Dibimbing - Standalone Market Adalah: Contoh, Risiko & Dampaknya
Blog
Risk Management

Standalone Market Adalah: Contoh, Risiko & Dampaknya

Author

DITULIS OLEH 

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Reviewer

DIREVIEW OLEH 

Sudah Direview Oleh Expert

Dibuat pada 22 Okt 2026

Diubah pada 8 Nov 2026

48

Image Thumbnail

Standalone market adalah istilah yang menjadi perhatian setelah MSCI mengumumkan rencana perubahan status pasar saham Indonesia. Lantas, apa artinya bagi investor?

Nah, Warga Bimbingan, perubahan ini berpotensi memengaruhi harga saham dan arus modal asing. Pelajari cara menganalisis risikonya melalui Bootcamp Risk Management Dibimbing.

Artikel ini membahas pengertian, ciri-ciri, contoh negara, hingga dampak standalone market bagi Indonesia. Yuk, simak selengkapnya!

Baca Juga: Apa Itu Risiko Investasi dan Contohnya? Kenali Strategi Meminimalisirnya


Apa Itu Standalone Market?

Standalone market adalah kategori pasar saham yang dikelompokkan secara terpisah oleh MSCI. Pasar ini memiliki indeks tersendiri, tetapi tidak dimasukkan ke MSCI Emerging Markets Index maupun MSCI Frontier Markets Index.

Menurut MSCI, ada dua kelompok pasar yang dapat memperoleh status ini:

  1. Pasar yang baru memenuhi syarat: misalnya pasar yang sebelumnya belum dicakup MSCI atau baru terbuka bagi kelompok investor tertentu.
  2. Pasar yang mengalami penurunan kondisi: sebelumnya termasuk developed market, emerging market, atau frontier market, tetapi aksesibilitas, ukuran, atau likuiditasnya memburuk secara signifikan.

Jadi, status standalone tidak otomatis berarti bursa saham berhenti beroperasi. Perdagangan tetap dapat berlangsung, tetapi keterwakilannya dalam indeks global berubah.

Sebagai gambaran, pasar emerging dapat dipindahkan ke standalone ketika hambatan investasi menjadi serius. Investor masih perlu melihat alasan perubahan statusnya karena kondisi setiap pasar bisa berbeda.


Ciri-Ciri Standalone Market?

Standalone market memiliki karakteristik yang berbeda dari klasifikasi pasar lainnya. Berikut lima ciri yang perlu kamu pahami.


1. Berada di Luar Kelompok Indeks Utama

Pasar standalone memiliki indeks tersendiri, tetapi tidak digabungkan ke dalam kelompok indeks utama MSCI. Artinya, pergerakan sahamnya tetap bisa diukur tanpa menjadi bagian dari indeks emerging atau frontier.

Bagi investor, perbedaan ini berkaitan dengan cakupan investasi suatu produk. Reksa dana yang mengikuti indeks tertentu belum tentu dapat mempertahankan saham dari pasar yang keluar dari cakupan indeksnya.

2. Dapat Menghadapi Hambatan Akses Investasi

Sebagian standalone market menghadapi kendala yang menyulitkan investor internasional melakukan transaksi. Kendala tersebut dapat memengaruhi proses pembelian saham hingga pemindahan kembali dana investasi.

Hambatan tersebut dapat meliputi:

  1. Pembatasan kepemilikan saham asing.
  2. Kesulitan memindahkan dana investasi.
  3. Ketentuan perdagangan yang kurang mendukung.
  4. Keterbatasan akses informasi.
  5. Ketidakpastian mekanisme penyelesaian transaksi.

Meski demikian, penyebab klasifikasi standalone tidak selalu sama untuk setiap negara. Karena itu, status pasar perlu dibaca bersama alasan penetapan dan hasil evaluasi MSCI.


3. Likuiditas Pasar Bisa Terbatas

Pada sebagian pasar standalone, jumlah pembeli dan penjual bisa terbatas. Kondisi ini membuat transaksi bernilai besar lebih sulit dilakukan tanpa memengaruhi harga.

Dampak yang mungkin dirasakan investor:

  1. Penjualan membutuhkan waktu lebih lama karena pembeli tidak selalu tersedia.
  2. Harga yang diperoleh bisa lebih rendah jika saham harus segera dijual.
  3. Selisih harga beli dan jual dapat melebar saat aktivitas perdagangan menurun.


4. Dapat Menghadapi Tantangan Transparansi

Transparansi membantu investor memahami kondisi perusahaan dan cara pasar bekerja. Informasi yang dibutuhkan mencakup laporan keuangan, kepemilikan saham, dan pengumuman transaksi penting.

