dibimbing.id - Contoh HIRADC Sesuai Standar Kemnaker 2026 (Template Gratis)

Contoh HIRADC Sesuai Standar Kemnaker 2026 (Template Gratis)

Farijihan Putri

13 November 2025

581

Image Banner

Ngomongin soal contoh HIRADC, banyak banget Warga Bimbingan yang masih bingung cara bikin versi terbaru yang sesuai standar Kemnaker 2025. Padahal, dokumen ini penting banget buat memastikan semua aktivitas kerja punya identifikasi bahaya dan pengendalian risiko yang jelas. 

Apalagi, dilansir Kompas.com, klaim jaminan kecelakaan kerja terus meningkat rata-rata 20% tiap tahun sejak 2020–2024. Data Jawa Pos juga nyebut sampai April 2025 sudah ada 47.300 kasus kecelakaan kerja, naik 12% dari tahun sebelumnya, angka yang nggak bisa dianggap remeh. 

Makanya, MinDi bakal bantu kamu pahami format dan contoh HIRADC terbaru biar siap diterapkan di tempat kerja atau proyek K3-mu, sambil upgrade skill bareng Bootcamp Health, Safety, and Environment (K3) dari dibimbing.id!

Baca Juga: 7 Rekomendasi Bootcamp HSE/K3 Terbaik di Indonesia


Apa Itu HIRADC dan Kenapa Penting di Dunia K3?

HIRADC atau Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control adalah proses buat mengenali potensi bahaya di tempat kerja, menilai seberapa besar risikonya, lalu menentukan langkah pengendalian yang pas. Tujuannya biar semua aktivitas kerja berjalan aman dan produktif tanpa mengorbankan keselamatan karyawan. 

Nah, banyak yang suka nyamain HIRADC sama HIRA, padahal ada bedanya. HIRA cuma fokus pada identifikasi dan penilaian risiko, sedangkan HIRADC lebih lengkap karena sampai ke tahap menentukan kontrol atau tindakan pencegahan yang konkret. Jadi, bisa dibilang HIRADC itu versi upgrade dari HIRA yang lebih aplikatif di lapangan.

Kalau ngomongin penerapannya di perusahaan, HIRADC menjadi alat penting buat memastikan manajemen risiko K3 dijalankan secara sistematis dan terukur. 

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan SMK3, HIRADC termasuk elemen wajib dalam sistem keselamatan kerja yang diatur pemerintah. Selain itu, penerapan HIRADC juga sejalan sama standar internasional ISO 45001:2018, yang diakui di Indonesia dan banyak dijadikan acuan audit K3. 

Jadi meski regulasi Kemnaker 2025 belum banyak berubah dari tahun sebelumnya, perusahaan tetap wajib menerapkan HIRADC sebagai bagian dari kepatuhan hukum sekaligus upaya melindungi tenaga kerja dari risiko kecelakaan.


Cara Membuat HIRADC yang Benar Sesuai Standar Kemnaker

Sumber: Freepik

Sebelum MinDi kasih contoh HIRADC, kamu juga perlu banget paham cara membuatnya biar hasilnya sesuai standar Kemnaker dan bisa langsung diterapkan di tempat kerja. Yuk, simak 5 cara sederhananya biar gak salah langkah saat menyusun dokumen K3-mu!


1. Langkah-langkah Identifikasi Hazard di Tempat Kerja

Langkah awal dalam menyusun HIRADC adalah mengenali semua potensi bahaya yang bisa muncul di setiap aktivitas kerja. Caranya bisa lewat observasi langsung, wawancara karyawan, atau analisis laporan kecelakaan sebelumnya. 

Selain itu, pastikan kamu melibatkan pekerja di lapangan karena mereka paling tahu risiko nyata yang terjadi sehari-hari. Semakin detail potensi bahaya yang kamu temukan, makin efektif juga langkah pengendalian yang akan diterapkan.


2. Metode Risk Assessment dan Scoring (Likelihood vs Severity)

Setelah semua potensi bahaya teridentifikasi, langkah berikutnya adalah menilai seberapa besar peluang terjadinya (likelihood) dan seberapa parah dampaknya (severity). Kombinasi dua faktor ini akan menghasilkan tingkat risiko yang bisa dikategorikan sebagai rendah, sedang, atau tinggi. 

Di samping membantu memprioritaskan bahaya yang paling kritis, metode ini juga jadi dasar kuat untuk menentukan tindakan kontrol yang tepat. Supaya hasilnya objektif, gunakan matriks penilaian risiko yang disepakati bersama tim K3.


3. Determining Control: Hierarchy of Control

Tahapan menentukan kontrol bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko berdasarkan urutan hierarchy of control: eliminasi, substitusi, engineering, administratif, dan APD. 

Eliminasi adalah langkah paling efektif karena menghapus sumber bahaya sepenuhnya, sedangkan APD menjadi pilihan terakhir saat bahaya tidak bisa dihilangkan. 

Misalnya, mengganti bahan kimia berbahaya (substitusi) lebih aman dibanding sekadar memberi masker pada pekerja. Pemilihan kontrol yang tepat bikin sistem K3 lebih efisien dan berdampak langsung pada penurunan angka kecelakaan kerja.


4. Format dan Template HIRADC yang Sesuai Standar

Format HIRADC umumnya terdiri dari kolom aktivitas kerja, potensi bahaya, risiko, penilaian likelihood-severity, serta langkah pengendalian yang direkomendasikan. Struktur seperti ini memudahkan proses review oleh auditor maupun pihak Kemnaker karena data tersaji secara sistematis.

