Hampir 10 Juta Gen Z Menganggur: Penyebab & Solusi
DITULIS OLEH
Farijihan Putri
DIREVIEW OLEH
Sudah Direview Oleh Expert
Dibuat pada 3 Sep 2026
Diubah pada 5 Sep 2026
35
Hampir 10 juta Gen Z menganggur menjadi perhatian ketika semakin banyak anak muda berada di luar dunia kerja, pendidikan, maupun pelatihan.
Kondisi tersebut bukan berarti semua anak muda sedang mencari pekerjaan dan tidak mendapatkannya, sebab kategori NEET juga mencakup mereka yang tidak sekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan.
Data BPS menunjukkan sekitar 9 juta penduduk usia 15–24 tahun berada dalam kategori NEET pada Agustus 2024, atau 20,31% dari sekitar 44 juta penduduk usia muda.
Angka ini membuat persiapan memasuki dunia kerja jadi semakin penting, terutama bagi yang baru lulus sekolah atau kuliah. Salah satu langkah yang bisa kamu pertimbangkan adalah mengikuti bootcamp penyaluran kerja untuk mempelajari skill yang relevan sekaligus mendapatkan pendampingan menuju dunia profesional.
Mengapa Banyak Gen Z Belum Masuk Dunia Kerja?
Masuk dunia kerja setelah lulus tidak selalu berjalan mulus karena fase transisinya punya tantangan tersendiri. Selain jumlah lowongan dan persaingan, Gen Z juga perlu beradaptasi dengan proses rekrutmen, ekspektasi perusahaan, serta perubahan cara kerja di berbagai industri.
- Belum Punya Pengalaman yang Relevan: Pengalaman organisasi atau kuliah belum tentu menunjukkan kemampuan menjalankan tugas yang dibutuhkan posisi tertentu.
- Ekspektasi Pekerjaan Belum Bertemu Realita: Kandidat bisa memiliki target posisi, gaji, atau lingkungan kerja tertentu yang belum tentu sejalan dengan peluang yang tersedia.
- Kurang Memahami Kebutuhan Industri: Sebagian pencari kerja belum tahu kompetensi yang benar-benar dicari untuk profesi yang diincar.
- Proses Rekrutmen Semakin Selektif: Recruiter tidak hanya melihat ijazah, tetapi juga project, pengalaman, kemampuan teknis, dan cara kandidat menunjukkan value.
- Transisi Dari Kuliah ke Kerja Terasa Membingungkan: Setelah lulus, banyak pilihan profesi justru membuat sebagian orang sulit menentukan bidang yang ingin ditekuni.
- Akses Informasi Karier Belum Merata: Tidak semua kandidat mengetahui peluang, perusahaan, atau jalur masuk ke industri yang sesuai dengan latar belakangnya.
Baca Juga: Kursus Online Weekend vs Kursus Online Weekday, Mana yang Lebih Cocok untukmu?
Apakah Gen Z Harus Punya Skill Tambahan Setelah Lulus?
Punya ijazah tetap penting sebagai dasar pendidikan, tetapi kebutuhan perusahaan tidak berhenti pada kualifikasi akademik. Kandidat juga perlu menunjukkan kemampuan yang bisa langsung diterapkan, terutama ketika melamar posisi yang membutuhkan penguasaan tools atau kemampuan teknis tertentu.
Data BPS tentang NEET juga menunjukkan pentingnya memperhatikan kelompok anak muda yang tidak sedang bekerja maupun mengikuti pendidikan atau pelatihan.
Dari sudut pandang kandidat, kondisi tersebut bisa menjadi pengingat bahwa masa transisi setelah lulus sebaiknya tetap diisi dengan aktivitas yang membantu membangun kesiapan kerja.
Jadi, ketika membahas jutaan Gen Z menganggur, fokusnya tidak perlu berhenti pada jumlah. Pertanyaan berikutnya justru lebih penting: skill apa yang perlu dipelajari agar lebih siap masuk ke pasar kerja?
Skill yang Perlu Dipersiapkan Gen Z untuk Dunia Kerja
Sumber: Magnific
Setelah memahami tantangan transisinya, Gen Z perlu membangun skill yang bisa langsung digunakan dalam pekerjaan. Berikut diantaranya:
1. Literasi Data
Kemampuan membaca, mengolah, dan menyajikan data sederhana membantu pekerja memahami informasi sebelum mengambil keputusan. Kamu bisa mulai dari tools yang umum digunakan seperti Excel untuk membuat tabel, mengolah angka, dan menyusun laporan sederhana.
