Dibimbing - Regression Testing Adalah: Jenis, Tujuan & Contohnya
Blog
Quality Assurance

Regression Testing Adalah: Jenis, Tujuan & Contohnya

Author

DITULIS OLEH 

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Reviewer

DIREVIEW OLEH 

Sudah Direview Oleh Expert

Dibuat pada 12 Okt 2026

Diubah pada 12 Okt 2026

5

Image Thumbnail

Regression testing membantu memastikan fitur lama tetap berjalan normal setelah ada perubahan pada software. Pengujian ini penting saat developer memperbaiki bug, menambah fitur, atau memperbarui bagian tertentu dari sistem.

Nah, Warga Bimbingan, satu perubahan kecil kadang bisa memengaruhi fungsi lain yang sebelumnya nggak bermasalah. Karena itu, QA perlu melakukan pengujian ulang agar aplikasi tetap stabil dan siap digunakan.

Kalau kamu ingin memahami proses testing lebih dalam, kamu juga bisa belajar lewat Bootcamp Quality Assurance Dibimbing. Di artikel ini, MinDi bakal bahas tujuan, jenis, contoh, dan waktu yang tepat melakukan regression testing, yuk simak!

Baca Juga: Apa Itu Quality Assurance? Tugas, Tools, dan Gaji


Apa Itu Regression Testing?

Regression testing adalah proses pengujian ulang terhadap bagian software yang sebelumnya sudah berjalan setelah terjadi perubahan pada sistem. Tujuannya adalah memastikan perubahan tersebut nggak menimbulkan bug baru pada fitur lain.

Perubahan yang dimaksud bisa berupa penambahan fitur, perbaikan bug, perubahan kode, pembaruan library, hingga integrasi layanan baru. Walaupun perubahan hanya dilakukan pada satu bagian, efeknya tetap dapat memengaruhi komponen lain dalam aplikasi.

Contohnya, developer menambahkan fitur voucher pada halaman checkout sebuah aplikasi e-commerce. QA nggak hanya perlu menguji voucher tersebut, tetapi juga memastikan fungsi pembayaran, perhitungan harga, keranjang, dan pembuatan pesanan tetap berjalan dengan benar.

Jadi, regression testing membantu memastikan bahwa fitur lama tetap stabil setelah aplikasi mengalami perubahan.

Baca Juga: Rekomendasi Bootcamp QA Automation dan Tips Memilihnya


Apa Tujuan Regression Testing?

Pengembangan software hampir selalu melibatkan perubahan kode. Karena setiap perubahan dapat memiliki efek ke bagian lain, regression testing digunakan untuk mengurangi risiko munculnya masalah baru.

Beberapa tujuan utamanya antara lain:

  1. Memastikan fitur lama tetap bekerja setelah perubahan kode.
  2. Menemukan efek samping dari penambahan fitur baru.
  3. Memastikan perbaikan bug nggak merusak fungsi lainnya.
  4. Menjaga kestabilan aplikasi setelah pembaruan.
  5. Mengurangi risiko bug sampai ke pengguna.
  6. Membantu menjaga kualitas aplikasi sebelum dirilis.

Dalam praktiknya, semakin kompleks aplikasi, semakin penting proses pengujian regresi dilakukan secara terstruktur.

Baca Juga: Masih Bootcamp Tapi Sudah Kerja Lebih Cepat, Cerita Kak Rezal 


Kenapa Regression Testing Penting?

Developer dapat mengubah satu bagian kecil kode, tetapi efeknya belum tentu hanya terjadi pada bagian tersebut. Ada kemungkinan perubahan memengaruhi fungsi lain yang memiliki dependensi dengan kode tersebut.


1. Mendeteksi Bug Setelah Perubahan

Perubahan kode dapat menghasilkan efek yang nggak selalu terlihat secara langsung pada fitur yang sedang dikembangkan. 

Regression testing membantu QA memeriksa kembali fitur-fitur terkait setelah perubahan dilakukan. Bug yang sebelumnya nggak muncul pun bisa ditemukan sebelum aplikasi dirilis.


