Jurusan Business Analyst: Apakah Harus dari IT atau Bisa dari Semua Jurusan?
Farijihan Putri
•
05 September 2024
•
4173
Catatan Redaksi:
Artikel ini pertama kali diterbitkan pada September 2024 dan diperbarui pada 30 Juni 2026 untuk memastikan informasi tetap akurat dan relevan.
Memilih jurusan business analyst sering menjadi pertanyaan bagi banyak mahasiswa dan career switcher yang tertarik berkarier di bidang analisis bisnis. Sebagian orang mengira profesi ini hanya terbuka untuk lulusan IT atau Sistem Informasi, padahal kenyataannya tidak sesempit itu.
Saat ini, perusahaan lebih banyak mencari kandidat yang mampu memahami kebutuhan bisnis, menganalisis data, dan berkomunikasi dengan berbagai stakeholder.
Menariknya, kemampuan tersebut juga bisa dipelajari secara terstruktur melalui Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Online Dibimbing.
Apa Itu Business Analyst dan Apa Tugasnya?
Business Analyst adalah profesional yang bertugas menjembatani kebutuhan bisnis dengan solusi yang dapat diimplementasikan oleh tim teknis maupun operasional.
Peran ini membantu perusahaan memahami masalah, menemukan peluang, dan mengambil keputusan berdasarkan data.
Di era transformasi digital, Business Analyst menjadi salah satu posisi yang semakin dibutuhkan karena hampir semua perusahaan memerlukan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat.
1. Menjadi Penghubung antara Bisnis dan Tim Teknis
Business Analyst menerjemahkan kebutuhan stakeholder menjadi requirement yang mudah dipahami oleh tim pengembang atau operasional. Dengan demikian, setiap solusi yang dibuat tetap sesuai dengan tujuan bisnis perusahaan.
2. Mengidentifikasi Masalah Bisnis
Selain mengumpulkan informasi, Business Analyst juga menganalisis akar masalah yang dihadapi perusahaan. Selanjutnya, hasil analisis tersebut digunakan sebagai dasar penyusunan strategi maupun perbaikan proses bisnis.
3. Memberikan Rekomendasi Berbasis Data
Keputusan bisnis yang baik tidak hanya mengandalkan intuisi. Oleh sebab itu, Business Analyst memanfaatkan data untuk memberikan rekomendasi yang lebih objektif dan terukur.
4. Mendukung Pengembangan Produk dan Proses Bisnis
Banyak Business Analyst terlibat dalam pengembangan produk digital maupun optimalisasi proses operasional. Alhasil, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus memberikan pengalaman yang lebih baik kepada pelanggan.
Bahkan, menurut World Economic Forum Future of Jobs Report 2025, analytical thinking masih menjadi keterampilan paling dibutuhkan perusahaan secara global hingga 2030. Temuan ini menunjukkan kemampuan analisis memiliki nilai yang lebih penting dibanding sekadar latar belakang pendidikan tertentu.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Bootcamp Business Analyst Terbaik
Jurusan Business Analyst yang Paling Relevan
Sumber: Magnific
Tidak ada satu jurusan yang secara mutlak menjadi syarat untuk berkarier sebagai Business Analyst. Namun, beberapa jurusan berikut memang memiliki keterkaitan yang cukup kuat dengan kebutuhan industri.
1. Sistem Informasi
Jurusan ini menggabungkan pemahaman bisnis dan teknologi dalam satu kurikulum. Oleh karena itu, lulusan Sistem Informasi sering menjadi kandidat yang cukup diminati untuk posisi Business Analyst.
2. Teknik Informatika
Mahasiswa Teknik Informatika memiliki pemahaman yang baik mengenai sistem dan pengembangan perangkat lunak. Selanjutnya, kemampuan tersebut sangat membantu saat berkolaborasi dengan tim developer.
3. Manajemen Bisnis
Lulusan Manajemen biasanya terbiasa menganalisis proses bisnis, strategi perusahaan, dan perilaku konsumen. Bekal tersebut membuat mereka mampu memahami kebutuhan stakeholder dengan lebih baik.
4. Statistika dan Matematika
Kemampuan mengolah data menjadi salah satu keunggulan utama lulusan Statistika dan Matematika. Tidak heran jika mereka cukup banyak berkarier dalam bidang analisis bisnis maupun data.
5. Akuntansi dan Keuangan
Perusahaan sektor perbankan, fintech, maupun konsultan sering membutuhkan Business Analyst yang memahami aspek keuangan. Oleh sebab itu, lulusan Akuntansi juga memiliki peluang yang cukup besar.
6. Teknik Industri
Teknik Industri berfokus pada efisiensi sistem dan proses operasional. Akibatnya, banyak lulusan jurusan ini yang berkarier sebagai Business Analyst di sektor manufaktur maupun supply chain.
Baca Juga: Business Analyst Bootcamp Indonesia untuk Pemula Non IT
Apakah Jurusan Non-IT Bisa Menjadi Business Analyst?
Kabar baiknya, jawabannya bisa. Saat ini banyak profesional dari latar belakang pendidikan yang sangat beragam berhasil berkarier sebagai Business Analyst.
1. Skill Lebih Penting daripada Jurusan
Perusahaan umumnya lebih memperhatikan kemampuan analisis, komunikasi, dan problem solving dibanding nama jurusan semata. Dengan kata lain, peluang tetap terbuka selama kamu memiliki kompetensi yang relevan.
2. Kemampuan Komunikasi Sama Pentingnya dengan Analisis
Business Analyst tidak hanya bekerja dengan data, tetapi juga berinteraksi dengan banyak pihak. Karena itu, lulusan Komunikasi, Psikologi, hingga Hubungan Internasional pun memiliki peluang yang cukup baik.
