dibimbing.id - Apa Itu Operational Risk? Penyebab hingga Cara Mengatasinya

Apa Itu Operational Risk? Penyebab hingga Cara Mengatasinya

Farijihan Putri

21 November 2025

281

Image Banner

Operational risk adalah salah satu jenis risiko yang paling sering bikin bisnis kelabakan, terutama kalau proses internal belum rapi, sistem error, atau human error terjadi tanpa terduga. Banyak Warga Bimbingan yang baru masuk dunia kerja atau baru mulai belajar risk management suka bingung bedain risiko operasional dari risiko lain. 

Padahal, risiko ini bisa muncul di perusahaan manapun, baik startup, korporasi, bank, bahkan bisnis kecil dan efeknya bisa langsung kena ke biaya, reputasi, sampai ke kepercayaan pelanggan. MinDi bahas ini biar kamu nggak cuma paham definisi, tapi ngerti akar masalahnya.

Setelah tahu masalahnya, saatnya fokus ke solusi yang benar-benar realistis diterapkan. MinDi bakal jelasin penyebab, jenis, sampai cara mengatasinya secara runut, biar kamu yang masih pemula juga langsung bisa ngeh alurnya. 

Buat kamu yang pengen upskilling secara lebih terarah, Bootcamp Risk Management Dibimbing bisa bantu latihan langsung bikin risk framework, analisis kasus nyata, dan belajar bareng mentor yang udah malang melintang di industri. Yuk, kupas pelan-pelan, biar konsepnya nempel dan kepake di karier kamu nanti.

Baca Juga: Rekomendasi Bootcamp Risk Management, Langsung Kerja!


Apa Itu Operational Risk?

Operational risk adalah risiko yang muncul akibat kegagalan proses internal, kesalahan manusia, gangguan sistem, atau faktor eksternal yang menghambat operasional perusahaan berjalan normal. Jenis risiko ini bisa terjadi di bisnis apa pun dan sering berdampak langsung pada biaya, efisiensi, pelayanan pelanggan, hingga reputasi perusahaan. 

Contohnya mulai dari human error dalam input data, sistem yang tiba-tiba down, SOP yang belum matang, vendor yang tidak memenuhi standar, sampai kejadian eksternal seperti bencana atau gangguan keamanan.

Karena sifatnya yang sering muncul tanpa terduga, perusahaan wajib punya kontrol, prosedur, dan monitoring yang solid agar risiko operasional tetap bisa dikelola dan tidak mengganggu keberlangsungan bisnis.

Baca Juga: Berapa Biaya Bootcamp Risk Management Dibimbing? Rincian & Benefit


Faktor Utama Penyebab Operational Risk

Banyak penyebab operational risk biasanya datang dari dalam perusahaan maupun luar, dan semuanya bisa memengaruhi stabilitas operasional jika tidak dikelola dengan tepat. Cek 4 penyebab utamanya!


1. Human Error

Kesalahan manusia menjadi penyebab paling umum karena setiap aktivitas operasional tetap melibatkan judgement individu. Selain itu, kurangnya training atau ketidaktelitian saat bekerja bisa memicu keputusan keliru. 

Situasi makin berisiko ketika beban kerja terlalu tinggi sehingga fokus menurun. Alhasil, perusahaan perlu memastikan standar kerja dan pengawasan tetap berjalan konsisten.


2. Sistem & Teknologi

Ketergantungan pada teknologi membuat gangguan sistem menjadi ancaman yang serius, terutama ketika operational risk adalah hal yang harus dikendalikan sejak awal. Kegagalan server, bug, atau integrasi software yang tidak mulus dapat menghambat alur kerja secara tiba-tiba.

Di sisi lain, keamanan siber yang lemah juga membuka pintu bagi potensi serangan. Investasi pada sistem yang stabil dan aman menjadi langkah penting untuk menjaga proses tetap lancar.


3. Proses Internal yang Tidak Efektif

Alur kerja yang berantakan atau SOP yang usang menciptakan celah risiko tanpa disadari. Selain itu, koordinasi antar divisi yang buruk bisa memperbesar kesalahan kecil menjadi masalah besar.

Ketidakjelasan wewenang juga kerap membuat keputusan melambat atau salah arah. Struktur proses yang jelas membantu perusahaan mengurangi risiko sejak tahap awal.