2. Menjaga Stabilitas Aplikasi

Aplikasi yang sering mendapatkan pembaruan membutuhkan pengujian berulang untuk memastikan kestabilannya tetap terjaga. 

Fitur lama harus tetap berjalan meskipun ada penambahan atau perubahan pada sistem. Hal ini penting terutama pada aplikasi dengan banyak pengguna dan fitur.


3. Mengurangi Risiko Saat Release

Bug yang lolos ke lingkungan produksi dapat mengganggu pengalaman pengguna dan operasional bisnis. 

Dengan melakukan regression testing, QA dapat memeriksa fungsi penting sebelum versi terbaru dirilis. Risiko kerusakan pada fitur utama pun dapat dikurangi.


4. Mendukung Pengembangan Berkelanjutan

Tim yang menggunakan Agile atau CI/CD dapat melakukan perubahan aplikasi dengan frekuensi cukup tinggi. 

Regression testing membantu memastikan setiap perubahan tetap kompatibel dengan fungsi yang sudah tersedia. Pengujian berulang juga dapat diotomatisasi agar prosesnya lebih efisien.

Baca Juga: Panduan Memilih Bootcamp Quality Assurance Terbaik 


Kapan Regression Testing Dilakukan?

Regression testing nggak hanya dilakukan ketika aplikasi mendapatkan fitur besar. Perubahan kecil pun bisa memengaruhi fungsi lain yang sebelumnya sudah berjalan normal.

Beberapa kondisi yang biasanya membutuhkan regression testing antara lain:


1. Setelah Perbaikan Bug

Ketika developer memperbaiki sebuah bug, kode pada bagian tertentu akan mengalami perubahan. 

QA perlu memastikan perbaikan tersebut benar-benar berhasil dan fungsi utama tetap berjalan. Selain itu, pengujian juga dilakukan untuk mengecek apakah perubahan nggak menimbulkan masalah baru pada fitur lain.


2. Setelah Menambahkan Fitur Baru

Fitur baru biasanya terhubung dengan beberapa komponen yang sudah ada di dalam aplikasi. 

QA perlu menguji fitur tersebut sekaligus memastikan fungsi lama yang berkaitan tetap bekerja dengan normal. Hal ini penting karena penambahan satu fitur bisa memengaruhi alur lain secara tidak langsung.


3. Setelah Refactoring Kode

Refactoring dilakukan untuk memperbaiki struktur kode tanpa mengubah fungsi utama aplikasi. 

Meski hasil akhirnya seharusnya tetap sama, perubahan pada kode tetap bisa menimbulkan efek yang nggak disengaja. Karena itu, regression testing diperlukan untuk memastikan perilaku sistem tetap konsisten.


4. Setelah Perubahan Integrasi

Aplikasi bisa terhubung dengan payment gateway, API, sistem autentikasi, atau layanan pihak ketiga lainnya. 

Ketika salah satu integrasi tersebut berubah, alur data dan proses aplikasi juga bisa ikut terdampak. QA perlu melakukan pengujian kembali untuk memastikan integrasi tetap berjalan tanpa mengganggu fitur lain.


5. Sebelum Release

Tim QA dapat menjalankan regression test suite sebelum versi baru aplikasi masuk ke lingkungan produksi. 

Pengujian ini membantu memastikan fitur-fitur penting tetap berjalan setelah seluruh perubahan digabungkan. Dengan begitu, risiko bug yang sampai ke pengguna bisa dikurangi.

Baca Juga: Anak IT Dapat Kerja dalam 2 Bulan Setelah Lulus Bootcamp 


Apa Saja Jenis Regression Testing?

apa-saja-jenis-regression-testing

Sumber: Desain oleh Dibimbing

Pendekatan regression testing dapat berbeda tergantung seberapa besar perubahan pada aplikasi dan bagian mana yang berpotensi terdampak. Berikut beberapa jenis yang umum digunakan.