2. Penggunaan AI
AI semakin banyak digunakan untuk membantu pekerjaan sehari-hari, mulai dari mencari ide hingga merangkum informasi dan mengotomatisasi tugas tertentu. Kemampuan menggunakan AI secara tepat dapat membantu kamu bekerja lebih efisien sekaligus beradaptasi dengan perubahan cara kerja di industri.
3. Kreativitas Digital
Kemampuan dasar membuat desain atau konten dapat menjadi nilai tambah, terutama untuk pekerjaan yang berhubungan dengan marketing, komunikasi, maupun industri kreatif. Tidak harus langsung jago desain profesional, tetapi memahami tools dan prinsip dasar visual sudah bisa menjadi bekal awal.
4. Penguasaan Tools yang Relevan
Setiap bidang punya software yang sering digunakan dalam pekerjaan sehari-hari. Sebelum melamar, cari tahu tools yang paling sering muncul di lowongan posisi incaran lalu mulai berlatih menggunakannya.
5. Kemampuan Membuat Output Kerja
Recruiter lebih mudah melihat kemampuan kandidat ketika ada hasil yang bisa ditunjukkan. Project seperti dashboard, campaign, desain, analisis data, atau aplikasi sederhana dapat menjadi bukti bahwa kamu mampu menerapkan skill secara praktis.
6. Kemampuan Menerima Feedback
Dunia kerja menuntut kamu siap menerima evaluasi dan memperbaiki hasil pekerjaan. Kebiasaan meminta feedback, memahami masukan, lalu menerapkannya akan membantu proses adaptasi setelah diterima kerja.
7. Kesiapan Menghadapi Proses Rekrutmen
Skill yang bagus tetap perlu didukung kemampuan menghadapi proses seleksi. Mulai dari menyesuaikan CV dengan lowongan, mengerjakan technical test, sampai menjelaskan pengalaman saat interview perlu dilatih sejak awal.
Baca Juga: Strategi Andi Lisna Level Up Skill Data hingga Tembus Erablue
Bagaimana Gen Z Bisa Meningkatkan Kesiapan Kerja?
Setelah mengetahui skill yang perlu diperkuat, langkah berikutnya adalah membuat proses belajarnya lebih terarah.
1. Tentukan Pekerjaan yang Ingin Dituju
Mulai dari posisi yang ingin dikejar, lalu cari tahu skill dan kualifikasi yang paling sering diminta. Cara ini membuat kamu tidak asal belajar banyak hal tanpa tahu penggunaannya.
2. Bandingkan Skill dengan Lowongan
Buka beberapa lowongan dengan posisi serupa dan catat persyaratan yang sering muncul. Setelah itu, tandai kemampuan yang sudah dikuasai dan yang masih perlu dipelajari.
3. Bangun Portofolio
Portofolio membantu recruiter melihat bukti kemampuan secara lebih konkret. Project pribadi, studi kasus, freelance, dan pengalaman magang bisa menjadi bahan yang relevan.
4. Ikuti Kursus atau Bootcamp
Belajar mandiri bisa menjadi pilihan, tetapi kursus atau bootcamp dapat membantu menyediakan materi yang lebih terstruktur. Kamu juga bisa mendapatkan project dan pendampingan yang membuat proses belajar lebih dekat dengan kebutuhan pekerjaan.
5. Mulai Mencari Pengalaman
Pengalaman tidak selalu harus dimulai dari pekerjaan full-time. Magang, freelance, volunteer project, atau project kolaboratif juga bisa menjadi cara untuk membangun jam terbang.
Hampir 10 Juta Gen Z Menganggur, Dapatkah Bootcamp Menjadi Solusi?
Kalimat “hampir 10 juta Gen Z menganggur, dapatkah bootcamp menjadi solusi?” perlu dijawab dengan lebih hati-hati.
Bootcamp bukan solusi tunggal untuk persoalan ketenagakerjaan, tetapi bisa menjadi salah satu cara untuk mengisi masa setelah lulus dengan pembelajaran yang lebih terarah.
BPS mencatat sekitar 9 juta pemuda usia 15–24 tahun masuk kategori NEET pada Agustus 2024, termasuk mereka yang tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan.
Artinya, mengikuti kursus dapat menjadi salah satu aktivitas yang membantu kandidat mengembangkan kompetensi sambil mempersiapkan diri menghadapi proses rekrutmen. Pilihan program sebaiknya tetap disesuaikan dengan bidang pekerjaan yang ingin dituju.