4. Faktor Eksternal

Perubahan regulasi, bencana alam, maupun gangguan dari pihak ketiga dapat menimbulkan tekanan besar pada operasional. Selain itu, ketergantungan pada vendor yang tidak konsisten memperbesar potensi keterlambatan atau kegagalan layanan.

Lingkungan ekonomi yang tidak stabil pun dapat memengaruhi keputusan operasional secara keseluruhan. Perusahaan perlu memiliki rencana kontinjensi agar dapat merespons kondisi tak terduga secara cepat.


Jenis-Jenis Operational Risk

Sumber: Freepik

Jenis operational risk sangat beragam dan tiap kategori punya dampak berbeda pada keberlangsungan bisnis. Berikut penjelasannya.


1. Fraud (Internal & External)

Kecurangan bisa terjadi dari pihak dalam seperti manipulasi data, penyalahgunaan wewenang, atau pencurian aset perusahaan. Selain itu, pihak luar juga dapat melakukan penipuan melalui phishing, rekayasa dokumen, hingga social engineering. Banyak kasus fraud muncul karena lemahnya kontrol internal atau tidak adanya pemeriksaan berkala.


2. Teknologi & Sistem

Gangguan teknis seperti server down, bug aplikasi, atau integrasi sistem yang gagal bisa menghentikan proses operasional dalam hitungan menit. Selain itu, serangan siber seperti malware atau ransomware dapat membuat data perusahaan lumpuh total. 

Contohnya, e-commerce yang gagal memproses pesanan akibat error sistem pembayaran bisa langsung kehilangan omzet harian.


3. Compliance / Legal

Pelanggaran aturan dapat menimbulkan denda besar, kerugian reputasi, serta intervensi regulator, khususnya ketika operational risk adalah aspek yang wajib dipantau ketat. Banyak perusahaan terkena sanksi karena tidak mengikuti standar audit, SOP keselamatan, atau aturan privasi data. 

Contoh praktikalnya adalah bank yang terlambat melakukan pelaporan wajib sehingga terkena penalti dari otoritas keuangan.


4. Model Risk

Risiko muncul ketika perusahaan menggunakan model prediksi atau perhitungan yang tidak akurat. Ketika asumsi salah, hasilnya bisa menyesatkan pengambilan keputusan, misalnya dalam perhitungan kredit atau forecasting permintaan.

Contohnya, model scoring pinjaman yang keliru dapat menyetujui debitur berisiko tinggi dan memicu lonjakan NPL.


5. People Risk

Risiko yang berkaitan dengan karyawan, seperti kurangnya kompetensi, ketidakhadiran massal, atau turnover tinggi, dapat menghambat stabilitas operasional. Selain itu, konflik internal atau budaya kerja toxic sering memicu produktivitas turun drastis.

Contoh konkretnya, tim operasional yang kekurangan tenaga ahli sering membuat proses review dokumen molor dan mengganggu layanan pelanggan.

Baca Juga: Panduan Memilih Bootcamp Risk Management Terbaik


Contoh Kasus Operational Risk dalam Kehidupan Nyata

Contoh kasus operational risk dalam kehidupan nyata bisa terlihat dari kejadian ketika sebuah bank mengalami gangguan sistem sehingga seluruh transaksi digital tidak bisa diproses selama beberapa jam. 

Dampaknya bukan hanya antrian panjang di cabang, tetapi juga keluhan nasabah, kehilangan potensi pendapatan, hingga risiko reputasi karena dianggap tidak andal. Situasi ini sering diperparah oleh kurangnya rencana pemulihan sistem (disaster recovery) atau monitoring yang tidak mendeteksi error lebih awal. 

Kasus sederhana seperti e-commerce gagal memproses pembayaran saat flash sale atau rumah sakit kehilangan akses data pasien akibat serangan ransomware.

Keduanya menunjukkan bagaimana kesalahan kecil pada teknologi, proses, atau manusia dapat langsung mengganggu operasional dan merugikan bisnis secara signifikan.


Cara Mengatasi Operational Risk (Langkah-Langkah Praktis)

Mengelola operational risk membutuhkan langkah strategis yang terstruktur agar gangguan kecil tidak berkembang menjadi masalah besar. Berikut langkah-langkahnya.