3. Banyak Perusahaan Membuka Peluang bagi Career Switcher
Transformasi digital membuat kebutuhan Business Analyst meningkat di berbagai industri. Akibatnya, perusahaan semakin terbuka terhadap kandidat yang berasal dari bidang berbeda.
4. Portofolio dan Pengalaman Proyek Menjadi Nilai Tambah
Portofolio menjadi bukti kemampuan yang lebih kuat dibanding latar belakang akademik. Oleh sebab itu, banyak recruiter melihat pengalaman proyek sebagai faktor penting dalam proses seleksi.
Skill yang Harus Dimiliki Selain Memilih Jurusan Business Analyst
Memilih jurusan business analyst yang tepat memang membantu, tetapi kemampuan praktis tetap menjadi faktor utama yang dicari perusahaan.
1. Business Analysis
Business Analyst perlu memahami requirement gathering, business process mapping, hingga penyusunan user story. Kemampuan ini membantu memastikan kebutuhan bisnis dapat diterjemahkan dengan jelas.
2. Data Analysis
Kemampuan menggunakan Excel, SQL, maupun dashboard analytics semakin dibutuhkan di berbagai industri. Selain itu, analisis data membantu menghasilkan rekomendasi yang lebih akurat.
3. Problem Solving
Business Analyst harus mampu menemukan akar masalah sebelum menawarkan solusi. Dengan demikian, keputusan yang diambil tidak hanya menyelesaikan gejala, tetapi juga penyebab utamanya.
4. Stakeholder Management
Setiap proyek melibatkan banyak pihak dengan kepentingan yang berbeda. Oleh karena itu, kemampuan komunikasi dan negosiasi menjadi sangat penting.
5. Product Thinking
Banyak perusahaan mengharapkan Business Analyst memahami kebutuhan pengguna dan tujuan bisnis secara bersamaan. Pendekatan ini membantu menciptakan solusi yang lebih relevan dan bernilai.
Baca Juga: 7 Tips Lolos Business Analyst Internship untuk Fresh Graduate
Jika Tidak Berasal dari Jurusan Business Analyst, Apa yang Harus Dilakukan?
Sumber: Magnific
Jangan khawatir jika latar belakang pendidikanmu tidak termasuk dalam daftar jurusan business analyst yang umum.
1. Pelajari Fundamental Business Analysis
Mulailah dengan memahami konsep requirement gathering, process mapping, dan business problem solving. Fondasi ini akan membantu kamu memahami peran Business Analyst secara menyeluruh.
2. Bangun Portofolio Proyek Nyata
Portofolio dapat menunjukkan kemampuanmu dalam menganalisis masalah dan memberikan solusi. Bahkan, banyak recruiter lebih tertarik melihat hasil kerja dibanding sekadar ijazah.
3. Kuasai Tools yang Digunakan Industri
Beberapa tools seperti Excel, SQL, Jira, hingga Figma cukup sering digunakan dalam pekerjaan sehari-hari. Oleh sebab itu, memahami tools tersebut dapat meningkatkan daya saingmu.
4. Ikuti Program Pembelajaran yang Terstruktur
Belajar secara mandiri memang memungkinkan, tetapi prosesnya sering memakan waktu lebih lama. Sebaliknya, program yang terstruktur dapat membantu mempercepat proses belajar sekaligus membangun portofolio.
Baca Juga: Berapa Harga Bootcamp Business Analyst Dibimbing?
Ingin Berkarier sebagai Business Analyst Meski Berasal dari Jurusan Apapun?
Memilih jurusan business analyst memang dapat menjadi nilai tambah, tetapi karier sebagai Business Analyst tidak hanya terbuka untuk lulusan IT atau Sistem Informasi.
Banyak profesional dari berbagai latar belakang berhasil masuk ke industri ini setelah menguasai skill yang dibutuhkan dan membangun portofolio yang relevan.
Kalau Warga Bimbingan tidak termasuk dalam jurusan tersebut tetapi ingin berkarier di Business Analyst, kamu bisa belajar melalui Bootcamp Business Analyst & Product Strategy Online Dibimbing.
Program ini menawarkan 60+ Live Class dan 7+ Extra Live Session bersama mentor ahli, Structured Weekly Assignment untuk Portfolio Building, Technical Problem Class untuk meningkatkan kemampuan problem solving, hingga 1-on-1 Unlimited Personalized Session bersama instruktur expert.
Tidak hanya itu, peserta juga mendapatkan pendampingan fasilitator dan mentor 24/7, 12 minggu pengalaman magang di hiring company, akses ke komunitas Business Analyst & Product Strategy, serta program graduation dan penyaluran kerja ke 1.100+ perusahaan.
Masih punya pertanyaan seperti:
- "Apakah saya bisa mengikuti bootcamp meski belum pernah belajar Business Analyst sama sekali?"
- "Apakah portofolio yang dibuat selama bootcamp cukup untuk melamar posisi Business Analyst junior?"
Konsultasi gratis saja di sini sekarang! Dibimbing siap #BimbingSampeJadi Business Analyst profesional!
FAQ
1. Apakah Business Analyst harus bisa coding?
Tidak harus. Namun, pemahaman dasar mengenai sistem dan teknologi akan membantu komunikasi dengan tim teknis.
2. Apakah fresh graduate bisa menjadi Business Analyst?
Bisa. Banyak perusahaan membuka posisi Business Analyst Junior atau Associate Business Analyst untuk lulusan baru.
3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk belajar Business Analyst?
Tergantung latar belakang masing-masing. Namun, dengan pembelajaran yang terstruktur, umumnya fundamental Business Analyst dapat dipelajari dalam beberapa bulan.
Referensi
- The Future of Jobs Report 2025 [Buka]
Tags