Baca Juga: Cerita Lusi: Raih 3 Tawaran Kerja Sampai Malaysia Bareng Dibimbing
Rekomendasi Bootcamp Terbaik dan Terlengkap Dibimbing
Fenomena 10 juta Gen Z menganggur perlu dilihat secara lebih luas karena data NEET juga mencakup anak muda yang tidak sekolah dan tidak mengikuti pelatihan.
Memanfaatkan waktu dengan mempelajari skill yang relevan, membangun portofolio, dan mencari pengalaman praktis dapat membantu meningkatkan kesiapan menghadapi dunia kerja.
Masih bingung memilih bidang yang ingin ditekuni? Warga Bimbingan bisa menyesuaikan pilihan bootcamp dengan target posisi dan skill yang ingin dikembangkan, lalu membangun pengalaman melalui project yang relevan dengan industri.
1. Bootcamp Digital Marketing Online dan Offline di Jakarta
- Peluang karier: Digital Marketing Specialist, Performance Marketer, SEO Specialist, Social Media Specialist
- Kisaran gaji Rp5–20 juta
2. Bootcamp Data Analyst Online dan Offline di Jakarta
- Peluang karier: Data Analyst, Business Intelligence Analyst, Reporting Analyst
- Kisaran gaji Rp7–30 juta
3. Bootcamp Data Science & AI Machine Learning
- Peluang karier: Data Scientist, Machine Learning Engineer, AI Engineer
- Kisaran gaji Rp10–60 juta
4. Bootcamp Supply Chain Management
- Peluang karier: Supply Chain Analyst, Procurement Staff, Inventory Planner
- Kisaran gaji Rp6–25 juta
5. Bootcamp Full-Stack Web Development Online dan Offline di Jakarta
- Peluang karier: Front-End Developer, Back-End Developer, Full-Stack Developer
- Kisaran gaji Rp8–40 juta
- Peluang karier: Cyber Security Analyst, Security Engineer, Information Security Specialist
- Kisaran gaji Rp6-Rp50 juta per bulan
Memilih program berdasarkan target profesi akan membuat proses belajar lebih fokus. Dengan begitu, skill dan project yang dibuat dapat kamu gunakan untuk memperkuat profil saat mencari pekerjaan.
Bootcamp Terbaik di Indonesia dengan Penyaluran Kerja!
Kalau kamu ingin menggunakan masa setelah lulus untuk meningkatkan kompetensi, Bootcamp Dibimbing dapat menjadi salah satu pilihan untuk belajar melalui program berbasis kebutuhan industri.
Berbagai bidang tersedia dengan pembelajaran praktis, mentor profesional, dan dukungan persiapan kerja; 96% alumni Dibimbing sudah sukses bekerja.
Benefit yang bisa kamu dapatkan:
- Belajar online dan offline sesuai program.
- Kurikulum berbasis kebutuhan industri.
- Project untuk membangun portofolio.
- Mentor profesional dan networking.
- Penyaluran kerja ke 1.100+ hiring partners.
- Konsultasi 1-on-1 untuk mendukung proses belajar.
Masih bingung menentukan program yang cocok dengan minat atau target pekerjaanmu? Yuk, konsultasikan bersama tim Dibimbing untuk menemukan jalur belajar yang sesuai dan mulai perjalanan menuju #BimbingSampeJadi karier impianmu!
FAQ
1. Apakah 10 juta Gen Z menganggur sama dengan jumlah pengangguran resmi?
Tidak persis. Istilah tersebut sering merujuk pada kelompok NEET, yang mencakup pemuda yang tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan.
2. Apakah semua Gen Z yang masuk kategori NEET sedang mencari pekerjaan?
Tidak. Kategori NEET lebih luas daripada pengangguran sehingga tidak semua orang di dalamnya sedang aktif mencari pekerjaan.
3. Apa yang sebaiknya dilakukan setelah lulus jika belum mendapat kerja?
Kamu bisa menggunakan masa tersebut untuk mempelajari skill yang sesuai target pekerjaan, membangun portofolio, mengikuti project atau magang, serta mempersiapkan strategi melamar kerja.
Referensi
- Nyaris 10 Juta Gen Z Pengangguran, Ternyata Ini Akar Masalahnya [Buka]
Kategori:
Penulis
Farijihan is a passionate Content Writer with 3 years of experience in crafting compelling content, optimizing for SEO, and developing creative strategies for various brands and industries.
