Depresiasi Adalah: Fungsi, Metode, dan Contoh Lengkap
DITULIS OLEH
Irhan Hisyam Dwi Nugroho
DIREVIEW OLEH
Sudah Direview Oleh Expert
Dibuat pada 2 Okt 2026
Diubah pada 2 Okt 2026
6
Depresiasi adalah proses mengalokasikan nilai aset selama masa manfaatnya. Konsep ini membantu perusahaan mencatat penggunaan aset dengan lebih tepat dalam laporan keuangan.
Depresiasi dapat dihitung dengan beberapa metode, seperti garis lurus, saldo menurun, dan unit produksi. Pemilihannya disesuaikan dengan karakteristik penggunaan aset.
Kalau ingin mempelajari akuntansi lebih praktis, kamu bisa mengikuti Bootcamp Finance & Accounting Dibimbing. Yuk, pahami fungsi, metode, dan contoh depresiasi dengan lebih mudah.
Baca Juga: Belajar Akuntansi Dasar dari Nol: Rumus, Siklus, & Tips
Apa Itu Depresiasi?
Depresiasi adalah proses mencatat penurunan nilai manfaat suatu aset secara bertahap selama aset tersebut digunakan. Dalam akuntansi, biaya aset nggak langsung dibebankan sekaligus, tetapi dibagi selama masa manfaatnya.
Contohnya, perusahaan membeli mesin seharga Rp100 juta untuk digunakan selama beberapa tahun. Nilai mesin tersebut kemudian dibebankan sedikit demi sedikit setiap periode melalui depresiasi.
Jadi, depresiasi bukan sekadar menunjukkan harga aset yang turun. Konsep ini membantu perusahaan mencatat penggunaan aset secara lebih wajar dalam laporan keuangan.
Baca Juga: Dasar-Dasar Akuntansi Keuangan hingga Tips Belajarnya
Mengapa Aset Mengalami Depresiasi?
Aset tetap biasanya digunakan berulang kali untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan. Seiring waktu, kondisi maupun manfaat yang diberikan aset dapat berkurang.
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan depresiasi meliputi penggunaan secara terus-menerus, keausan fisik, perkembangan teknologi, dan usia aset. Misalnya, komputer kantor bisa semakin lambat atau ketinggalan teknologi setelah digunakan beberapa tahun.
Selain itu, perusahaan juga perlu memperkirakan berapa lama aset masih dapat digunakan secara produktif. Periode tersebut nantinya menjadi salah satu dasar dalam menentukan beban depresiasi.
Baca Juga: Contoh Portofolio Fresh Graduate Akuntansi Terbaik & Tips
Apa Fungsi Depresiasi dalam Akuntansi?
Depresiasi membantu perusahaan mencatat penggunaan aset secara bertahap, bukan membebankan seluruh nilai aset dalam satu periode. Hal ini membuat laporan keuangan dapat menggambarkan penggunaan aset dengan lebih proporsional.
1. Mengalokasikan Biaya Aset
Aset tetap seperti mesin atau kendaraan biasanya digunakan selama beberapa tahun. Oleh karena itu, biaya perolehannya dapat dialokasikan selama periode aset tersebut memberikan manfaat.
Dengan cara ini, perusahaan nggak langsung mencatat seluruh harga aset sebagai beban ketika baru membelinya.
2. Membantu Menghitung Laba
Depresiasi dicatat sebagai salah satu beban perusahaan. Artinya, nilai depresiasi ikut diperhitungkan ketika perusahaan menentukan laba atau rugi pada suatu periode.
Semakin besar beban depresiasi, laba akuntansi pada periode tersebut dapat menjadi lebih kecil.
3. Menunjukkan Nilai Tercatat Aset
Depresiasi juga membantu menunjukkan nilai tercatat aset setelah digunakan selama beberapa periode. Nilai tersebut diperoleh setelah memperhitungkan akumulasi depresiasi.
Informasi ini membuat perusahaan lebih mudah mengetahui nilai aset yang masih tercatat dalam laporan keuangan.
4. Membantu Perencanaan Aset
Informasi mengenai umur manfaat dan depresiasi dapat membantu perusahaan merencanakan penggantian aset. Misalnya, perusahaan dapat memperkirakan kapan kendaraan atau mesin perlu diperbarui.
Perencanaan tersebut penting agar kegiatan operasional tetap berjalan tanpa terganggu aset yang sudah kurang optimal.
Baca Juga: Sukses Switch Career ke Finance, Ini Cerita Kak Rizky
Apa Saja Komponen dalam Menghitung Depresiasi?