Jika informasi sulit diperoleh, analisis investasi menjadi lebih tidak pasti. Investor bisa kesulitan membedakan perubahan bisnis yang nyata dari pergerakan harga sesaat.

Karena itu, penilaian aksesibilitas MSCI juga memperhatikan pengalaman investor internasional. Ketersediaan informasi dan kemudahan bertransaksi menjadi bagian dari penilaian tersebut.


5. Memerlukan Evaluasi Risiko Lebih Mendalam

Pasar standalone dapat menghadapi risiko likuiditas, regulasi, nilai tukar, dan tata kelola. Kondisi tersebut membuat investor perlu mengevaluasi risiko secara lebih menyeluruh sebelum mengambil keputusan. 

Pemahaman mengenai risk assessment dan risk management dapat membantu investor maupun perusahaan menentukan strategi mitigasi yang tepat.


Contoh Negara Standalone Market?


Contoh Negara Standalone Market?

Desain: Dibimbing | Sumber: MSCI, November 2024, hlm. 89.


Dalam metodologi MSCI edisi November 2024, Argentina, Nigeria, Lebanon, dan Zimbabwe tercantum sebagai contoh standalone market. Daftar ini menggunakan tanggal acuan dokumen tersebut, bukan klaim daftar terbaru Oktober 2026.

Selain itu, MSCI juga mencakup pasar seperti Panama serta Trinidad dan Tobago dalam pembahasan kelompok standalone market. Berikut beberapa contoh beserta karakteristiknya.

Negara

Gambaran Karakteristik Pasar

Argentina

Memiliki sejarah pembatasan akses dan aliran modal

Nigeria

Menghadapi tantangan akses valuta asing dan investasi

Lebanon

Mengalami tekanan ekonomi dan keterbatasan aktivitas pasar

Zimbabwe

Menghadapi persoalan stabilitas moneter dan akses investasi

Panama

Memiliki karakteristik pasar modal yang relatif terbatas

Trinidad dan Tobago

Pasar saham berukuran relatif kecil

Sumber: MSCI, November 2024, hlm. 89. Karakteristik pasar dirangkum redaksi.

Menariknya, tidak semua pasar memperoleh status standalone karena permasalahan ekonomi yang sama. MSCI membedakan antara pasar yang baru memenuhi kelayakan awal dan pasar yang mengalami penurunan klasifikasi akibat memburuknya aksesibilitas atau likuiditas.


Apakah Indonesia Termasuk Standalone Market?

Per 19 Oktober 2026, Indonesia masih berstatus emerging market menurut MSCI. Namun, terdapat usulan untuk mengubah klasifikasinya menjadi standalone market.

Pada 15 Oktober 2026, MSCI secara resmi mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan perubahan status tersebut. Konsultasi merupakan proses pengumpulan masukan sebelum keputusan akhir ditetapkan.

Menurut pengumuman MSCI, beberapa persoalan yang menjadi perhatian meliputi:

  1. Transparansi kepemilikan saham: Struktur kepemilikan dinilai masih membutuhkan keterbukaan yang lebih baik.
  2. Praktik perdagangan: Terdapat kekhawatiran investor mengenai dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi.
  3. Aksesibilitas investasi: Investor internasional memerlukan kepastian mengenai kualitas dan kemudahan transaksi.
  4. Implementasi reformasi: Perubahan regulasi perlu dibuktikan melalui pelaksanaan yang konsisten.

Pemerintah dan otoritas pasar modal Indonesia telah mengumumkan sejumlah langkah reformasi, termasuk peningkatan keterbukaan kepemilikan serta rencana penguatan ketentuan free float. Namun, MSCI menekankan pentingnya bukti implementasi dan dampak nyata dari langkah tersebut.

MSCI menerima masukan hingga 30 April 2027 dan akan mengumumkan keputusan paling lambat 30 Juni 2027. Per 19 Oktober 2026, reklasifikasi Indonesia belum menjadi keputusan final.

Namun, MSCI menyatakan bahwa usulan reklasifikasi diperkirakan akan dilanjutkan kecuali konsultasi menunjukkan bukti jelas perbaikan material dalam tata kelola dan fungsi pasar. Karena itu, proses ini perlu dibaca bersama posisi resmi MSCI, bukan dianggap sekadar peninjauan rutin.


Perbedaan Standalone Market, Emerging Market, Frontier Market, dan Developed Market

MSCI mempertimbangkan ukuran dan likuiditas serta aksesibilitas pasar dalam klasifikasinya. Kriteria perkembangan ekonomi digunakan khusus untuk menentukan status developed market.

