industri kerja saat ini. Dengan dukungan 1100+ hiring partner dan tingkat keberhasilan alumni 96%, peluang kariermu di bidang audit semakin terbuka lebar.
Jadi, tunggu apa lagi? Daftar sekarang disini dan mulai perjalananmu menjadi auditor profesional. #BimbingSampeJadi!
FAQ
1. Apa itu substantive testing?
Substantive testing adalah prosedur audit untuk memeriksa kebenaran transaksi, saldo akun, dan laporan keuangan. Proses ini membantu auditor menemukan kemungkinan salah saji material.
2. Apa fungsi substantive testing?
Fungsi substantive testing adalah membantu auditor memperoleh bukti audit yang cukup dan relevan. Selain itu, prosedur ini juga digunakan untuk menilai kewajaran laporan keuangan.
3. Apa saja jenis substantive testing?
Jenis substantive testing meliputi prosedur analitis, pengujian rinci transaksi, pengujian rinci saldo, dan pengujian detail pengungkapan. Setiap jenis digunakan sesuai kebutuhan pemeriksaan audit.
4. Apa contoh substantive testing?
Contoh substantive testing adalah memeriksa invoice penjualan, konfirmasi saldo piutang, rekonsiliasi bank, dan stock opname persediaan. Prosedur tersebut dilakukan untuk memastikan data keuangan sesuai bukti pendukung.
Tags
Irhan Hisyam Dwi Nugroho
Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.
