dibimbing.id - 8 Jenis Pajak Penghasilan yang Wajib Kamu Ketahui

8 Jenis Pajak Penghasilan yang Wajib Kamu Ketahui

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

31 March 2026

8

Image Banner

Pajak penghasilan jadi hal penting yang perlu dipahami, terutama kalau kamu sudah punya penghasilan sendiri. Warga Bimbingan, jenis pajak penghasilan itu nggak cuma satu dan masing-masing punya aturan yang berbeda.

Dalam praktiknya, pajak penghasilan bisa dikenakan pada gaji, jasa, usaha, sampai badan usaha. Karena itu, memahami jenis-jenisnya bisa membantu kamu lebih paham sistem pajak yang berlaku.

Lewat artikel ini, kamu akan mengenal 8 jenis pajak penghasilan yang wajib diketahui. Yuk, simak penjelasannya supaya kamu nggak bingung saat menemukan istilah pajak di dunia kerja atau bisnis.

Baca Juga: Rekomendasi Bootcamp Finance Accounting Online Bersertifikat


Apa Itu Pajak Penghasilan?

Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan atas setiap penghasilan yang diterima oleh orang pribadi maupun badan dalam periode tertentu. 

Penghasilan ini bisa berasal dari gaji, honorarium, keuntungan usaha, jasa, hingga sumber pendapatan lainnya yang diatur dalam ketentuan perpajakan. 

Dalam praktiknya, pajak penghasilan dibayarkan kepada negara sebagai bagian dari kewajiban warga negara atau wajib pajak yang memiliki penghasilan. 

Karena itu, memahami pajak penghasilan penting agar kamu lebih paham hak dan kewajiban perpajakan dalam dunia kerja maupun bisnis.

Baca Juga: 16 Pertanyaan Interview Admin Finance dan Jawabannya


Jenis-Jenis Pajak Penghasilan

Sumber: Canva

Pajak penghasilan punya beberapa jenis yang dibedakan berdasarkan sumber penghasilan, pihak yang dikenai, dan cara pembayarannya. 

Supaya lebih mudah dipahami, berikut penjelasan tiap jenis pajak penghasilan beserta contohnya.


1. PPh Pasal 21

PPh Pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain yang diterima pegawai atau pekerja pribadi dalam negeri. Jenis ini paling sering ditemui karena berkaitan langsung dengan penghasilan karyawan atau pekerja individu.

Contohnya, pajak yang dipotong dari gaji bulanan karyawan kantor termasuk dalam PPh Pasal 21. Begitu juga honor narasumber seminar atau fee tenaga lepas dalam negeri yang dibayarkan oleh perusahaan.


2. PPh Pasal 22

PPh Pasal 22 dipungut oleh bendaharawan atau badan usaha tertentu atas kegiatan impor, ekspor, atau penjualan barang tertentu, termasuk barang mewah. Pajak ini lebih sering berkaitan dengan transaksi perdagangan dalam jumlah besar atau sektor tertentu.

Contohnya, perusahaan yang mengimpor barang dari luar negeri bisa dikenai PPh Pasal 22 saat proses impor. Penjualan barang mewah tertentu juga bisa masuk ke jenis pajak ini.


3. PPh Pasal 23

PPh Pasal 23 dipotong atas penghasilan seperti dividen, bunga, royalti, sewa selain tanah dan bangunan, serta jasa yang dibayarkan kepada wajib pajak dalam negeri. Jenis ini sering muncul dalam transaksi antarperusahaan atau pembayaran jasa profesional.

Contohnya, pembayaran jasa konsultan kepada perusahaan dalam negeri dapat dikenai PPh Pasal 23. Begitu juga pembayaran royalti atau sewa alat berat yang bukan termasuk sewa tanah dan bangunan.


4. PPh Pasal 24

PPh Pasal 24 adalah kredit pajak luar negeri, yaitu pajak yang sudah dibayar di luar negeri atas penghasilan yang berasal dari luar negeri. Pajak tersebut nantinya bisa dikreditkan terhadap pajak yang masih terutang di Indonesia.

Contohnya, seseorang atau badan usaha Indonesia yang mendapat penghasilan dari luar negeri dan sudah membayar pajak di negara tersebut bisa memanfaatkan PPh Pasal 24. Jadi, pajak yang dibayar di luar negeri tidak dihitung dua kali sepenuhnya di Indonesia.


5. PPh Pasal 25

PPh Pasal 25 merupakan angsuran pajak penghasilan yang dibayar sendiri oleh wajib pajak setiap bulan. Tujuannya adalah meringankan beban pembayaran pajak saat akhir tahun pajak.