1. Identifikasi Risiko

Proses identifikasi membantu perusahaan memahami sumber risiko yang sering muncul pada aktivitas sehari-hari.

Selain itu, risk register dan audit internal dapat memetakan area yang rawan kesalahan. Pendekatan ini membuat perusahaan lebih siap mengantisipasi potensi gangguan sejak awal.


2. Analisis & Penilaian Risiko

Analisis dilakukan untuk menilai seberapa besar kemungkinan dan dampak sebuah risiko, terutama ketika operational risk adalah faktor yang sulit diprediksi.

Selain itu, penilaian ini membantu menentukan risiko mana yang harus ditangani lebih dulu berdasarkan tingkat urgensinya. Prioritas yang jelas membuat sumber daya tidak terbuang pada risiko yang sebenarnya rendah.


3. Mitigasi Risiko

Tahap mitigasi berfokus pada strategi yang dapat menurunkan kemungkinan terjadinya risiko atau meminimalkan dampaknya agar operasional tetap berjalan stabil. Setiap pilihan mitigasi harus disesuaikan dengan penyebab utama masalah yang ditemukan pada analisis sebelumnya.

Supaya lebih jelas, berikut langkah mitigasi yang paling umum dipakai perusahaan:

  1. Perbaikan proses dipilih karena SOP yang kurang terstruktur sering memicu kesalahan berulang.
  2. Investasi teknologi digunakan saat banyak gangguan bersumber dari sistem lama atau tidak stabil.
  3. Training karyawan dilakukan ketika akar masalah berasal dari kurangnya kompetensi atau ketelitian tim.
  4. Kontrol internal diterapkan untuk mencegah fraud, penyalahgunaan akses, atau manipulasi data.
  5. Business continuity plan dibutuhkan untuk menghadapi risiko eksternal seperti bencana, vendor gagal pasokan, atau gangguan lingkungan.


4. Monitoring & Review

Pemantauan rutin memastikan setiap mitigasi berjalan efektif, terutama saat operational risk adalah risiko yang sifatnya dinamis dan bisa berubah sewaktu-waktu. 

Selain itu, evaluasi berkala membantu perusahaan menemukan celah baru yang belum terdeteksi sebelumnya. Perbaikan berkelanjutan membuat perusahaan lebih adaptif dan siap menghadapi perubahan kondisi operasional.

Baca Juga: Contoh Surat Lamaran Kerja Risk Analyst yang Menarik HR


Siap Upgrade Skill Manajemen Risiko?

Operational risk adalah risiko yang bisa muncul dari manusia, proses, teknologi, hingga faktor eksternal. Kuncinya terletak pada identifikasi yang akurat, analisis yang objektif, mitigasi yang tepat sasaran, dan monitoring yang berkelanjutan agar risiko tidak berubah menjadi kerugian besar.

Kalau Warga Bimbingan pengen jago mengelola risiko operasional secara profesional, Bootcamp Risk Management Dibimbing bisa menjadi jalan tercepatmu. 

Kamu bisa gratis mengulang kelas, ikut 45+ Live Class & praktik langsung, ngerjain 25+ Weekly Assignment untuk Portfolio Building, sampai ngerjain Final Project berbasis studi kasus nyata dengan 4 pilar utama risk management (Credit, Market, Operational, Liquidity & Treasury)

Kamu juga bakal belajar dari Real Case Study sesuai kebutuhan industri dan dapet konsultasi 1-on-1. Bootcamp ini sudah terbukti efektif dengan 96% alumni berhasil kerja dan ada 840+ hiring partner yang siap bantu penyaluran kerja.

Kamu masih ragu dan punya pertanyaan, “Kurikulumnya cocok buat pemula banget atau harus punya basic finance dulu?” atau “Final project-nya bisa dipakai buat portofolio melamar kerja nggak?”, konsultasi gratis di sini. dibimbing.id siap #BimbingSampeJadi Risk Management Analyst!


Referensi

  1. What is operational risk? [Buka]
  2. Operational Risk: What It Means and Why It Matters [Buka]

Share

Author Image

Farijihan Putri

Farijihan is a passionate Content Writer with 3 years of experience in crafting compelling content, optimizing for SEO, and developing creative strategies for various brands and industries.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!