Dibimbing - Strategi Digital Marketing Wardah Bangun Hype Sebelum Product Launching
Blog
Digital Marketing

Strategi Digital Marketing Wardah Bangun Hype Sebelum Product Launching

Author

DITULIS OLEH 

Farijihan Putri

Reviewer

DIREVIEW OLEH 

Sudah Direview Oleh Expert

Dibuat pada 18 Sep 2026

Diubah pada 18 Sep 2026

7

Image Thumbnail

Produk baru nggak selalu harus langsung dibombardir iklan sejak hari pertama. Strategi digital marketing Wardah justru menarik karena memanfaatkan timing, percakapan netizen, dan creator untuk membuat orang penasaran sebelum produk ramai di pasar Indonesia.

Buat kamu yang sedang belajar marketing dan mempertimbangkan kursus digital marketing offline Jakarta, case seperti ini bisa menjadi contoh nyata bagaimana sebuah launching dirancang dari sisi awareness sampai conversion. 

Nah, apa yang sebenarnya membuat hype-nya bisa terbentuk?


Mengenal Brand Wardah

Wardah merupakan brand kecantikan Indonesia yang berada di bawah ParagonCorp dan punya positioning yang kuat di kategori beauty. Di sisi inovasi, Wardah juga banyak mengembangkan produk dengan pendekatan research and development serta menggabungkan beauty dan science dalam pengembangan produknya.

Menariknya, aktivitas Wardah nggak hanya bermain di pasar Indonesia. Kehadiran official store Wardah di Malaysia, termasuk produk seperti Pep-Plump Lip Oil yang tercantum sebagai produk baru, menunjukkan brand ini juga punya distribusi lintas market.

Nah, bagian lintas market inilah yang membuat case product launching ini menarik untuk dibedah.

Baca Juga: Iseng Belajar Digital Marketing, Dinda Jadi Orang Penting Pos Indonesia


Wardah dan Waterfall Strategy: Produk Diluncurkan Bertahap

Dalam case lip oil yang sedang dibahas, produk terlihat lebih dulu di Malaysia sebelum menjadi bahan pembicaraan besar di Indonesia. Pola seperti ini bisa dibaca sebagai waterfall strategy, yaitu peluncuran yang dilakukan bertahap dari satu market ke market berikutnya.

Konsepnya cukup simpel. Produk hadir di satu tempat, mendapatkan exposure, lalu perhatian tersebut ikut mengalir ke market berikutnya.

Efeknya, audiens Indonesiamen jadi punya alasan untuk penasaran. Ketika mereka melihat produk tersebut sudah muncul di Malaysia, pertanyaan seperti “kapan masuk Indonesia?” atau “kenapa sana dulu?” mulai bermunculan.

Nah, rasa penasaran ini punya nilai marketing yang menarik. Brand tidak perlu menjelaskan semuanya dalam satu waktu, sementara audiens justru mulai ikut membicarakan produk.


Bagaimana Strategi Digital Marketing Wardah Membangun Hype?

bagaimana-strategi-digital-marketing-wardah-membangun-hype

Kalau dibongkar lebih jauh, ada beberapa elemen yang membuat campaign seperti ini bisa berkembang dari sekadar product announcement menjadi percakapan.


1. Memainkan Timing

Timing peluncuran bisa menjadi bagian dari strategi komunikasi, bukan cuma urusan distribusi. Ketika produk hadir lebih dulu di satu market, audiens di market lain mendapatkan sebuah “cerita” yang membuat mereka ingin tahu lebih banyak.

Di sinilah waterfall strategy menjadi menarik. Ada jeda antara satu market dan market berikutnya, dan jeda tersebut bisa menciptakan curiosity.


2. Membiarkan Netizen Ikut Memulai Percakapan

Brand tidak selalu perlu menjadi pihak yang paling banyak bicara. Dalam case ini, pertanyaan dan reaksi netizen justru ikut membuat produk semakin diperhatikan.

Ketika satu orang bertanya kenapa produk sudah ada di Malaysia sementara Indonesia belum, orang lain bisa ikut nimbrung. Dari satu komentar, pembahasannya bisa melebar ke review, video, sampai pencarian produk.

Strategi marketing Wardah menjadi menarik karena percakapan audiens ikut menjadi bagian dari distribusi informasi.


3. Menggunakan Creator untuk Memperbesar Awareness

Beauty creator punya peran penting dalam kategori seperti makeup dan skincare. Audiens biasanya nggak cuma ingin tahu nama produknya, tetapi juga ingin melihat warna, tekstur, cara pakai, dan hasil akhirnya.

Konten seperti swatch, review, tutorial, dan first impression membuat produk terasa lebih nyata. Awareness yang awalnya muncul dari rasa penasaran kemudian mendapat “bahan bakar” tambahan dari pengalaman creator.