1. Corrective Regression Testing

Corrective regression testing dapat digunakan ketika spesifikasi aplikasi nggak mengalami perubahan besar. QA biasanya memakai kembali test case yang sudah tersedia untuk memastikan fungsi lama tetap berjalan.

Metode ini cocok ketika perubahan relatif kecil dan cakupan dampaknya sudah diketahui. Tim pun nggak perlu membuat banyak test case baru.


2. Progressive Regression Testing

Progressive regression testing dilakukan ketika terdapat perubahan kebutuhan atau fitur baru pada aplikasi. QA perlu menyesuaikan atau membuat test case baru agar sesuai dengan perubahan tersebut.

Pendekatan ini membantu memastikan fungsi baru dapat bekerja bersama dengan fitur yang sebelumnya sudah tersedia.


3. Selective Regression Testing

Selective regression testing hanya menjalankan test case yang dianggap berhubungan dengan perubahan kode. Tim perlu melakukan analisis terlebih dahulu untuk menentukan fungsi mana yang berpotensi terdampak.

Pendekatan ini dapat menghemat waktu dibanding menjalankan seluruh pengujian dari awal.


4. Partial Regression Testing

Partial regression testing berfokus pada bagian yang berubah dan beberapa komponen yang terhubung dengannya. QA memastikan perubahan dapat bekerja dengan fitur lain tanpa mengganggu fungsi yang sudah ada.

Metode ini biasanya digunakan ketika dampak perubahan masih terbatas pada beberapa bagian aplikasi.


5. Complete Regression Testing

Complete regression testing menguji kembali sebagian besar atau seluruh fitur utama aplikasi. Pendekatan ini dapat digunakan ketika perubahan pada sistem cukup besar atau banyak komponen saling terhubung.

Karena cakupannya luas, proses ini bisa memakan waktu lebih lama sehingga otomatisasi sering digunakan untuk membantu pengujian.

Baca Juga: Alumni Dibimbing Sukses Switch Career dari Astronomi ITB ke IT 


Bagaimana Proses Regression Testing?

Proses regression testing sebaiknya nggak langsung dimulai dengan menjalankan semua test case. QA perlu memahami perubahan terlebih dahulu agar pengujian tetap efektif.


1. Identifikasi Perubahan

Cari tahu bagian kode, fitur, atau integrasi apa yang baru saja mengalami perubahan. Informasi tersebut biasanya diperoleh dari requirement, tiket pengembangan, atau diskusi dengan developer. QA kemudian dapat memahami fungsi mana yang kemungkinan terpengaruh.


2. Analisis Dampak

Setelah mengetahui perubahan, tentukan bagian aplikasi yang memiliki hubungan dengan komponen tersebut. 

Misalnya perubahan pada sistem pembayaran dapat berdampak pada checkout, promo, invoice, dan status pesanan. Analisis ini membantu menentukan cakupan pengujian yang tepat.


3. Pilih Test Case

Pilih test case berdasarkan risiko dan hubungan dengan perubahan yang terjadi. Prioritaskan fungsi bisnis yang kritis serta fitur yang paling mungkin terdampak.

QA nggak selalu harus menjalankan seluruh test case apabila cakupan perubahan sudah jelas.


4. Siapkan Test Environment

Pastikan lingkungan pengujian sudah menggunakan versi aplikasi yang sesuai. Data uji, akun, konfigurasi, dan integrasi juga perlu dipersiapkan agar hasil pengujian lebih konsisten. Lingkungan yang berbeda dapat menghasilkan perilaku aplikasi yang berbeda pula.


5. Jalankan Regression Test

Selanjutnya, jalankan test case yang telah dipilih secara manual maupun otomatis. QA mencatat hasil setiap pengujian untuk mengetahui apakah fitur masih bekerja sesuai kebutuhan. Jika ditemukan masalah, bug perlu didokumentasikan agar bisa ditindaklanjuti developer.


6. Lakukan Evaluasi

Setelah pengujian selesai, QA mengevaluasi hasil dan menentukan apakah aplikasi sudah aman untuk melanjutkan proses release. 

