Testimoni United Tractors Ikuti Corporate Training Dibimbing
DITULIS OLEH
Irhan Hisyam Dwi Nugroho
DIREVIEW OLEH
Sudah Direview Oleh Expert
Dibuat pada 7 Okt 2026
Diubah pada 7 Okt 2026
12
Pekerjaan yang datang bersamaan sering bikin karyawan bingung menentukan mana yang harus didahulukan. Akibatnya, fokus bisa terpecah dan pekerjaan justru makin menumpuk.
Untuk menjawab tantangan tersebut, United Tractors Pandu Engineering bersama Dibimbing mengadakan The Art of Prioritization melalui program Soft Skill Training. Peserta belajar mengelola prioritas dengan framework dan studi kasus yang relevan.
Lalu, seperti apa pengalaman peserta setelah mengikuti training ini? Yuk, simak testimoni United Tractors Pandu Engineering x Dibimbing berikut ini.
Baca Juga: Testimoni Leadership & Adaptive Communication Training Dibimbing x Halodoc
Tentang Corporate Training Dibimbing x United Tractors Pandu Engineering
United Tractors Pandu Engineering bersama Dibimbing menyelenggarakan prioritization training untuk membantu peserta memahami cara memilah pekerjaan berdasarkan tingkat urgensi dan dampaknya.
Program dikemas secara interaktif bersama Bayu Pradiya Lesmana sebagai mentor. Berikut gambaran pelaksanaan training tersebut.
Informasi | Detail |
Perusahaan | United Tractors Pandu Engineering (UTPE) |
Program | Corporate Training |
Materi | The Art of Prioritization |
Tanggal | 16 Februari 2026 |
Lokasi | Cikarang |
Mentor | Bayu Pradiya Lesmana |
Skor Kepuasan Peserta | 92,6% |
Nggak hanya mendengarkan materi, peserta juga mengikuti diskusi dan membedah beberapa studi kasus. Dengan pendekatan ini, konsep yang dipelajari dapat langsung dikaitkan dengan situasi kerja yang mereka hadapi.
Baca Juga: Dibimbing X Pertamina: Tingkatkan Skill Karyawan Lewat Pelatihan Excel
Mengapa Kemampuan Menentukan Prioritas Penting bagi Karyawan?
Kesulitan mengatur pekerjaan tidak selalu disebabkan oleh terlalu banyak tugas. Dalam beberapa kondisi, masalah justru muncul karena belum ada metode yang jelas untuk menentukan mana pekerjaan yang perlu didahulukan.
Nah, melalui productivity training karyawan seperti The Art of Prioritization, peserta dapat mengenali beberapa kebiasaan yang sering menghambat pengelolaan pekerjaan.
1. Terlalu Banyak Melakukan Multitasking
Multitasking membuat perhatian harus berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Akibatnya, karyawan bisa terlihat sibuk sepanjang hari, tetapi pekerjaan dengan dampak terbesar justru belum selesai.
Dengan menentukan prioritas terlebih dahulu, perhatian dapat diarahkan ke pekerjaan yang memang perlu mendapatkan fokus lebih besar.
2. Menganggap Semua Pekerjaan Sama Penting
Saat seluruh pekerjaan terasa mendesak, menentukan langkah pertama menjadi lebih sulit. Padahal, setiap tugas memiliki tingkat urgensi dan dampak yang berbeda.
Karyawan membutuhkan sistem yang membantu mereka memilah pekerjaan. Dari sini, mereka dapat mengetahui pekerjaan mana yang perlu dikerjakan sekarang, dijadwalkan, atau diberikan kepada pihak lain.
3. Prokrastinasi
Kebiasaan menunda pekerjaan dapat membuat tugas penting menumpuk menjelang deadline. Tekanan kerja pun meningkat ketika beberapa pekerjaan harus diselesaikan dalam waktu yang berdekatan.
Kemampuan membuat prioritas membantu karyawan mengetahui tugas mana yang sebaiknya segera dimulai sebelum menjadi masalah yang lebih besar.
4. Perfeksionisme
Keinginan menghasilkan pekerjaan yang sempurna juga dapat menghambat produktivitas. Terlalu banyak waktu bisa habis pada satu pekerjaan, sementara tugas lain yang nggak kalah penting justru tertunda.
Karena itu, soft skill training mengenai prioritas juga membantu peserta melihat bagaimana waktu dan energi sebaiknya dialokasikan secara proporsional.
Apa Saja Materi The Art of Prioritization?
Training ini nggak berhenti pada teori mengenai produktivitas. Peserta diperkenalkan dengan beberapa framework yang dapat digunakan saat menghadapi banyak pekerjaan sekaligus.