Aspek

Standalone Market

Emerging Market

Frontier Market

Developed Market

Posisi klasifikasi

Di luar tiga kelompok utama

Pasar berkembang

Pasar frontier

Pasar maju

Likuiditas

Bervariasi

Bervariasi

Umumnya lebih terbatas

Umumnya tinggi

Akses investor

Dapat memiliki hambatan signifikan

Cukup terbuka

Lebih terbatas

Relatif terbuka

Infrastruktur

Bervariasi

Berkembang

Masih berkembang

Umumnya mapan

Contoh

Zimbabwe, Lebanon

India, Brasil

Vietnam, Pakistan

Amerika Serikat, Jepang


Perbedaan pentingnya adalah standalone market bukan sekadar tingkatan yang selalu berada di bawah frontier market. 

Catatan: tabel ini merupakan gambaran umum, bukan batas persyaratan resmi MSCI. Standalone adalah kategori terpisah dan tidak otomatis menunjukkan tingkat perkembangan ekonomi paling rendah.

Baca Juga: Memahami Risiko Keuangan hingga Cara Mengatasinya, Lengkap!



Apa Dampak Standalone Market terhadap Pasar Saham?

Perubahan klasifikasi menjadi standalone market dapat memengaruhi pasar modal, terutama jika sebelumnya pasar tersebut menjadi bagian dari indeks internasional utama. Berikut beberapa dampak potensialnya.

1. Perubahan Arus Dana Investor Asing

Sebagian dana investasi menyusun portofolio dengan mengikuti indeks MSCI. Ketika suatu pasar keluar dari indeks acuannya, pengelola dana perlu menyesuaikan saham yang dimiliki.

Alurnya dapat dibayangkan sebagai berikut:

  1. Cakupan indeks berubah sehingga saham tertentu tidak lagi masuk portofolio acuan.
  2. Dana yang mengikuti indeks menyesuaikan kepemilikan sesuai mandat investasinya.
  3. Penjualan saham dapat menekan harga, terutama bila pembeli yang tersedia terbatas.

Besarnya dampak tidak selalu sama pada setiap pasar. Bobot saham dalam indeks, jadwal perubahan, dan kondisi perdagangan turut memengaruhi proses penyesuaian.


2. Peningkatan Volatilitas Harga Saham

Pada penutupan perdagangan 16 Oktober 2026, IHSG turun 11,57% ke 5.185,11, menurut laporan detikFinance. 

Penurunan berlangsung di tengah kekhawatiran mengenai usulan reklasifikasi MSCI, tetapi pergerakan indeks tidak dapat dipastikan berasal dari satu faktor saja.


3. Potensi Penurunan Likuiditas

Berkurangnya partisipasi investor dapat menurunkan aktivitas perdagangan saham. Pembeli dan penjual pun mungkin lebih sulit menemukan harga yang sesuai.

Salah satu dampaknya adalah pelebaran bid-ask spread, yaitu selisih harga beli dan jual. Selisih yang lebih lebar dapat meningkatkan biaya transaksi, terutama ketika investor perlu segera bertransaksi.


4. Perubahan Persepsi Investor

Klasifikasi MSCI menjadi salah satu referensi yang digunakan investor internasional dalam mengevaluasi karakteristik pasar. 

Perubahan status dapat mendorong investor melakukan penilaian ulang terhadap tata kelola, transparansi, dan risiko investasi. Namun, klasifikasi tersebut bukan satu-satunya faktor yang menentukan keputusan investor.


5. Dorongan Perbaikan Tata Kelola

Evaluasi pasar dapat mendorong otoritas memperbaiki aturan dan infrastruktur perdagangan. Namun, manfaatnya bergantung pada pelaksanaan reformasi, bukan sekadar pengumuman kebijakan.

Perbaikan yang dapat menjadi perhatian antara lain:

  1. Keterbukaan struktur kepemilikan dan informasi perusahaan.
  2. Pengawasan transaksi serta penegakan aturan pasar.
  3. Perlindungan hak dan kemudahan akses bagi investor.

Pelaksanaan yang konsisten berpotensi memperkuat kepercayaan pelaku pasar. Hasilnya perlu dinilai dari perubahan yang benar-benar dirasakan investor.

Baca Juga: Risk Governance: Arti, Prinsip, dan Cara Menerapkannya


Apa Saja Risiko Investasi di Standalone Market?

