Contoh Warna Tersier dan Cara Menggunakannya dalam Desain
DITULIS OLEH
Farijihan Putri
DIREVIEW OLEH
Sudah Direview Oleh Expert
Dibuat pada 1 Okt 2026
Diubah pada 21 Okt 2026
83
Contoh warna tersier seperti merah-oranye, kuning-hijau, dan biru-ungu sering muncul saat kamu mulai mendalami teori warna untuk kebutuhan desain.
Buat kamu yang ingin serius berkarier di bidang visual, memahami hubungan antara warna bisa jadi bekal sebelum masuk ke bootcamp desain grafis dengan penyaluran kerja.
Warna tersier menarik karena posisinya berada di antara warna primer dan sekunder pada roda warna. Nuansanya bisa terasa lebih spesifik, sehingga desainer punya lebih banyak pilihan saat membangun karakter visual.
Apa Itu Warna Tersier?
Warna tersier adalah warna yang berada di antara warna primer dan sekunder dalam roda warna. Dalam model warna tradisional, warna ini terbentuk dari pencampuran warna primer dengan warna sekunder yang berdekatan.
Posisi tersebut membuat warna tersier berfungsi seperti “jembatan” antar kelompok warna. Jadi, kalau kamu merasa sebuah palet terlalu kontras atau terlalu polos, warna tersier bisa membantu menciptakan perpindahan nuansa yang lebih halus.
Nah, Warga Bimbingan, bagian ini penting kalau kamu sedang belajar desain: jangan cuma menghafalkan nama warna, tetapi pahami posisi dan hubungan warnanya.
Baca Juga: Kisah Sukses Redha: Dari Staf TU, Dadakan Jadi Graphic Designer
Bagaimana Warna Tersier Terbentuk?
Cara paling gampang memahaminya adalah dengan melihat roda warna, lalu mencari warna primer dan sekunder yang letaknya berdampingan.
1. Warna Primer Bertemu Warna Sekunder
Dalam model RYB yang umum digunakan untuk menjelaskan teori warna tradisional, warna tersier muncul dari campuran warna primer dengan warna sekunder di sebelahnya.
Enam pasangan warna yang umum menghasilkan warna tersier adalah:
- Merah + Oranye → merah-oranye
- Kuning + Oranye → kuning-oranye
- Kuning + Hijau → kuning-hijau
- Biru + Hijau → biru-hijau
- Biru + Ungu → biru-ungu
- Merah + Ungu → merah-ungu
Hubungan tersebut bisa kamu lihat dengan jelas pada roda warna yang memiliki 12 bagian. Warna tersier berada di antara warna primer dan sekunder sehingga transisinya terasa lebih bertahap.
2. Takaran Campuran Bisa Mengubah Nuansa
Nama warna yang sama belum tentu menghasilkan tampilan visual yang persis sama ketika proporsi campurannya berubah. Merah-oranye dengan merah lebih dominan akan terasa berbeda dari campuran yang lebih banyak oranyenya.
Buat desainer, hal ini membuka ruang eksplorasi yang cukup luas. Kamu bisa menggeser karakter sebuah warna sedikit demi sedikit sampai menemukan nuansa yang paling cocok dengan konsep visual.
Apa Saja Contoh Warna Tersier?
Sumber: Magnific
Kalau kamu mencari contoh warna tersier, enam warna berikut merupakan kelompok yang paling umum dikenali dalam roda warna standar.
1. Merah-Oranye
Merah-oranye berada di antara merah dan oranye sehingga terasa hangat, aktif, dan penuh energi. Warna ini bisa menarik perhatian tanpa memberikan kesan sekuat merah murni.
2. Kuning-Oranye
Kuning-oranye punya karakter cerah dan hangat dengan nuansa yang cukup playful. Warna ini cocok ketika sebuah visual membutuhkan energi tanpa terlihat terlalu tajam.
3. Kuning-Hijau
Kuning-hijau terasa segar karena berada di antara karakter cerah kuning dan naturalnya hijau. Nuansa seperti ini mudah ditemukan pada visual yang terinspirasi dari daun muda atau elemen alam.
