Arti User Journey Mapping dalam UX dan Cara Membuatnya

Oleh: Amira Kartika Rochman

Segala hal pasti perlu yang namanya perbaikan dan pengembangan, begitu juga website atau mobile app perusahaan kita. Untuk bisa tau apa aja perbaikan dan pengembangan yang perlu kita lakukan untuk website dan mobile app, kita bisa melakukan user journey mapping untuk membantu kita.

Buat Sobat MinDi yang masih asing dengan user journey map ini dan pengen mengetahuinya lebih jelas, maka kalian datang di artikel yang tepat! Kebetulan kali ini MinDi mau membahas tentang pengertian user journey map, seberapa pentingnya hal ini dalam UX dan cara membuatnya.

Jadi, yuk kita langsung aja bahas satu-persatu!

Apa Itu User Journey Map?

Mendefinisikan User Journey Map Bersama-sama
Photo by Kvalifik on Unsplash

User journey map adalah sebuah gambaran tahap-tahap yang mendeskripsikan interaksi user dengan produk kita yang dalam konteks ini yaitu website atau mobile app. Tahap-tahapnya sendiri meliputi fase sebelum, ketika dan setelah mereka memakai produk kita.

User journey map ini merupakan cara yang tepat bagi kita untuk mencari tau apakah ekspektasi user sesuai dengan realita pengalaman yang mereka rasakan. Sehingga nantinya kita bisa tau nih, bagian mana yang perlu kita perbaiki atau tingkatkan lagi dari website atau mobile app kita.

Jadi, bisa dibilang kalau hal yang satu ini bisa membantu kita buat mencapai tujuan utama kita sebagai UX Designer. Ada yang tau gak nih, tujuan UX Designer apa?

Yap, bener banget! Tujuan UX Designer adalah menciptakan pengalaman yang baik untuk user produk kita. Hal ini dilakukan agar nantinya mereka bisa betah memakai website atau mobile app kita dan berpotensi merekomendasikannya juga ke orang lain.

Kenapa User Journey Map Penting untuk Perusahaan?

User Journey Map Sangat Bermanfaat untuk Perusahaan
Photo by Daria Nepriakhina on Unsplash

Setelah tau pengertiannya, sekarang kita bakal membahas kenapa user journey map ini penting untuk perusahaan. Berikut beberapa manfaat yang bisa didapat dari pembuatan user journey mapping dalam UX:

  1. Membantu Kita Mengetahui Hal yang User Kita Gak Suka

    Seperti yang udah MinDi mention sebelumnya, sebagai UX Designer kita perlu tau apakah user udah cukup puas dalam menggunakan produk kita. Dengan melakukan user journey mapping dan menganalisisnya, kita bakalan tau nih kira-kira apa aja sih hal yang user kita gak suka dari produk kita.

    Misalkan, dari data yang udah divisualisasikan kita tau kalau ternyata banyak user yang mendadak batal membeli produk perusahaan dari website kita. Dan setelah dianalisis, ternyata hal itu disebabkan terlalu panjangnya proses yang harus mereka lalui cuma buat melakukan pembayaran.

    Nah, dengan tau kalau hal itu ternyata gak disukai, kita bisa coba melakukan perbaikan di bagian tersebut seperti dengan mempersingkat prosesnya. Dengan begini, nantinya user behavior yang merugikan perusahaan seperti itu gak bakal terulang lagi. Dan tentunya, user pun bisa merasa lebih nyaman serta puas dalam menggunakan website kita.

  2. Membantu Kita Memenuhi Eskpektasi User Kita

    Sobat MinDi tau gak sih? Berdasarkan penelitian yang dilakukan Salesforce, didapatkan data kalau 76% user bakal memutuskan buat pindah ke brand lain kalau ekspektasi mereka gak bisa tercapai, lho!

    Nah, inilah kenapa kita perlu melakukan user journey mapping. Masih berhubungan dengan poin sebelumnya, user journey map bisa membantu kita buat memenuhi ekspektasi dari user kita. Entah itu dalam konteks aksesibilitas atau hal-hal lainnya.

    Dengan berhasilnya kita memenuhi ekspektasi user, secara otomatis hal ini bakal meminimalisir user untuk berpindah ke kompetitor kita. Selain itu, tentunya hal ini juga bisa meningkatkan loyalitas mereka terhadap produk kita.

  3. Membantu Kita dalam Menciptakan Inovasi Baru

    Yang terakhir, gak cuma membantu kita memperbaiki produk, user journey map ini juga bisa membantu kita buat mengembangkan produk kita. Caranya yaitu dengan dengan menciptakan berbagai inovasi baru yang bertujuan semakin memudahkan dan memanjakan user kita.

    Perlu Sobat MinDi ingat, terkadang user gak benar-benar tau apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Hal itu dikarenakan gak semua user bisa peka sama hal-hal yang sekiranya bisa mempermudah aktivitas mereka.

    Karenanya, tentu hal ini perlu jadi hal yang diperhatikan juga oleh UX Designer. Tapi sekali lagi, dalam berinovasi tentu kita gak boleh asal-asalan agar nantinya apa yang kita ciptakan gak sia-sia. Di sini lah user journey mapping ini diperlukan.

    Dengan melakukan user journey mapping, kita bisa coba menganalisis bagaimana kebiasaan yang sering dilakukan oleh user kita. Dan dari kebiasaan-kebiasaan tersebut, baru deh kita bisa coba memikirkan inovasi apa yang sekiranya bisa dibuat.

    Buat contohnya, kita coba pakai skenario saat user mau membeli produk kita lewat website, ya! Misalkan nih, setelah melakukan user journey mapping kita mendapatkan kesimpulan kalau kebanyakan user kita melakukan repeat order barang yang sama tiap seminggu sekali.