Materi yang dibahas meliputi:
1. Why We Struggle with Prioritization
Peserta terlebih dahulu diajak memahami alasan seseorang mengalami kesulitan menentukan prioritas. Beberapa hambatan yang dibahas antara lain prokrastinasi dan perfeksionisme.
Dengan mengetahui sumber masalahnya, peserta dapat lebih mudah menentukan strategi yang sesuai untuk memperbaiki pola kerja.
2. The 4D Framework
Peserta mempelajari 4D Framework untuk menentukan tindakan terhadap setiap pekerjaan.
Framework ini terdiri dari:
- Do: segera mengerjakan tugas yang memang perlu diselesaikan.
- Delegate: mendelegasikan pekerjaan yang dapat dilakukan pihak lain.
- Defer: menjadwalkan pekerjaan untuk dikerjakan pada waktu lain.
- Delete: menghilangkan aktivitas yang tidak memberikan nilai signifikan.
Pendekatan tersebut membantu peserta menghindari kebiasaan memperlakukan semua tugas sebagai pekerjaan yang harus diselesaikan sendiri dan pada waktu yang sama.
3. Quick Decision-Making Tools
Peserta juga mempelajari beberapa metode untuk membantu mengambil keputusan lebih cepat, seperti:
- 2-Minute Rule
- Metode ABCDE
- Teknik MoSCoW
Berbagai metode tersebut dapat menjadi acuan saat peserta perlu menentukan tugas mana yang perlu mendapatkan perhatian lebih dahulu.
4. Timeboxing & Scheduling
Setelah mengetahui prioritas, langkah berikutnya adalah mengubahnya menjadi rencana kerja yang konkret.
Melalui timeboxing, daily work, dan weekly planning, peserta belajar mengalokasikan waktu untuk pekerjaan tertentu agar aktivitas kerja lebih terarah.
5. Pareto Analysis
Pareto Analysis juga menjadi salah satu materi yang dibahas selama training. Pendekatan ini membantu peserta mengidentifikasi aktivitas yang memberikan dampak paling besar terhadap hasil pekerjaan.
Bagi karyawan yang memiliki banyak tanggung jawab, metode ini dapat membantu menentukan pekerjaan mana yang sebaiknya mendapatkan fokus utama.
Baca Juga: Jasa Corporate Training Indonesia Terbaik & Terpercaya
Bagaimana Testimoni Peserta Training United Tractors Pandu Engineering?
Salah satu hal menarik dari training ini adalah peserta dapat langsung menghubungkan materi dengan permasalahan dalam pekerjaan mereka.
Rico Adin Aldiansyah dan Alfira Tri Andiningtyas membagikan pengalaman mereka setelah mengikuti training The Art of Prioritization.
1. Rico Adin Aldiansyah: Menyadari Pentingnya Menentukan Prioritas
Rico Adin Aldiansyah selaku Technical Instructor mengungkapkan bahwa sebelum mengikuti training, dirinya merasa tidak mengalami masalah berarti dalam pekerjaannya. Namun, setelah training, ia justru memperoleh perspektif baru mengenai cara menentukan prioritas.
“Sebelum saya menjalani training, yang pertama saya merasa tidak pernah ada masalah di dalam pekerjaan saya. Namun setelah saya mendapatkan training, saya mendapati bahwa dengan tidak adanya masalah itu ternyata menjadi puncak dalam permasalahan pekerjaan saya. Berarti saya tidak bisa menentukan mana yang menjadi prioritas dan mana yang menjadi urgency dalam pekerjaan saya.” — Rico Adin Aldiansyah, Technical Instructor
Dari pengalamannya tersebut, materi training membantu melihat bahwa merasa pekerjaan “baik-baik saja” belum tentu berarti pengelolaannya sudah optimal. Kemampuan membedakan prioritas dan urgensi menjadi salah satu aspek yang dapat dievaluasi kembali.
Rico juga menilai penyampaian mentor dilakukan secara interaktif sehingga peserta dapat memahami materi secara lebih jelas meskipun waktu training terbatas.
2. Alfira Tri Andiningtyas: Pareto Analysis Membantu Memecahkan Masalah Prioritas
Alfira Tri Andiningtyas selaku Human Capital Admin menyoroti Pareto Analysis sebagai salah satu materi yang relevan dengan aktivitas pekerjaannya.
“Dari aku sendiri ada masalah yang sama dengan tema hari ini, yaitu prioritizing. Tadi juga udah bedah case dari beberapa study case yang dikasih sama Pak Bayu, dan lewat Analisis Pareto itulah salah satu pemecahan dari masalah yang sempat aku tulis tadi juga.” — Alfira Tri Andiningtyas, Human Capital Admin
Menurut pengalamannya, studi kasus dalam sesi training membantu peserta melihat bagaimana metode tersebut dapat diterapkan pada persoalan nyata.