Investor perlu memahami bahwa perubahan klasifikasi pasar dapat memunculkan beberapa jenis risiko secara bersamaan. Berikut risiko yang penting diperhatikan.


1. Market Risk

Market risk adalah kemungkinan kerugian akibat perubahan harga aset atau kondisi pasar secara keseluruhan. 

Ketika sentimen investor memburuk, harga saham dapat mengalami penurunan tajam meskipun kondisi perusahaan tidak berubah secara langsung.


2. Liquidity Risk

Liquidity risk muncul ketika investor kesulitan menjual aset dengan cepat pada harga yang wajar. Risiko ini perlu diperhatikan terutama ketika volume transaksi menurun atau terjadi aksi jual dalam jumlah besar.


3. Regulatory Risk

Regulatory risk merupakan risiko akibat perubahan peraturan atau kebijakan yang memengaruhi aktivitas investasi. 

Contohnya adalah perubahan batas kepemilikan asing, persyaratan perdagangan, atau ketentuan penyelesaian transaksi.


4. Currency Risk

Currency risk berkaitan dengan perubahan nilai tukar yang memengaruhi hasil investasi internasional. 

Misalnya, keuntungan saham dapat berkurang ketika mata uang negara tujuan melemah terhadap mata uang investor.


5. Governance Risk

Governance risk muncul akibat lemahnya tata kelola, transparansi, atau pengawasan. Kurangnya keterbukaan informasi dapat menyulitkan investor menilai kondisi pasar dan kualitas perusahaan secara akurat.


Baca Juga: Value at Risk: Pengertian, Metode, dan Cara Menghitungnya


Bagaimana Cara Mengelola Risiko Standalone Market?

Menghadapi potensi perubahan klasifikasi pasar membutuhkan strategi pengelolaan risiko yang terukur. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.


1. Lakukan Risk Assessment

Risk assessment dimulai dengan mengenali sumber risiko yang dapat memengaruhi investasi. Setelah itu, investor menilai kemungkinan kejadian dan besarnya potensi kerugian.

Pertanyaan awal yang bisa digunakan:

  1. Risiko pasar: seberapa besar penurunan harga yang masih dapat ditanggung?
  2. Likuiditas: apakah saham dapat dijual saat dana dibutuhkan?
  3. Regulasi: adakah batas kepemilikan atau ketentuan transaksi yang perlu diperhatikan?
  4. Nilai tukar: bagaimana pelemahan mata uang memengaruhi hasil investasi?


2. Terapkan Diversifikasi Portofolio

Diversifikasi dilakukan dengan membagi investasi ke berbagai aset, sektor, atau pasar. Tujuannya adalah mengurangi konsentrasi risiko pada satu sumber investasi. Namun, strategi ini tidak sepenuhnya menghilangkan risiko, terutama ketika pasar global mengalami tekanan bersamaan.


3. Gunakan Stress Testing

Stress testing merupakan metode untuk mengukur ketahanan portofolio ketika menghadapi kondisi ekstrem. Skenarionya membantu melihat dampak beberapa tekanan pasar secara bersamaan.

Sebagai ilustrasi, investor dapat menguji skenario berikut:

  1. Harga saham turun 20%.
  2. Nilai tukar melemah 10%.
  3. Volume perdagangan berkurang signifikan.
  4. Dana asing mengalami arus keluar besar.


Contoh hitungan: anggap investor berbasis dolar AS memiliki saham senilai US$1.000 dalam mata uang lokal. Jika harga saham turun 20% dan nilai satu unit mata uang lokal terhadap dolar AS turun 10%, nilainya menjadi US$1.000 × 0,80 × 0,90 = US$720.

Kerugian gabungannya adalah US$280 atau 28%, bukan 30%. Ini simulasi redaksi, bukan prediksi, dan belum memasukkan biaya, pajak, dividen, atau dampak likuiditas; pelemahan rupiah terhadap mata uang asing tidak otomatis menjadi kerugian kurs bagi investor yang menghitung hasil dalam rupiah.


4. Pantau Pengumuman Resmi

Investor perlu mengikuti perkembangan dari MSCI, otoritas pasar modal, dan penyelenggara bursa. Informasi resmi membantu membedakan keputusan final, usulan kebijakan, serta rumor yang belum terverifikasi. Dengan demikian, keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada sentimen jangka pendek.


5. Tetapkan Risk Appetite

Risk appetite adalah tingkat risiko yang bersedia diterima untuk mencapai tujuan investasi atau bisnis. Batasnya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dana dan kemampuan menanggung kerugian.