Agar terlihat profesional, gunakan template berbasis Excel atau spreadsheet yang mudah diperbarui setiap kali ada perubahan aktivitas. Selain membantu dokumentasi, format yang rapi juga mempercepat proses pelaporan dan komunikasi antar departemen.


5. Kesalahan Umum dalam Pembuatan HIRADC

Banyak tim K3 yang masih melakukan kesalahan seperti terlalu umum dalam mendeskripsikan bahaya atau tidak memperbarui data setelah perubahan proses kerja. Akibatnya, hasil penilaian risiko menjadi tidak akurat dan langkah pengendalian kurang efektif. 

Selain itu, biasanya tim hanya fokus pada aspek teknis tanpa melibatkan pekerja di lapangan. Hindari hal ini dengan membuat HIRADC yang kolaboratif dan selalu direview secara berkala agar tetap relevan terhadap kondisi kerja terbaru.

Baca Juga: Memahami Bahaya K3: Jenis-Jenis dan Solusi dari Pakar


Contoh dan Template HIRADC Siap Pakai

Nah, sekarang MinDi kasih kamu contoh HIRADC biar makin kebayang gimana format dan penerapannya di dunia kerja. 

Contoh di bawah ini sesuai standar Kemnaker 2025 dan bisa kamu adaptasi untuk berbagai sektor, mulai dari manufaktur, konstruksi, sampai perkantoran.

Contoh HIRADC: Aktivitas “Pengecatan Ruangan Produksi”


No.

Aktivitas Kerja

Potensi Bahaya (Hazard)

Risiko (Risk)

Likelihood (Kemungkinan)

Severity (Keparahan)

Level Risiko

Pengendalian yang Ada

Rekomendasi Pengendalian (Hierarchy of Control)

1

Mempersiapkan cat & thinner

Paparan uap kimia beracun

Gangguan pernapasan, pusing, iritasi kulit

3 (Sedang)

3 (Sedang)

9 (Sedang)

Ventilasi ruangan terbuka

Substitusi thinner beracun ke bahan rendah VOC, wajib gunakan respirator (APD)

2

Pengecatan dinding menggunakan spray gun

Percikan cat ke mata atau kulit

Iritasi mata, luka ringan

2 (Rendah)

2 (Rendah)

4 (Rendah)

Penggunaan kacamata pelindung & sarung tangan

Pastikan APD digunakan sesuai standar & lakukan briefing K3 harian

3

Mengangkat kaleng cat berat

Cedera otot punggung

Keseleo, nyeri punggung

3 (Sedang)

2 (Rendah)

6 (Sedang)

Pekerja mengangkat manual

Gunakan troli dorong (engineering control), lakukan pelatihan manual handling

4

Pembersihan alat setelah pengecatan

Tumpahan bahan kimia ke lantai

Terpeleset, luka ringan

2 (Rendah)

2 (Rendah)

4 (Rendah)

Lap basah disediakan

Tambahkan area pembuangan limbah cair khusus & pelatihan housekeeping


Penjelasan Singkat:

  1. Likelihood dan Severity biasanya dinilai dari skala 1–5 (semakin tinggi angkanya, semakin besar risikonya).
  2. Level Risiko = Likelihood × Severity → hasilnya bisa dikategorikan sebagai Rendah (1–5), Sedang (6–10), atau Tinggi (11–25).
  3. Urutan pengendalian risiko wajib mengikuti hierarchy of control (Eliminasi → Substitusi → Engineering → Administrative → APD).

Dapatkan Template HIRADC Gratis! (Download)

Baca Juga: Cara Investigasi Kecelakaan Kerja, Panduan Lengkap 2026


Siap Terapkan Contoh HIRADC di Dunia Kerja Nyata?

Sekarang Warga Bimbingan udah paham pentingnya HIRADC dan gimana cara membuatnya sesuai standar Kemnaker, kan? Nah, biar gak cuma tahu teori, tapi juga siap praktik langsung di lapangan, yuk ikutan Bootcamp Health, Safety, and Environment (K3) dibimbing.id!

Ada 38+ Live Classes & 3 Sesi Praktik, 15 Kompetensi Materi Tambahan, Weekly Assignment & Real Study Case buat bantu kamu bangun portofolio profesional. Plus, kamu juga bakal dapetin Sertifikat Calon Ahli K3 Umum dari Kemnaker, bisa gratis mengulang kelas, dan dapet konsultasi 1-on-1 bareng expert.

Gak perlu takut soal karier, karena dibimbing.id punya 840+ hiring partner buat bantu penyaluran kerja, dan 96% alumni-nya udah kerja di bidang K3. 

Kalau kamu masih bingung, misalnya “MinDi, apakah aku cocok ambil bootcamp ini kalau belum punya pengalaman kerja?” atau “Gimana peluang kerja setelah lulus nanti?”, langsung aja konsultasi gratis di sini. dibimbing.id siap #BimbingSampeJadi ahli K3! 


Referensi

  1. Klaim Kecelakaan Kerja Naik 20 Persen Tiap Tahun [Buka]
  2. Kasus Kecelakaan Kerja di Indonesia Meningkat [Buka]

Tags

Share

Author Image

Farijihan Putri

Farijihan is a passionate Content Writer with 3 years of experience in crafting compelling content, optimizing for SEO, and developing creative strategies for various brands and industries.

Hi!👋
Kalau kamu butuh bantuan,
hubungi kami via WhatsApp ya!