4. Biru-Hijau
Biru-hijau membawa kesan sejuk dengan perpaduan karakter tenang dari biru dan segarnya hijau. Warna seperti teal juga sering terasa dekat dengan kelompok nuansa tersebut dalam praktik desain.
5. Biru-Ungu
Biru-ungu bergerak dari karakter dingin biru menuju ungu yang lebih ekspresif. Hasilnya bisa terasa misterius, kreatif, atau futuristik tergantung tingkat kecerahan dan saturasinya.
6. Merah-Ungu
Merah-ungu berada di area peralihan merah dan ungu sehingga karakternya terasa lebih dramatis. Warna ini dapat memberikan kesan elegan atau artistik ketika dipadukan dengan komposisi yang tepat.
Baca Juga: Kursus Desain Grafis Online Langsung Kerja Terbaik
Mengapa Warna Tersier Penting untuk Desain?
Warna tersier memberi desainer ruang untuk membangun palet yang lebih kaya tanpa harus menambahkan banyak warna baru. Perannya paling terasa ketika kamu membutuhkan aksen, transisi, atau variasi nuansa dalam satu komposisi.
1. Membantu Membangun Hierarki Visual
Warna dengan intensitas berbeda dapat membantu mata menentukan elemen mana yang perlu diperhatikan lebih dulu. Warna tersier bisa ditempatkan pada tombol, judul, ilustrasi, atau elemen pendukung sesuai kebutuhan.
2. Membuat Palet Terasa Lebih Matang
Palet yang hanya berisi warna primer bisa terasa sangat kuat. Warna tersier memberi pilihan transisi sehingga hubungan antarwarga dapat terasa lebih menyatu.
3. Memberi Karakter pada Identitas Visual
Brand yang ingin terlihat ekspresif, hangat, natural, atau eksperimental bisa mengeksplorasi warna tersier sebagai bagian dari paletnya. Pilihan tersebut membantu identitas visual terasa lebih spesifik daripada sekadar menggunakan warna dasar.
Warga Bimbingan, coba perhatikan desain brand yang kamu temui sehari-hari. Sering kali warna yang terlihat “unik” bukan warna baru yang aneh, melainkan hasil pemilihan hue, saturasi, dan kombinasi warna yang lebih terarah.
Apa Perbedaan Warna Tersier pada RYB, RGB, dan CMYK?
Nah, di sini ada satu hal yang sering bikin pembahasan warna di internet terasa membingungkan: istilah “warna tersier” bisa dibahas dalam konteks teori warna yang berbeda.
1. RYB untuk Teori Warna Tradisional
RYB menggunakan merah, kuning, dan biru sebagai warna primer dalam model tradisional yang banyak digunakan untuk pembelajaran seni dan roda warna. Dari sini, kamu bisa memahami enam warna tersier seperti merah-oranye dan biru-hijau.
Model ini sangat berguna untuk memahami hubungan warna secara visual. Kamu bisa menggunakannya sebagai fondasi saat belajar harmoni warna, komplementer, analog, dan berbagai kombinasi lainnya.
2. RGB untuk Tampilan Digital
RGB bekerja dengan cahaya merah, hijau, dan biru dalam sistem aditif. Model tersebut digunakan untuk berbagai media berbasis layar seperti monitor, smartphone, dan televisi.
Hasil pencampurannya tidak bisa disamakan begitu saja dengan campuran pigmen pada teori RYB. Itulah alasan warna di layar dapat terlihat jauh lebih terang dibandingkan hasil cetak.
3. CMYK untuk Kebutuhan Cetak
CMYK menggunakan cyan, magenta, yellow, dan black dalam sistem warna subtraktif yang berkaitan dengan proses pencetakan. Warna terbentuk melalui interaksi tinta dengan permukaan media, bukan melalui penambahan cahaya seperti RGB.