Contohnya, perusahaan atau wajib pajak tertentu membayar cicilan pajak bulanan sebelum pelaporan tahunan selesai. Dengan cara ini, jumlah pajak yang harus dibayar di akhir tahun tidak terasa terlalu besar.


6. PPh Pasal 26

PPh Pasal 26 dikenakan atas penghasilan yang bersumber dari Indonesia tetapi diterima oleh wajib pajak luar negeri. Jenis ini biasanya berkaitan dengan pihak asing yang memperoleh penghasilan dari Indonesia.

Contohnya, perusahaan Indonesia yang membayar royalti kepada perusahaan luar negeri dapat dikenai PPh Pasal 26. Pembayaran jasa atau dividen kepada pihak luar negeri juga bisa termasuk dalam kategori ini.


7. PPh Pasal 29

PPh Pasal 29 adalah pajak penghasilan kurang bayar yang tercantum dalam SPT Tahunan. Kondisi ini muncul jika jumlah pajak yang seharusnya dibayar lebih besar daripada kredit pajak yang sudah dimiliki.

Contohnya, setelah menghitung seluruh kewajiban pajak tahunan, ternyata masih ada selisih yang belum dibayar. Selisih itulah yang masuk sebagai PPh Pasal 29.


8. PPh Final Pasal 4 Ayat 2

PPh Final Pasal 4 ayat 2 adalah pajak penghasilan yang sifatnya final, sehingga tidak dapat dikreditkan lagi dalam perhitungan pajak tahunan. Jenis ini berlaku untuk beberapa penghasilan tertentu yang sudah ditetapkan dalam aturan perpajakan.

Contohnya, bunga deposito, sewa tanah atau bangunan, dan hadiah undian termasuk objek PPh Final Pasal 4 ayat 2. Setelah pajaknya dipotong, kewajiban untuk penghasilan itu dianggap selesai.


9. PPh Pasal 15

PPh Pasal 15 berkaitan dengan norma perhitungan khusus untuk golongan wajib pajak tertentu. Jenis ini biasanya diterapkan pada bidang usaha yang memiliki karakteristik khusus menurut ketentuan perpajakan.

Contohnya, usaha pelayaran, penerbangan, atau pengeboran minyak dapat dikenai PPh Pasal 15. Perhitungan pajaknya menggunakan aturan khusus yang berbeda dari wajib pajak pada umumnya.

Baca Juga: 4 Contoh CV Finance Accounting (Gratis Template)


Perbedaan Tiap Jenis Pajak Penghasilan

Sumber: Canva

setiap jenis pajak penghasilan punya aturan yang berbeda. Perbedaannya bisa dilihat dari sumber penghasilan, pihak yang dikenai, hingga cara pembayarannya. 

Berikut 4 perbedaan utama tiap jenis pajak penghasilan:


1. Sumber penghasilan

Setiap jenis PPh dikenakan pada sumber penghasilan yang berbeda. Ada yang berasal dari gaji, jasa, usaha, impor, atau penghasilan dari luar negeri. 

Misalnya, PPh Pasal 21 dikenakan pada gaji dan honor, sedangkan PPh Pasal 23 lebih sering muncul pada jasa, dividen, atau royalti.


2. Pihak yang dikenai pajak

Jenis pajak penghasilan juga berbeda berdasarkan siapa yang menerima penghasilan. Ada yang berlaku untuk orang pribadi, badan usaha, atau wajib pajak luar negeri. 

Contohnya, PPh Pasal 21 banyak dikenakan pada pekerja dalam negeri, sementara PPh Pasal 26 ditujukan untuk pihak luar negeri yang menerima penghasilan dari Indonesia.


3. Cara pemotongan atau pembayaran

Beberapa jenis PPh dipotong langsung oleh pihak lain, sedangkan yang lain dibayar sendiri oleh wajib pajak. 

Misalnya, PPh Pasal 21 biasanya dipotong dari gaji oleh perusahaan, sedangkan PPh Pasal 25 dibayar sendiri dalam bentuk angsuran bulanan. Perbedaan ini memengaruhi bagaimana pajak tersebut dilaporkan dan disetorkan.


4. Sifat pajaknya

Ada jenis PPh yang bersifat final dan ada juga yang tidak final. Pajak final berarti kewajibannya selesai saat dipotong, seperti PPh Final Pasal 4 ayat 2. 