    Mungkin, user gak bakal masalah buat selalu melakukan repeat order seperti itu secara manual. Tapi sebagai seorang UX Designer, kita bisa menciptakan inovasi dari kejadian tersebut untuk mempermudah user dalam menjalankan kebiasaan mereka tersebut.

    Seperti misalnya dengan menciptakan menu rekomendasi personal berisikan barang-barang yang rutin dipesan oleh mereka. Atau bahkan bisa juga menciptakan fitur penjadwalan pemesanan secara otomatis, sehingga nantinya user gak perlu repot-repot melakukannya secara manual lagi.

Cara Membuat User Journey Map

Tips & Trik Membuat User Journey Map
Photo by UX Indonesia on Unsplash

Selanjutnya, mungkin Sobat MinDi mulai kepo juga nih, kira-kira gimana sih cara membuat user journey map? Oke, langsung aja kita bahas langkah-langkahnya di bawah ini, ya!

  1. Ketahui User Produkmu

    Seperti yang Sobat MinDi pasti udah tau, tiap produk yang kita buat pasti punya user yang berbeda-beda. Karenanya, kita perlu tau dulu nih, seperti apa latar belakang user dari produk kita.

    Setelah tau seperti apa aja user kita, baru deh kita bisa coba menentukan kira-kira golongan yang mana yang ingin kita analisis lebih dulu. Meskipun sebenarnya kita bisa menganalisis semuanya, tapi menentukan secara lebih spesifik bisa membantu kita buat mendapatkan informasi-informasi yang lebih spesifik juga.

    Hal ini bisa mempermudah kita buat mendapatkan data yang lebih terperinci dan tentunya membuat keputusan-keputusan yang lebih efektif juga.

  2. Tentukan Tujuan, Ekspektasi, dan Kesulitan yang Mungkin Dihadapi User

    Setelah mengetahui user kita, selanjutnya kita bisa mulai menentukan tujuan, ekspektasi dan kesulitan yang mungkin dihadapi oleh mereka. Hal ini bisa dibantu dengan membuat user persona.

    Tapi, biar user persona-nya bisa lebih akurat, kita bisa mengumpulkan lebih dulu feedback dari user atau menganalisis data kebiasaan pengguna kita melalui Google Analytics. Selanjutnya, kita bisa mencoba menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini:

    – Apa yang membuat user datang ke website kita?
    – Bagaimana cara mereka menemukan website kita?
    – Apakah website kita udah mudah digunakan?
    – Apa yang mereka ekspektasikan bisa didapat dari website kita?
    – Seberapa sering mereka menggunakan website kita?
    – Apa yang mereka suka dari website kita? Dan apa yang mereka gak suka?
    – Apa hal yang perlu ditingkatkan dari website kita?

  3. Visualisasikan Data-data yang Sudah Terkumpul

    Setelah semua data terkumpul, sekarang waktunya untuk mengubah data-data ini dalam bentuk gambar. Melansir dari Adobe, pembuatan user journey map ini lebih baik dibuat sesimpel mungkin. Hal ini agar kita nantinya gak tersesat saat menganalisis datanya.

    Selain itu, ada juga tips yang bisa dilakukan untuk mempermudah tahap analisis kita. Yaitu dengan fokus terhadap urutan aktivitas yang user lakukan dibanding halaman apa aja yang mereka akses.

  4. Analisis User Journey Map untuk Mengetahui Keputusan Apa yang Perlu Dibuat
Analisis User Journey Map untuk Pengambilan Keputusan
Photo by Green Chameleon on Unsplash

Yang terakhir setelah user journey map-nya berhasil dibuat, UX Designer bisa mulai melakukan analisis terhadap data yang udah tersaji. Dalam tahap ini, kita bisa menganalisis berbagai hal mulai dari hal yang perlu diperbaiki, hal yang bisa dikembangkan hingga inovasi-inovasi apa yang bisa diciptakan.

Jadi, misalkan nih, didapatkan data kalau banyak banget user yang kesulitan menemukan tombol pembelian karena tombolnya terlalu kecil dan letaknya juga membingungkan. Dari sini kita bisa mengambil keputusan buat memperbesar dan memindahkan tombol tersebut sehingga bisa lebih mudah ditemukan oleh user.

Nah, itulah pengertian, pentingnya dan cara membuat user journey mapping. Kira-kira materi ini bikin Sobat MinDi jadi tertarik belajar UI/UX Design gak, nih?

Buat Sobat MinDi yang tertarik belajar UI/UX Design, kalian bisa banget ikutan Bootcamp UI/UX Design dari dibimbing.id, nih! Gak cuma fokus sama materi aja, bootcamp dari dibimbing.id juga bakalan mengajak kamu buat mempraktekkan langsung materi-materi yang udah didapat.

Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi secara langsung dengan mentor yang berpengalaman. Kerennya lagi, setelah programnya selesai dibimbing.id bakal membantu menyalurkan kamu untuk bekerja dan berkarier sebagai UI/UX Designer juga, lho!

Yakin nih, mau ngelewatin kesempatan emas seperti ini? Kalau Sobat MinDi berminat buat kepoin atau mendaftar Bootcamp UI/UX Design ini, yuk langsung aja KLIK DI SINI!

Dibimbing.id percaya kalau semua orang pasti bisa dibimbing dan bisa jadi lebih keren lagi. Jadi, jangan sampai kamu melewatkan kesempatan buat belajar dan berkembang bareng dibimbing.id, ya!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on whatsapp
WhatsApp

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *