Quiet Quitting Adalah Ancaman Diam-Diam! Mari Atasi Penyebabnya
Salsabila Annisa
•
26 November 2025
•
163
Quiet quitting adalah sinyal jelas bahwa budaya kerja perusahaan Anda sedang sakit. Karyawan yang 'berhenti secara diam-diam' ini akan menggerogoti profitabilitas perusahaan Anda.
Mengapa? Sebab mereka bisa jadi menghindari risiko dan inisiatif yang bisa meningkatkan revenue. Namun, sebagai pemimpin, Anda perlu tahu bahwa penyebab fenomena ini bukan kemalasan tetapi burnout berkepanjangan.
Dalam artikel ini, MinDi akan mengajak Anda memahami quiet quitting dan menemukan solusi leadership untuk mengatasi akar masalah ini.
Apa Itu Quiet Quitting?
Quiet Quitting adalah tindakan karyawan yang hanya melakukan pekerjaan minimum sesuai kontrak. Mereka telah "mengundurkan diri" secara emosional, menghasilkan produktivitas menurun meski masih menerima gaji penuh.
Fenomena ini marak diperbincangkan di media sosial sejak tahun 2022. Hal ini menunjukkan adanya tren perilaku quiet quitting.
Tren ini adalah hal serius. Dilansir dari Investopedia, menurut Gallup State of the Global Workplace Report 2023, 59% pekerja kantoran di dunia adalah quiet quitters.
Sebagai pemimpin perusahaan, tentu Anda tidak ingin tim Anda masuk dalam persentase itu, kan? Oleh karena itu, simak MinDi sampai selesai dalam artikel ini ya.
Mengapa Quiet Quitting Merugikan Perusahaan?
Quiet Quitting bukan masalah soft skill; ini adalah masalah ROI SDM yang merugikan bottom line perusahaan. Sebagai pimpinan, Anda harus melihat ini sebagai risiko finansial di bawah ini.
1. Biaya Tersembunyi dari Produktivitas Menurun
Karyawan quiet quitting menghasilkan output jauh di bawah potensi maksimal mereka. Ini menciptakan biaya tersembunyi karena pekerjaan lambat dan memerlukan micromanagement intensif.
2. Risiko Gagal Mencapai Target Bisnis
Tim yang terinfeksi quiet quitting menolak inisiatif baru dan pekerjaan di luar batas kontrak. Perusahaan menjadi kaku, lambat adaptasi, dan berisiko tinggi gagal mencapai target bisnis.
3. Mengancam Retensi Karyawan Berkinerja Tinggi
High-performer merasa tidak adil karena rekan kerja mereka dibayar sama meski bekerja seadanya. Fenomena ini dapat mendorong top talent Anda mencari pekerjaan di tempat lain, merusak upaya Retensi Karyawan.
Baca Juga: Employee Turnover: Pengertian, Penyebab dan Cara Menguranginya
Tanda-Tanda Karyawan Melakukan Quiet Quitting
Sumber: Freepik
Anda perlu mengidentifikasi Tanda-tanda quiet quitting pada karyawan sebelum menyebar luas. Perhatikan perubahan perilaku yang halus namun konsisten di dalam tim.
1. Mengabaikan Komunikasi Proaktif
Karyawan hanya membalas pesan saat jam kerja resmi tanpa pengecualian. Mereka menghindari telepon dan interaksi, hanya menggunakan komunikasi tertulis yang minimalis.
2. Kualitas Kerja Stagnan atau Cenderung Menurun
Mereka memenuhi deadline, tetapi kualitas pekerjaan mereka hanya 'cukup baik' dan minim inisiatif tambahan. Tidak ada upaya untuk menyempurnakan atau mencari solusi yang lebih efisien dari yang diminta.
3. Tidak Ada Lagi Minat pada Pengembangan Diri
Mereka menolak penugasan baru dan peluang leadership yang ditawarkan perusahaan. Mereka juga tidak lagi bertanya tentang Perkembangan Karir atau menunjukkan motivasi belajar.
Baca Juga: Apa Itu People Analytics? Definisi, Manfaat dan Peran Bagi HR
Bagaimana Cara Megatasi Quiet Quitting?
Pencegahan quiet quitting harus dimulai dari atas, melalui perubahan budaya dan peningkatan Employee Engagement. Intervensi strategis ini wajib dilakukan oleh pimpinan.
1. Fokus pada Work-Life Balance
Leader harus menjadi contoh dan tidak mempromosikan budaya kerja hingga burnout. Terapkan kebijakan jelas yang menghargai waktu pribadi karyawan untuk mencapai Work-Life Balance yang realistis.
2. Terapkan Performance Review yang Jelas dan Berbasis Kualitas
Gunakan Penilaian Kinerja yang adil, mengukur output dan dampak yang dihasilkan. Beri penghargaan yang sesuai untuk kinerja di atas rata-rata, membedakan mereka dari quiet quitter.
3. Investasi pada Pelatihan Manajemen Kinerja untuk Atasan
Banyak kasus quiet quitting dipicu oleh Micromanagement atau atasan yang tidak kompeten. Berikan Pelatihan Manajemen Kinerja untuk Atasan agar mereka mampu memimpin dengan empati dan memberdayakan tim.
4. Ubah Budaya Kerja Menjadi Budaya Apresiasi
Secara aktif cari dan hargai usaha dan kontribusi karyawan, bukan hanya hasil akhir. Budaya yang mengakui burnout dan menyediakan support system adalah benteng terkuat melawan quiet quitting.
Baca Juga: 10 Alasan Mengapa Karyawan Resign, Gaji Bukan Alasan
Saatnya Atasi Quiet Quitting dengan Training!
Quiet Quitting adalah sinyal jelas bahwa manajemen Anda telah merusak moral tim, yang akhirnya memotong Revenue Perusahaan Anda. Mengatasi fenomena ini membutuhkan intervensi strategis dan pelatihan kepemimpinan.
MinDi siap membantu Anda merancang Program Corporate Training untuk meningkatkan Employee Engagement. Ubah budaya kerja Anda bersama kami menjadi pendorong profit agar perusahaan Anda bebas Quiet Quitting!
Pelatihan ini didukung oleh 338+ mentor berpengalaman, siap membantu mengasah kemampuan tim Anda lewat berbagai program, mulai dari Soft Skill Training, Digital Training, hingga Customizable Training yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan spesifik perusahaan Anda.
Sudah ada 58+ perusahaan terkemuka di Indonesia yang menjadi mitra sukses kami dengan tingkat kepuasan mencapai 90%.
Ingin konsultasi gratis dulu untuk training PostgreSQL untuk karyawan Anda? Hubungi kami sekarang Disini dan maksimalkan pengembangan tim Anda bersama kami!
Tags
Salsabila Annisa
Salsabila Annisa is an accomplished SEO Content Writer and Copywriter who believes the best content is a perfect blend of search engine logic and human empathy. With experience crafting words that are both informative and rank-worthy, she/he is dedicated to transforming complex topics into flowing, crisp, and highly readable articles.