Test case yang sering digunakan juga dapat dipertimbangkan untuk otomatisasi. Dengan begitu, proses regression testing berikutnya dapat berjalan lebih cepat.


Apa Perbedaan Regression Testing dan Retesting?

Regression testing dan retesting sering dianggap sama karena keduanya dilakukan setelah terdapat perubahan atau perbaikan kode. Padahal, fokus pengujiannya berbeda.

Aspek

Regression Testing

Retesting

Tujuan

Memastikan perubahan nggak merusak fitur lain

Memastikan bug tertentu sudah diperbaiki

Fokus

Fitur lama yang berpotensi terdampak

Bug atau fitur yang sebelumnya gagal

Cakupan

Bisa mencakup banyak fitur

Lebih spesifik

Test Case

Menggunakan regression test suite

Mengulang test case yang sebelumnya gagal

Automation

Sering cocok diotomatisasi

Bisa manual atau otomatis

Contohnya, developer memperbaiki bug pada tombol pembayaran. Retesting dilakukan untuk memastikan tombol tersebut sudah bekerja, sedangkan regression testing mengecek apakah checkout, voucher, invoice, dan riwayat transaksi tetap normal.

Baca Juga: Nekat Switch Career, Anak Teknik Ini Jadi Data Analyst dalam 4 Bulan 


Bagaimana Contoh Regression Testing?

Bayangkan sebuah aplikasi e-commerce sudah memiliki sistem checkout yang berjalan normal. Developer kemudian menambahkan fitur baru berupa kode promo.

Setelah fitur tersebut selesai, QA dapat menguji:

  1. Kode promo bisa digunakan sesuai ketentuan.
  2. Harga produk tetap dihitung dengan benar.
  3. Ongkos kirim nggak berubah secara tidak sengaja.
  4. Metode pembayaran tetap dapat digunakan.
  5. Pesanan berhasil dibuat.
  6. Invoice menampilkan nominal yang sesuai.
  7. Riwayat transaksi tetap tersimpan.

Pengujian poin pertama berfokus pada fitur baru. Sementara itu, pengujian fitur lama yang berpotensi terdampak merupakan bagian dari regression testing.


Apa Saja Tools untuk Regression Testing?

Regression testing dapat dilakukan secara manual maupun menggunakan otomatisasi. Pemilihan tools biasanya menyesuaikan platform, teknologi aplikasi, dan kebutuhan tim.

Beberapa tools yang dapat digunakan antara lain:

  1. Selenium: otomatisasi pengujian aplikasi web melalui browser.
  2. Postman: menguji API dan respons dari layanan back-end.
  3. Newman: menjalankan koleksi Postman melalui command line.
  4. Appium: otomatisasi pengujian aplikasi mobile.
  5. JMeter: digunakan untuk pengujian performa dan beban.
  6. Katalon: mendukung otomatisasi pengujian web, API, dan mobile.

Namun, tools bukan bagian terpenting dari proses testing. QA tetap perlu memahami test scenario, risiko, requirement, serta tujuan pengujian sebelum melakukan otomatisasi.


Kesimpulan

Regression testing adalah pengujian ulang untuk memastikan perubahan pada software nggak merusak fungsi yang sudah berjalan. Pengujian ini penting setelah perbaikan bug, penambahan fitur, atau sebelum release.

Dengan proses yang tepat, QA dapat membantu menjaga stabilitas dan kualitas aplikasi. Regression testing bisa dilakukan secara manual maupun otomatis sesuai kebutuhan.


Rekomendasi Bootcamp Quality Assurance Terbaik untuk Belajar Software Testing

Memahami regression testing akan lebih mudah kalau kamu juga menguasai dasar Quality Assurance secara menyeluruh. Mulai dari penyusunan test case, pengujian API, database testing, hingga automation testing, semuanya saling berkaitan dalam menjaga kualitas aplikasi.