Wardah sendiri punya rekam jejak menggunakan berbagai channel dalam campaign produknya. Salah satu case study Wardah menunjukkan integrasi TikTok livestream, KOL, Instagram, e-commerce, dan aktivitas offline untuk mendukung product campaign.


Mengapa Strategi Ini Bisa Memicu FOMO?

Ada satu psikologi konsumen yang ikut bermain: fear of missing out atau FOMO.

Ketika seseorang melihat produk yang belum tersedia di tempatnya sudah dipakai atau dibicarakan orang lain, muncul perasaan bahwa dirinya sedang tertinggal. Apalagi kalau produk tersebut masuk ke tren beauty yang memang sedang ramai.

Namun, FOMO cuma pintu masuk. Setelah orang penasaran, mereka tetap membutuhkan alasan untuk benar-benar tertarik pada produknya.

Dalam case ini, rasa penasaran diperkuat oleh visual produk, konten beauty creator, review, dan percakapan di media sosial. Jadi, hype-nya nggak berdiri sendirian.

MinDi melihat ini sebagai salah satu insight penting: scarcity dan curiosity bisa menarik perhatian, tetapi product value tetap yang menjaga perhatian tersebut.

Baca Juga: Tugas Digital Marketing Intern & Cara Magang lewat Bootcamp Dibimbing


3 Pelajaran dari Strategi Marketing Wardah

Kalau kamu ingin mengambil pelajaran dari campaign digital Wardah, jangan berhenti di istilah waterfall strategy saja. Ada beberapa prinsip yang bisa diterapkan ke campaign lain.


1. Timing Bisa Menjadi Bagian dari Campaign

Kapan produk muncul bisa memengaruhi bagaimana audiens membicarakannya. Jeda antar-market atau antar-channel dapat menciptakan momentum yang membuat orang ingin mencari tahu.


2. Komentar Bisa Menjadi Bahan Konten

Pertanyaan dan respons audiens bukan sekadar angka engagement. Semuanya bisa menjadi insight untuk mengetahui apa yang membuat mereka penasaran.

Komentar “kok belum masuk sini?” misalnya, menunjukkan adanya demand sekaligus curiosity.


3. Hype Harus Punya Follow-Up

Begitu perhatian mulai terkumpul, brand harus siap. Informasi produk, stok, creator content, channel pembelian, dan customer experience perlu sudah dipikirkan.

Kalau tidak, campaign bisa ramai di media sosial tetapi gagal mengubah perhatian menjadi pembelian.


Bisa Nggak Strategi Marketing Wardah Dipakai Brand Lain?

Bisa, tetapi nggak perlu menjiplak persis. Brand dapat mengambil prinsip dasarnya dengan membuat peluncuran bertahap, memperkenalkan produk melalui komunitas tertentu, atau memberikan early access kepada kelompok audiens tertentu.

Misalnya brand fashion ingin meluncurkan koleksi baru. Produk dapat diperkenalkan lebih dulu kepada komunitas loyal, lalu creator mulai menggunakannya, kemudian informasi produk diperluas ke audiens yang lebih besar.

Jadi, inti waterfall strategy bukan sekadar “launching di negara A sebelum negara B”. Intinya adalah mengatur urutan exposure supaya perhatian tumbuh secara bertahap.


Social Media Menjadi Tempat Hype Dibangun

Sekarang kita masuk ke bagian yang paling relevan buat kamu yang sedang belajar digital marketing. Social media membuat proses awareness bergerak jauh lebih cepat.

Satu video creator bisa mengundang komentar. Komentar memicu rasa penasaran. Orang lain ikut mencari informasi, lalu konten baru bermunculan.

Siklus kecil seperti itu bisa membuat sebuah produk mendapatkan exposure dari banyak arah.

Makanya, product launching Wardah menarik dilihat dari perspektif social media. Brand bukan cuma menyampaikan informasi, tetapi menciptakan kondisi agar audiens ikut membantu menyebarkannya.

Baca Juga: Kursus Marketing Digital: Rekomendasi Terbaik


Hubungan Campaign dengan Customer Journey

Hype yang bagus seharusnya nggak berhenti di awareness. Audiens biasanya melewati beberapa tahap sebelum akhirnya membeli.

Awalnya mereka melihat produk. Setelah itu muncul rasa penasaran, lalu mencari review dan informasi tambahan. Berikutnya, mereka membandingkan produk, mempertimbangkan manfaatnya, kemudian mencari tempat untuk membeli.

Dalam konteks ini, strategi digital marketing Wardah bisa dilihat sebagai rangkaian touchpoint yang mengiringi perjalanan tersebut.

Kalau kamu sedang mengikuti kelas digital marketing online, case seperti ini bisa dijadikan latihan. Coba petakan mana bagian awareness, engagement, consideration, dan conversion dari campaign yang sedang kamu analisis.


Apa yang Harus Disiapkan Sebelum Product Launching?

