12 Alternatif Figma Terbaik untuk Membuat Desain 2026
Farijihan Putri
•
10 November 2025
•
417
Warga Bimbingan, cari alternatif Figma yang bisa bikin workflow desain kamu makin keren di tahun 2026? Banyak pemula yang pengen eksplor tools lain karena butuh fitur kolaborasi yang lebih murah, pengen interface lebih sederhana, atau sekadar cari inspirasi baru buat ngasih nyawa di desain.
MinDi ngerti banget rasanya stuck di comfort zone dan bingung mau pindah ke mana. Nah, di artikel ini, MinDi udah kumpulin 12 alternatif Figma terbaik yang bakal bantu kamu lepas dari kebingungan dan bikin proses desain jadi lebih smooth.
Dari yang cocok buat pemula sampai yang punya fitur advanced, semuanya ada. Tapi ingat Warga Bimbingan, punya tools yang ahli itu satu hal, tapi paham fundamental desain yang bener adalah kunci utamanya.
Kalau kamu serius pengen ahli UI/UX dan bikin portofolio yang memukau, yuk langsung aja gas ke Bootcamp UI/UX & Desain Grafis dibimbing.id! Kamu bakal dibimbing step-by-step sampai bisa mahirin tools ini dan langsung siap terjun ke industri.
Baca Juga: 8 Rekomendasi Bootcamp UI/UX Gratis, Cocok untuk Pemula
12 Alternatif Figma Terbaik
Oke, langsung aja telusuri 12 alternatif Figma terbaik yang bisa menjadi senjata rahasia kamu di tahun 2025!
1. Adobe XD
Sebagai alternatif Figma yang solid, Adobe XD menawarkan integrasi yang sangat mulus dengan keluarga Adobe Creative Cloud seperti Photoshop dan Illustrator.
Hal ini memudahkan kamu yang sudah terbiasa dengan ekosistem Adobe untuk impor aset dan menjaga konsistensi warna serta font. Fitur Auto-Animate-nya memungkinkan kamu membuat transisi micro-interaction yang halus antara artboard dengan mudah.
Untuk kolaborasi, XD memiliki fitur coediting yang memungkinkan beberapa orang bekerja dalam file yang sama secara real-time.
- Kelebihan: Integrasi sempurna dengan produk Adobe, prototyping yang cepat dan responsif.
- Kekurangan: Versi gratisnya sangat terbatas, ekosistem plugin tidak seluas Figma.
2. InVision
Sumber: invision-landing-page.vercel.app
InVision fokus pada kekuatan membuat prototipe yang sangat interaktif dan dinamis. Tools ini memungkinkan kamu menghubungkan elemen desain dengan mudah dan menambahkan gesture seperti tap, swipe, dan hover untuk mensimulasikan pengalaman pengguna yang nyata.
InVision Studio, aplikasi desktopnya, menawarkan lingkungan desain vektor yang powerful untuk membuat UI yang detail. Selain itu, platformnya juga dilengkapi dengan InVision Cloud untuk menyimpan, berbagi, dan mengumpulkan feedback pada prototipe secara terpusat.
- Kelebihan: Prototyping dengan interaksi yang kompleks dan realistis, tools feedback yang terintegrasi baik.
- Kekurangan: Alat desain utamanya (Studio) kurang populer, workflow yang optimal seringkali membutuhkan integrasi dengan tools lain seperti Sketch.
3. UXPin
Yang membedakan UXPin dari yang lain adalah pendekatannya terhadap konsistensi dan akurasi. Tools ini memungkinkan kamu menggunakan sistem desain yang terpusat dengan pola dan komponen yang dapat digunakan kembali di seluruh proyek.
Fitur yang paling menonjol adalah kemampuannya untuk membuat prototipe dengan logika kondisi (conditional logic) dan variabel data, mendekati fungsi aplikasi sungguhan.
Proses handoff ke developer juga sangat detail dengan menghasilkan kode yang bersih dan spesifikasi yang presisi.
- Kelebihan: Prototyping berbasis logika yang mirip dengan produk akhir, sistem desain dan dokumentasi yang kuat.
- Kekurangan: Kurva belajar yang lebih curam, harga yang relatif lebih tinggi untuk tim kecil.
4. Canva
Canva adalah alternatif Figma yang sangat bersahabat bagi kamu yang ingin membuat desain visual dengan cepat tanpa perlu belajar software yang rumit.