Kamu bisa mempelajari keterampilan tersebut melalui Bootcamp Quality Assurance Dibimbing dengan kelas interaktif, praktik, proyek, dan pendampingan mentor berpengalaman.


Benefit Bootcamp Quality Assurance Dibimbing:

  1. 45+ Live Classes dan 8+ Extra Live Sessions: Belajar langsung bersama mentor ahli melalui kelas interaktif.
  2. 20+ Projects dan Final Assignment: Bangun kemampuan sekaligus portofolio Quality Assurance melalui berbagai proyek.
  3. Beginner-Friendly Syllabus: Materi dirancang agar bisa diikuti peserta dari berbagai latar belakang pendidikan.
  4. Unlimited One-on-One Session: Konsultasikan materi dan kendala belajar secara personal dengan instruktur ahli.
  5. Pendampingan 24/7: Dapatkan dukungan fasilitator dan mentor selama proses pembelajaran.
  6. 8 Minggu Pengalaman Magang: Dapatkan kesempatan memperoleh pengalaman di perusahaan mitra Dibimbing.
  7. Job Placement Exam: Persiapkan diri menghadapi proses rekrutmen dan kebutuhan karier Quality Assurance.
  8. Penyaluran Kerja: Dapatkan dukungan program kelulusan dan penyaluran kerja ke 1.100+ perusahaan.
  9. Komunitas Quality Assurance: Terhubung dengan sesama peserta dan praktisi untuk berdiskusi serta memperluas relasi.


Siap Berkarier sebagai Quality Assurance?

Belajar QA nggak cukup hanya memahami teori software testing. Praktik, proyek, portofolio, dan masukan dari mentor dapat membantu kamu memahami bagaimana pengujian dilakukan dalam kebutuhan proyek yang lebih nyata.

Yuk, mulai belajar melalui Bootcamp Quality Assurance Dibimbing untuk memperdalam manual testing, API, automation testing, hingga regression testing sekaligus mempersiapkan karier sebagai QA Engineer.


FAQ

1. Regression Testing Adalah Apa?

Regression testing adalah proses pengujian ulang pada software setelah terjadi perubahan kode, fitur, atau integrasi. Tujuannya untuk memastikan fungsi lama tetap berjalan dengan normal dan nggak muncul bug baru.

2. Apa Tujuan Regression Testing?

Tujuan regression testing adalah menjaga stabilitas aplikasi setelah dilakukan perubahan. Pengujian ini membantu QA memastikan perbaikan bug atau penambahan fitur nggak memengaruhi fungsi lain yang sebelumnya sudah berjalan.

3. Apa Saja Jenis Regression Testing?

Jenis regression testing yang umum digunakan antara lain corrective, progressive, selective, partial, dan complete regression testing. Pemilihannya disesuaikan dengan besarnya perubahan serta bagian aplikasi yang terdampak.

4. Bagaimana Contoh dan Cara Melakukan Regression Testing?

Contoh regression testing adalah menguji kembali checkout, pembayaran, dan invoice setelah aplikasi menambahkan fitur voucher. Cara melakukan regression testing dimulai dari mengidentifikasi perubahan, memilih test case, menjalankan pengujian, lalu mengevaluasi hasilnya.

5. Apa Tools Regression Testing dan Bedanya dengan Retesting?

Beberapa tools regression testing yang dapat digunakan antara lain Selenium, Postman, Appium, Katalon, dan JMeter. Perbedaan regression testing vs retesting terletak pada fokusnya, yaitu retesting mengecek bug yang sudah diperbaiki, sedangkan regression testing memastikan perubahan tersebut nggak merusak fitur lain.

Kategori:

Share:

Penulis

Penulis Image

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.

Reviewer

Reviewer Image

Sudah Direview Oleh Expert

Setiap artikel yang berlabel "Sudah Direview Oleh Expert" telah melalui proses peninjauan oleh praktisi atau mentor yang berpengalaman di bidangnya untuk memastikan informasi yang disajikan berkualitas, akurat, dan relevan bagi pembaca.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!