Strategi yang kelihatan sederhana dari luar biasanya punya pekerjaan rumah yang cukup banyak di belakangnya.

Sebelum launching, brand perlu menyiapkan:

  1. Target audience: Siapa yang ingin dijangkau?
  2. Positioning: Apa alasan produk ini menarik?
  3. Content strategy: Konten seperti apa yang akan disebarkan?
  4. Creator strategy: Siapa yang relevan untuk memperkenalkan produk?
  5. Channel: Di mana audiens akan menemukan produk?
  6. Conversion path: Setelah tertarik, mereka harus membeli di mana?
  7. KPI: Bagaimana keberhasilan campaign akan diukur?

Dengan persiapan tersebut, hype punya arah yang lebih jelas. Bukan sekadar ramai, tetapi ada tujuan yang ingin dicapai.


Kesimpulan

Strategi digital marketing Wardah dalam membangun hype menunjukkan bagaimana timing, waterfall strategy, creator, dan percakapan di media sosial dapat bekerja bersama. Pelajaran utamanya adalah membuat awareness bukan hanya soal seberapa keras brand berbicara, tetapi juga bagaimana audiens diberi alasan untuk ikut membicarakan produk.

Baca Juga: Kursus Social Media Marketing: Materi & Rekomendasi


Rekomendasi Bootcamp Digital Marketing Terbaik di Indonesia dengan Jaminan Kerja

Kalau kamu tertarik membedah campaign seperti ini sekaligus belajar digital marketing secara praktik, Bootcamp Digital Marketing Dibimbing bisa jadi pilihan. Kamu bisa belajar strategi marketing, mengerjakan project, praktik campaign, dan mempersiapkan skill yang relevan dengan dunia kerja.

Benefit Bootcamp Digital Marketing Online

  1. 63+ Live Class Interaktif bersama Mentor Ahli & 16+ Video Learning
  2. 26+ Assignment untuk membangun portofolio
  3. Pendanaan hingga Rp1 juta untuk praktik campaign ads
  4. Pendampingan fasilitator & mentor 24/7
  5. Program penyaluran kerja ke 1.100+ perusahaan mitra
  6. Simulasi tes rekrutmen melalui Technical Case Study Class
  7. Konsultasi 1-on-1 tanpa batas bersama instruktur expert
  8. Akses ke komunitas Expert Digital Marketing

Benefit Bootcamp Digital Marketing Offline Jakarta

  1. 100+ Offline Class & 24+ Extra Video Learning
  2. 20+ English Class untuk persiapan karier
  3. 20+ Assignment & Real Case bersama UMKM
  4. Pendanaan hingga Rp1,7 juta untuk campaign ads
  5. Konsultasi 1-on-1 tanpa batas
  6. Pendampingan fasilitator & mentor 24/7
  7. 3 bulan magang di hiring company
  8. Penyaluran kerja ke 1.100+ perusahaan
  9. Ruang kelas nyaman & modern
  10. Komunitas Expertise Digital Marketing

Masih bingung menyusun campaign, membangun portfolio, atau ingin tahu soal penyaluran kerja? Yuk, konsultasi Bootcamp Digital Marketing bersama tim Dibimbing dan mulai perjalananmu dengan #BimbingSampeJadi.


FAQ

1. Apa itu waterfall strategy dalam product launching?

Waterfall strategy merupakan pendekatan peluncuran bertahap dari satu market atau kelompok audiens ke market berikutnya. Pendekatan ini dapat membantu mengatur momentum dan exposure secara bertahap.

2. Apa manfaat membangun hype sebelum produk resmi diluncurkan?

Hype dapat membantu meningkatkan awareness, rasa penasaran, dan percakapan sebelum produk tersedia secara luas. Audiens juga punya waktu untuk mengenal produk sebelum masuk ke tahap pembelian.

3. Apakah influencer wajib digunakan dalam product launching?

Nggak wajib. Creator bisa menjadi salah satu channel untuk memperluas awareness, tetapi efektivitasnya tetap bergantung pada target audience, jenis produk, dan strategi campaign.

Kategori:

Share:

Penulis

Penulis Image

Farijihan Putri

Farijihan Putri adalah SEO Content Writer dengan pengalaman 4+ tahun menulis dan mengoptimalkan konten untuk berbagai topik. Di Dibimbing, ia mengolah beragam insight seputar karier dan industri, mulai dari digital marketing, HR, data, finance, business, hingga technology. Melalui tulisannya, Jihan membantu pembaca memahami skill yang dibutuhkan di dunia kerja serta menemukan informasi yang relevan untuk mendukung perkembangan karier mereka.

Reviewer

Reviewer Image

Sudah Direview Oleh Expert

Setiap artikel yang berlabel "Sudah Direview Oleh Expert" telah melalui proses peninjauan oleh praktisi atau mentor yang berpengalaman di bidangnya untuk memastikan informasi yang disajikan berkualitas, akurat, dan relevan bagi pembaca.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!