Sumber: Desain oleh Dibimbing
Sebelum menghitung depresiasi, kamu perlu memahami beberapa komponen yang digunakan dalam perhitungannya.
1. Harga Perolehan
Harga perolehan adalah total biaya yang dikeluarkan perusahaan sampai aset siap digunakan. Nilainya bisa mencakup harga beli serta biaya lain yang berkaitan langsung dengan perolehan aset.
Misalnya, perusahaan membeli mesin seharga Rp90 juta dan mengeluarkan biaya pemasangan Rp10 juta. Maka, harga perolehannya dapat menjadi Rp100 juta.
2. Nilai Residu
Nilai residu adalah perkiraan nilai aset pada akhir masa manfaatnya. Nilai ini menggambarkan berapa harga yang mungkin masih diperoleh ketika aset sudah selesai digunakan.
Sebagai contoh, kendaraan yang dibeli Rp200 juta diperkirakan masih bisa dijual Rp40 juta setelah lima tahun.
3. Umur Manfaat
Umur manfaat menunjukkan berapa lama aset diperkirakan dapat digunakan oleh perusahaan. Nilainya bisa dinyatakan dalam tahun maupun berdasarkan kapasitas penggunaan.
Semakin panjang umur manfaatnya, beban depresiasi tahunan biasanya akan semakin kecil jika menggunakan metode garis lurus.
Apa Rumus Depresiasi?
Rumus depresiasi berbeda tergantung metode yang digunakan. Salah satu yang paling sederhana dan sering dipelajari adalah metode garis lurus.
Rumusnya:
- Depresiasi Tahunan = (Harga Perolehan − Nilai Residu) ÷ Umur Manfaat
Misalnya:
- Harga perolehan aset: Rp120.000.000
- Nilai residu: Rp20.000.000
- Umur manfaat: 5 tahun
Maka:
(Rp120.000.000 − Rp20.000.000) ÷ 5 = Rp20.000.000
Artinya, beban depresiasi yang dicatat setiap tahun adalah Rp20 juta.
Baca Juga: Contoh Laporan Keuangan Perusahaan hingga Cara Membuatnya
Apa Saja Metode Depresiasi?
Ada beberapa metode depresiasi yang dapat digunakan sesuai pola pemanfaatan aset. Setiap metode bisa menghasilkan jumlah beban yang berbeda pada masing-masing periode.
1. Metode Garis Lurus
Metode garis lurus atau straight-line method menghasilkan beban depresiasi yang relatif sama setiap periode.
Metode ini cukup sederhana sehingga sering digunakan ketika manfaat aset diperkirakan relatif stabil selama masa penggunaannya.
2. Metode Saldo Menurun
Metode saldo menurun menghasilkan beban depresiasi yang lebih besar pada periode awal. Nilainya kemudian semakin mengecil pada periode berikutnya.
Metode ini dapat digunakan untuk aset yang manfaat atau produktivitasnya lebih tinggi ketika masih baru.
3. Metode Unit Produksi
Metode unit produksi menghitung depresiasi berdasarkan jumlah penggunaan atau output yang dihasilkan aset.
Metode ini cocok untuk aset seperti mesin produksi karena pemakaiannya dapat diukur berdasarkan jumlah unit yang dihasilkan.
Rumus dasarnya:
- Depresiasi per Unit = (Harga Perolehan − Nilai Residu) ÷ Total Estimasi Produksi
Nilai tersebut kemudian dikalikan dengan jumlah produksi aktual selama periode tertentu.
Bagaimana Contoh Perhitungan Depresiasi?
Misalnya, perusahaan membeli mesin produksi senilai Rp210 juta. Mesin tersebut diperkirakan memiliki nilai residu Rp10 juta dan umur manfaat 10 tahun.
Jika menggunakan metode garis lurus:
- Depresiasi = (Rp210.000.000 − Rp10.000.000) ÷ 10
Hasilnya:
- Depresiasi Tahunan = Rp20.000.000
Artinya, perusahaan mencatat beban depresiasi sebesar Rp20 juta setiap tahun. Setelah satu tahun, nilai tercatat mesin secara sederhana menjadi Rp190 juta.
Apa Itu Akumulasi Depresiasi?
Akumulasi depresiasi adalah total seluruh depresiasi yang sudah dicatat sejak aset mulai digunakan. Nilainya akan bertambah setiap kali perusahaan mencatat beban depresiasi baru.
Misalnya, sebuah mesin mengalami depresiasi Rp20 juta per tahun. Setelah tiga tahun, akumulasi depresiasinya menjadi Rp60 juta.