Sementara itu, pajak nonfinal masih diperhitungkan lagi dalam SPT Tahunan, sehingga prosesnya tidak berhenti di pemotongan awal saja.


Cara Memahami Jenis Pajak Penghasilan 

Memahami jenis pajak penghasilan akan terasa lebih mudah kalau kamu tahu dari mana harus mulai. 

Supaya tidak bingung dengan banyaknya istilah PPh, berikut beberapa cara yang bisa kamu lakukan:


1. Kenali sumber penghasilanmu

Langkah pertama adalah memahami dulu penghasilan yang kamu terima berasal dari mana. Bisa dari gaji, honor, usaha, jasa, sewa, atau penghasilan lainnya. Dari sumber inilah biasanya jenis pajak penghasilan bisa mulai dibedakan.


2. Pahami siapa pihak yang dikenai pajak

Jenis PPh juga dipengaruhi oleh siapa yang menerima penghasilan tersebut. Ada pajak yang berlaku untuk orang pribadi, badan usaha, atau wajib pajak luar negeri. 

Dengan mengenali status pihak yang dikenai, kamu akan lebih mudah menentukan jenis pajaknya.


3. Perhatikan cara pemotongan atau pembayarannya

Beberapa jenis pajak dipotong langsung oleh perusahaan atau pemberi penghasilan, sementara yang lain dibayar sendiri oleh wajib pajak. 

Perbedaan ini penting karena berkaitan dengan proses administrasi dan pelaporannya. Kalau kamu memahami mekanismenya, kamu akan lebih mudah mengenali jenis PPh yang berlaku.


4. Pelajari contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

Memahami pajak akan lebih mudah kalau kamu melihat contoh yang dekat dengan aktivitas sehari-hari. 

Misalnya, gaji karyawan biasanya dikenai PPh 21, sedangkan bunga deposito termasuk PPh final. Dari contoh-contoh seperti ini, istilah perpajakan akan terasa lebih konkret dan tidak terlalu rumit.


Ingin Jadi Finance & Accounting Specialist Profesional?

Setelah memahami dasar-dasar perpajakan dan administrasi keuangan, sekarang saatnya memperdalam skill-mu agar lebih siap berkarier di bidang finance dan accounting.

Yuk, ikuti Bootcamp Finance & Accounting Specialist di dibimbing! Di sini, kamu akan mempelajari pencatatan keuangan, laporan keuangan, perpajakan, administrasi finance, hingga proses kerja accounting yang relevan dengan kebutuhan industri.

Benefit yang bisa kamu dapatkan:

  1. 42+ live class dan 12 sesi praktek bersama praktisi ahli
  2. 20+ assignment untuk portofolio building
  3. Konsultasi 1-on-1 tanpa batas bersama instruktur expert
  4. Dampingan fasilitator dan mentor berdedikasi yang tersedia 24/7
  5. 3 bulan pengalaman magang di hiring company dibimbing.id
  6. Program graduation dan penyaluran kerja ke 840+ perusahaan

Dengan lebih dari 840+ hiring partner dan tingkat keberhasilan alumni mencapai 96%, peluang kariermu di dunia finance dan accounting semakin terbuka lebar.

Jadi, tunggu apa lagi? Hubungi di sini dan daftar sekarang di dibimbing.id untuk memulai perjalananmu menjadi Finance & Accounting Specialist profesional. #BimbingSampeJadi!


FAQ

1. Apa itu pajak penghasilan?

Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan atas penghasilan yang diterima orang pribadi atau badan. Penghasilan ini bisa berasal dari gaji, jasa, usaha, sewa, dan sumber lainnya.

2. Apa saja jenis pajak penghasilan yang paling umum?

Beberapa jenis yang paling umum adalah PPh Pasal 21, PPh Pasal 23, PPh Pasal 25, dan PPh Final Pasal 4 ayat 2. Masing-masing punya objek pajak dan mekanisme yang berbeda.

3. Apa perbedaan tiap jenis pajak penghasilan?

Perbedaannya terletak pada sumber penghasilan, pihak yang dikenai pajak, dan cara pembayarannya. Ada yang dipotong langsung, ada juga yang dibayar sendiri oleh wajib pajak.

4. Kenapa penting memahami jenis pajak penghasilan?

Memahami jenis pajak penghasilan membantu kamu lebih paham kewajiban perpajakan yang berlaku. Dengan begitu, kamu bisa menghindari kebingungan saat berhadapan dengan gaji, usaha, atau transaksi tertentu.

Tags

Share

Author Image

Irhan Hisyam Dwi Nugroho

Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!