Jadi, Warga Bimbingan, saat membuat desain untuk Instagram dan versi poster cetak, jangan hanya mengejar warna yang terlihat bagus di layar. Pertimbangkan juga media akhirnya supaya warna yang kamu pilih tetap masuk akal ketika berpindah dari digital ke fisik.
Baca Juga: Upgrade Skill Graphic Design: 10 Cara untuk Naik Level
Bagaimana Cara Memakai Warna Tersier dalam Desain?
Warna tersier paling menarik ketika kamu menggunakannya untuk menyelesaikan masalah visual, bukan sekadar memenuhi palet warna.
Kamu bisa menerapkannya dalam enam kebutuhan berikut:
- Media sosial: merah-oranye dapat menjadi aksen pada elemen yang membutuhkan perhatian.
- Branding: kuning-hijau bisa membangun karakter visual yang terasa segar dan natural.
- Ilustrasi: biru-ungu dapat membantu menciptakan atmosfer dreamy, kreatif, atau sedikit misterius.
- UI/UX: warna tersier bisa membantu membedakan elemen interaktif dan informasi pendukung.
- Poster: kombinasi warna tersier dapat membuat komposisi terasa lebih dinamis tanpa menambah terlalu banyak warna.
- Presentasi: satu warna tersier dapat menjadi penanda informasi penting agar halaman tetap mudah dipindai.
Kuncinya ada pada proporsi. Satu warna bisa menjadi dominan, satu warna menjadi pendukung, lalu warna tersier ditempatkan sebagai aksen yang mengarahkan perhatian.
Kesimpulan
Warna tersier membantu desainer memperluas pilihan visual melalui hubungan antara warna primer dan sekunder. Memahami posisi, karakter, dan konteks penggunaannya membuat keputusan warna terasa lebih terarah.
Bootcamp Desain Grafis Langsung Kerja Terpercaya dan Terbaik di Indonesia
Kalau kamu ingin belajar desain secara lebih terarah sekaligus membangun portofolio untuk kebutuhan profesional, yuk belajar di Bootcamp Graphic Design & UI/UX Dibimbing.
Benefit di Kelas Graphic Design & UI/UX
- 40+ Live Class & 10+ Sesi Praktik Bersama Mentor Ahli
- Bangun Portfolio dari 20+ Project & Real Case
- Proyek Akhir Sesuai Standar Industri
- 24/7 Dampingan Fasilitator & Mentor
- Program Penyaluran Kerja 1.100+ Perusahaan
- Mentoring 1-on-1 Tanpa Batas dengan Instruktur Expert
- Akses Komunitas Graphic Design & UI/UX Expert
- Simulasi Tes Rekrutmen Kerja
Kalau kamu ingin mulai membangun skill desain dan mempersiapkan karier, konsultasikan Bootcamp Desain Grafis ke tim Dibimbing yang pasti #BimbingSampeJadi karier impianmu!
FAQ
1. Apakah warna tersier sama dengan warna campuran lainnya?
Tidak selalu. Istilah warna tersier bergantung pada model atau teori warna yang sedang digunakan, sehingga konteks pembahasannya perlu diperhatikan.
2. Apakah warna tersier bisa digunakan sebagai warna utama desain?
Bisa. Warna tersier dapat menjadi warna dominan, pendukung, maupun aksen selama proporsi dan kombinasi warnanya sesuai dengan tujuan visual.
3. Bagaimana cara memilih warna tersier yang cocok untuk desain?
Mulailah dari tujuan desain, karakter brand, media yang digunakan, dan warna utama yang sudah tersedia. Setelah itu, cek hubungan warna pada roda warna sebelum menentukan palet final.
Kategori:
Penulis
Farijihan Putri adalah SEO Content Writer dengan pengalaman 4+ tahun menulis dan mengoptimalkan konten untuk berbagai topik. Di Dibimbing, ia mengolah beragam insight seputar karier dan industri, mulai dari digital marketing, HR, data, finance, business, hingga technology. Melalui tulisannya, Jihan membantu pembaca memahami skill yang dibutuhkan di dunia kerja serta menemukan informasi yang relevan untuk mendukung perkembangan karier mereka.