Pustaka templatenya yang sangat besar dan drag-and-drop editor memudahkan pembuatan konten untuk media sosial, presentasi, atau poster.
Meski bukan tools UI/UX khusus, fitur "Website" dan "App" terbarunya mulai mengakomodir kebutuhan pembuatan wireframe website sederhana. Kekuatannya terletak pada kecepatan dan kemudahan, bukan pada kedalaman fitur prototyping.
- Kelebihan: Ramah pemula, library aset dan template yang sangat melimpah.
- Kekurangan: Terlalu sederhana untuk proyek UI/UX kompleks, kontrol kreatif atas elemen desain terbatas.
5. Penpot
Penpot hadir sebagai penantang serius di dunia desain UI/UX dengan mengusung konsep open-source dan gratis sepenuhnya. Tools ini memanfaatkan teknologi web-based modern dan tidak terikat pada sistem operasi tertentu.
Keunggulan utamanya adalah dukungan penuh terhadap format file SVG, yang memastikan tidak ada distorsi saat kamu bekerja dengan grafik vektor.
Kolaborasi juga menjadi fitur andalannya, memungkinkan tim untuk bekerja bersama tanpa batasan platform.
- Kelebihan: 100% gratis dan open-source, fokus pada kemurnian grafik vektor (SVG-native).
- Kekurangan: Fitur prototyping masih dalam tahap pengembangan, ekosistem dan komunitas plugin belum besar.
Baca Juga: Panduan Memilih Bootcamp UI/UX yang Tepat untuk Karier
6. Pixso
Sumber: Pixso
Pixso muncul sebagai alat all-in-one yang menggabungkan desain, prototyping, dan handoff dalam satu platform. Antarmukanya yang intuitif membuat peralihan dari Figma terasa sangat mudah dan mulus.
Tools ini mendukung fitur collaborative design yang real-time, mirip dengan Google Docs, sehingga tim dapat mengedit dan memberikan komentar secara langsung.
Selain itu, Pixso menawarkan banyak template siap pakai dan komponen UI yang bisa mempercepat workflow.
- Kelebihan: Kompatibilitas tinggi dengan file Figma, performa yang cepat dan ringan.
- Kekurangan: Fitur desain tingkat lanjut masih terus dikembangkan, nama brand yang belum sepopuler pesaingnya.
7. Wondershare Mockitt
Wondershare Mockitt dirancang untuk membuat prototipe dan wireframe dengan kecepatan dan efisiensi yang tinggi. Kamu dapat membuat flowchart langsung di dalam kanvas yang sama dengan desain, yang membantu dalam memvisualisasikan navigasi aplikasi.
Pustaka komponen UI dan ikonnya yang besar siap digunakan untuk berbagai jenis perangkat. Proses berbagi prototipe juga mudah, dengan generated link yang dapat langsung dilihat di browser atau perangkat mobile.
- Kelebihan: Antarmuka yang sederhana dan mudah dipelajari, fitur membuat flowchart yang terintegrasi.
- Kekurangan: Terbatas untuk kebutuhan prototyping cepat, kurang cocok untuk proses desain visual yang mendetail.
8. Sketch
Sebagai pelopor dalam desain UI modern, Sketch tetap menjadi alternatif Figma yang powerful, terutama bagi pengguna Apple.
Kekuatannya terletak pada performanya yang ringan dan native untuk mac OS, serta ekosistem plugin pihak ketiga yang sangat luas untuk menambahkan hampir semua fungsi yang kamu butuhkan.
Tools ini sangat unggul dalam desain vektor dan manajemen simbol (seperti Components di Figma) untuk menjaga konsistensi desain. Namun, kolaborasi real-time-nya masih kurang seamless jika dibandingkan dengan tools berbasis cloud.
- Kelebihan: Sangat powerful untuk desain vektor murni, ekosistem plugin yang sangat kaya.
- Kekurangan: Hanya tersedia untuk mac OS, fitur kolaborasi tidak selincah kompetitor berbasis web.
9. Balsamiq
Balsamiq mengambil pendekatan yang berbeda dengan fokus tunggal pada pembuatan wireframe low-fidelity. Gaya sketchnya yang sengaja dibuat sederhana membantu tim dan klien untuk fokus pada struktur, tata letak, dan alur fungsionalitas, tanpa teralihkan oleh warna atau estetika.
