Perbedaan HIRADC dan JSA: Mana yang Lebih Penting di K3?
Farijihan Putri
•
17 November 2025
•
243
Kecelakaan kerja di Indonesia tuh udah di level serius banget, Warga Bimbingan. Banyak yang belum tahu, perbedaan HIRADC dan JSA justru menjadi salah satu faktor kenapa sistem keselamatan kerja di lapangan masih sering bolong.
Berdasarkan data Kemnaker yang dikutip dari GoodStats, jumlah kasus melonjak dari 298.137 kasus di 2022 menjadi 370.747 di 2023. Bahkan, tembus 462.241 kasus sepanjang 2024.
Di tengah angka yang terus naik ini, banyak praktisi K3 yang masih bingung kapan harus pakai HIRADC dan kapan harus bikin JSA. Padahal, dua tools ini punya peran besar buat mencegah risiko di lapangan.
Akibatnya, banyak pekerja penerima upah yang seharusnya dilindungi malah menjadi korban karena perusahaan belum maksimal menerapkan risk assessment.
Nah, lewat artikel ini, MinDi bakal bantu kamu paham bedanya HIRADC dan JSA biar bisa bantu tekan angka kecelakaan kerja sekaligus ningkatin peluang kariermu lewat Bootcamp Health, Safety, and Environment (K3) dibimbing.id!
Baca Juga: Cara Mendapatkan Sertifikasi K3 Umum Resmi dari Kemnaker
Apa Itu HIRADC?
HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control) adalah proses sistematis buat memastikan setiap aktivitas kerja dianalisis dari sisi potensi bahayanya sebelum terjadi kecelakaan.
Prosesnya bukan sekadar checklist formalitas, tapi melibatkan pengamatan langsung di lapangan untuk mengenali risiko nyata, bukan asumsi. Setiap bahaya yang ditemukan dinilai dari tingkat kemungkinan (likelihood) dan keparahannya (severity) biar perusahaan tahu prioritas pengendalian mana yang paling penting.
Hasil analisisnya kemudian digunakan buat menyusun langkah pengendalian sesuai prinsip Hierarchy of Control. Mulai dari eliminasi sampai penggunaan APD.
Fungsi utama HIRADC adalah menjadi dasar pengambilan keputusan dalam sistem manajemen K3, baik untuk SOP, training, maupun audit internal.
Kalau perusahaan melakukannya dengan benar, HIRADC bisa menjadi fondasi kuat buat menciptakan budaya kerja yang aman dan efisien di semua level organisasi.
Baca Juga: Memahami Sistem Manajemen K3: Strategi Cegah Kecelakaan Kerja
Apa Itu JSA?
JSA (Job Safety Analysis) adalah metode analisis keselamatan yang fokus pada memecah setiap pekerjaan jadi langkah-langkah kecil agar potensi bahaya bisa diidentifikasi secara detail.
Beda dari HIRADC yang bersifat makro, JSA lebih spesifik ke aktivitas harian pekerja, misalnya saat mengelas, mengangkat beban, atau mengoperasikan mesin. Setiap langkah kerja dianalisis berdasarkan potensi bahaya, dampak yang mungkin terjadi, serta tindakan pencegahan yang paling efektif.
Tujuan utamanya bukan cuma buat memenuhi regulasi, tapi untuk membangun kesadaran pekerja agar mereka tahu bahaya apa yang sedang dihadapi dan gimana cara mengatasinya.
Dokumen JSA biasanya dijadikan panduan langsung di lapangan, bahkan ditempel di area kerja sebagai pengingat. Ketika dijalankan dengan konsisten, JSA bisa menurunkan tingkat kecelakaan dan meningkatkan komunikasi antara tim K3 dan pekerja di lapangan.
Baca Juga: Cara Investigasi Kecelakaan Kerja, Panduan Lengkap
5 Perbedaan HIRADC dan JSA
Sumber: Freepik
Banyak perusahaan sering mencampuradukkan HIRADC dan JSA, padahal fungsinya beda tapi saling melengkapi dalam manajemen risiko K3. Yuk, MinDi jelaskan satu per satu biar makin jelas!
1. Cakupan Analisis
HIRADC punya cakupan yang jauh lebih luas karena mencakup seluruh aktivitas kerja di perusahaan. Mulai dari proses produksi, perawatan, sampai aktivitas administratif.
Setiap bagian dianalisis untuk memastikan tidak ada potensi bahaya yang terlewat, termasuk dari sisi lingkungan kerja dan sistem pendukung.
JSA, sebaliknya, hanya berfokus pada satu jenis pekerjaan tertentu yang dilakukan pekerja di lapangan. Pendekatan ini bikin JSA lebih operasional, sedangkan HIRADC bersifat strategis.