Dalam praktiknya, batas tersebut dapat mencakup:

  1. Eksposur: porsi investasi pada satu pasar atau jenis aset.
  2. Konsentrasi: ketergantungan portofolio pada perusahaan atau sektor tertentu.
  3. Kerugian: kondisi yang memicu evaluasi kembali terhadap strategi.

Batas yang jelas membantu investor mengambil keputusan lebih disiplin saat pasar bergejolak. Peninjauan tetap diperlukan ketika tujuan investasi atau kondisi keuangan berubah.

Baca Juga: Cara Belajar Risk Management dari Nol untuk Pemula, Mudah & Efektif


Rekomendasi Bootcamp Risk Management Terbaik untuk Tingkatkan Skill

Memahami standalone market merupakan langkah awal untuk mengenali risiko pasar keuangan global. Namun, kemampuan profesional juga membutuhkan penguasaan market risk, credit risk, operational risk, hingga strategi analisis dan mitigasi risiko.

Kamu bisa mengembangkan keterampilan tersebut melalui Bootcamp Risk Management Dibimbing dengan kurikulum berbasis kebutuhan industri, praktik studi kasus, proyek portofolio, serta pendampingan mentor berpengalaman.

Program Bootcamp Risk Management Dibimbing:

  1. 55+ Live Class dan 45+ Sesi Praktik: Pelajari manajemen risiko secara interaktif bersama mentor ahli dan praktisi industri.
  2. 25+ Proyek Portofolio: Asah kemampuan melalui tugas dan proyek untuk membangun portofolio profesional.
  3. Materi 4 Pilar Risk Management: Pelajari Credit Risk, Market Risk, Operational Risk, serta Liquidity & Treasury Risk melalui studi kasus nyata.
  4. Final Project: Terapkan keterampilan melalui proyek akhir berdasarkan standar industri terkini.
  5. Pendampingan Mentor 24/7: Dapatkan dukungan fasilitator dan mentor selama proses pembelajaran.
  6. Konsultasi 1-on-1: Akses konsultasi tanpa batas bersama instruktur ahli, khusus peserta program Job Connect.
  7. Program Penyaluran Kerja: Dapatkan dukungan penyaluran kerja melalui jaringan 840+ perusahaan mitra, khusus program Job Connect.
  8. Komunitas Profesional: Perluas relasi dengan sesama peserta dan praktisi di bidang Risk Management.


Siap Mengembangkan Karier di Bidang Risk Management?

Memahami risiko standalone market menjadi bekal awal untuk mengembangkan kemampuan analisis risiko. Melalui pembelajaran terstruktur dan praktik langsung, kamu dapat mempersiapkan karier sebagai Risk Analyst atau Risk Management Officer.

Yuk, tingkatkan keterampilan dan persiapkan karier profesionalmu bersama Bootcamp Risk Management Dibimbing!


FAQ:

1. Apa yang dimaksud dengan standalone market?

Standalone market adalah kategori pasar saham yang diklasifikasikan secara terpisah oleh MSCI dan tidak tergabung dalam kelompok indeks developed, emerging, maupun frontier market. Bursa sahamnya masih dapat beroperasi meskipun posisi pasar dalam indeks global berbeda.


2. Apakah Indonesia sudah menjadi standalone market?

Belum. Per 19 Oktober 2026, Indonesia masih berstatus emerging market. MSCI sedang melakukan konsultasi mengenai kemungkinan perubahan status menjadi standalone market.


3. Apa contoh negara standalone market?

Beberapa contohnya adalah Argentina, Nigeria, Lebanon, Zimbabwe, Panama, serta Trinidad dan Tobago. Daftar dapat berubah mengikuti evaluasi MSCI.


4. Apakah standalone market berarti bursa saham ditutup?

Tidak. Status standalone market tidak otomatis menghentikan perdagangan saham. Klasifikasi tersebut menunjukkan posisi pasar dalam metodologi indeks global MSCI.


5. Apa dampak standalone market bagi investor?

Dampaknya dapat berupa perubahan aliran dana asing, volatilitas harga saham, penurunan likuiditas, dan penilaian ulang terhadap risiko pasar. Besarnya dampak bergantung pada alasan perubahan status dan kondisi perdagangan.

Kategori:

Share:

Penulis

Penulis Image

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.

Reviewer

Reviewer Image

Sudah Direview Oleh Expert

Setiap artikel yang berlabel "Sudah Direview Oleh Expert" telah melalui proses peninjauan oleh praktisi atau mentor yang berpengalaman di bidangnya untuk memastikan informasi yang disajikan berkualitas, akurat, dan relevan bagi pembaca.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!