Balsamiq sangat cepat untuk digunakan, mirip seperti menggambar di atas kertas, sehingga ideal untuk sesi brainstorming yang membutuhkan banyak iterasi dalam waktu singkat.
- Kelebihan: Sangat cepat dan mudah untuk membuat wireframe dasar, memfokuskan diskusi pada fungsionalitas.
- Kekurangan: Hanya untuk wireframing, tidak untuk desain visual high-fidelity atau prototyping interaktif.
10. Miro
Sumber: Miro
Miro lebih dari sekadar tools desain; ini adalah papan tulis digital tak terbatas untuk kolaborasi tim. Kamu dapat menggunakannya untuk melakukan brainstorming ide, mapping user journey, membuat wireframe rendah, dan mengatur proyek secara visual.
Koleksi template-nya yang sangat banyak untuk berbagai aktivitas desain thinking membuatnya menjadi alat yang fleksibel. Meski bukan tools untuk membuat UI pixel-perfect, Miro sempurna untuk fase awal penemuan dan perencanaan dalam proyek desain.
- Kelebihan: Sangat baik untuk kolaborasi visual dan workshop remote, library template yang sangat beragam.
- Kekurangan: Bukan alat untuk membuat desain UI/UX yang detail dan presisi.
11. Framer
Selanjutnya, ada Framer yang telah berevolusi dari tools prototyping untuk developer menjadi platform desain yang lengkap dan sekaligus menjadi alternatif Figma yang canggih.
Keunggulan utamanya adalah kemampuan membuat prototipe yang sangat interaktif dan dinamis, bahkan yang melibatkan logika dan state, mendekati perilaku aplikasi sungguhan.
Yang lebih menarik, Framer kini dilengkapi dengan AI yang bisa membantu menghasilkan layout, teks, bahkan komponen UI dari perintah teks (prompt). Bagi yang ingin mendalami, Framer juga memungkinkan kamu menulis kode JavaScript custom untuk interaksi yang sangat spesifik.
- Kelebihan: Prototyping tingkat lanjut yang paling mendekati produk jadi, dukungan AI yang powerful.
- Kekurangan: Kurva belajar yang cukup curam, bisa terasa "berlebihan" untuk proyek yang sederhana.
12. Akira
Akira hadir sebagai solusi alternatif Figma free dan open-source yang dikembangkan khusus untuk lingkungan desktop Linux.
Akira menjanjikan pengalaman desain yang native dan responsif bagi komunitas pengguna Linux yang seringkali terabaikan. Fokusnya adalah pada presisi dan kontrol atas elemen vektor, dengan antarmuka khusus untuk mengikuti standar desktop GNOME.
Meski masih dalam tahap pengembangan yang aktif, Akira menunjukkan potensi besar untuk menjadi alat desain UI utama yang ringan dan gratis bagi para penggemar open-source.
- Kelebihan: Native application untuk Linux yang ringan, 100% gratis dan open-source.
- Kekurangan: Masih dalam pengembangan sehingga fiturnya belum lengkap, hanya tersedia untuk Linux.
Baca Juga: 20 Skill UI UX Designer yang Perlu Dikuasai: Technical dan Interpersonal
Siap Berkarier di Bidang UI/UX dengan Portofolio yang Memukau?
Dari sekian banyak alternatif Figma tadi, yang terpenting adalah kamu menemukan tools yang pas dengan gaya dan kebutuhanmu. Namun, ingat ya, tools yang keren hanya akan maksimal kalau dipegang oleh skill dan mindset yang tepat.
Pengen bikin portofolio UI/UX yang wow dan langsung diterima kerja? Bootcamp UI/UX & Desain Grafis dibimbing.id jawabannya! Kamu bakal dapat 35+ Live Class, bimbingan 1-on-1, magang 2.5 bulan, whiteboarding session, dan Proyek Nyata untuk Portfolio.
Sudah terbukti, 96% alumni telah berkarir berkat dukungan dari 840+ hiring partner yang siap merekrut lulusan terbaik dibimbing.id.
Mau tanya-tanya dulu, misal “Apakah kurikulum bootcamp ini benar-benar mulai dari dasar dan cocok untuk switch career? atau Bagaimana mekanisme magang di hiring partner-nya? Konsultasi gratis aja! dibimbing.id siap #BimbingSampeJadi UI/UX & Desainer Grafis profesional!
Referensi
Tags