Hal ini penting karena training tidak hanya memberikan framework, tetapi juga membantu peserta memahami konteks penggunaannya dalam pekerjaan masing-masing.
Baca Juga: 7 Materi Pelatihan dan Pengembangan Karyawan yang Efektif
Apa Manfaat Prioritization Training untuk Karyawan?
Kemampuan menentukan prioritas memberikan dampak lebih luas daripada sekadar membuat to-do list. Karyawan juga belajar mengatur bagaimana waktu, energi, dan perhatian digunakan selama bekerja.
Berikut beberapa manfaat yang dapat diperoleh.
1. Lebih Mudah Menentukan Prioritas
Peserta belajar membedakan pekerjaan yang harus segera dilakukan dengan pekerjaan yang masih dapat ditunda, didelegasikan, atau dieliminasi.
Dengan sistem yang lebih jelas, keputusan tidak hanya didasarkan pada pekerjaan mana yang terlihat paling mendesak.
2. Membantu Mengambil Keputusan Lebih Cepat
Framework seperti 4D, ABCDE, MoSCoW, dan 2-Minute Rule memberikan struktur ketika karyawan harus mengambil keputusan di tengah banyaknya pekerjaan.
Hal ini dapat mengurangi waktu yang terbuang hanya untuk menentukan tugas mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu.
3. Membuat Perencanaan Kerja Lebih Terstruktur
Prioritas yang sudah dibuat perlu diterjemahkan menjadi aktivitas nyata.
Melalui timeboxing, daily work, dan weekly planning, peserta dapat mengalokasikan waktu dan pekerjaan secara lebih sistematis.
4. Membantu Mengurangi Overwhelmed dan Overthinking
Banyaknya pekerjaan dapat membuat karyawan merasa harus menyelesaikan semuanya secara bersamaan. Padahal, setiap tugas mempunyai tingkat kepentingan yang berbeda.
Bayu Pradiya Lesmana juga menjelaskan bahwa peserta diarahkan menggunakan 4D, weekly planning, hingga Pareto Analysis agar dapat lebih fokus.
“Sehingga yang tadinya mungkin pikirannya overwhelmed dan overthinking bisa jauh lebih fokus dan bisa menyelesaikan apa yang menjadi tugasnya mereka.” — Bayu Pradiya Lesmana, Mentor The Art of Prioritization
5. Fokus pada Pekerjaan yang Memberikan Dampak
Pareto Analysis membantu peserta melihat aktivitas mana yang perlu mendapatkan perhatian lebih besar.
Dengan demikian, waktu tidak tersebar pada terlalu banyak aktivitas yang sebenarnya memiliki dampak relatif kecil terhadap tujuan utama.
Kenapa Prioritization Training Penting untuk Perusahaan?
Produktivitas karyawan nggak hanya dipengaruhi oleh kemampuan teknis. Cara karyawan mengelola waktu, prioritas, dan beban kerja juga memiliki peran penting dalam aktivitas operasional sehari-hari.
Ketika karyawan kesulitan menentukan prioritas, beberapa kondisi dapat muncul, seperti pekerjaan penting tertunda, fokus mudah terpecah, hingga beban kerja terasa semakin berat.
Karena itu, perusahaan dapat mempertimbangkan prioritization training sebagai bagian dari program pengembangan karyawan. Beberapa kebutuhan yang dapat dijawab antara lain:
- Membantu karyawan menghadapi banyak tugas secara lebih sistematis.
- Meningkatkan kemampuan menentukan urgensi pekerjaan.
- Membantu tim menyusun perencanaan kerja.
- Membangun kemampuan pengambilan keputusan.
- Mengurangi pekerjaan yang kurang memberikan dampak.
- Membantu meningkatkan produktivitas tim secara berkelanjutan.
Program seperti ini juga dapat menjadi bagian dari soft skill training perusahaan untuk melengkapi kompetensi teknis yang sudah dimiliki karyawan.
Siapa yang Cocok Mengikuti The Art of Prioritization Training?
Materi prioritization dapat diterapkan pada berbagai fungsi pekerjaan. Terutama bagi posisi yang setiap harinya harus berhadapan dengan banyak tugas, permintaan, serta deadline.
Training ini dapat relevan untuk:
- Staff dan Individual Contributor
- Cocok bagi karyawan yang ingin mengelola pekerjaan harian dan menentukan prioritas secara lebih sistematis.
- Supervisor dan Team Leader
- Membantu mengelola pekerjaan sendiri sekaligus menentukan tugas yang perlu didelegasikan kepada anggota tim.
- Human Resources dan Human Capital
- Relevan bagi tim HR yang memiliki berbagai pekerjaan administratif dan pengembangan karyawan secara bersamaan.
- Project dan Operations Team
- Cocok untuk fungsi yang menangani banyak aktivitas dengan tenggat dan tingkat urgensi berbeda.