Jika harga perolehan mesin sebesar Rp210 juta, nilai tercatat aset secara sederhana menjadi:
- Rp210 juta − Rp60 juta = Rp150 juta
Jadi, beban depresiasi menunjukkan depresiasi pada satu periode. Sementara itu, akumulasi depresiasi menunjukkan total depresiasi sejak aset mulai digunakan.
Bagaimana Jurnal Depresiasi Dicatat?
Dalam akuntansi, pencatatan depresiasi biasanya menggunakan akun beban depresiasi dan akumulasi depresiasi.
Misalnya, depresiasi tahunan sebesar Rp20 juta:
- Debit: Beban Depresiasi Rp20.000.000
- Kredit: Akumulasi Depresiasi Rp20.000.000
Beban depresiasi masuk dalam laporan laba rugi. Sementara itu, akumulasi depresiasi digunakan untuk membantu menunjukkan nilai tercatat aset pada laporan posisi keuangan.
Baca Juga: Cara Membuat Jurnal Umum yang Efektif dan Contohnya
Aset Apa Saja yang Mengalami Depresiasi?
Depresiasi umumnya diterapkan pada aset berwujud yang digunakan dalam kegiatan perusahaan selama lebih dari satu periode.
Beberapa contoh aset tersebut antara lain mesin produksi, kendaraan perusahaan, komputer, peralatan kantor, gedung, furnitur, serta peralatan pabrik.
Sementara itu, tanah umumnya tidak mengalami depresiasi karena biasanya tidak memiliki batas umur manfaat seperti kendaraan atau mesin.
Apa Perbedaan Depresiasi dan Amortisasi?
Depresiasi dan amortisasi sama-sama digunakan untuk mengalokasikan biaya aset selama masa manfaatnya. Namun, jenis aset yang menjadi objeknya berbeda.
Aspek | Depresiasi | Amortisasi |
Jenis aset | Aset berwujud | Aset tidak berwujud tertentu |
Contoh | Mesin, kendaraan, gedung | Hak, lisensi, atau aset tak berwujud tertentu |
Proses | Alokasi nilai aset | Alokasi nilai aset |
Periode | Selama masa manfaat | Selama masa manfaat |
Jadi, depresiasi biasanya digunakan untuk aset fisik. Sementara itu, amortisasi lebih sering berkaitan dengan aset tidak berwujud.
Apa Perbedaan Depresiasi dan Penurunan Nilai?
Depresiasi dilakukan secara bertahap selama masa manfaat aset. Sementara itu, penurunan nilai terjadi ketika nilai manfaat aset mengalami penurunan tertentu sehingga nilai tercatatnya perlu dievaluasi.
Misalnya, sebuah mesin masih memiliki umur manfaat beberapa tahun tetapi mengalami kerusakan berat. Kondisi tersebut dapat membuat nilai ekonominya berkurang lebih cepat daripada perhitungan depresiasi normal.
Karena itu, keduanya sama-sama dapat mengurangi nilai tercatat aset, tetapi konsep dan penyebabnya berbeda.
Baca Juga: Apa itu Finance Accounting? Perbedaan, Job Desk, hingga Gaji
Bagaimana Depresiasi Memengaruhi Laporan Keuangan?
Depresiasi memengaruhi laporan laba rugi karena dicatat sebagai beban. Artinya, depresiasi ikut mengurangi laba akuntansi pada periode tersebut.
Selain itu, akumulasi depresiasi juga memengaruhi nilai tercatat aset pada laporan posisi keuangan. Semakin lama aset digunakan, akumulasi depresiasinya biasanya akan semakin besar.
Namun, depresiasi bukan berarti perusahaan mengeluarkan uang tunai sebesar nilai depresiasi setiap tahun. Pengeluaran kas biasanya sudah terjadi ketika aset dibeli atau dibayar sesuai skema pembeliannya.
Apa Perbedaan Depresiasi Akuntansi dan Pajak?
Depresiasi dalam laporan keuangan perusahaan dan penyusutan untuk kepentingan pajak dapat memiliki aturan berbeda. Dalam akuntansi, perhitungannya disesuaikan dengan masa manfaat dan pola penggunaan aset.
Sementara itu, penyusutan fiskal mengikuti ketentuan perpajakan yang berlaku. Akibatnya, nilai depresiasi komersial dan penyusutan fiskal bisa saja berbeda meskipun aset yang dihitung sama.
Karena aturan perpajakan dapat berubah, perusahaan perlu selalu mengacu pada regulasi yang berlaku ketika melakukan perhitungan untuk kebutuhan pajak.
Baca Juga: Cara Belajar Laporan Keuangan untuk Pemula dengan Mudah
Kenapa Depresiasi Penting untuk Karier Finance & Accounting?
Depresiasi merupakan salah satu konsep yang cukup sering ditemui ketika bekerja dengan aset tetap dan laporan keuangan.
Kamu akan berhubungan dengan jurnal penyesuaian, akumulasi depresiasi, laba rugi, hingga pencatatan nilai aset.
Kalau ingin berkarier di bidang finance dan accounting, pemahaman tersebut juga perlu dilengkapi dengan accounting cycle, laporan keuangan, pajak, audit, dan analisis finansial.
Kesimpulan
Depresiasi adalah proses mengalokasikan nilai aset selama masa manfaatnya. Perhitungannya dapat menggunakan beberapa metode dengan mempertimbangkan harga perolehan, nilai residu, dan umur manfaat aset.
Dengan memahami depresiasi, kamu bisa melihat bagaimana penggunaan aset memengaruhi laporan keuangan perusahaan. Konsep ini juga penting bagi kamu yang ingin mempelajari akuntansi dan bidang finance secara lebih mendalam.
Rekomendasi Bootcamp Finance & Accounting untuk Belajar Depresiasi Lebih Praktis
Memahami depresiasi penting untuk mengetahui bagaimana nilai aset dicatat dan dialokasikan selama masa manfaatnya. Namun, untuk berkarier di bidang finance dan accounting, kamu juga perlu menguasai jurnal, laporan keuangan, analisis finansial, hingga penggunaan perangkat lunak akuntansi.
Bootcamp Finance & Accounting Dibimbing membantu kamu mempelajari berbagai keterampilan tersebut melalui kelas interaktif, praktik, dan pendampingan mentor berpengalaman.
Benefit Bootcamp Finance & Accounting Dibimbing:
- 42+ Live Classes dan 12 Sesi Praktik: Pelajari materi keuangan dan akuntansi bersama praktisi ahli.
- 20+ Assignments: Latih kemampuan sekaligus bangun portofolio melalui berbagai tugas.
- Sertifikasi Perangkat Lunak Akuntansi: Tingkatkan kompetensi penggunaan software akuntansi.
- Konsultasi One-on-One: Diskusikan materi bersama instruktur ahli.
- Dukungan Mentor 24/7: Dapatkan pendampingan selama proses belajar.
- Pengalaman Magang Tiga Bulan: Terapkan kemampuan melalui program magang di perusahaan rekanan Dibimbing.
- Program Penyaluran Kerja: Dapatkan kesempatan terhubung dengan lebih dari 1.100 perusahaan.
- Komunitas Profesional: Bergabung dengan komunitas praktisi finance dan accounting.
Siap Mendalami Finance & Accounting?
Yuk, pelajari depresiasi, pencatatan aset, laporan keuangan, dan berbagai keterampilan akuntansi lainnya bersama Bootcamp Finance & Accounting Dibimbing. Persiapkan kemampuan yang lebih relevan untuk membuka peluang karier di bidang keuangan.
FAQ
1. Apa Pengertian Depresiasi?
Pengertian depresiasi adalah proses mengalokasikan nilai suatu aset secara bertahap selama masa manfaatnya. Konsep ini umum digunakan dalam pencatatan depresiasi aset tetap seperti mesin, kendaraan, dan peralatan.
2. Apa Fungsi Depresiasi?
Fungsi depresiasi adalah membantu perusahaan mencatat penggunaan aset sesuai periode pemakaiannya. Depresiasi juga memengaruhi beban, laba, dan nilai tercatat aset dalam laporan keuangan.
3. Bagaimana Rumus Depresiasi?
Rumus depresiasi yang umum digunakan pada metode garis lurus adalah (harga perolehan − nilai residu) ÷ umur manfaat. Hasilnya menunjukkan besarnya penyusutan aset yang dicatat setiap periode.
4. Apa Saja Metode Depresiasi?
Metode depresiasi yang umum digunakan antara lain metode garis lurus, saldo menurun, dan unit produksi. Pemilihannya dapat disesuaikan dengan pola penggunaan dan karakteristik aset.
5. Apa Itu Akumulasi Depresiasi?
Akumulasi depresiasi adalah total depresiasi yang sudah dicatat sejak aset mulai digunakan. Misalnya, jika contoh depresiasi sebuah mesin sebesar Rp10 juta per tahun, maka setelah tiga tahun akumulasi depresiasinya menjadi Rp30 juta.
Kategori:
Penulis
Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.