2. Tujuan dan Hasil Akhir
Salah satu perbedaan HIRADC dan JSA terletak pada tujuannya: HIRADC bertujuan buat memetakan seluruh risiko dan menentukan prioritas pengendalian secara menyeluruh. Prosesnya membantu manajemen dalam menyusun kebijakan, rencana kerja, dan alokasi anggaran keselamatan.
Sementara itu, JSA lebih menitikberatkan pada identifikasi bahaya di tiap langkah kerja dan menemukan solusi praktis untuk mengurangi potensi kecelakaan. Hasil akhirnya lebih ke arah panduan operasional, bukan dokumen strategis perusahaan.
3. Penilaian Risiko
Dalam HIRADC, setiap bahaya dinilai berdasarkan dua faktor penting: kemungkinan terjadinya dan tingkat keparahannya. Pendekatan ini membantu menentukan level risiko (rendah, sedang, tinggi) sehingga tim K3 tahu mana yang harus ditangani dulu.
Berbeda halnya pada JSA yang tidak menilai risiko secara kuantitatif, melainkan langsung memberikan rekomendasi tindakan pencegahan. Cara ini lebih efisien untuk pekerjaan harian, tapi kurang cocok untuk perencanaan jangka panjang.
4. Fokus Utama Analisis
Fokus HIRADC ada pada risiko secara keseluruhan baik dari sistem kerja, mesin, maupun kondisi lingkungan. Setiap bahaya dikategorikan supaya manajemen bisa mengambil keputusan berbasis data.
JSA berfokus pada langkah-langkah kerja spesifik dan potensi bahaya yang muncul dari tiap tahap aktivitas. Pendekatan mikro seperti ini penting banget buat memastikan pekerja paham risiko nyata saat mereka menjalankan tugasnya.
5. Pengguna dan Implementasi
Perbedaan HIRADC dan JSA juga terlihat dari siapa yang menggunakannya. HIRADC biasanya dilakukan oleh tim manajemen atau departemen K3 untuk kepentingan strategis, seperti audit dan perencanaan keselamatan jangka panjang.
Sementara JSA digunakan langsung oleh supervisor dan pekerja di lapangan sebagai panduan harian agar setiap pekerjaan dilakukan secara aman. Jadi bisa dibilang, HIRADC bekerja di level kebijakan, sedangkan JSA berperan di level operasional sehari-hari.
Berikut versi tabel biar Warga Bimbingan makin gampang memahami perbedaan antara HIRADC dan JSA!
Aspek | HIRADC (Hazard Identification Risk Assessment & Determining Control) | JSA (Job Safety Analysis) |
Cakupan | Luas, mencakup seluruh aktivitas dan area kerja dalam organisasi. | Spesifik, fokus pada satu jenis pekerjaan atau tugas tertentu. |
Tujuan | Mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan menentukan kontrol secara menyeluruh untuk manajemen K3. | Mengidentifikasi bahaya di tiap langkah kerja dan memberikan solusi praktis agar pekerjaan aman dilakukan. |
Penilaian Risiko | Menggunakan metode kuantitatif (likelihood × severity) untuk menentukan tingkat risiko dan prioritas kontrol. | Tidak menghitung risiko, hanya memberikan rekomendasi pengendalian langsung pada setiap langkah kerja. |
Fokus Utama | Risiko keseluruhan dari sistem, mesin, dan lingkungan kerja. | Potensi bahaya di tiap langkah kerja individu. |
Pengguna | Manajemen dan tim K3 untuk penyusunan kebijakan dan audit keselamatan. | Supervisor dan pekerja lapangan untuk panduan operasional harian. |
Baca Juga: Bootcamp Dibimbing Apa Saja? Cek Bidang Sesuai Minatmu!
Yuk Dalami Lebih Dalam Perbedaan HIRADC dan JSA Bareng dibimbing.id!
Sekarang kamu udah paham kan, perbedaan HIRADC dan JSA serta pentingnya dua tools ini buat mencegah kecelakaan kerja di perusahaan? Nah, biar makin ahli di dunia K3 dan siap bersaing di industri, kamu bisa ikut Bootcamp Health, Safety, and Environment (K3) dibimbing.id!
Ada fasilitas keren kayak gratis mengulang kelas, 38+ Live Classes & 3 sesi praktik langsung, 15 kompetensi tambahan, Weekly Assignment & Real Study Case buat bangun portofolio, dan sertifikat Calon Ahli K3 Umum dari Kemnaker yang bisa kamu pamerin ke HRD.
Kamu juga bakal dapet konsultasi 1-on-1 bareng expert K3, kesempatan kerja lewat 840+ hiring partner, dan gabung sama alumni yang 96% udah kerja di bidangnya.
Kalau kamu masih mikir, “Kira-kira aku cocok nggak ya di bidang K3?” atau “Emang sertifikasi K3 bisa bantu karierku naik cepat?”, langsung aja konsultasi gratis di sini. Tenang, dibimbing.id siap banget buat #BimbingSampeJadi profesional K3 yang berkompeten!
Referensi
Tags