- Manager
- Membantu menentukan aktivitas yang memberikan dampak lebih besar serta mengalokasikan waktu untuk pekerjaan strategis.
Pada praktiknya, materi training dapat disesuaikan kembali dengan kondisi setiap perusahaan. Dengan begitu, peserta dapat belajar menggunakan studi kasus yang lebih dekat dengan aktivitas pekerjaan mereka.
Kesimpulan
Melalui The Art of Prioritization, United Tractors Pandu Engineering bersama Dibimbing membantu peserta mengelola pekerjaan dengan lebih terstruktur melalui metode seperti 4D Framework, timeboxing, dan Pareto Analysis.
Dengan skor kepuasan 92,6%, training ini menunjukkan pentingnya materi yang relevan dengan kebutuhan kerja. Jika perusahaan Anda ingin meningkatkan produktivitas dan soft skill tim, Corporate Training Dibimbing dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
Rekomendasi Corporate Training Prioritization untuk Perusahaan di Indonesia
Training The Art of Prioritization bersama Dibimbing membantu tim United Tractors Pandu Engineering memahami cara menentukan prioritas, mengatur pekerjaan, dan mengambil keputusan dengan lebih terstruktur melalui metode seperti 4D Framework dan Pareto Analysis.
Setiap perusahaan memiliki tantangan produktivitas yang berbeda. Karena itu, program training sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan peserta, level jabatan, dan tujuan pengembangan kompetensi di perusahaan.
Dibimbing menyediakan berbagai pilihan Corporate Training yang dapat membantu perusahaan meningkatkan kompetensi karyawan melalui pendekatan yang relevan, aplikatif, dan dapat disesuaikan.
Selain prioritization training yang termasuk dalam Soft Skill Training, perusahaan juga dapat menyelenggarakan program lainnya, seperti:
- Digital Skill Training: Program untuk meningkatkan kemampuan digital karyawan sesuai kebutuhan pekerjaan dan perkembangan industri.
- Customizable Training: Materi, studi kasus, metode pembelajaran, dan level pelatihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
Benefit Corporate Training Dibimbing
- Sertifikat BNSP dan internasional
- Kurikulum sesuai kebutuhan perusahaan dengan praktik nyata
- Fasilitas pelatihan lengkap
- Pelatihan berorientasi pada hasil yang terukur
- Metode pembelajaran fleksibel dan adaptif
- Dipercaya 200+ mitra, dengan 1.200+ sesi pelatihan dan 93% tingkat kepuasan
Punya kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan manajemen prioritas kerja, produktivitas, atau soft skill tim? Konsultasikan Corporate Training bersama tim Dibimbing untuk menentukan materi dan format training yang paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda.
FAQ
1. Apa itu Prioritization Training?
Prioritization training adalah pelatihan yang membantu karyawan menentukan pekerjaan berdasarkan tingkat urgensi, dampak, dan waktu pengerjaan. Materinya dapat mencakup 4D Framework, Pareto Analysis, hingga teknik perencanaan kerja.
2. Apa Manfaat Productivity Training Karyawan bagi Perusahaan?
Productivity training karyawan membantu tim bekerja lebih terstruktur, menentukan tugas yang perlu didahulukan, dan mengurangi waktu yang terbuang pada aktivitas kurang penting. Training seperti ini juga mendukung peningkatan produktivitas kerja secara berkelanjutan.
3. Apakah Soft Skill Training Penting untuk Karyawan?
Ya. Soft skill training membantu karyawan meningkatkan kemampuan seperti komunikasi, pengambilan keputusan, kolaborasi, hingga manajemen prioritas kerja. Kompetensi tersebut dapat melengkapi kemampuan teknis yang sudah dimiliki karyawan.
4. Apa yang Dipelajari dalam Training United Tractors Bersama Dibimbing?
Dalam training United Tractors Pandu Engineering bersama Dibimbing, peserta mempelajari The Art of Prioritization. Materinya mencakup 4D Framework, Pareto Analysis, timeboxing, serta metode untuk membantu menentukan prioritas pekerjaan.
5. Apakah Corporate Training Dibimbing bisa disesuaikan dengan Kebutuhan Perusahaan?
Bisa. Corporate Training Dibimbing dapat disesuaikan dengan kebutuhan kompetensi dan tantangan yang dihadapi perusahaan. Programnya dapat mencakup soft skill training, peningkatan produktivitas, hingga topik pengembangan karyawan lainnya.
Kategori:
Penulis
Irhan Hisyam Dwi Nugroho is an SEO Specialist and Content Writer with 4 years of experience in optimizing websites and writing relevant content for various brands and industries. Currently, I also work as a Content Writer at Dibimbing.id and actively share content about technology, SEO, and digital marketing through various platforms.
