Kekhawatiran Masa Depan Facial Recognition

Apalah arti sebuah kehidupan masa depan jika nanti semuanya serba diatur oleh AI…

Pernah dengar film dokumenter “Coded Bias”? Dokumenter ini berawal dari rasa penasaran Joy Boulamwini, mahasiswa doktoral Media Lab, Institut Teknologi Massachusetts (MIT), Amerika Serikat, yang pada saat itu tengah mengerjakan proyek kampusnya. Kemudian Joy menemukan ada persoalan bias akan facial recognition. Terutama kekeliruan pada teknologi pengenalan wajah ini yang bekerja gak akurat dalam mendeteksi pada warna kulit maupun gender. 


Jelas, Artificial Intelligence ini dinilai gak netral dalam membaca data. Justru, ini merugikan beberapa pihak sipil yang sebaiknya dilindungi. Masalah ini berhubungan erat terhadap bias dalam algoritma yang berdampak pada kita semua sebagai pengguna media. Jadi ya, apalah artinya kemajuan teknologi modern yang katanya keren ini malah menyulitkan pembacaan database. Buat kalian yang yang penasaran dengan film dokumenter ini coba tonton, deh!

PERAN FACIAL RECOGNITION DI KEHIDUPAN MASA KINI

Dari film dokumenter itu, muncul lah pertanyaan, “seberapa penting sih facial recognition ini nantinya?” 

Teknologi Facial Recognition ini berbasis teknologi artificial intelligence (kecerdasan buatan) yang tujuannya untuk mengenali wajah-wajah yang sudah terdaftar dalam database. 

Cara kerjanya kurang lebih mirip dengan fingerprint, hanya saja objek utamanya adalah wajah. Nah, ketika perkembangan facial recognition maksimal dan semakin baik, bisa jadi pengganti paspor dan boarding pass dalam penerbangan. Gak perlu lagi menunjukkan paspor dan boarding pass lagi, deh.

Sekarang ini teknologi facial recognition udah masuk dalam kehidupan sehari-hari kita. Kalian bangun dan membuka kunci layar handphone dengan ‘wajah’ kalian aja itu termasuk dari penggunaanya lho! Selain itu, gak perlu jauh-jauh, kok. Contoh  lainnya adalah verifikasi ID atau KTP. Tuh kan, ketahuan deh sering verifikasi data di e-commerce kesayangan warganet.

HITAM PUTIH DIBALIK FACIAL RECOGNITION

Lantas, bagaimana dengan konsekuensi penggunaan facial recognition ini? Aku sempat baca beberapa artikel tentang baik buruknya facial recognition ini. Alhasil, muncul kekhawatiran teknologi facial recognition berpotensi akan melanggar privasi masyarakat. Bisa aja kan penyalahgunaan identifikasi wajah berdasarkan kumpulan data dari unggahan selfie di Media Sosial. Terus, apa kabar buat mereka yang suka bikin konten impression artis pakai filter wajah dan sejenis ya? 

Lagi-lagi, masalah teknologi facial recognition ini bisa beroperasi tanpa sepengetahuan ataupun consent dari orang yang diidentifikasi. Seseorang gak bisa mencegah diri mereka dari identifikasi jarak jauh dan terhubung ke orang asing. Di antara keresahan ini, sepertinya akan menjadi PR bersama untuk para developer bidang Data Science. 

Untuk itu, buat Sobat MinDi yang ingin belajar lebih jauh seputar data science secara intensif, kalian bisa ikut Bootcamp Data Science bersama dibimbing.id nih!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on whatsapp
WhatsApp

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *